Mini-Review(s): “Salt”, “Sex and the City 2”, “Prince of Persia”, “The Twilight Saga: Eclipse”, “Ondine”, “The Housemaid”

Beberapa film yang telah saya simak di tahun ini, dalam review yang begitu mini. Silakan menyimak.

“Salt”

Dikomandani oleh seorang Angelina Jolie, film ini bolehlah dibilang sekilas sebagai saudaranya “The Bourne Trilogy”, hanya berbeda gender saja. Aksi cepat, pakem spionase yang menyimpan energi “buru-buru”, lengkap dengan formula “twist” yang disimpan rapat-rapat hingga menjelang akhir film, meskipun sebenarnya akan menjadi tebakan mudah bagi yang sudah terbiasa menggagahi film sejenis. Dari beberapa sisi, “Salt” bukanlah film yang bisa dikatakan memberikan konsep baru di layar bioskop, dan seperti kebayakan film musim panas, “Salt” hanya ingin bersenang-senang, dan sedikit menggugah adrenalin kita. Hasilnya? Lumayan berhasil. [B]

“Sex and the City 2”

Ketika sebuah film sangat menjurus pada kata “chick flick” seperti film ini, rasanya ada tembok besar yang seolah tidak bisa dirontokkan oleh kaum Adam ketika mencoba mempelajarai lawan jenisnya. Benarkah wanita sebegitu sibuknya dengan dandanan? Benarkah wanita-wanita dalam film ini adalah potret kehidupan mereka? Tentu saja semua itu sekedar remeh-temeh retorika yang prematur.  Tapi ketika kaum mereka pun mendebat potret itu, siapa yang disalahkan? Beberapa sentuhan satir yang ingin disuguhkan tak ubahnya sebuah lelucon yang begitu mengundang guratan dahi (oh tunggu, negeri Arab juga pemuja kemewahan Hollywood, dan oh tunggu, wanita fashionable yang katanya begitu pintar itu, di usianya yang sudah puluhan tahun itu, tak pernah sedikitpun mendengar kehidupan wanita Arab? Benarkah?). Sebuah tipu daya mencari perhatian yang begitu tumpul, kita dipaksa untuk bersimpati pada mereka yang telah mempunyai segalanya dan tetap merengek sebagai manusia paling malang di bumi ini? Dan, ugh, semua cerita konyol ini harus diderita oleh penonton selama 2,5 jam? Dan, oh, kita juga harus merasakan begitu mengerutkan dahinya melihat Liza Minelli mencoba tampil seksi? Hinggga sempat terpikir, bagaimana ya jika ada sesosok wanita setelah menonton film ini, tiba-tiba merengek ingin menjadi salah satu karakter karikatur dari keempat wanita itu? Mungkin jawaban yang tepat hanyalah: geleng-geleng kepala. [D]

“Prince of Persia”

Meskipun berhasil menyunggingkan senyum di beberapa kesempatan, bahkan mampu melebarkan tawa, tetap saja cerita film ini tak bisa ‘diremehkan’ begitu saja dalam artian mungkin memang terlampau klise kalau “memang diremehkan”. Film yang bisa disebut “menghibur” dan memang tidak berniat untuk mencoba ambisius. Dimana produser hanya berniat menjual hiburan, bukan otak mumet ketika selesai menontonnya. Tapi tetap saja, kalau memang hanya ingin bercerita ala kadarnya, mengapa harus ke layar lebar? Serial televisi pun banyak yang bercerita lebih menggugah dari pada film ini. [C]

“Twilight Saga: Eclipse”

Meskipun sempat menobatkan “New Moon” sebagai  salah satu film terburuk tahun lalu, tetap ada niat untuk melihat seberapa jauh perkembangan seri ini lagi. Ah, ternyata, soup melodramatik yang diracik untuk menjauhi tabir kelam cerita vampire masih saja terkecap begitu hambar. Kurang garam dan merica, kurang cabai dan kecapnya. Terserah apapun itu. Bisa tidak di seri berikutnya memesan “chef” yang lebih handal? [D+]

“Ondine”

Film terbaru dari seorang Neil Jordan ini sebenarnya menyimpan atmosfir yang begitu menarik minat ketika muncul untuk mencampur dua sisi fantasi dan realita ke dalam balutan mitologi negeri Irlandia tersebut. Sepertinya ada rahasia yang tersimpan rapat untuk membuka tabir di balik narasi yang bergulir dan menyuguhkan sedikit keingintahuan, benarkah wanita ini seekor putri duyung? Konsistensi yang terampil di awal hingga pertengahan film menurun di paruh terakhir, terutama ketika tabir itu dibuka. Sebuah paket cerita yang tak begitu menggugah, meski boleh dibilang ada sisi yang tetap nikmat untuk diterima. Terutama balutan bidikan kamera yang ditampilkan Christopher Doyle. Bukan bidikan terbaiknya, namun tetep memanjakan mata. [B-]

“The Housemaid”

Erotis mungkin kata yang tepat disandingkan dengan film ini. Mengangkat sisi perselingkuhan dan rasa dengki yang muncul pada problematika cinta segitiga yang disuguhkan, lengkap dengan aksi teror-meneror yang kental, “The Housemaid” versi Im Sang-soo ini memiliki sisi seksi yang dikemas dipermukaan, namun sayangnya lenyap ketika berbicara karakter yang ditampilkan. Nampaknya, sang wanita malang, Euny (yang diperankan dengan meyakinkan oleh Jeon Do-yeon), punya alasan yang kuat dalam dirinya untuk begitu gigihnya memperjuangkan hak yang ia miliki. Hanya saja, kita tidak diyakinkan oleh motivasinya yang jelas mengapa semua itu pantas untuk dikorbankan. Memiliki sisi thriller yang tidak begitu menciutkan nyali, “The Housemaid” terasa seperti roti bakar yang tidak dibalut selai stroberi. [C+]

 

 

 

Advertisements

One thought on “Mini-Review(s): “Salt”, “Sex and the City 2”, “Prince of Persia”, “The Twilight Saga: Eclipse”, “Ondine”, “The Housemaid”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s