Review: “The Social Network”

(from Balinale International Film Festival)

Dia yang membawa penyakit “update status

Masih teringat jelas ketika proyek yang terkesan buru-buru dan teramat dini tentang jejaring sosial paling digandrungi saat ini diumumkan secara resmi untuk dikreasikan ke dalam layar lebar. Apa ini? Proyek aji mumpung yang hanya ingin mendompleng nama Facebook? Ah, tercium bau komersialitas Hollywood yang teramat amis untuk dihirup seketika. Skeptis itu tetap bertahan meskipun nama David Fincher—terkenal sebagai visual stylist dan teramat cerewet dengan urusan gambar, terutama menyangkut penggunaan aspek digital dalam filmnya—akhirnya disandingkan dengan Aaron Sorkin—yang satu ini bolehlah dikatakan masternya di dunia pertelevisian dengan serial drama sukses “The West Wing” lengkap dengan ciri khas dialognya yang cepat. Maka yang ditunggu hanyalah bagaimana jadinya drama intrik penemu jejaring sosial yang begitu memikat jutaan pengguna internet ini di tangan dua orang tadi. Hembuskan napas sejenak. Skeptis yang bermunculan itu, nampaknya telah diluluhlantakkan oleh kedua orang ini.

“The Social Network” pertama kali mencoba mengenalkan kepada kita, hei, lihat, ini lho Mark Zuckerberg, perancang Facebook itu—dimainkan dengan memikat oleh Jesse Eisenberg. Lelaki yang jago bicara. Seolah tiap kali berbicara ia sedang mengolah arena pacu kuda dan selalu selesai di barisan terdepan pula. Hingga wanita di depannya, Erica Elbright, menyerah untuk bertarung dengan kelihaian mulut lelaki ini berkilah. Pada introduksi tersebut, Fincher, tengah mengenalkan kita apa yang ingin ia berikan untuk dua jam lamanya narasi film ini berjalan. Ia mencoba mengenalkan dahulu bagaimana piawainya Aaron Sorkin mengolah dialog dan begitu hipnotisnya terkadang membuat kita terheran, bahkan tertawa tanpa sadar dengan permainan kata yang ditawarkan. Di balik itu, Fincher pula tengah mengenalkan juga bagaimana ia mengolah gambar demi gambar dalam sinema yang ia buat ini. Menghadirkan atmosfir Harvard yang nampak lengang, hiruk pikuk di berbagai sisi, dan “dingin” di beberapa kesempatan.

Secara perlahan kita berkenalan dengan Mark Zuckerberg. Lelaki yang di mata Erica pantas disebut brengsek atau bajingan. Di sanalah kemudian muncul ketika secara perlahan begitu mengasyikkan mempelajari tingkah laku seorang Zuckerberg. Tipikal lelaki yang masa bodo, narsis, bertindak sesuka hati, dan menggenggam jiwa ambisius yang teramat kental. Di sini, mulailah kita melihat bahwa ada cerita yang lebih besar di dalam diri Zuckerberg yang teramat menarik untuk ditelanjangi ketimbang cerita terbentuknya jejaring sosial itu sendiri. Sebuah ironi, seorang Zuckerberg yang minin teman telah mengubah cara umat dunia berinteraksi.

