25 Animated Films of All Time

Animasi merupakan genre yang sering sekali menjadi sorotan saya. Boleh dibilang, animasi merupakan genre film yang paling saya sukai. Bagi sebagian orang, animasi mungkin termasuk genre paling childish yang hanya cocok dinikmati oleh anak kecil, namun sebenarnya, dalam animasi tersimpan kreativitas dan unsur artistik yang tidak terkira indahnya. Sudah banyak yang akan mengenal nama Pixar sebagai salah satu studio paling konsisten menghadirkan animasi digital yang begitu kuat dari sisi cerita dan begitu halus dari guratan animasinya. Atau mungkin ada yang begitu imajinatif dalam studio Ghibli dengan para animatornya yang punya style tersendiri. Seperti Misalnya Hayao Miyazaki yang sarat imajinasi mahadashyat, atau Isao Takahata dan Yoshifumi Kondo yang realis. Selain itu kita juga mengenal ada animator Jepang lain di luar studio Ghibli yang punya profil cukup dikenal, yaitu Satoshi Kon yang terkenal lewat “Perfect Blue”, cerita kocaknya di “Tokyo Godfathers”, atau favorit saya dengan imajinasi tak kalah dengan Hayao Miyazaki, yaitu “Paprika”. Dari sisi artistik ada juga Yuri Norstein yang sarat dengan animasi absurdnya, atau di sisi stop-motion ada The Quay Brothers yang punya penggemar tersendiri. Ada juga Henry Selick yang terkenal lewat “The Nightmare Before Christmas” dan “Coraline”. Nama-nama animator tersebut mungkin sedikit asing bagi yang jarang menyimak animasi, namun bisa saya yakinkan, mereka adalah sebagian contoh dari orang-orang dengan imajinasi yang boleh dibilang spektakuler.

Catatan: saya tidak memasukkan motion-capture atau konversi animasi ke dalam daftar ini, karena bagi saya mereka telah “mengkhianati” konsep dasar dari sebuah animasi, yaitu pengggabungan frame ke frame dimana setiap frame menyimpan imajinasi dan nilai artistik yang runtun ketika seorang animator membuatnya. Di situlah kelihaian seorang animator diuji hingga berhasil menciptakan karya terbaik mereka. Jadi, dengan alasan itu, film seperti “Waking Life” atau “A Scanner Darkly” yang merupakan film live-action dikonversi menjadi animasi tidak masuk daftar saya. Begitupun juga karya Robert Zemeckis seperti “The Polar Express” atau “A Christmas Carol”.

Maka, inilah daftar 25 animasi favorit saya sepanjang masa, 25 animasi yang berhasil menghadirkan kenikmatan menyimak sinema tak kalah hebatnya dengan menyimak live-action. Karena keterbatasan waktu, commentary baru dimulai dari nomor 15. Selamat menyimak!

25 Animated Films of All Time

25. “The Fantastic Planet” (Rene Laloux, 1973)

24. “Snow White and the Seven Dwarfs” (David Hand, 1937)

23. “Kirikou et la sorcière” (Michel Ocelot, 1998)

22. “Fantastic Mr. Fox” (Wes Anderson, 2009)

21. “Ghost in the Shell” (Mamoru Oshii, 1995)

20. “Paprika” (Satoshi Kon, 2006)

19. “Persepolis” (Marjan Satrapi, 2007)

18. “Toy Story 2” (John Lasseter, 1999)

17. “South Park: Bigger, Longer & Uncut” (Trey Parker, 1999)

16. “Whisper of the Heart” (Yoshifumi Kondo, 1992)

***

[THE TOP 15]

#15

“Grave of Fireflies”

(Hotari no Haka)

(Isao Takahata, Japan 1988)

Roger Ebert menyebut film ini sebagai salah satu film anti perang terbaik sepanjang masa. Saya, menyetujui hal itu. Jika Hayao Miyazaki setia pada imajinasi, maka satu pionir di studio Gibli ini, Isao Takahata, setia pada penceritaan realisasi. Jika anda tidak terharu melihat perjuangan kakak-beradik ini di medan perang, oh, maafkan jika saya menyebut Anda sungguh tak punya hati.

