Mini-Reviews: “Please Give”, “The Kids Are Alright”, “Tron: Legacy”, “The American”, “Monsters”, dan “The Town”

Please Give

Bolehkah kita mulai dari opening film ini yang, hmm, mengejutkan? Oke, tinggalkan saja. Kita lihat apa yang sebenarnya “Please Give” ini berikan bagi penyimaknya. Sederhana saja, tentang keluh kesah kehidupan keluarga yang tinggal di apartemen (atau rumah susun) dengan berbagai intrik keluarga ringan, yang terkadang sebenarnya sangat tidak ringan. Dari judulnya bisa dilihat apa maksud dari kesan “meminta-minta” yang terasa di film ini, begitupun ketika penggambaran sosok pengemis dan karakter yang dimainkan Chaterine Keener begitu murah hatinya kepada orang-orang tersebut. “Please Give” sebuah film yang penuh dengan limpahan hati. Bahkan pada kondisi nenek-nenek yang paling menyebalkan pun, rasanya ada kelucuan dan kasih sayang yang besar. [B+]

The Kids Are Alright

Sebenarnya filmnya terasa begitu segar. Menghadirkan sisi parental yang bolehlah jarang kita lihat dari pasangan lesbian, serta interaksi kepada anaknya yang tumbuh besar dan mulai mempertanyakan keberadaan seorang sosok ayah. Di balik kondisi itu, “The Kids Are Alright” terlihat begitu klise dengan memamerkan konflik rumah tangga yang sering kita jumpai (dalam film). Perselingkuhan namanya. Hanya saja  motivasi yang dihadirkan karakter yang dimainkan Mark Ruffalo, terlihat begitu kabur dan tergesa-gesa. Sempat terpikir, jika film ini lebih berbicara dalam sudut pandang yang lebih mengutamakan si anak-anak itu nampaknya akan terlihat lebih menarik. Karena sebenarnya yang menarik itu karena memang “the kids are alright”, bukan? [B-]

Tron: Legacy

Resep ampuh yang diajarkan oleh sesepuh kita dalam meikmati film seperti ini harus dan wajib digunakan: tolong tanggalkan otak paling pintar itu di depan pintu bioskop ketika menonton film ini. Bukan sebuah hiperbolisasi sebenarnya, hanya sebuah saran yang pantas agar tidak bunuh diri keluar dari bioskop. Kenyataannya, “Tron: Legacy” tidaklah begitu buruk. Ya, meskipun kadang sudah tahu kalau film ini maunya kemana dan miskin sekali keyakinan yang dimiliki oleh skrip film ini (lihat, wow, dunia antah berantah yang diciptakan itu akan menghancurkan bumi, heh?). Meskipun begitu, ada baiknya melihat gambar-gambar menarik dan terang seperti lampu neon di film ini. Serta balutan musik kreasi Daft Punk yang terdengar menggelegar. Sebagai hiburan, ya begitulah. [C+]

The American

Terkecoh dengan trailer film ini yang nampaknya menjual adegan tembak-menembak yang intense? Filmnya sendiri begitu hening. Dilengkapi dengan penampilan George Clooney yang minim kata dan pasangan prostitusinya yang begitu menggoda (tubuh porselin wanita eropa yang mengingatkan akan sebuah patung dari sentuhan pemahat paling dikagumi). Tentu saja terlihat sebagai antitesis dari pakem genre film Hollywood sana. Mood yang ditampilkan tercium sangat berbau Eropa. Lambat dan sepi, sedikit mengingatkan dengan “In Bruges”.  “The American” tidak bercerita banyak mengenai kerennya menjadi seorang pembunuh bayaran, namun mengais sisi personal tentang kehidupan si pembunuh itu sendiri. Sepi, dingin, dan sendiri. Dilengkapi dengan gambar-gambar yang indah, serta score yang pas dari Herbert Gronemeyer, boleh dibilang “The American” adalah salah satu film yang tidak pernah saya sangka akan begitu mengesankan. [A-]

Monsters

Sudah banyak yang mengakui bahwa debut penyutradaraan dari Gareth Edwards ini cukup mengesankan. “Monsters” dibalut oleh aspek sci-fi (ya, alien lagi), hadir dalam atmosfir “road movie” ketika salah satu area terinfeksi makhluk luar angkasa, raksasa, dan berbahaya. Dalam kosmik “dunia kiamat” yang dihadirkan serta alur “road movie” yang muncul, sedikit mengingatkan dengan “28 Days Later” arahan Danny Boyle. Pada akhirnya, meskipun terlihat kurang begitu menantang, “Mosters” bisa dibilang cukup baik sebagai sebuah debut penyutradaraan. [B]

The Town

Nampaknya Ben Affleck memang tengah serius menjanjaki dunia di balik layar. Dengan bakat yang ia miliki, (dan ingat ia pernah meraih Oscar pula), sudah cukup untuk mengakuinya. Buktinya, “Gone Baby Gone” begitu impresif sebagai sebuah debut. Begitupun sekarang lewat “The Town” yang meraih atensi publik lebih luas, Affleck membuktikan bahwa ia telah memiliki penggemar tersendiri. Lewat “The Town” Ben Affleck kembali mengolah kemampuannya bermain dengan pistol dan segmen tembak-menembak yang juga muncul di karya perdananya. Sayangnya, “The Town” tidaklah sesolid karya sebelumnya. Seperti contekan dari, em, film-filmnya Michael Mann di mata saya. [B-]

Advertisements

One thought on “Mini-Reviews: “Please Give”, “The Kids Are Alright”, “Tron: Legacy”, “The American”, “Monsters”, dan “The Town”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s