Review “Inception”: Ambisiusnya Mimpi

Directed by Christopher Nolan. With Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Marion Cottilard, Ken Watanabe, Tom Hardy. Running Time 148 minutes. US release date July 16 2010

“Ambisiusnya Mimpi”

Maka, inilah dia, film yang meraih atensi paling bergemuruh dari pecinta sinema tahun ini, masih dengan keharusan yang dibebankan untuk menyelamatkan muka sembab film-film musim panas yang tidak menggembirakan, singkat kata, “Inception” telah meleburkan beban itu dengan pijakan yang  kokoh.

Nolan, dalam “Inception” menghadirkan sesuatu hal yang begitu orisinil, dengan struktur ide berlapis dan referensi rumit yang menjadikannya formula kunci dari desain film ini. Dihadapkan dengan ide seperti ini: sebuah cerita berlapis ketika mimpi mempermainkan realita, sedangkan realita tak jelas entah mimpi atau nyata, sebenarnya ide seperti ini hanya akan dilirik oleh produser jikalau sesosok nama telah memiliki pijakan kokoh untuk meyakinkan publik. Christopher Nolan, bisa menikmati perhatian publik ketika menghadirkan ide liar pertamanya membentuk “Memento” dan menjual ide tersebut kepada insan independen yang akhirnya menghadirkan sambutan meriah. Hingga kemudian, ia menjadi sutradara pencetak ratusan juta dolar, maka “Inception” adalah sebuah film yang tentunya memiliki ide besar yang berani mengambil resiko kemungkinan gagal di mata produser. Dan, kini, marilah siapkan diri memasuki dunia yang ia tawarkan.

Idenya sebenarnya sederhana saja (atau terkesan teramat futuristik bergelut fantasi bisa jadi), Christopher Nolan menginginkan sebuah sajian dengan resep begini: “dunia di dalam dunia di dalam dunia”, atau “dunia di bawah dunia di bawah dunia”, atau “dunia di atas dunia di atas dunia”. Bingung? Ah, tidak juga, karena ide tersebut sebenarnya ingin dihadirkan dalam konsep berlapis yang kita sebut mimpi. Untuk semua itu, Nolan memperkenalkan kita pada sosok Dom Cobb (diperankan Leonardo Dicaprio) sosok yang memiliki spesialisasi menipu dengan konsepnya mencuri rahasia orang dengan menyelusup ke alam mimpi korban. Bukan untuk mengambil atau memberi informasi, namun Cobb datang untuk mempengaruhi pikiran sang korban sehingga apa yang ia inginkan terungkap lewat rahasia yang dibongkar oleh Cobb tadi. Baik, sampai di sini kita berpegang pada dasar premis tadi untuk memulai pembicaraan film ini. Maka seperti kemunculan kata “labirin” dalam satu adegan dialog film ini, “Inception” memulainya dengan sebuah pintu terbuka, hanya saja ia tidak memberikan satu jalur, namun lebih dari itu. Tak ubahnya sebuah labirin, “Inception” sebenarnya menghadirkan jalinan plot yang terkesan begitu rumit untuk dicerna. Seperti puzzle, tapi “Inception” sebenarnya tidak memberikan potongan depresif layaknya “Memento”, meskipun sebenarnya ada misi yang menyerupai “Memento”—boleh diterka saja bagaimana konsep dasar Nolan mempermainkan pikiran adalah santapan yang sama kita temukan dalam “Memento” juga—namun, di satu sisi “Inception” juga memiliki energi kerumitan yang ditawarkan oleh “The Prestige” dimana  ada motivasi dan rahasia yang dibalut romantisme di dalamnya. Kemudian, di satu sisi terseliplah atmosfir “The Dark Knight” (satu hal yang paling mengingatkan adalah pola aksi cepat yang dihadirkan oleh Nolan), dalam beberapa kesempatan Nolan begitu nyaman mengeksplorasi tatanan terbuka dari desain kota. Begitu pula tatanan sempit dari ruang dan juga waktu. Hal-hal yang sempat pula Nolan eksplorasi dalam “The Dark Knight” ini menghadirkan dentuman keras yang menciptakan sebuah tontonan aksi yang, kalau boleh dibilang, sungguh mengasyikkan.