#14

“The Incredibles”

(Brad Bird, USA, 2004)

Mungkin, sedikit hiperbolik, satu-satunya film superhero yang akan saya anggap paling layak mengalahkan “The Dark Knight” (ya, The Dark Knight) karena menghadirkan sisi yang menyentil “Watchmen” dengan gambaran nasib para superhero ketika mengalami masa pensiun. Salah satu karya Pixar yang memiliki karakter wanita paling kuat, (okay, Pixar selalu dianggap antonim dari Ghibli), dengan keceriaan dan tingkat aksi yang begitu cepat, saya selalu menganggap Brad Bird adalah animator terbaik yang dimiliki Pixar.

#13

“The Mascot”

(Ladislas Starewitch, Russia, 1933)

Stop-motion terbaik sepanjang masa, begitu unik melihat ketika para boneka tersebut disandingkan dengan manusia itu sendiri. Dengan berbagai macam boneka hidup yang ditampilkan, terkadang menyebabkan bulu kuduk merinding.

#12

“Hedgehog in the Fog”

(Yuri Norstein, Russia, 1975)

Animasi yang hanya berdurasi sepuluh menit ini, menyimpan sisi artistik yang begitu memikat. Bercerita tentang seekor Landak (Hedgehog) yang hendak berkunjung ke temannya si Beruang (Bear) dengan membawa bungkusan selai rasphberry, mereka biasanya di malam hari selalu menghabiskan waktu menghitung bintang, maka diajaklah kita melihat perjalanan si Landak ini menuju rumah beruang. Kali ini si Landak mengalami kejadian aneh karena dia melihat seekor kuda putih melayang di atas kabut yang menyebabkannya ternganga, sampai akhirnya dia mengalami kejadian aneh berikutnya. Memang animasi ini begitu absurd, karena begitu banyaknya simbol yang ditampilkan, mulai dari kuda putih, anjing, sampai pada ikan penyelamat si Landak. Norstein menghadirkan beberapa sisi magis di sini, terutama mengemas kajian mimpi dan imajinasi menjadi absurditas dalam artian sebenarnya.

#11

“Fantasia”

(Various Director, USA, 1940)

Inilah dia, magnum opus dari Disney, atau bagi saya, animasi terbaik sepanjang masa dari Disney. Disutradarai oleh kumpulan sutradara di bawah naungan Disney, “Fantasia” menghadirkan delapan segmen animasi berbeda tanpa dialog, namun ditemani oleh alunan orkestra megah yang menjadikan “Fantasia” sebuah sajian komersial dengan unsur artistik yang mumpuni. Meskipun, ketika dirilis gagal secara komersial, namun saat ini dianggap sebagai salah satu film penting sepanjang masa dan telah masuk preservasi di perfilman Hollywood sana.

#10

“Akira”

(Katsuhiro Otomo, Japan, 1989)

Animasi sukses yang mengenalkan anime ke wilayah barat, “Akira” adalah contoh animasi yang menempatkan orang dewasa juga adalah penikmat genre ini. Begitu brutal, dan disturbing (terutama adegan penganiayaan wanita di satu adegan), “Akira” menempatkan Jepang sebagai negara yang paling memikat jika sudah berbicara mengenai goresan gambar. Dari sisi artistik sampai realisasinya, mulai dari konsep post-apocalyptic yang digusung, gang motor yang dihadirkan, sampai kekerasan yang begitu menyesakkan. “Akira” menjadi salah satu animasi paling diingat dan berpengaruh sampai saat ini. Mari berharap semoga versi remake yang konon akan digarap oleh Hollywood itu tidak merusak keklasikan versi aslinya.

#9

“Triplets of Belleville”

(Sylvain Chomet, France, 2003)

Tidak pernah terbayangkan animasi yang begitu sarat nuansa artistik seperti ini berhasil mendapat nominasi Oscar. Bayangkan saja sampai akhir film kita nyaris tidak dihadiahi dialog antar-karakter di animasi ini. Melainkan guratan artistik gambar demi gambar dengan buaian ekspresi dari karakter yang ditampilkan, dan tentunya berbagai aspek yang begitu absurd jika dibandingkan dengan animasi mainstream kebanyakan. Tidak sabar menantikan “The Illusionist” yang akan dirilis tahun ini dan sudah mendapat sambutan yang begitu baik. Terlebih “The Illusionist” sendiri diangkat dari skenarionya Charlie Chaplin-nya Perancis, siapa lagi kalau bukan Jaques Tati.

