Review “Kick-Ass”: Mendobrak Eskapisme untuk Sebuah Eskapisme Baru

Directed by Matthew Vaughn. With Aaron Johnson, Garrett M. Brown, Clark Duke Running time 117 minutes US Release Date April 16 2010

Mendobrak eskapisme untuk sebuah eskapisme baru

“Kenapa nggak ada yang mau jadi  superhero, ya?”, seloroh ringan Dave Lizewski kepada dua temannya. Maka, dimulailah pertanyaan sederhana tersebut mengenalkan sebuah proyek independen yang niatnya menyentil kegagahan para superhero; apa kabar Tony Stark yang narsis, Bruce Wayne yang gagah namun kadang lepas kendali, atau si kutu buku yang kalem, hei engkau Peter Parker? Perkenalkanlah kini hadir Dave Lizewski—pemuda yang nasibnya “bersaudara” dengan Peter Parker—sosok pria teralineasi di sekolah, korban bullying, bukan seorang pria populer macam pemain basket atau kapten sepak bola (masih eksis jugakah streotip ini?), dan semakin lengkap dengan hadirnya perempuan manis nan seksi yang diam-diam menjadi putri impiannya. Malangnya, sang perempuan mengira ia seorang penyuka sesama jenis. Lengkaplah nasib pria tidak beruntung ini.

Dengan berbekal kostum hijau hasil pembelian di eBay yang jauh dari kesan gagah serta pentungan yang begitu kampungan jika dibandingankan dengan senjata artifisial milik milyarder Tony Starks atau Bruce Wayne. Bahkan tak semagis jaring laba-laba “saudaranya” sendiri a.k.a Peter Parker, Dave Liewezki mencoba menanggalkan segala eskapisme dari konstruksi basi sebuah paket superhero yang “wah” dengan menciptakan realisasi dari eskapisme tersebut, yang nyatanya telah menciptakan eskapisme baru lagi. Matthew Vaughn—sang sutradara—menjanjikan cerita yang begitu unik: bisa tidak dengan berbekal ala kadarnya (tanpa senjata canggih dan skill bela diri—hanya bermodal nekat) seorang superhero eksis di bumi ini?

Maka, diperlihatkanlah konsep baru yang paling sederhana dari sebuah tindakan superhero: pertama, menggagalkan dua gelandangan yang hendak mencoleng mobil, Dave Lizewski melakukan “test-drive” seberapa beranikah dan mampukah ia menyandang misi yang digagasnya itu. Malangnya, ia malah berakhir terkapar di rumah sakit, namun dengan tenaga super baru: tambahan besi di punggungnya dan kondisinya yang tidak begitu sensitif lagi dengan rasa sakit. Keberuntungan di balik kemalangan. Kedua, Dave Liewski menyelamatkan seekor kucing tersesat yang kemudian menyeretnya ke dalam pertarungan sengit dengan sekumpulan orang yang sedang berkelahi. Alih-alih ternyata di situlah ia, Dave Lizewski, pertama kalinya memperkenalkan dirinya di publik. “Siapa kamu?” dengan tatapan mata begitu yakin muncullah frase ini: “Saya Kick-Ass!”

Dengan motivasi sederhana itulah kemudian kita diajak menjelajahi sosok “Kick-Ass” ini, sebelum akhirnya ceritanya terpecah ketika kita diperkenalkan dengan dua tokoh lain, bapak-anak yang tidak biasa, Hit Girl (gadis 11 tahun yang tomboy, sadis, dan camkan ini: dia menyebut kata “cunt”) dan Big Daddy (seorang mantan polisi dan mantan narapida juga). Hit Girl sendiri boleh dibilang, sosok paling menarik di film ini. Melihat sosoknya, seperti menyimak versi mini dari “Kill Bill” lengkap dengan misi balas dendam yang begitu menyesakkan. Sudah menjadi perdebatan yang panjang mengenai Hit Girl itu sendiri. Mulai dari dimana sisi moralitas ditempatkan atau bagaimana nihilisme terjadi dalam film ini yang melibatkan seorang gadis berumur 11 tahun. (sebelum ada yang menyinggung dengan: “kenapa sih hal estetis dalam film selalu dicampuradukkan dengan moralitas? Ini hanya film!” Mengapa tidak? Bahkan film terburuk sepanjang masa sekalipun akan dihukum karena menggambarkan moralitas manusia dalam konteks paling menjijikkan). Tidak, saya tidak mempermasalahkan mengenai relevan tidaknya sisi “kepantasan” itu dijadikan momok terbesar dalam mengkritisi “Kick-Ass”, hanya saja muncul pemikiran yang menggelitik dari otak saya yang terlampau dangkal ini: mengapa Hit Girl seorang gadis belasan telihat begitu keren dan membuat kita tertawa ketika dia membunuh seorang pria dewasa, namun mengapa kita berbalik marah dan benci ketika seorang pria dewasa memukul dengan sadis seorang gadis kecil?

