Awya’s 10 Albums of 2010

Akhirnya, setelah mangkir dari janji untuk merampungkan semua list tentang musik minggu lalu gagal total, barulah hari ini kesempatan untuk mengumumkan sepuluh album terbaik yang berhasil dirilis tahun ini tercapai. Tentu saja jika gembar-gembor bahwa tahun ini merupakan tahun terbaik yang pernah dimiliki oleh dunia musik memang tidak bisa dipungkiri benarnya. Puluhan rekaman yang luar biasa berhasil dihasilkan di tahun ini, bahkan muncul variasi musik yang begitu menggembirakan. Berikut album yang berhasil masuk ke dalam tabulasi saya sebagai yang terbaik tahun ini.

Honorable Mentions:

Seperti biasa tidak sedap rasanya tanpa mengumbar beberapa album yang sayangnya harus menyingkir dari tangga singgasana sepuluh besar yang telah tersedia. Ada “Treats” dari Sleigh Bells, sebuah variasi unik yang gempita dan ramai. Begitupun pula “Contra” dari Vampire Weekend belum begitu berhasil merangsek ke posisi sepuluh besar saya. Ada “Sigh No More” dari Mumford & Sons yang sebenarnya nyaris masuk. Kemudian tak lengkap rasanya tanpa menyebut “Big Echo” dari The Morning Benders, yang sayangnya selain “Excuses”, track lain di album ini terdengar lemah. Terakhir, tak lengkap tanpa menyebut nama di balik single sukses “Umbrella” yaitu seorang The Dream dengan albumnya “Love King”.

Inilah sepuluh album terbaik versi saya di tahun 2010 ini.

[The Top Ten]

#10

“Plastic Beach”

By Gorillaz

Kadang jika melihat Gorillaz, terbersit rasa kasian pada seorang Damon Albarn—frontman Blur—yang rela menanggalkan eksistensinya di depan ribuan penonton demi konsep empat kartun bernaung dalam nama Gorillaz ini. Mungkin di situlah letak menariknya, karena mengidolakan kelompok kartun dengan racikan musik yang menarik begitu jarang bukan? Sekarang Gorillaz tanpa sadar lebih terasa seperti proyek masal musisi yang tidak ingin terlihat kemampuannya, seolah bersembunyi di balik karakter kartun ini. “Plastic Beach” begitu terasa mendunia dengan sentuhan “world music” yang begitu kental. Dengar saja bagaimana penempatan Lebanese, Syrian, hingga Oriental Arabic Orchestra dipadukan di album ini. “On Melancholy Hill” dan “Superfast Jellyfish” adalah track yang tidak bisa dilewatkan.

#9

“This Is Happening”

LCD Soundsystem

Jadi, James Murphy menyebut inilah pamungkas dari nama LCD Soundsystem. “This is Happening” dibuat untuk mengakhiri perjalanan epik LCD Soundsystem yang telah berlangsung selama ini. Seperti biasa ketekunan Murphy merangkai lagu-lagu selalu menghasilkan dengungan yang nikmat sekali untuk didengar. “Dance Yrself Clean” mungkin terlihat begitu “besar” ketika memulai album ini, namun alunan track berikutnya sepadan dengan apa yang track pertama berikan. Sebuah album yang begitu nikmat untuk mengakhiri sebuah nama besar, LCD Soundsystem.

#8

“Odd Blood”

By Yeasayer

Jika tahun lalu “Merriwether Post Pavilion” menyapu perhatian publik dan menempatkan Animal Collective sebagai salah satu musisi yang menghasilkan rekaman terbaik tahun lalu, Yeasayer bolehlah disebut menjadi pengisi area pesta-elektronika dan “musik berisik” yang sering disebutkan itu. Sebagai album kedua, “Odd Blood” menampilkan daftar track yang begitu menarik. Dengar “Ambling Alp”, dengar pula “O.N.E”, dan juga dengar “Rome”. Sudah pantas untuk menjadikannya yang terbaik tahun ini.

