Review: “Catfish”

[Catfish]. Directed by Henry Joost, Ariel Schulman. Starring: Yaniv Schulman, Megan Faccio, Melody C. Roscher US Release Date: September 17, 2010

“Humoris dan Horornya Jejaring Sosial”

Sensasi Sundance Film Festival ini menjadi bahan perbincangan dan kontroversi ketika dokumenter ini mengangkat pertanyaan yang tidak biasa mengenai sebuah keakuratan sebuah dokumenter, atau sebenarnya ini hanya sebuah mockumentary semata. Di situ pula menariknya karena sang sutradara menolak ini sebagai sebuah “hoax”, melengkapi tahun ini sebagai singgasananya para dokumenter, dan tiga dokumenter paling menjadi perbincangan  dituduh sebagai hoax, “Catfish” salah satunya. Menyusul “Exit Through the Gift Shop” yang nampak seperti narsisme seorang seniman jalanan, Banksy. Serta “I’m Still Here”. (Oops, Joaquin Phoenix dan Casey Affleck, mengapa kalian harus mengakui ini memang rekayasa? Biarkan saja mereka terus penasaran!).

Begini saja. Nampaknya lebih nikmat untuk menyimak sebuah film tanpa mengenal secuil cerita yang ingin disampaikan. Lihat saja bagaimana trailer film ini begitu jauh dari apa yang bisa kita dapat. Henry Joost and Ariel Schulman mengantarkan “Catfish” dalam sebuah enigma yang begitu aneh dan membingungkan. Jika masih berada dalam tataran “tidak tahu apa”, “Catfish” seperti teka-teki yang begitu menantang. Ini mungkin sebuah dokumenter yang hanya ingin main-main. Apa yang ingin ia ceritakan? Pertanyaan itu terjawab satu demi satu. Oh ini tentang sebuah anak yang pintar melukis, punya bakat yang begitu mengagumkan, heh? Em, tunggu dulu, ini tentang sebuah hubungan kagum – mengagumi, bukan? Em, tunggu dulu, ini sebuah road movie? Em, thriller? Satu persatu pertanyaan itu mengalir, membuka apa yang kita sebut sebagai tabir (?) dari “Catfish” yang begitu rapat disimpan rahasianya. Kejutan demi kejutan hadir dengan komposisi humor dan terkadang mengobrak-abrik rasa ingin tahu yang akut.

“Catfish” sebenarnya lebih memihak pada sebuah aspek naratif yang menantang otentifikasi sebuah fakta. Tak perlu heran jika pertanyaan besar mengenai keakuratan dan kepalsuan itu muncul begitu saja. Hanya saja, “Catfish” bertingkah seperti misteri yang mengadu alur ke dalam sebuah aspek kurang biasa dari sebuah dokumenter (itupun jika kita menyebutnya demikian). Di lain hal, “Catfish” terlihat begitu disiplin mengangkat aspek narsisme. Si Nev di sini “sadar kamera” sekali untuk menjadi figur di film ini. Atau bagaimana kita berinteraksi, memamerkan bakat di Facebook –setiap hari mengunggah foto ke situs jejaring ini? Mungkin kita sering melakukannya bukan?—atau mengulik isi channel Youtube pribadi. Begitu dekat. Dalam generasi baru teknologi populer, “Catfish” memamerkan begitu ramahnya interaksi benda mati dengan manusia, mulai dari iPhone, Facebook, Youtube, hingga begitu pentingnya Google Maps di era sekarang ini.

Begini saja. Tidak mengetahui film ini tentang apa yang ia ceritakan akan menghadirkan pengalaman yang menarik. Selesai menyimak film ini ada dua kondisi yang akan muncul: membencinya atau mencintainya. Menariknya, dalam balutan humor yang ia berikan, “Catfish” berakhir dengan kejutan yang menyedihkan. “Catfish” begitu segar dan menarik. Nyata atau fiksi? Silakan menjawabnya sendiri. Seperti sebuah jejaring, “Catfish” sebenarnya adalah versi “horor” dari sisi permukaan yang disinggung oleh “The Social Network”.

Grade: [A]

Advertisements

One thought on “Review: “Catfish”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s