Mulai dari situ, kita kemudian diperkenalkan mengenai problematika yang diposisikan sebagai sumbu peletup sajian cerita hidup dalam seluloid ini. Dom Cobb, sang ahli penyusup alam mimpi, nyatanya mengalami kerumitan hidup yang melibatkan nama Mal, istrinya, (diperankan oleh Marion Cottilard), yang sebenarnya memiliki peran penting pada berbagai kondisi psikis Cobb, yang terkadang senantiasa merusak rencana yang Cobb telah susun. Cobb tidak bisa kembali ke Amerika karena sebuah kejadian yang juga melibatkan Mal. Hingga akhirnya ia ditawarkan oleh Saito (diperankan Ken Watanabe) sebuah misi, jika berhasil, Cobb akan mampu kembali ke Amerika tanpa tuduhan apapun. Direkrutlah sosok Ariadne (diperankan Ellen Page—dalam kesempatan ini ia menanggalkan atribut ke-komik-an yang sering melekat). Ariadne, seorang mahasiswi arsitek, merupakan sosok newbie yang digunakan Cobb untuk membangun struktur ruang dalam mimpi tersebut, hingga akhirnya ia menjadi satu-satunya sosok yang mengetahui kondisi rahasia yang dialami oleh Cobb. Maka, singkat cerita, kita dihalau untuk melihat aksi komplotan penyelusup mimpi tersebut dengan bantuan Arthur (diperankan oleh Joseph Gordon Levitt) dan juga Eames (diperankan Tom Hardy—aktor yang sempat meraih puja puji dalam  “Bronson” tahun lalu) untuk kemudian mengobrak-abrik rahasia dalam misi tersebut, sosok sang korban adalah Robert Fischer, Jr (diperankan Cillian Murphy—familiar sebagai sosok Scarecrow dalam dua seri Batman-nya Nolan). Dari rangkuman cerita itulah kemudian ide futuristik Nolan dipertontonkan. Bagaimana sang sutradara menjelaskan ide yang ia tawarkan melalui skenario yang ia tulis sendiri (hanya film ini dan debutnya “Following” yang ia tulis sendiri), Nolan mencoba membentuk perspektif baru tentang imajinasi, meski sebenarnya telah disentil dalam “The Matrix” (Nolan sendiri mengakui terinspirasi dari film ini) dan memiliki teknik konseptual yang mirip, “Inception” meleburkan sebuah ide lain, bahwa isi komputer yang diobrak-abrik dalam “The Matrix” kini dalam imajinasinya dialihkan ke isi manusia, yaitu otak, dan menaunginya dalam tataran alam bawah sadar yang sering kita dengan santainya perbincangkan—mimpi.

Sekilas, membicarakan “Inception” setidaknya akan mengingatkan bagi sebagian yang telah menyimak konsep pengelanaan dalam mimpi yang sempat dihadirkan animasi arahan Satoshi Kon “Paprika”, dimana sekumpulan orang menjelajahi mimpi untuk memecahkan suatu masalah yang tidak berujung. Atau tidak keberatan rasanya membawa nama “Mullholland Dr” dalam pembicaraan film ini, karena karya David Lynch ini juga menghadirkan pengelanaan mimpi terbaik dalam sinema dimana mimpi sebenarnya memiliki absurditas tak terkira. Ketika “Paprika” dan “Mulholland Dr” hadir dalam wujud mimpi yang menakutkan, suram, maka sedikit berbeda, jalinan mimpi yang dihadirkan Nolan, begitu riil dan tak tersimpan guratan lebar entah mimpi dan realita, hanya saja bagaimana opsi tindakan dan pikiran di sini berperan penting dalam membentuk desain arsitektur yang membangun rekaan dunia di atas tanah lapang mimpi itu. Batasan tersebut diingatkan oleh sebuah totem yang diciptakan oleh tiap penyelusup mimpi sendiri, yang berfungsi membuktikan ia tengah di alam mimpi atau tidak ketika pikiran sudah tak mampu membedakannya.