Mari menengok sekilas ceritanya. Setidaknya, yang pernah membaca kisah bilioner muda ini, cukup familiar dengan bagaimana Facebook itu terbentuk. Setelah Zuckerberg didepak oleh Erica, amarahnya membuncah hingga bersumpah serapah di blognya dan membuat situs FaceMash yang mengolok-olok kaum hawa dan uniknya mendapat jumlah pengunjung yang membludak. Kesuksesan FaceMash menarik Divya Narendra dan Winklevoss bersaudara—kembar identik yang dimainkan oleh Armie Hammer, dan dibidik dalam balutan visual efek untuk memadukan kedua karakternya agar nampak nyata, meskipun terlihat masih kasar—mereka mengajak Zuckerberg sebagai programmer untuk merancang situs yang ingin mereka buat. Di lain hal, Zuckerberg, mendekati Eduardo Saverin (diperankan Andrew Garfield, beberapa tahun lagi akan populer sebagai sosok Spiderman) untuk membuat situs bernama thefacebook, dimana, Eduardo sendiri, bertindak sebagai penyandang dana. Sampai juga muncul, Sean Parker, penemu Napster, yang dimainkan dengan baik oleh Justin Timberlake, nantinya menjadi sosok penting dalam kesuksesan Zuckerberg. Singkatnya, Zuckerberg, Narendra, The Winklevosses, dan Saverin (tidakkah barisan nama ini begitu unik untuk didengar? Sekilas mengingatkan dengan nama-nama dalam dunia Harry Potter), mereka muncul sepanjang film dalam konstruksi melodrama “benar atau salah” di meja persidangan. Tempat dimana dialog cepat, merembet seperti petasan, serta humoris di beberapa kesempatan, disumbangkan Sorkin dengan porsi yang menyenangkan. Meskipun ada beberapa adegan yang terkesan “malu-malu” untuk dilihat, lebih tepatnya terkesan “mentah”, kolaborasi Fincher dan Sorkin sudah nampak nikmat untuk dilahap. Sejujurnya, dua jam hidangan ini, masih terasa kurang saja.

Jika melihat filmografi seorang Fincher, “The Social Network” tentu menghadirkan sekilas energi yang dimiiliki “Zodiac” (film terbaiknya Fincher sampai saat ini—pendapat si penulis review). Mulai dari beberapa atmosfir yang ditampilkan mengingatkan dengan bagaimana suasana “Zodiac” tercipta. Seperti film-film Fincher sebelumnya, “The Social Network” juga menawarkan fotografi yang memikat. Jika “Seven” begitu mengesankan ketika dibalut dengan suasana hujan yang kentara, lalu “Fight Club” terasa begitu sempit dan sesak, sedangkan “The Curious Case of Benjamin Button” begitu melankolis, maka “The Social Network” terlihat begitu ceria, seperti anak muda, memiliki atmosfir bebas, riuh, dan riang yang beriringan. Pun, balutan musik pengiring film ini begitu dinamis. Mulai dari dentuman keras suasana dunia malam yang seolah meneriakkan “anak muda sekali” hingga pada sisi yang tenang, sepi dan lengang yang mengiringi kontemplasi seorang Zuckerberg.

Meskipun film in berhasil memberikan kemasan yang enak untuk disimak, membangun konstruksi cerita ke dalam sebuah tembok kokoh dalam balutan drama persidangan, dan memeluk sisi ambisius dan menariknya aspek sebuah coming-of-age, menganalisa sebuah narasi yang disebut “kerakusan”, atau roman lebar yg disebut “persahabatan”, “The Social Network” lupa akan tembok lain bernama “dunia luar”, dan seperti Zuckerberg, ia terkurung dalam tembok yang dibangunnya sendiri. Maksudnya, kita peduli dengan mereka di dalam tembok itu (cerita film ini), namun, sayangnya tidak menyentuh sisi luar selain di dalam tembok itu (bolehlah dikatakan “emosi”).

Uniknya “The Social Network” mengajak kita menelaah, apa memang si Zuckerberg ini sosok yang pantas disebut brengsek? Mengapa sampai Winklevoss bersaudara berani menuntutnya?  Pertanyaan itu sudah bisa dijawab di pertengahan film. Lalu, rahasia mungil itu baru membuncah pada sosok Eduardo Saverin, pada satu kesempatan ia berujar, “I was your only friend” kepada Zuckerberg. Mengapa ia berbalik mengkhianati sang sahabat? Ketika semuanya itu terjawab, entah dari sudut pandang mana kita berpihak, Andrew Garfield telah menjadi penampil terbaik dalam film ini. Menawarkan kelucuan yang membuat terbahak-bahak, dan yang paling penting sosok Eduardo adalah “hati” dari film ini.

Pada akhirnya “The Social Network” adalah produk yang renyah untuk dikunyah, meski bukanlah produk yang menawarkan rasa yang sempurna. Namun, adakah diantara pembaca yang mengerti maksud dari celotehan orang di luar sana yang menyebut bahwa film ini adalah “film generasi kita”? Apa maksudnya? Apa karena ia bercerita tentang situs yang begitu dekat dengan kita saat ini? Apa karena kita memang tengah berada pada dunia ini, yang uniknya memang begitu dekat bahkan jika terkadang kita menganggapnya lelucon sekalipun. Entahlah. Satu hal yang sempat terbersit ketika menyimak film ini, hingga terkadang kita sebenarnya benar menyadari bahwa Facebook bukanlah sekedar “update status” dan pamer foto saja.