#8

“Princess Mononoke”

(Hayao Miyazaki, Japan, 1997)

Film terlaris sepanjang masa di Jepang awalnya, sebelum kemudian posisi tersebut diambil oleh Titanic, “Princess Mononoke” tidak hanya membuktikan begitu besarnya apresiasi animasi di negeri asalnya, namun betapa mereka mencintai animasi itu sendiri. Lewat film ini, Hayao Miyazaki menghadirkan tema tersembunyi penebangan hutan liar yang merugikan lingkungan dengan dibalut cerita supranatural pengelanaan Ashitaka untuk mencari penyembuhan diri, yang kemudian bertemu Putri Mononoke, dan jatuh cinta. Adegan pertempuran di animasi ini begitu intens dan menegangkan, bahkan lebih menarik dari film live action sekalipun.

#7

“Ratatouille”

(Brad Bird, USA, 2007)

Animasi yang dari semua di daftar ini memiliki kuantitas saya tonton paling banyak, “Ratatouille” selalu menjadi pilihan saya ketika ingin menyimak sajian sinema yang ringan namun menyimpan sisi artistik di setiap lini. Pertama kali menyimak “Ratatouille” saya dibuat terpukau dengan begitu dewasanya tema yang diambil film ini (film paling dewasa dari Pixar bagi saya). Bukan hanya sebuah sentilan saja, karena ketika tikus ditempatkan sebagai karakter sentral, Pixar telah mengambil sisi paling riskan dari sebuah anatomi kehidupan manusia. Sosok menjijikkan menjadi sosok mengagumkan. Bukan hanya bagaimana paradoks itu dikemas dengan begitu khas, menyimak Paris yang eksotis melengkapi nada artistik itu. Adegan sang kritikus yang mengingat sang ibu ketika memakan ratatouille selalu membuat saya, jujur, teringat dengan ibu saya sendiri. (terkadang tanpa sadar hati ini tersentuh luar biasa). Ada hati di sana. Narasi panjang dari Anton Ego itu, selalu memberikan pembelajaran yang begitu menggugah tentang seni mengkritisi bagi seorang kritikus. Kemudian diakhiri dengan alunan merdu, “Le Festin”, selalu menghadirkan ketenangan yang begitu menakjubkan. Beri saya animasi seindah ini, saya bersedia mengaguminya sepanjang hari.

#6

“Spirited Away”

(Hayao Miyazaki, Japan, 2002)

Animasi pertama yang memenangkan penghargaan utama di Berlin International Film Festival dan film yang mengalahkan Titanic sebagai film terlaris sepanjang masa di Jepang, dan yang paling penting, film pertama yang membuat saya ternganga dengan keajaiban dari Hayao Miyazaki. Kekuatan Hayao Miyazaki dalam menciptakan karakter, hadir di sini. Berawal dari Chihiro yang manja, kita dihadapkan pada petualangan luar biasa gadis tersebut untuk menyelamatkan kedua orang tuanya yang berubah menjadi babi. Di sini, kita melihat perkembangan karakter sang gadis yang menjadi pemberani dan mendapat pembelajaran diri yang begitu mengesankan. Ini magis, setiap lini menyimpan keajaiban yang begitu mengagumkan. Hayao Miyazaki menghadirkan keindahan dan keajaiban di setiap saat tanpa lupa meninggalkan segelintir pesan moral yang teramat penting. Oh, ingat adegan lampu yang bisa melompat itu? Hanya hayao Miyazaki yang bisa membuat hal sederhana menjadi begitu mengagumkan seperti ini!

#5

“Nausicaa of the Valley of the Wind”

(Hayao Miyazaki, Japan, 1979)

Karya pertama Hayao Miyazaki berkenalan ke publik, inilah dimana beliau mengenalkan pada dunia magisnya imajinasi dalam setiap goresan sebuah gambar. Dimana sebuah gambar ke gambar menyimpan cerita runut yang begitu besar dan epik. Amat mengagumkan melihat karya pertama beliau yang begitu detail dan menyimpan pesan yang teramat dalam mengenai peperangan dan paling penting adalah mencintai lingkungan.