Sebagai sebuah film musim panas, “Inception” cukup menguras pikiran dibanding sebagian film sejenis yang telah dirilis. Pun ketika ada sisi magis yang ingin disampaikan, Nolan tidak ketinggalan untuk menghadirkannya. Dari keseluruhan koreogafi aksi yang dihadirkan, tentu mengingatkan dengan beberapa koreografi yang muncul dalam “The Dark Knight”. Entah itu adegan balap-balapan di lalu lintas riuh yang begitu familiar. Ataupun adegan kucing-kucingan yang juga muncul begitu pekat. Akhinya Nolan menghadirkan sentuhan koreografi menakjubkan yang ia kemas dalam dua lapis alam mimpi berbeda, yaitu gravitasi nol di mimpi lapis dua dan jatuhnya mobil di mimpi lapis pertama. Ada teknik jungkir-balik dan melayang yang dihadirkan, boleh dibilang satu-satunya adegan yang paling bernuansa mimpi dalam film ini. Tidak perlu mencari pembenaran mengapa adegan itu menjadi gravitasi nol, dalam satu kondisi itulah mimpi sebenarnya karena ada sisi ketidaknyataan yang begitu aneh. Pun dalam sebuah interkoneksi sekalipun.

Sebagai sebuah produk team, alias ensemble cast, setiap sosok memiliki porsi sendiri, Marion Cottilard dan Tom Hardy adalah dua cast dalam film ini yang mengambil porsi pas  pada keterbatasan peran yang diberikan (well, mereka adalah scene-stealer, tentunya). Leonardo Dicaprio masih memunculkan seni peran yang konsisten, meski sebenarnya tak ada bedanya dengan akting yang sering ia tampilkan (boleh saja dibandingkan kesamaan teknik aktingnya yang tak jauh berbeda di “Shutter Island”). Begitupun Joseph Gordon Levitt yang berhasil menghadirkan penampilan terbaiknya dalam porsi yang pas (perhatikan, koreografi aksi terbaik dari Nolan dihadirkan aktor ini!). Tak ketinggalan pula Ellen Page yang mencoba hadir berbeda, meskipun terlihat kurang maksimal dan terkesan tidak nyaman dalam peran tersebut.

Di balik barisan cast ternama tersebut, terselip sebuah kondisi (kondisi yang uniknya pernah saya singgung pada sosok Martin Scorsese dalam “Shutter Island” juga) di mana bintang sebenarnya terletak pada otak di balik semua problematika mimpi dalam seluloid ini. Pada kesempatan yang sama, Nolan merupakan salah satu sutradara yang konsisten menciptakan karya-karya yang mampu meraih perhatian publik. Melalui “Inception” ia menemukan sebuah titik yang (mungkin) ia yakini merasuki aspek paling ambisius dalam karir penyutradaraanya.

Well, mimpi itu tanpa kita sadari (atau karena ia memang terletak dalam alam bawah sadar kita) sebenarnya merupakan produk paling ambisius yang selalu kita temui. Nolan, membuktikan itu dalam karyanya yang ia tawarkan bertajuk “Inception” dan dalam satu hal yang bersamaan, (bolehlah sedikit memainkan imaji), ia mungkin akan berkelakar seperti ini: “Ah, Inception ini sebenarnya adalah mimpi ambisius yang pernah saya reka, dulu sekali. ”

Uniknya mimpi itu, kini, menjadi realita.

Grade: (A)

Advertisements

11 thoughts on “Review “Inception”: Ambisiusnya Mimpi

  1. woho i’m a fan of your review, luas, jelas, ga nyentil spoiler, kaya akan vokebuleri kyk ga pernah kehabisan pilihan kata hhe.
    Setuju gravitasi nol dan mobil jatuh dengan super slow motion jadi adegan yang paling bernuansa mimpi, dan juga adegan paling mengesankan menurut saya 🙂

  2. Secara pribadi saya masih lebih menyukai Memento. Tapi tentu saja itu pernyatan yang tergesa-gesa, toh sama seperti Memento dan Mulholland Drive, film sejenis ini butuh disaksikan beberapa kali untuk bisa memutuskan dengan pasti.

    Suka banget reviewnya, bang. Dan banyak point yang saya sendiri sangat setuju.

    Cool blog, by the way 😉

  3. bayangin saya nonton film i ni cma ber3 satu bioskop padahal filmnya kren banget .walaupun jalinan ceritanya rumit tapi tetap berkesan untuk di nikmati

  4. bagian yg saya suka dan paling bernuansa mimpi emg cuma bagian pas mobil jatuh itu. film ini ga spesial2 bgt sih buat saya.. masih lebih suka the prestige jauuuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s