#7

“Teen Dream”

By Beach House

Mungkin tidak ada salahnya menyebut album ini indah, atau nampaknya tidak ada salahnya menyebut “Teen Dream” sebuah album yang (seperti judulnya) penuh mimpi. Album ketiga Beach House ini begitu menghanyutkan. Suara piano yang beriringan berpadu dengan suara Victoria Legrand yang begitu kuat namun menyimpan kelembutan dalam menarasikan lirik-lirik dalam setiap nadanya. Indah. Tentu saja duo ini telah mendapat sebutan sebagai aliran “dream pop” yang memang kental dengan nuansa “tidur” yang mendayu dan penuh dengan lirik yang menghanyutkan. Boleh dibilang, “Teen Dream” sedikit mengingatkan dengan “Veckatimest”-nya Grizzly Bear.

#6

“The Suburbs”

By Arcade Fire

Sebentar. Iya sebentar dulu. Begitulah yang setidaknya terbersit ketika mendengar keseluruhan dari “The Suburbs”—album terbaru dari Arcade Fire ini. Apa yang rasanya hilang dari energi Arcade Fire di album ini? Sebentar, saya mencoba mengulik-ulik sisi menakjubkan yang pernah saya rasakan pada album masterpiece-nya, “Funeral” (album no 1 saya dekade lalu), atau bolehlah menengok karyanya yang tidaklah begitu sempurna, “Neon Bible”. Saya terdampar pada satu kesimpulan; “The Suburbs” ini begitu muram. Jika dalam “Funeral” bisa mendengar deruan kesenangan, deruan persahabatan para kaum suburban antar-tetangga, antar-teman, dalam “The Suburbs” Arcade Fire mengais sisi muram yang tengah terjadi di daerah pinggir kota itu. Konflik dan sisi yang suram. Tidak akan mendengar seruan seperti “Neighborhood #3 (Laika)” atau masterpiece-nya “Wake Up”. Namun, kita mendengar sisi menakjubkan lain yang Arcade Fire berhasil tampilkan. (ah, Grammy, tumben dirimu “pintar” menominasikan album ini?)

#5

“Gorilla Manor”

By Local Natives

Selalu ada tempat untuk pendatang baru di kancah musik. Begitupun untuk Local Natives yang sebelumnya mencuri perhatian di SXSW, hingga akhirnya mengeluarkan album debutnya ini. Banyak yang membadingkannya dengan Vampire Weekend, banyak yang menyebutnya terlalu “terpengaruh” dengan Fleet Foxes. Bagi saya, lagu pembuka “Wide Eyes” sudah menghadirkan sensasi yang menarik. Belum lagi ketika mendengar “Airplanes” ataupun “World News”. Apa yang paling menarik dari album ini? Dengarkan saja bagaimana drum menjadi instrumen paling retorik di album ini.

 

#4

“My Beautiful Dark Twisted Fantasy”

By Kanye West

Tentu, sebagai penggemar Kanye West, albumnya selalu menjadi hal yang paling saya tunggu. “My Beautiful Dark Twisted Fantasy” yang tahun ini menjadi album paling mendapat sambutan (nyaris) sempurna dari para pengamat musik ini, begitu sensasional dan epik. Kalau sedikit mengingat, Kanye West dulu begitu jujur bercerita dalam “The College Dropout” tentang masa sekolahnya dan bagaimana posisinya melihat nama Tuhan. Hingga album terakhirnya “808 & Heartbreak” yang menjadi ajang eksperimental dari penyanyi mulut besar ini. “My Beautiful Dark Twisted Fantasy” telah berhasil, (bahkan) begitu megahnya  menyatukan kolaborasi musisi, dari Nicki Minaj hingga Elton John, ke dalam balutan extravaganza album ini.

#3

“Clinging to a Scheme”

By The Radio Dept.

Tahun 2006 lalu, The Radio Dept. menjadi perbincangan ketika menjadi pengisi soundtrack dari “Marie Antoinette” yang tentu saja dipilih oleh Sofia Coppola. Energi muda yang ingin disampaikan oleh Sofia Coppola dalam filmnya, dibentuk semakin meyakinkan jika mendengar kontrasnya iringan musik yang dihadirkan film bersetting periode kerajaan tersebut. Tahun ini, The Radio Dept. merilis albumnya, “Clinging to a Scheme”. Trio asal Swedia ini disebut sebagai band yang teguh dengan musik pop namun tetap menghadirkan sensasi yang mengetarkan dalam setiap aransemen dan keberhasilannya merangkai lagu. Dengar saja “Heaven’s On Fire” yang begitu gampang masuk ke telinga, ringan. Coba juga dengarkan bagaimana mereka memadukan reggae dalam “Never Follow Suit”. Sebuah album yang begitu mengasyikkan.

