Review: The White Ribbon

[A-]

[The White Ribbon] Directed by Michael Haneke Written by Michael Haneke Starring Christian Friedel Ulrich Tukur Josef Bierbichler Running time 144 minutes

Enigma Pita Putih

“The White Ribbon” adalah enigma. Mari perkenalkan apa maksud “pita putih” ini. Dalam film hitam putih ini, “pita putih” disematkan pada dua anak seorang pendeta sebagai penanda bahwa mereka telah melakukan sebuah kesalahan dan harus menggunakannya hingga sang pendeta merasakan dua anak tersebut telah berbuat hal yang baik, barulah pita tersebut ditanggalkan.

Maka, Haneke memulai enigma ini dengan sebuah narasi dari perspektif seorang guru yang bercerita sepanjang durasi; “I don’t know if the story I want to tell you is entirely true.”

Dalam “The White Ribbon”, Michael Haneke menghadirkan teka-teki, runutan episodik tragedi demi tragedi yang ditampilkan dengan miris. Maka dibukalah enigma tersebut dengan adegan tragedi seorang dokter yang terjatuh dari kuda hingga lengannya patah. Haneke menampilkannya dengan bantuan animasi digital, meskipun begitu, tetap atmosfir horor awal yang dihadirkan berhasil memerantarai apa sebenarnya yang ingin diceritakan seorang Haneke. Kemudian dimulailah tragedi lain yang kembali menimbulkan ketakutan pada sebuah desa di Jerman periode 1913-1914 dengan keanehan yang terjadi di desa tersebut. Seorang istri petani mati tragis, hingga anak seorang baron kaya raya yang diculik dan disiksa. Enigma itu semakin menjadi; siapa sebenarnya di balik ini semua? Singkat cerita yang dapat dilihat; anak-anak dalam film ini adalah sentral cerita, dan semakin menjadi, ketika mereka benar-benar “berbeda” di sini.

Seperti biasa, pergerakan kamera dan fotografi dalam filmnya Michael Haneke selalu menipu, atau setidaknya memiliki sisi yang begitu dekat dengan pesan yang ingin disampaikan, seperti yang ditampilkan dalam “Cache” atau mungkin efek termanipulasi dalam “Funny Games”. Jika dalam “Cache” Haneke memulainya dengan mengecoh gambar pembuka film tersebut yang tak ubahnya sebuah video tape, lalu mengajak penyimaknya untuk menelusuri bagaimana video tape tersebut meneror karakter utama, menganalisa konflik psikologi, dan diam-diam memunculkan asumsi, setelah itu Haneke malah berbalik merontokkan semua asumsi tersebut dan mengajak kita berbalik bertanya: bukankah rasanya kehidupan karakter utama itu juga dalam video tape? bukankah kita sendiri sedang menonton sebuah video tape juga? lantas siapa yang merekamnya? apakah sebenarnya kita sendiri yang merekam kehidupan mereka? hingga tetap salah satu ending yang memadukan long shot dan long take (mungkin salah satu yang terbaik yang pernah saya lihat) begitu menggugah dan provokatif yang bisa menghadirkan beragam perspektif: apakah ada masa depan di sana? ataukah sebenarnya kita sekedar merekam masa depan itu? atau sebenarnya kita sendiri yang membuat misteri itu? Ah, begitu brilliannya ending “Cache” hingga begitu nikmat untuk dibahas dalam berlemba-lembar essay sekalipun.

Sekarang mari coba kita perbandingkan dengan efek manipulasi yang dihadirkan oleh remake “Funny Games” (maaf, saya benci luar biasa dengan film ini) yang menggunakan trik pemecahan tembok keempat—istilah yang sering dipakai dalam teater dimana sebuah drama memiliki empat tembok, dan tembok keempat merupakan tembok khayalan dimana interaksi penonton dan pemain dianggap terhalang oleh tembok tersebut. Contohnya yang diadopsi ke dalam film bisa dilihat bagaimana Woody Allen berbicara dengan penonton lewat “Annie Hall” atau dari negeri sendiri lihat saja bagaimana Raditya Dika bebicara dengan penonton dalam “Kambing Jantan” yang memang diakui oleh si aktornya sendiri terinspirasi dari “Annie Hall”, contoh lainnya adalah karakter yang dimainkan John Cusack dalam “High Fidelity”—dalam “Funny Games” pemecahan tembok keempat begitu mengerikan karena karakter Paul meminta persetujuan penonton bahwa kekerasan tersebut dilakukan atas turun tangan sang penonton pula, yang dengan kata lain penonton pulalah yang melakukan kekerasan tersebut. Semakin menjadi ketika “Funny Games” mencampuradukkan konsep video game ke dalamnya dalam artian: lihat saja tingkah seorang pemain video game, mereka tidak akan pernah mau menjadi posisi yang kalah. Sehingga terkadang hal ini memunculkan provokasi bahwa kekerasan bisa menjadi produk artifisial yang mengerikan, bisa memberi kepuasan bagi pemakainya. “Funny Games” begitu kontroversial sehingga ketika versi remakenya dirilis, dinobatkan menjadi salah satu film terburuk di tahun tersebut.

