Review: “127 Hours”

Petualangan yang Ngilu

Sebelumnya, saya ingin menantang jika pembaca review ini, yang sudah (atau nantinya sudah) menyimak film terbaru dari Danny Boyle ini, adakah di antara kalian yang juga akan berpikir seperti saya: “film ini terlihat seperti gabungan potongan sebuah video klip, heh?”

Mari lihat ceritanya. Diangkat dari kisah nyata seorang petualang, Aron Raltston, alkisah sang petualang terjebak di tengah bebatuan, naasnya, tangan kanannya harus terhimpit batu, ia tidak bisa lepas, dan (gah!) akhirnya mengamputasi dirinya sendiri. Oops, jika ini terdengar seperti sebuah spoiler, ah tidak juga. Bukankah kita tertarik untuk menonton film karena hal itu?

Sekarang coba kita simak apa kesulitan yang ditempuh oleh seorang Boyle dalam menggarap film ini. Ceritanya fokus pada pergerakan detik per detik pertahanan yang dilakukan oleh Aron, maka coba lihat bagaimana Boyle menyiasati cerita yang akan terasa membosankan jika berkutat pada lelaki di balik batu tanpa seorangpun mengetahuinya ini. Tentu saja narasinya akan menjadi statis dan minim pergerakan. Jawabannya adalah solusi yang klise: Boyle menyuguhi dengan gambar dan sekuen penggembira agar ceritanya tidak statis. Maka muncullah adegan ibarat potongan video klip yang bertumpukan fantasi seorang Aron. Maka disisipkanlah sekuen memori dari seorang Aron: oh dia ingat keluarga, oh dia teringat kekasihnya, oh betapa malang nasibnya. Hingga, sisipin “commercial break” pun muncul dalam sebuah fragmen jenaka ketika seorang Aron menghadirkan apa yang dia alami hanyalah lawakan semata. Ia berlagak sebagai seorang pembawa acara dengan aksen gagah. Melawaki dirinya sendiri. (Pssttt… adakah yang berpikir ini secara kebetulan seperti rehearsal-nya di Oscar nanti?).

Dari suguhan itu kita bisa melihat, Boyle begitu lihai memadukan gambar dan musik. Tentu kesegaran terbesar film ini terletak pada bagaimana Boyle dengan cermat mengolah visual dan suara. Coba dengarkan dengan seksama bagaimana kita bisa mendengar deru napas seorang Aron. Dengar ketika hujan mengguyur. Dengar ketika terdengar suara bising dan ia linglung. Boyle begitu cermat untuk urusan ini.

Maka jika semua aspek visual dan suara itu sudah mumpuni, “127 Hours” boleh dibilang telah efektif memasang sekuen-sekuen pembunuh sisi statis di dalam bebatuan itu. Secara bersamaan, ada sisi menyentuh yang rasanya begitu menjerat dan begitu menarik hati untuk peduli dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Aron sendiri. Sadar saja rasanya melihat seorang Aron: dalam setiap petualangan ada pengorbanan dan penyadaran. Apa yang kita dapat? Keluarga itu penting, saudara-saudara.

Melalui “127 Hours”, Boyle mengajak kita melihat sebuah cerita menyentuh dalam perjuangan yang terasa ngilu. Bahkan, pada klisenya tampilan ibarat video klip itu muncul, ia sisipkan ornament itu dengan segar. Meskipun masih belum bisa menyamai “Trainspotting” (film terbaiknya Boyle sampai saat ini), “127 Hours” masih menempatkan Boyle sebagai sineas yang cermat mengolah gambar, suara, dan emosi.

Grade: B+

Advertisements

One thought on “Review: “127 Hours”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s