#4

“The Man Who Planted Trees”

(L’Homme qui Plantait des Arbes)

(Frederick Back, France, 1987)

Ini salah satu animasi di daftar saya yang saya kagumi karena style dan ceritanya yang begitu inspiratif. Di sini kita melihat goresan krayon yang begitu sederhana berhasil menghadirkan visualisasi yang begitu indah. Bercerita tentang seorang pengelana yang bertemu dengan seorang gembala yang hidup sendiri di sebuah daerah kering, kita melihat narasi dari seorang pengelana tersebut mengenai sang gembala. Sang gembala, memiliki kebiasaan unik mengumpulkan biji pohon ek, memilah dan memilihnya, lalu menanamnya di daerah bergurun tersebut. Sampai akhirnya tumbuhlah ribuan pohon ek yang kemudian menjadi hutan. Di sini kita melihat perjuangan seorang lelaki pada kesetiaan dan keyakinannya akan sebuah kehidupan: tumbuhnya pohon. Inspiratif.

#3

“WALL-E”

(Andrew Stanton, USA, 2008)

Bagi saya, WALL-E adalah karya terbaik yang pernah dihadirkan Pixar. Di sini tersimpan harta karun kejeniusan senti demi senti dari sang kreator. Mulai dari sentuhan bisu yang begitu artistik, menghadirkan seni dalam tataran paling jenius. WALL-E dan EVE tak ubahnya adalah referensi tingkah laku Charlie Chaplin dan Virginia Cherrill yang menghadirkan romantisme ceria ala “City Lights” atau bahkan ada aspek antagonis sebagai homage autopilot HAL 9000 dari “2001: A Space odyssey”. Bahkan “Hello Dolly” yang tidak dianggap karya yang begitu diingat, tiba-tiba saja terasa memiliki daya tarik sendiri ketika “WALL-E” menghadirkannya. Karya masterpiece seperti ini jarang dihadirkan ketika hiburan yang kapitalis berhasil menyelipkan seni yang begitu rupawan. “WALL-E” akan diingat dalam waktu yang lama sebagai karya terbaik Pixar. Setidaknya bagi saya, “WALL-E” akan memberikan standar yang terlampau jauh untuk berhasil dilewati oleh Pixar sendiri. Jika itu terjadi (saya tidak yakin dalam sepuluh tahun ke depan itu terjadi) atau jika memang itu terjadi, Pixar mungkin telah menghadirkan karya yang akan diingat sepanjang masa. Untuk saat ini “WALL-E” yang memegang status itu.

#2

“Tale of Tales”

(Yuri Norstein, Russia, 1976)

Disebut-sebut sebagai animasi terbaik sepanjang masa oleh pemerhati animasi, “Tale of Tales” bercerita tentang memori yang tidak runut, sering dibandingkan sebagai versi animasi dari “Mirror”-nya Andrey Tarkovsky. “Tale of Tales” menghadirkan berbagai kisah yang tumpang tindih, tidak berurutan. Mulai dari kisah seorang anak pemakan apel yang memiliki ayah pemabuk, diceritakan memiliki imajinasi dengan burung-burung. Kisah perempuan yang kehilangan pasangannya ketika berdansa yang menandakan para lelaki dikirim ke medan perang. Atau kisah seekor serigala kecil yang mengemong bayi manusia. Semuanya tak ubahnya sebuah memori yang campur aduk, dan cenderung absurd. Norstein, berusaha menyampaikan pada kita lewat gambar-gambar tersebut. Sebuah karya yang artistik.

