Review “Toy Story 3”: Apakah mereka telah kadaluarsa?


[Toy Story 3] Directed by Lee Unkrich. With Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack. Running time 103 minutes US release date June 18 2010

Apakah mereka telah kadaluarsa?

Ada segelintir studio yang setiap kali merilis film baru, selalu menempuh sebuah pertanyaan ringan yang sebenarnya terlihat begitu menantang bagi studionya itu sendiri. Bukan lagi apakah sang studio berhasil meraih apreasiasi publik, namun apakah si studio sendiri berhasil melampaui karya mereka sebelumnya. Itu pertanyaan besarnya. Pixar adalah satu-satunya studio di Hollywood yang hanya akan dihujani pertanyaan seperti ini. Sepuluh karya mereka, telah memberikan sebuah track-record langka yang nampaknya sulit dilampaui oleh studio lain, setidaknya untuk saat ini.

Sebelas tahun setelah menempuh pujian lewat “Toy Story 2” yang ternyata memiliki cerita tragis sebelum akhirnya menjadi sequel sukses (awalnya hanya akan direct-to-video), “Toy Story 2” menghadirkan emosi yang begitu dekat dengan manusia, tentang perubahan, yang diceritakan lewat perspektif mainan. Benda mati. Lima belas tahun setelah menapakkan pondasinya sebagai salah satu film paling berpengaruh sepanjang masa, “Toy Story” masih tetap menjadi salah satu animasi terbaik yang dipuja penggemarnya. Kini, mengawali dekade baru, Pixar memberikan seri ketiga dari petualangan para mainan milik Andy tersebut, dengan sebuah ekspektasi besar; berhasilkah “Toy Story 3” ini sebaik dua seri sebelumnya? Atau pertanyaan terbesarnya, berhasilkah pixar melampaui karya mereka sebelumnya?

Mari jawab pertanyaan itu nanti. Sekarang kita dihadapkan pada sosok Andy, yang sekarang telah beranjak dewasa, hendak memulai hidup baru sebagai seorang mahasiswa. Lihat, ada perubahan kembali yang ingin diceritakan Pixar ketika sebelumnya sempat memaparkan cerita mini tersebut lewat sosok Jessie di seri keduanya. Kini, para mainan tersebut, yang dikomandani oleh dua bersahabat Sheriff Woody dan Buzz Lightyear, mencari berbagai cara agar mereka mendapat perhatian kembali dari Andy. Salah satunya adalah dengan cerdiknya menggunakan bantuan telepon genggam dengan harapan Andy tergiur untuk memainkan (atau setidaknya menyentuh mereka). Ternyata tidak juga menghadirkan apa yang para mainan itu harapkan. Maka, dimulailah kita disadarkan bahwa Andy tidak akan kembali seperti dulu lagi. Bahkan, di satu sisi, adiknya sendiri telah meninggalkan Barbie kesayangannya.

Singkat cerita, para mainan itu terjebak di Sunnyside Daycare dan berujung menemukan teman-teman baru. Mulai dari si pemimpin, boneka beruang merah muda beraroma stroberi bernama Lotso, boneka Big Baby (yang sebenarnya sedikit menakutkan), hingga pujaan hati Barbie, yaitu Ken dengan tingkah lakunya yang sedikit narsis.

Lalu apa yang ingin Pixar berikan kali ini? Ada beberapa karakter baru yang mewarnai film ini. Mari kita lihat gambaran ini; seperti biasa Pixar menghadirkan formula sederhana yang sebenarnya selalu diperkenalkan oleh Disney lewat karyanya berpuluh-puluh tahun lalu yaitu: good vs evil. Di sini kita dipertemukan oleh sosok Lotso yang dari perawakan dan warnanya yang begitu manis dan berbulu lembut (mengingatkan dengan Sulley di “Monster, Inc.”, salah satu karakter Pixar dengan detail paling kompleks) yang berpihak sebagai sosok jahat di sini. Sedikit menimbulkan pertanyaan; mengapa dia sejahat itu? Pixar tentu menghadirkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Kemudian, ada sosok Ken yang bersekutu dengan Lotso, sosok pria metrosexual yang terobsesi dengan fashion dan bahagia memperagakannya pada si Barbie—yang di dunia per-boneka-an merupakan pasangan kodrati si Ken. Ken memunculkan satu karakter yang ambigu. Entah ia hanya korban asutan seorang Lotso, atau ia punya alasan sendiri sehingga bertindak begitu antagonis. Tidak ada motivasi jelas yang memperkuat karakter ini. Boleh saja diingat sambil lalu sebagai penyemangat humor di film ini. Jika itu tujuannya, maka ia berhasil. Kemudian ada sosok Big Baby dengan kondisi sebelah matanya yang sudah tidak normal, sebenarnya merupakan sosok boneka paling menakutkan di film ini. Ketiga boneka tersebut memiliki screen time yang banyak di sini. Saya pribadi menginginkan sosok-sosok familiar di dua seri sebelumnya lebih memilki waktu yang banyak untuk memberikan ruang bagi mereka menampilkan diri. Terlebih mengingat di sinilah waktu terakhir mereka bersenda gurau dengan Andy. Selalu menjadi sebuah kesenangan sendiri ketika ada sisi yang kita inginkan dari Pixar untuk “seharusnya” dihadirkan dari perspektif kita, karena sebenarnya sebuah kritisasi adalah sebuah objek dari subjektifitas kita mencintai karya-karya mereka. Pun segala hal tersebut, sebenarnya sebuah aspek dari kecintaan saya pada karya mereka. Maka, mungkin, “arogansi” tadi hanyalah remeh-temeh yang tidak perlu dipusingkan.