Untuk pertanyaan kedua, kita tahu jika hal tersebut tidak akan bisa diterima dalam bentuk apapun, tapi pertanyaan pertama tetap meninggalkan secuil penerangan yang menjadikannya samar untuk saya simpulkan. Apakah karena Hit Girl adalah representasi dari kemarahan kita pada kekunoan aturan yang membuat nihilisme itu keren? Atau karena terkadang kita sudah muak terkungkung dalam batasan umum sehingga hal subversif itu terlihat keren? Baiklah. Saya hentikan sampai di sini saja.

Bagi saya, bukan masalah “kepantasan” itu yang menganggu saya (yang sebenarnya Hit Girl sendiri adalah sesuatu paling menarik di film ini) namun, pendekatan mereka berdualah yang meracuni misi awal yang ingin disampaikan Matthew Vaughn. Sehingga segala “nilai” yang ingin dibawa “Kick-Ass” yang anti-kekerasan dan membela ala kadarnya menjadi rancu ketika muncul Hit Girl dan Big Daddy yang sebenarnya mengerdilkan peran “Kick-Ass” itu sendiri ketika mereka hadir dengan teknologi mahal yang jauh lebih canggih. Maka, tetap saja superhero tidak bisa benar-benar menjadi seorang superhero tanpa teknologi yang ala kadarnya bukan? Atau Vaughn ingin menghadirkan pembenaran ini? Sampai di sini kita dipertemukan dengan penyadaran diri sang “Kick-Ass”. Kita sadar bahwa sebenarnya tidak dipertemukan dengan sosok superhero apapun di sini. Entah Hit Girl, entah Big Daddy, dan bahkan Kick-Ass sendiri tidak memiliki karakter itu.  Melainkan kita dihadirkan pada sebuah konsep “orang baik” melawan “orang jahat” saja. Bolehkah pula saya berpikir bahwa pendekatan Matthew Vaughn terkesan hipokrit? Menghadirkan bentuk lain dari (yang katanya) superhero melalui kekerasan sebagai sebuah satir yang intens, namun, di balik itu bertindak tanpa misi, skill dan style yang kokoh.

Di satu sisi “Kick-Ass” berhasil menjadi sebuah komedi yang membuncahkan tawa. Kapan lagi melihat seorang superhero jadi terkenal karena hasil unggahan video seorang penggemarnya di Youtube. Kapan lagi melihat seorang superhero mendengarkan lagu “Crazy”-nya Gnarls Barkley dan bergoyang kocak sebelum menghadapi sebuah insiden mematikan. Kapan lagi seorang superhero bisa kita saksikan berbicara tentang Paris Hilton, huh? Semua pop-culture itu tersaji dengan begitu kompak mewarnai kehidupan remaja masa kini. Vaughn sadar benar dengan demografi yang disasarnya. Bagi kita yang tengah hidup dalam generasi Twitter, merasa bersahabat dengan superhero yang ngetop di generasi Youtube. Bahkan, saya tergelitik melihat seorang superhero bertanya seperti ini; “pernahkah kamu menonton Sin City, Sunset Boulevard, atau American Beauty?” Untuk beberapa detik saya terkesima karena Dave Lizewski, sang superhero, ternyata menonton “Sunset Boulevard”. Namun, apa maksudnya ini? Apa saya pikir Anda sedang menghadirkan twist bahwa sebenarnya ang karakter utama telah mati seperti di film-film tersebut? Tidak. Anda tidak berhasil mengecoh saya, Lizewski. Dengan keyakinan argumen paling klise: tidak mungkin superheronya mati, ya toh?

