Review “Eat Pray Love”: Seharusnya berakhir ketika “makan” saja


Directed by Ryan Murphy. With Julia Roberts, Javier Bardem, Viola Davis, Billy Crudup. US Release date August 13, 2010

Seharusnya berakhir ketika “makan” saja

Ada hal yang begitu unik ketika keluar bioskop selesai menyimak film ini. Hal yang sama seperti bagaimana selesai membaca bagian pertama dari memoar Liz Gilbert pula. Makan. Menyantap pizza dan spaghetti. Rasanya nikmat sekali.

Pun ada hal yang juga unik begitu meregangkan badan setelah menikmati dua jam lebih narasi, ada hal yang sama juga tersimpan ketika selesai membaca buku yang diadaptasi oleh film ini. Pertanyaannya yang muncul pun tetap sama, apa sebenarnya yang wanita ini inginkan? Pertanyaan yang tetap tidak pernah berhasil saya temukan  di dua medium berbeda tersebut, buku dan film. Rasanya saya tetap tidak mengerti mengapa Liz merasa bahwa pernikahannya terasa kosong, dengan alasan yang tidak pula bisa dipahami. Saya pun tidak mengerti mengapa seorang Liz merasa tidak nyaman ketika telah memiliki kekasih seperti David? Ah, jawaban yang ujung-ujungnya selalu berakhir pada kata: egois.

Dalam besutan seorang Ryan Murphy, “Eat Pray Love” muncul sebagai sebuah pengalaman berwisata yang menarik. Roma dan Bali itu cantik. Sedangkan India itu religius. Apalagi? Maka, bagaimana seorang Liz menghadapi suasana berlibur (atau lebih tepatnya mencari kesenangan) yang selama ini tidak pernah berhasil ia rasakan menjadi sebuah daya tarik film ini. Dalam pendapat yang begitu klise, sulit memang mengadaptasi sebuah buku yang menyimpan narasi personal dengan beribu pikiran pribadi yang kadang sulit dimengerti orang lain. Apalagi ketika buku tersebut memiliki penggemar yang melimpah. Ryan Murphy, ditemani oleh Jennifer Salt, mengadaptasinya ke dalam sebuah skrip yang sayangnya terasa tanpa letupan. Ada yang sedikit mengganggu (atau memang sangat menganggu) adalah karakter seorang Liz tidak pernah berhasil menarik minat untuk dipahami. Bisa diperhatikan juga bagaimana karakter sampingan yang hadir dalam hidup Liz, ah mereka nampaknya hanya dakocan yang dengan lihainya dipermainkan oleh seorang Liz. Bukan bermaksud antipati, salahkan skripnya yang membawa porsi “jalan-jalan” hanyalah sekedar “jalan-jalan” saja. Tanpa berhasil mencari kedalam dari “kesenangan” yang Liz cari. Iya, Liz memang begitu, iya kita paham bahwa Liz telah menemukan keseimbangan itu, iya itupun jika setidaknya kita membaca bukunya sendiri. Filmnya, rasanya terlalu singkat (padahal 2,5 jam sudah membosankan) untuk menggambarkan perjalanan seorang Liz ini. Buat saja serialnya mungkin?

Di lain hal, bidikan gambar di film ini terkesan begitu malas. Ah, Roma ditampilkan begitu saja. Oh, India terlihat begitu hiruk pikuk juga (diperkenalkan dengan suara bising suara M.I.A yang seketika mengingatkan dengan Slumdog Millionaire), dan Bali (ya, ini tempat tinggal saya), ah cantiknya, namun boleh saya ingatkan bahwa National Geographic pernah membesut Bali lebih cantik dari ini. Terkesan arogan, bukan juga, sang pembidik terlampau “malas” untuk menghadirkan atmosfir yang “cantik”. Roma, India, Bali, kita tahu seperti apa, dan sayangnya, film ini, juga terlampau loyal untuk menghadirkannya seperti apa yang kita tahu juga.

Namun, terlalu naïf rasanya jika tidak ada hal yang bisa dinikmati dari film ini. Perhatikan, saya sungguh tidak peduli dengan apa yang terjadi di India itu (sungguh!), dan saya hanya peduli dengan daerah mana yang dibidik di Bali (sungguh!). Ijinkan saya menganggap, bahwa “Eat Pray Love” seharusnya berakhir di kata “Eat” saja. Biarkan Liz merasakan nikmatnya makanan di Italia, atau mencermati kehidupan seorang Giovanni (dalam novelnya Liz bahkan menyinggung tipikal pria Italia yg masih tinggal serumah dengan orang tuanya, meski umurnya sudah cukup dewasa), atau bagaimana si Liz sendiri berkelana mencari rasa pizza terenak yang di dalam bukunya, telah berhasil membuat pantat ini ingin segera singgah ke kedai pizza. Maka, buatkan edisi Italia ini dengan besutan terbaiknya Ryan Murphy. Oke, coba ingatkan pula dengan episode “Pilot” dari Glee. Ingatkan bagaimana Murphy pernah menampilkan pergerakan kamera yang begitu asik ketika menyimak sebuah serial TV. Serta pula ingatkan bagaimana Murphy memperkenalkan setiap karakter dalam episode perdana Glee tersebut dengan begitu unik. Jadilah, sebuah film berjudul “Eat”, sebuah fragmen dari perjalanan Liz, dan sudah cukup untuk mencari jawaban dari “kesenangan” yang Liz cari itu. Ah, sayangnya, ini hanyalah ide nakal semata.

Akhir kata, lupakan saja apa yang saya tulis di atas tersebut. Lupakan saja segala argumen yang tidak berujung tadi. Mari lihat yang telah saya alami. “Eat Pray Love” nyatanya tidaklah seburuk yang saya pikirkan. Ada kenikmatan juga yang saya rasakan. Satu hal. Setelah keluar dari bioskop, film ini telah berhasil membuat saya berjalan ke sebuah tempat. Duduk dengan manis. Lalu menyantap pizza dan spaghetti dengan lahap. Sungguh!

Grade: [B-]

 

 

Advertisements

One thought on “Review “Eat Pray Love”: Seharusnya berakhir ketika “makan” saja

  1. “Setelah keluar dari bioskop, film ini telah berhasil membuat saya berjalan ke sebuah tempat. Duduk dengan manis. Lalu menyantap pizza dan spaghetti dengan lahap. Sungguh!”

    ini mah kelaperan, kan filmnya lama hehe 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s