Coba perhatikan apa yang dilakukan Zuckerberg menjelang closing credit muncul. Entah ini menjawab petanyaan itu atau tidak. Maka nampaknya tak ada salahnya meminjam perkataan seorang teman: “Ah, déjà vu! Apa yang Zuckerberg lakukan di akhir film itu, pernah saya lakukan juga di Facebook!”

Grade: [B+]

 

Advertisements

16 thoughts on “Review: “The Social Network”

  1. Wow, interesting! Dari awal saya memang udah tertarik banget buat nonton film ini. Review dari kritikus luar juga mayoritas positif ya, bahkan ada yang membandingkan dengan The Godfather dan Citizen Kane. wtf? Se-luar biasa itukah film ini? I’m dying to see this.

    btw, blognya saya link ya. Hehe 😀

  2. Reviewnya menarik sekali. Clearly you really know what you’re talking about. Tapi ada beberapa hal yang saya tidak sependapat.

    I think the best performance was delivered by Jesse Eisenberg, in portraying Mark Zuckerberg. People can not decide of whether to hate him or love him. To be able to win sympathy after betraying your only friend, really hard to pull off. His tense personality throughout the intire movie just shows that he’s an unapologetic character whom eventually people … like to forgive?

    Andrew Garfield’s character as Eduardo Saverin does seem to be the “heart” of the movie, but is it possible that this is because he was the only character who was involved in this hooplah that was approached by Ben Mezrich and became his consultant in writing the book, so the book is actually somewhat…. his side of the story?

    You don’t think the movie shows enough emotion? Well I think they did, you just need to read between the line. The chemistry between Jesse and Andrew is undeniable. The way Ben Mezrich portraying Mark through Eduardo’s eyes, clearly he still cares about him. I guess that’s why the audience, or may be it’s just me….wanna forgive him. Coz I think from the tone of the movie….Saverin has already forgiven him…..but who knows….

    Personally….I really like the movie. Well it’s not perfect. For instance the way they ridicule the twins, was unnecessary. Which make me believe even more that the whole story is from Eduardo’s side. But the movie is very well written and beautifully directed. Screenplay is awesome and performances were powerful. So yea I think this is one of this year’s best!

    Dan satu hal lagi yang saya tidak sependapat, I think that 7 is still Fincher’s best work. Zodiac was somewhat flat…for me at least. But hey, I think it’s just a matter of taste…

  3. film “generasi kita”?
    oh yah? wow reviewer manakah yang menulis itu? boleh taukah 😀

    jadi penasaran nih, kyk ada sesuatu yang mengganjal setelah nonton the social network, tp gw msh belum sempet baca2 review yg lain :p

    baru punya labirin film sama awya nih 😀

  4. Gue suka banget film ini, i watched it two times dan masi terpukau,
    bahkan akhirnya download dialognya padahal ya seperti yang awya bilang, untuk ukuran fincher sih ini bukan film terbaiknya, I agreed, bahkan untuk fincher ini tetep terlalu ngepop dan well, bahkan ini bukan bio-movie pulak, tapi justru disitu aku sukanya,
    dari awal emang gak mengkaitkan film ini as Zuck’s biography, jadi nikmati aja sebagai drama
    anyway ttg drama generasi kita,
    kalo boleh komen sih mungkin lebih tepat ttg isi ceritanya ya, kalo dekade 90an punya reality bites as their movie,
    gue dengan bangga bilang WE HAD THE SOCIAL NETWORK!
    ini film yang bener2 totally ngelukisin kehidupan abg saat ini yg alih2 interact nyata, we’re too busy living in global village called internet :D, just my opinion sih

  5. @Movie Junkie:
    Hey, sorry for the late appearance of your comment. Only checking my blog once a while, and gotcha, your comment was on my spam (didn’t exactly know why, lol).