Matthew Vaugh menjadikan “Kick-Ass” sebuah hidangan renyah dan menghibur yang secara terang-terangan menjadi sentilan dari film-film superhero. Namun, seperti manisnya permen karet, manis dikunyah sebentar, hambar kemudian, begitu isi satir film ini. Entah ingin serius entah ingin masa bodoh, “Kick-Ass” terlalu sibuk dengan unsur-unsur yang campur aduk. Maaf saja, saya lebih memilih tipe satir seperti “Watchmen” kalau begitu.

Pengembangan karakternyalah yang tidak bisa saya nikmati. Dave Lizewski tetap menjadi sebuah karakter komik saja.  Ketika Peter Parker pernah menggunakan kekuatannya untuk sombong agar dianggap “keren”, tetap saja tidak lupa menghadirkan pembelajaran diri yang bisa kita mengerti, meski dalam kosmik eskapisme sekalipun. Tidak seperti “saudaranya”, Peter Parker, sebagai “Kick-Ass”, Dave Lizewski tidak meninggalkan kesan apapun. Jika Spiderman percaya dengan motto “with great power comes great responsibility” maka Kick-Ass percaya pada “with no power comes no responsibility” dengan kemudian menjawab “except that’s totally not true”, yang meninggalkan sedikit pertanyaan, yang mana sebenarnya yang dimaksud “tidak benar”?

Sebaliknya dalam sosok Hit Girl tersimpan beribu pertanyaan menggunung yang jauh lebih menarik untuk dipelajari (bahkan kita jadi melihat kegilaan Big Daddy itu biasa jika dibandingkan anaknya sendiri).

Baiklah, produser, tertarik membuat film khusus untuk Hit Girl saja? Dan jika sutradaranya Tarantino, ijinkanlah saya mengantri di barisan terdepan.

Grade: (C+)

Advertisements

5 thoughts on “Review “Kick-Ass”: Mendobrak Eskapisme untuk Sebuah Eskapisme Baru

  1. really? C+?
    hehehe…

    well, sebenarnya saya setuju ketika banyak sisi ‘moralitas’ yang perlu dipertanyakan dari seorang gadis kecil dengan santainya memotong kaki orang dewasa – dan anehnya kebanyakan movie blogger yang mereview film ini menganggapnya karakter menarik. WTH?! Terlepas dari adegan ini konon jauh lebih ‘sopan’ dan ‘beradab’ dari versi komiknya, tapi bagi saya tindakan ini agak kejauhan. Karakter Big Daddy saya rasa bukan Bapak yang ‘baik’. Malah sebaiknya dia ada di karakter orang jahat. Lhaaa.. bapak macam mana yang mengajarkan anaknya untuk menyimpan dendam seumur hidupnya??

    I’m agree with u, ketika sosok Kick Ass lama-lama sudah tidak menarik lagi sejak hadirnya Hit Girl. Malah kesannya ceritanya jadi sedikit ‘kebingungan’ di pertengahan. Kesannya gag nyambung sama cerita awalnya.

    But heyy… C+?
    hehe..
    saya rasa Vaugh masih punya sisi kocak dan asyik yang setidaknya menaikkan derajat nilai yang Anda berikan… ^^

  2. Terima kasih banyak untuk responnya.

    Sebenarnya saya selalu berusaha untuk membuat review yang sesuai dengan grade yang ingin saya berikan. Jika membaca dari reviewnya, dalam sisi saya sendiri melihat bahwa “si penulis” tidak menyukai film tersebut, sehingga kriteria saya grade C+, sudah cukup mewakili sisi ketidaksukaan saya dengan aspek “+” yang mendukung beberapa momen yang sempat pula saya ingat/menarik. 😀

  3. film ini baruu… Super awesome!!! hahahaa…. kagum bener deh nnton film ini,, new konsep,, sederhana namun berlian….. ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s