“Toy Story 3” menghadirkan sebuah petualangan pelarian diri yang begitu intens dan sekaligus paling humoris dari karya mereka sebelumnya. Mulai dari tingkah laku pasangan Barbie-Ken yang begitu dieksplotasi sehingga menimbulkan percintaan ala lelucon telenovela yang begitu menguras tawa, atau perubahan bentuk  Mr. Potato Head yang begitu unik dan lucu (salah satu bentuk keunikan tangan kreator Pixar), sampai akhirnya begitu explosif dengan tawa yang konstan sepanjang sekuen melihat tingkah laku Buzz Lightyear dengan mode bahasa Spanyol, merayu pujaan hatinya, Jessie, berhasil meleburkan tawa paling kencang dan keras dari mulut penonton (dan mungkin salah satu momen terlucu dari Pixar). Sampai di situ kita dihadapkan pada sebuah keceriaan. Kita disadarkan pada sebuah proyek yang ingin dibuat untuk dedikasi pada keklasikan seri sebelumnya. Maka, lupakanlah keambisiusan tiga karya terakhir mereka, “Up”, “WALL-E”, dan “Ratatouille’” yang dibuat dengan sisi artistik mumpuni dan telah menghadirkan sisi “magis” sejak awal cerita. “Toy Story 3” hingga sekuen ini belum memberikan “magis” Pixar yang selama ini kita kenal.

Belum sampai credit title muncul, ternyata “Toy Story 3” menyimpan rapat “magis” tersebut di sepuluh menit terakhir film ini. Di sinilah, semua konklusi berakhir pada sebuah penyadaran yang begitu menyentuh bagi penikmat petualangan mainan ini. (Saya, salah satu dari sekian ribu orang yang tumbuh sejak kecil bersama “Toy Story”). “Toy Story 3” menghadirkan akhir yang begitu menggugah tentang perubahan, tentang kedewasaan, dan (mungkin pandangan serius) tentang menghadapi kematian (mortalitas). Di sini akhirnya Pixar menggugah sisi “magis” itu bukan dari artistiknya sebuah animasi ditampilkan, namun dari begitu besarnya sebuah hati diceritakan. Andy, telah menginjak dewasa, ia akan menempuh masa kuliah, Woody dan Buzz tak mungkin akan bersamanya. Kini saatnya mereka diterima olah sosok lain, sosok anak-anak, yang setia menyayangi mereka, bahkan untuk sekedar benda mati sekalipun. Akhir film ini menghadirkan keharuan yang begitu menggugah. Ia adalah teman baik dari tawa. Ia bernama tangisan.

Maka, biarkan kini saya menjawab pertanyaan yang dengan retoriknya saya lontarkan di awal tadi. Memang, “Toy Story 3” bukan karya terbaik Pixar, namun ia telah mengukuhkan sebuah legitimasi tentang konsistensi sebuah studio yang akan selalu menghadirkan karya terbaik sejauh yang mereka bisa. Namun, yang paling penting, “Toy story 3” telah meninggalkan bekas (atau luka, atau yang lebih ekstrim, tato) yang dipahat dengan balutan rupawan bernama keceriaan, dan, perkenankan saya mengatakan ini, tangis, pada sebongkah hati penontonnya.

“Toy Story 3” mengingatkan kita akan satu hal bernama, perubahan; ia adalah bentuk maya yang benar-benar memburai nyata sebagai transisi di hidup ini. Dari sebuah kontemplasi perubahan tersimpan cerita. Di balik perubahan kita mengenal mortalitas. Di sana tersimpan kata “kadaluarsa” yang seharusnya dibuang saja. Mereka (para mainan itu) ditinggalkan bukan karena perkara usang, namun, mereka sebenarnya ada dalam tatanan bijak bernama “pergantian”. Kalaupun juga ini harus berakhir, “Toy Story 3” mengisinya dengan manis. Terka saja, Woody dan kawan-kawan telah menepuk punggung saya, lalu memburai tawa renyah, dan mengurai tangis itu. Tidak ada yang lebih jujur dari tawa dan tangisan di bumi ini. Mereka adalah ekspresi paling jujur yang pernah dilahirkan oleh sebuah kata bernama: kecintaan.

Ya, “Toy Story 3” telah memberikan hal itu.

Grade: (A-)

Advertisements

4 thoughts on “Review “Toy Story 3”: Apakah mereka telah kadaluarsa?

  1. jujur, waktu ngajakin temenku nontn film ni sebenernya ga suka2 amat. kesan ntn film 1 dan 2 udah lupa sama sekali. tapi waktu ntn…jeng..jeng..jeng..mengharu-biru bgt nh film. >.<

    memang, perubahan adalah hal yang tak pernah berubah. every person should move on to live their life, dan tak terkecuali untuk 'para mainan'.

    Pixar's the best. Begitu pas dan pintarnya memunculkan berbagai emosi bagi para penontonnya, terlebih lagi dalam bentuk kartun.

  2. hari ini aku di kampus aku ada kelas pixar.. dan trust me, it’s not pixar fault to have that such “over date” story.. ^___^

    bahkan pixar menangis untuk toys story 3…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s