Review: “I Am Love”

[I Am Love]: Directed by Luca Guadagnino. Starring Tilda Swinton, Flavio Parenti, Edoardo Gabbriellini. US release date: June 18, 2010

“Keganjilan yang Orgasmik”

Sangat menawan menyimak seorang Tilda Swinton. Bukan saja karena di film ini ia adalah porselin yang disorot kamera dengan frontal (baca: telanjang), pun ia sebenarnya adalah “objek” menarik yang bisa ditelaah dari dua sisi: baik itu kelihaiannya bermain dalam peran beranekarupa maupun bagaimana ia menampilkan totalitas karaker Emma dalam  sinema besutan Luca Guadagnino ini. Masih ingat ketika Swinton bermain begitu gemilang tahun lalu dalam “Julia” (yang saya nobatkan sebagai penampilan wanita terbaik tahun lalu), atau dalam aspek yang lebih populis, kemenangannya yang sedikit mengejutkan dalam kiprah Oscar beberapa tahun lalu lewat “Michael Clayton”, menjadi pembuktian sendiri bahwa nama aktris ini memang diakui sebagai salah satu yang terbaik di generasinya.

Dalam “I Am Love”, ia bermain sebagai Emma. Perhatikan, kali ini Swinton seolah menunjukkan bakat lain—kelihaian linguistik—sepanjang film ia berucap dengan bahasa Italia namun dengan aksen Rusia, dimana di film ini ia diceritakan sebagai seorang Rusia yang menikah dengan industrialis Italia. Singkat cerita, sepanjang film, meskipun kita disuguhi oleh berbagai faset kondisi keluarga yang dibongkar dalam sisi yang episodik. Entah itu mulai dari anak perempuannya yang ternyata penyuka perempuan, sampai pada anak laki-lakinya, Edo, yang ternyata memendam kesedihan yang dalam.

“I Am Love” tak ubahnya sebuah sinema—saya menyebutnya “tanpa plot”—yang  tak akan ada salahnya mengingatkan akan karya-karya dari Michelangelo Antonioni atau yang paling mendekati adalah “The Leopard”-nya Visconti. Guadagnino menampilkan gaya bercerita yang setidaknya mengingatkan dengan sutradara tersebut. Ada berbagai keindahan yang dibesut dalam sekuen-sekuen yang terkadang terlihat liar, namun menyimpan romantisme yang menganehkan. Ketika kamera dari Guadagnino mencoba begitu romantis atau boleh saja disebut menelanjangi beberapa bentuk berikut ini: bunga, hidangan elok di atas meja, uniknya mulut mengunyah makanan, hingga riangnya rupa rerumputan yang diterpa angin, sang sutradara terasa orgasmis ketika menyatukannya pada bentuk yang terlihat ritmis-erotis-dan-romantis. Tengok saja bagaimana Guadagnino membesut adegan percintaan di ruang terbuka tersebut, bukan korden dan empuknya kasur yang ditawarkan, Guadagnino mengalihkannya ke alam terbuka, Membesut rerumputan itu yang dipadupadankan dengan eloknya bunga, menemani gairah dua insan tersebut. Terlihat simbolik, terlebih dengan editing dan bidikan yang frontal, bisa saja banyak yang menuduh hal ini begitu berlebihan, eksplorasi tanpa maksud. Namun, ada faset yang ingin disampaikan: dalam wujud birahi yang begitu menggebu, ruang terkadang begitu memabukkan.

Maka, ketika Emma yang memadu cinta terlarang itu, bersama Antonio—yang ironisnya merupakan sahabat anak lelakinya sendiri—menjadi aspek tabu yang disorot, bahkan sepanjang film seperti ingin berujar bahwa sebenarnya Emma telah terkurung dalam keluarganya sendiri. Sepertinya ia menemukan arti dalam kebebasan akan hubungannya dengan Antonio. Emma menemukan kenikmatan itu ketika mencipi hidangan buatan Antonio. Emma menemukan sisi kebebasan ketika ia memasak. Dengan kata lain, dalam aspek keliaran itu, makanan pula adalah aspek erotis yang menggairahkan. Lihat saja bagaimana sang sutradara membidik aspek memasak dan menikmati hidangan sebagai sebuah produk yang begitu menggairahkan. Mulai dari adegan awal perjamuan makan hingga ketika Emma mengagumi kelihaian Antonio, menyimpan maksud yang begitu rahasia. (sekedar informasi, sang sutradara sendiri menyebut bahwa adegan memasak di film ini terinspirasi dari karya masterpiece seorang Brad Bird, “Ratatouille”).

Sebagai sebuah film yang juga menjual aspek studi kapitalisme, “I Am Love” menyinggungnya di awal film, kemudian berlanjut di sepanjang film yang rupanya dikaburkan pada aspek lain yang dibawa Emma. Ada sentilan emansipasi yang diberikan, ada pengenalan “kebebasan” yang ia temukan ketika anak perempuannya—Elisabetta—mengakui bahwa ia seorang lesbian, atau sisi paling membingungkan ketika ia jatuh cinta dengan sahabat anaknya sendiri.

“I Am Love” tidak pernah selesai untuk menjawab pertanyaan yang muncul ketika menyimaknya, dan memang tidak pernah berniat untuk menyelesaikannya pula. Jadi seperti nikmatnya hidangan chef ternama, kita bisa mengerti bahwa bentuknya begitu menawan dan rasanya begitu mengagumkan, namun jika ditanya kenapa ia bisa begitu enak, ada rincian empiris yang akan coba menjawab, atau sebuah rincian yang sebenarnya tidak mampu dijawab.

Seperti Emma, chef tersebut sebenarnya hanya berbicara sebuah maksud yang terkadang: ia pun tidak mengerti.

Grade: [A]

 

Advertisements

One thought on “Review: “I Am Love”

  1. Wah ini salah satu atmosfir terbaik tahun iniih..tidak diragukan lagi..
    tapi aku lum bisa nangkap keunikan Swinton yang make bahasa Italia dengan aksen Rusia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s