Mencermati rating NC-17 untuk “Blue Valentine”

Kemarin malam, saya sedikit terperangah ketika membaca twit dari The Playlist ini:

Ada apa dengan salah satu film yang saya nantikan ini, mengapa mendapat rating NC-17, oh tidak  kansnya di Oscar semakin menciut saja, dan oops, nampaknya ada unsur yang tidak beres ini, why oh why? Segala aspek berlebihan di pikiran saya itu muncul dalam sebuah twit beranak sumpah serapah:

Well, berita ini tentu saja telah mengundang banyak pihak bertanya mengapa MPAA sampai memberikan kartu rating paling “sakral” untuk film ini.  Sampai saya mencoba memahami, apa ada yang saya lewatkan selama ini, perasaan film ini tidak sempat mengundang kontroversi, malah sebaliknya mengundang simpati (baca: pujian).

Tunggu dulu,  mari kita lihat, The Playlist dalam artikelnya (yang mengutip berita dari Deadline) mengatakan bahwa yang menjadi alasan mengapa pihak MPAA memberikan rating tersebut karena ada adegan di sebuah hotel, dimana kedua karakter suami-istri (yang diperankan Ryan Gosling dan Michelle Williams) tengah dalam keadaan mabuk, dimana kemudian sang suami ingin melakukan hubungan seks, namun sang istri tidak menginginkan, namun akhirnya bersedia melakukannya demi menyenangkan sang suami. Okay, berhenti sejenak, saya sedikit berpikir, bukannya adegan seperti ini sering ya muncul di beberapa film, dan kadang tidak sampai pun mendapat rating seriskan itu. Atau ada adegan telanjang yang explisit di film ini? Jawabannya tidak. Atau adakah adegan kekerasan yang begitu eksplisit pula, yang ternyata tidak nampak memiliki pendukung juga.

Sampai akhirnya, Sasha Stone dari AwardsDaily  sedikit berhasil menyakinkan saya mengapa film ini akhirnya mendapat rating tersebut. Yaitu, adanya adegan oral sex di film ini. Meskipun begitu, kegondokan akan keputusan dari MPAA nampaknya semakin hari tidak akan habis saja. Seperti aturan kalau sebuah film menyebut kata “fu**” lebih dari tiga kali langsung mendapat ganjaran rating “R”.  Atau ada yang masih ingat ketika Roger Ebert kesal luar biasa ketika “School of Rock” mendapat rating PG-13? Kadang keputusan sebuah rating terhadap sebuah film begitu besar pengaruhnya karena menyangkut segmen pasar mana saja yang diperbolehkan untuk menyimak film tersebut. Film-film indie yang sarat dengan sisi artistik terkadang masa bodoh dengan rating yang didapat. Sebut saja misalnya “The Dreamers” yang rela-rela saja menerima rating NC-17 dan tidak ingin diedit lagi untuk mendapat pangsa pasar yang lebih luas. Contoh lain misalnya, Darren Aronofksy mengambil jalan lain dengan merilis “Requiem for A Dream” tanpa rating, karena kadang stigma sebagai film dengan “NC-17” sedikit menganggu.

Kalau boleh dilihat, banyak film-film yang sebelumnya harus berjuang keras agar bebas dari rating paling riskan itu. Contoh saja misalnya “Kill Bill: vol 1” yang harus diedit ulang agar terbebas dari rating tersebut. Contoh lainnya juga seri “Saw” yang juga keluar masuk meja editing untuk mendapat rating yang sesuai agar bisa laku di pasar. Bahkan “Saw 3D” harus diedit ulang sampai enam kali untuk lari dari rating NC-17. Namun, biasanya film-film dengan rating seperti ini akan mendapat sambutan yang hangat ketika DVDnya dirilis. Sebut sajalah seperti “Lust, Caution” yang sukses penjulannya di dalam DVD, setelah beberapa tahun lalu versi aslinya mendapat rating NC-17, dan harus diedit ulang agar bisa mendapat rating “R” dan tentunya bertarung di ajang-ajang penghargaan yang sayangnya tidak ramah dengan film-film berating terlalu “tinggi”.

Tentu saya sedikit kecewa dengan apa yang harus dialami “Blue Valentine” ini, mengingat kansnya untuk bertarung di ajang-ajang seperti Oscar semakin kecil saja. Entah siasat apa yang akan diambil The Weinstein Company untuk tetap memberikan peluang bagi kedua pemainnya tersebut merangsek obrolan Oscar.

Namun, di balik itu semua, ada sedikit rasa gembira juga ketika “Blue Valentine” mendapat sedikit jarak dari sebutan film bernuansa Oscar. Karena itu semakin meyakinkan Blue Valentine adalah film yang nampaknya menyimpan kenikmatan dalam menyimak sinema.

Untuk saat ini, sayangnya, “Blue Valentine” memiliki nasib yang sama dengan salah satu film paling kontroversial tahun lalu. Ehem, apa kabar “Antichrist”?

Simak juga trailer dari “Blue Valentine” berikut ini:

Advertisements

5 thoughts on “Mencermati rating NC-17 untuk “Blue Valentine”

  1. Bang Awya dah lama pengen tukeran link tapi kog ngak jadi jadi siih…hihihihi..
    Nyoal Blue Valentine’s iya senang juga agak jaga jarak dari label oscar

  2. @Dian: Perbedaan simpelnya, kalo R itu film2 yg di Amerika diperbolehkan ditonton oleh orang berumur di bawah 17 tahun, tapi harus ditemani oleh orang tua atau orang yg lebih dewasa.
    Kalo NC-17 rating paling restict. Orang umur 17 atau di bawahnya gk boleh nonton sama sekali karena biasanya mengandung konten yg ekstrim. Kekerasan ato sex yg eksplisit.
    btw, udah aku ling tuh.

    @Moan: itu blognya ygn moand and line cinema kan? udah aku link. Bagus blognya.

    @moviefreak: yuhu, thnks udah berkunjung. udah aku link.

  3. Whoaaa, NC 17? tapi katanya emang hot loh ya scene antara Williams and Goslingnya, do’oh! siap2 donlot deh ini, alamat gak bakal nongol di bioskop indo X(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s