#2

“The ArchAndroid”

By Janelle Monae

Sepanjang tahun ini, tak ada penemuan paling hebat selain seorang Janelle Monae. Paket lengkap yang nampaknya langka dimiliki seorang penyanyi. “The ArchAndroid” boleh dibilang merupakan lanjutan dari EP “Metropolis: Suite I (The Chase)”—terinspirasi  dari film klasik, Metropolis. “The ArchAndroid” terdiri dari dua bagian “Suite II” dan “Suite III” dan tentu saja masih melanjutkan cerita futuristik tentang manusia Android yang dikirim untuk menyelamatkan sebuah penduduk dari serangan The Great Divide. Sebuah konsep yang begitu menarik. Lihat pula bagaimana Monae menampilkan kepiawaiannya. Ia bisa memadukan musik dengan begitu cantik. Pop, R&B, ska, jazz, dipadukan menjadi sebuah album yang begitu menarik untuk didengar. Tunggu dulu, fashion? penyanyi berumur 25 tahun ini tampil begitu menggoda dengan tatanan konsep yang begitu otentik. Menari? Lihat saja bagaimana enerjiknya ia menari dengan kelincahan kakinya bergerak. Entah dia adalah bentuk wanita dari seorang Prince ataukah turunan dari seorang James Brown, kita tengah melihat perjalanannya menjadi seorang (hm…) legenda.

#1

“The Age of Adz”

By Sufjan Stevens

Namanya perubahan bisa saja begitu tidak mengenakkan, atau ada kalanya menghadirkan sebuah penawaran baru yang harus dicari titik menariknya. “The Age of Adz” tentu saja begitu ambisius ketika Sufjan Stevens bertingkah dengan meninggalkan perangkat lama yang telah menemaninya selama ini. Banjo ia tanggalkan, perkusi (nyaris) ia tinggalkan. Lalu sekarang apa? Maka ia mulai bersenggama dengan perangkat elektronika, mengumbar keberanian meracik tataran birama, atau apalah namanya itu, untuk membentuk sebuah bentuk yang sedap didengar. “The Age of Adz” jika dipikir terlihat ambisius, tentu saja. Namun begitu sederhana saja yang ia ceritakan, klise sekali; hidup. Di situlah pergolakan yang begitu nikmat dihadirkan Sufjan. Memang tidak akan mendengar nada menarik seperti “Chicago” (hei, ingat adegan ending Little Miss Sunshine itu yang memakai lagu ini) atau raungan kontemplatif nan sederhana seperti “John Wayne Gacy, Jr.” yang bisa kita temukan dalam album “Illinoise” (album nomer 2 saya dekade lalu), “The Age of Adz” tetap tampil dengan bisikan dan deru sang musisi. “Futile Devices” akan mengajak sedikit mengingat Sufjan yang dulu. Selebihnya, coba dengarkan saja “Impossible Soul”, dimana epik dan ambisius menjadi satu. Namun di balik euphoria elektronika yang dihadirkan Sufjan kali ini, entah aspek eksperimental yang ia buat ini juga sebuah “perjuangan”, coba perhatikan mengapa album ini diawali dan diakhiri dengan melodi yang sederhana; dentingan gitar yang dibalut kekuatan lirik lugas. Kadang kita sadar, sederhana saja, untuk jauh dari kata bosan, musisi mengambil resiko, bermain pada ide, bekolaborasi pada konsep baru, maka jadilah namanya; evolusi. Sufjan Stevens ada dalam fase itu.

 

Itu tadi rangkuman untuk album terbaik di tahun 2010 ini. Silakan menyimak sepuluh musik video terbaik versi saya yang akan saya umumkan (jika tidak ada kendala) besok.

Advertisements

4 thoughts on “Awya’s 10 Albums of 2010

  1. woww awya menyukai janelle monae, like her too, btw aq kira no.1 mu gorillaz lho hehehhehee…itu sufjan stevens yg kamu bilang lagunya *aku lupa* durasi ampe setengah jam itu bukan??? listnya machooo..eniwei cover albumnya beach house itu abstrak sekaliiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s