Maka, sekarang bagaimana dengan “The White Ribbon”? Tidaklah semenantang dua film tadi, Haneke tidak lagi mencoba terlalu berani memanipulasi penonton, namun Haneke kali ini mencoba mencari sisi kepekaan penonton dalam menganalisa struktur manusia (Oh, tidak perlu ditanyakan lagi, Haneke adalah salah satu sutradara yang paling setia dengan konsep manusia). Haneke sekarang mencoba untuk menempatkan jalan cerita film tersebut di tangan seorang guru yang bernarasi sepanjang film (dalam film ini narasi disuarakan guru tersebut ketika telah tua yang mengingat memori yang pernah ia lalui). Seperti namanya memori, belum tentu kedetailan cerita bisa seutuhnya benar, begitupun tidak selamanya tidak benar. Di sinilah akhirnya kita dihadapkan untuk menganalisa seluruh sisi dalam film ini, karena narasi dari satu orang adalah hal yang terlampau subjektif. Suatu kali kita diseret untuk mempercayai narasi sang guru, suatu kali kita dicoba untuk tidak mempercayai segala omongannya, suatu kali kita dihadapkan untuk terpaksa mempercayainya karena dihadapkan pada sebuah fakta, yang terkadang masih tetap memunculkan spekulasi. Bermain-main dengan hal itu, Haneke mencoba untuk mengingatkan, lihat sekitarnya, jangan terlalu percaya dengan satu orang.Meskipun, sebenarnya dalam karyanya ini, kedalaman manusia itu tidak tergambarkan seintens dalam “Cache”.

Haneke tetap menampilkan beberapa adegan miris seperti yang sering ditampilkan dalam karyanya, coba ingat kembali adegan bunuh diri dramatik dalam “Cache” ataupun yang memiliki kekerasan eksplisit di “Funny Games”. Dalam “The White Ribbon” adegan kekerasan pun tampil, meskipun tidak terjadi secara frontal, namun atmosfir yang diciptakan Haneke menciptakan kekerasan yang begitu brutal, merasuki kisi-kisi psikologi, dan tentunya membuncahkan beragam spekulasi.

Pada akhirnya “The White Ribbon” telah menampilkan sebuah paradoks sendiri, bahwa ketika tujuan “pita putih” tersebut mencoba pada sisi yang lebih baik, namun ternyata menciptakan sisi sebaliknya.

Meskipun kali ini Haneke dalam “The White Ribbon” tidak sepenuhnya menggoda, ataupun begitu menantang, bahkan menarik pikiran untuk merasakan empati, seperti halnya yang pernah dilakukan dalam “Cache”, “The White Ribbon” tetap saja menyimpan sisi misterius, akhir yang ambigu, yang ingin dibedah, serta tetap menyimpan jiwa provokatif. Maka, saya persilakan Anda untuk menyelesaikan enigma tersebut dengan rumus bernama: perspektif.

Advertisements

7 thoughts on “Review: The White Ribbon

  1. ini tulisan mu yang paling seru kata-katanya kak awya sumpah dagh ampek pangling kayak baca tulisannya ditha aja…goodjob men…wkwkwkwkkw!!!!
    btw btw aku enggak dapet momen yang baik buat nonton the white ribbon yang kamu kasik..hahahah perlunya nyari dewase biar plong nontonnya *woohoo”

  2. @Gilasinema & Eka: Enigma itu kata lain dari teka-teki atau misteri.

    @Haris: he is!

    @Andy: wkwkwkw… tulisannya Ditha memang bikin mata sliweran dan otak mumet. wkwkwkwk.

  3. Eh, waktu nonton trailer-nya kayak nonton sebuah acara Discovery yang menampilkan kehidupan orang-orang Amish. Tapi trailer film White Ribbon agak bikin merinding. Soalnya ini membuat kita mebayangkan bagaimana kehidupan “mirip cuci otak” begini melanda kita …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s