#1

“My Neighbor Totoro”

(Tonari no Totoro)

(Hayao Miyazaki, Japan, 1988)

Inilah animasi paling bijak di bumi ini: menempatkan imajinasi pada perspektif anak-anak, tanpa sedikitpun terjerumus untuk menghakimi. Jarang ada animasi yang mencampurkan emosi dan imajinasi dalam posisi begitu nikmat seperti ini. “My Neighbor Totoro” sendiri bahkan sering pula dikait-kaitkan dengan karya-karya masterpiece Yasujiro Ozu (sebut saja Tokyo Story). Dalam animasi, lewat Hayao Miyazaki, kita menyimak sisi psikologi dari dua kakak beradik yang tengah diliputi kedukaan karena sang ibunda terbaring di rumah sakit, diikuti dengan bagaimana keceriaan dua kakak beradik tersebut yang baru pindah rumah ke sebuah rumah tua di pedesaan. Kemudian bertemu dengan makhluk besar nan menggemaskan yang mereka sebut “Totoro”. Hebatnya, “My Neighbor Totoro” tidak pernah berniat untuk mencampuri dan menghakimi imajinasi mereka, setia bercerita dalam perspektif anak-anak. Ini puncak ketika emosi dan imajinasi dihadirkan oleh goresan tangan dari kreatornya. “My Neighbor Totoro” telah mengingatkan kita bahwa begitu sederhananya imajinasi bisa menghadirkan hati yang teramat besar.

Hayao Miyazaki, mungkin sudah tidak diragukan lagi sebagai salah satu animator terbaik di bumi ini, banyak karya imajinatif yang terkadang terlampau kental dengan pesan moral yang senantiasa  dihadirkan dalam karyanya. Namun, di balik itu semua, kekuatan hati, kekuatan masterpiece yang Miyazaki hadirkan, puncaknya terletak pada kesederhanaan bernama “My Neighbor Totoro”.

Jika hidup begitu sederhananya, begitu manisnya seperti yang diceritakan “My Neighbor Totoro”, ah alangkah nikmatnya hidup di bumi ini, maka tak ada salahnya untuk selalu tersenyum setiap hari.

***

Itulah rangkuman animasi favorit saya. Berikut rangking beberapa animasi berdasarkan studionya sekaligus 5 animator favorit saya.

5 Favorite Animators:

  1. Hayao Miyazaki
  2. Yuri Norstein
  3. Brad Bird
  4. Satoshi Kon
  5. Isao Takahata

Animated Films of the Decade (2000-2009):

  1. WALL-E
  2. Spirited Away
  3. Ratatouille
  4. Triplets of Belleville
  5. The Incredibles
  6. Persepolis
  7. Paprika
  8. Fantastic Mr. Fox
  9. Monster, Inc.
  10. Mary & Max

Ranking 11 Pixar’s

  1. WALL-E
  2. Ratatouille
  3. The Incredibles
  4. Toy Story 2
  5. Monster, Inc.
  6. Toy Story 3
  7. Finding Nemo
  8. Toy Story
  9. Up
  10. A Bug’s Life
  11. Cars

Rangking Top 10 Ghibli’s

  1. My Neighbor Totoro
  2. Nausicca of the Valley of the Wind
  3. Spirited Away
  4. Princess Mononoke
  5. Grave of Fireflies
  6. Whisper of the Heart
  7. Porco Rosso
  8. Howl Moving Castle
  9. Ponyo
  10. Kiki’s Delivery Service

Rangking Top 5 Disney’s

Dari begitu banyaknya film Disney, hanya 5 ini yang saya sukai:

  1. Fantasia
  2. Snow White and the Seven Dwarfs
  3. Dumbo
  4. Bambi
  5. Beauty and the Beast

Apa animasi favorit Anda sepanjang masa? Diskusikan di sesi komentar!

Advertisements

5 thoughts on “25 Animated Films of All Time

  1. Tale of Tales is definitely on my top list too.
    And speaking of stop motion, you should see The Cameramen’s Revenge. A Stop Motion in the Year of 1912!
    Last but not least, no Lion King on your favourite Disney??? Seriously???

  2. I’m not a big fan of animation, but this is a really cool list.

    Studio Ghibli memang harus berada di puncak. Dan saya sangat setuju kalo Wall-E adalah animasi terbaik Pixar, saya selalu teringat 2001-nya Kubrick kalo nonton film itu. Wall-E dan Eve itu ibarat Fred Astaire dan Ginger Rogers berubah jadi robot dan berdansa di angkasa. Haha.

    And thanks for not putting converted animation to the list (walau sialnya jadi harus menyingkirkan film sekeren Waking lIfe)

  3. List yng luar biasa om..
    Buat saya ptibadi my neighbor totoro memang sangat luar biasa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s