    I do like Jesse’s performance, if anything, i think he’s the second best on screen, you know, Garfield is the standout for me, tho perfectly i noticed it’s because he delivers what i thought as an emotion in the entire film. That breakdown scene, my god, that’s marvelous! (halah…)

    “For instance the way they ridicule the twins, was unnecessary”

    This is the one i referred to : “Meskipun ada beberapa adegan yang terkesan “malu-malu” untuk dilihat, lebih tepatnya terkesan “mentah”..”
    Honestly i think the scene where the twins knew that Zuckerberg has expanded his web to UK, just not typical Flincher for me, it’s feel cheesy, but that’s me.

    “I think that 7 is still Fincher’s best work. Zodiac was somewhat flat…for me at least.”

    Yeah, it has been on my mind for a period of time, do i really love Zodiac more than the thrilling Seven (my 2nd fave from him)? I just, maybe. But i think Zodiac accumulates what exactly Fincher never accomplishes from his other works. The character development, the structure, the thrill, the gorgeous cinematography, the atmosphere, and well it packed in one movie.

    Well, nice to have an argument with you, Movie Junkie. Once you have time please do chime in for discussion. We need a discussion, if everybody love consensus, oh this world is so boring. (Ngomong apa ya saya ini??? Lol)

    Bottom line: I like The Social Network. A “B+” grade for me is considered as “good to great” anyway.

  6. @Yuwanto: Hihi, banyak Mas kritikus/blogger (mostly Amrik) yang reference film ini sebagai movie generasi kita dengan alasan tertentu. Ada yg bilang karena tentang FB etc.

    @Movietard: Yup. agree. Kalo menurut saya sih memang The Social Network di sebut2 sebagai film genersi kita bukan karena ada FBnya (dan saya pun lebih melihat sebutan “generasi kita” harus dikaji at least 10 tahun lagi).

    Lebih setuju dengan pendapat kalo The Social Network nyerempet “generasi kita” karena menceritakan tentang bagaimana umat manusia di seantero dunia ini sekarang berinteraksi. Kenalan di FB, “sms-an di twitter, ngobrol di YM, dan sebagainya. Seperti yang situ bilang : WE HAD THE SOCIAL NETWORK!

    Saya menganggap, The Social Network bukan film tentang FB, tapi tentang hal-hal klise yg sering kita alami: persahabatan, ketamakan, ambisi, penghianatan, dan sebagainya.

    (oke sebelum ngelantur, segitu dulu diskusinya, kita lanjut lagi nanti, lol)

  7. Sungguh sedih melihat film The Social Network dgn mempertanyakan kebenaran dan moralitas dalam film tsb.

    Padahal arti sesungguh film ini terletak di teknis yang jarang disimak oleh penonton yg kritis. Narasi yang membuat decak kagum, arahan Fincher yang tidak bisa dipandang setengah mata atau sekedar pembuat film isapan jempol, akting Andrew Garfield dan Jesse Eisenberg yang masih muda namun bisa dieksploitasi akan kehebatan aktingnya. Dan musik Trent Reznor yang seakan serius dan tidak mengenal ampun dalam membangun sebuah film kontemporer dengan isu teknologi.

    Siapapun Zuckerberg itu, hanya seorang bilionaire yang didramatisir menuju sebuah film. Apapun fakta yg terjadi, tidak peduli, saya hanya perlu tertawa melihat kelucuan persahabatan ala narasi Aaron Sorkin, sama saya melihat kelucuan film Jason Reitman dalam mempertontonkan moralitas manusia. Semua hanya untuk kepentingan sebuah layar lebar, bagaimana ia bisa membuat sebuah film yang tidak sembarangan walaupun mungkin isunya sungguh tidak penting. Jujur, pertama kali mendengar The Social Network, saya tidak tertarik dgn film “sejarah Facebook”, membosankan, dan tidak relevan untuk sebuah film. tapi Fincher sungguh menampar dengan film ini, ekspektasi dari trailer yg menjanjikan membuat saya harus terpaku 2 jam akan sebuah cerita yg seharusnya tidak penting tapi bisa bertolak belakang.

  8. mas awya saya penunggu setia tulisan anda ……..!film social network bagus tapi dialognya terlalu cepat jadi agak sulit tuk ngikutinnya btw kapan neh film terbaik tahun 80 sama 90annya keluar di tunggu ya …….!saya nonton film new world ga selesai selesai memang ya inti ceritanya kayak film avatar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s