Review: Shutter Island

[Shutter Island] Directed by Martin Scorsese Starring Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley Running time 148 minutes

Misteri terbaru dari Sang Legenda

Sedikit yang berani mendebat jika Martin Scorsese adalah legenda hidup Hollywood. Maka tidak heran jika apa saja yang hendak dibuatnya begitu menjadi perbincangan hangat dalam media. Dekade lalu Scorsese meminang Leonardo DiCaprio menjadi anak kesayangannya setelah perjalanan panjang yang dilalui bersama Robert De Niro, tak heran perbandingan bisakah Dicaprio menjadi pasangan sukses seperti ketika bersama De Niro merebak. Dimulai lewat “Gangs of New York” yang sayangnya meninggalkan rasa hambar di bibir saya, hingga “The Aviator” yang begitu mengasah kepiawaian Dicaprio berakting, menempatkan duet mereka sebagai salah satu yang menjanjikan dalam perfilman Hollywood. Sampai pada akhirnya “The Departed” (diadaptasi dari film Hongkong, “Infernal Affairs”) muncul dan mengawinkan atensi publik, baik dari sisi peraupan uang sampai puja puji kritikus. Dalam “The Departed” kita bisa melihat, itulah film seorang Scorsese, jika tidak ingin mengatakan bahwa sebenarnya Scorsese senantiasa mengulang apa yang telah pernah ia capai. “The Departed” bisa saja disebut menjadi gabungan dari “Mean Street” dan “Goodfellas” dengan sedikit batuan garam popcorn yang begitu nikmat, renyah, gurih, dan masih menjadi salah satu film favorit saya sepanjang dekade lalu.

Berbicara tentang “Shutter Island” maka akan muncul perbandingan terhadap thriller terdahulu dari Martin Scorsese ketika masih giat bercengkerama dengan Robert De Niro, “Cape Fear”, yang sayangnya bernasib malang karena mendapat sambutan yang tidak begitu baik. Sisi yang begitu kuat mengingatkan dengan “Cape Fear” dengan saudaranya ini tentu saja bagaimana sekuen alam mimpi sama-sama menjadi satu sisi yang begitu kental dalam kedua film ini. “Shutter Island” begitu panjang, mengobrak-abrik sisi psikologis seorang Teddy Daniels, masa kelamnya dengan sang istri, hingga kita pun sampai diperkenalkan pada traumanya dengan Holocaust. Secara emosional, Teddy Daniels tidaklah begitu kuat untuk menyuguhkan hubungan dengan penikmat aksinya, mengingat ketika ada sisi psikologi yang diketengahkan. Scorsese pintar bermain-main dengan psikologi, terkadang menampilkan konsep eksplosif yang beruntun hingga menyentuh ranah emosional dan empati pada penyimaknya, dalam artian peduli pada si karakter. Coba ingat kembali bagaimana Travis Bickle dalam “Taxi Driver” begitu provokatif dan menarik minat untuk menjelajahi transisi psikologisnya, atau yang lebih intens bagaimana Jack LaMotta dalam “Raging Bull” mengalami perubahan emosional yang episodik. Hal tersebut yang gagal diberikan seorang Teddy Daniels, sehingga memaksa untuk mengenalnya sambil lalu saja.

Scorsese mengambil referensi dari film-film terdahulu, dimana sang legenda untuk “Shutter Island” ini, bolehlah disebut, referensi pertama yang muncul ketika menyimaknya tentu saja Alfred Hitchcock. Mari perhatikan saja bagaimana kemasan warna, penampilan karakter utama dengan mantel panjang, serta yang begitu menyolok, jika tidak ingin menyebutnya menganggu, adalah suara score-nya yang sedikit berlebihan. Suara cello yang begitu nyaring ketika kapal sampai pada pulau, begitu memekakkan telinga, hingga terkadang hendak berpikir apa maunya suara yang begitu gempita ini. Meskipun telah jelas mengambil referensi dari film-film noir era 50-an, namun tetap saja jatuhnya bukanlah sebuah karya yang nampak diciptakan oleh seorang Scorsese, jika mengingat beliau adalah orang di balik magnum opus seperti “Raging Bull” atau “Taxi Driver” (yang juga merupakan salah satu film favorit saya sepanjang masa). Maaf saja, “Shutter Island” lebih mengingatkan dengan film-film garapan M. Night Shyamalam, cenderung mementahkan konsepsi awal yang telah dibagun dalam pikiran penonton. Meskipun sebenarnya segala hal yang ingin ditampilkan film ini di awal cerita telah rontok dengan twist film yang sering dipatenkan pada film-film untuk kelas B-movie saja. 15 menit akhir film ini begitu kuat, hingga terkadang ingin berpikir, ibarat sebuah perjalanan panjang, destinasinya begitu apik, namun tetap saja, perjalanan yang melelahkan tidak mampu tertutupi begitu saja.

Begitu juga jika sebuah twist dari ending seperti yang dihadirkan begitu mengejutkan, sebenarnya hal itu begitu diharapkan atau memang telah diramalkan akan muncul ketika atmosfir telah dibangun sejak awal melalui potongan puzzle yang begitu membuncah pikiran. Sama halnya dengan formula yang pernah dibangun David Fincher lewat “Fight Club” yang mengelabui habis-habisan, atau seperti yang telah disebutkan tadi, formula paling sering dijamah seorang Shyamalam lewat yang pertama kali tentunya, “The Sixth Sense”, yang mengobrak-abrik sisi psikologi, sebelum akhirnya merontokkan konstruksi pikiran dengan twist yang mengejutkan. Mungkin, atau memang begitu adanya, tak perlu jauh-jauh, seberapa dekatkah “Shutter Island” mengingatkan kita dengan harta karun negeri kita sendiri, oh saya mengacu pada “Pintu Terlarang”, bermain dengan konflik psikologis, lantas, bum, mengaduk emosi lewat twistnya yang menipu. Jika “Pintu Terlarang” mencampuradukkan berbagai genre; thriller, horror, dan juga slasher, maka “Shutter Island” adalah perpaduan nuansa noir yang diluruskan menjadi horror dengan gaya thriller. Masalah terbesar dari “Shutter Island” adalah sejak awal telah menempatkan penonton sebagai pihak penebak, yang ingin segera mencari jawaban, namun terlampau lama diganggu oleh selingan yang kurang memiliki peran. Sebutlah cameo dari Patricia Clarkson dan Jackie Earle Haley yang kalau dipikir, apa pentingnya sih yang mereka lakukan di plot film ini?

“Shutter Island” meskipun secara keseluruhan tidaklah semegah yang diinginkan, namun tetap menyimpan kesuksesan di sisi individual. Sebut saja bidikan Robert Ricardson yang pernah berkolaborasi dengan Scorsese dulu lewat “Casino” (atau dapat dilihat juga kiprahnya lewat “Inglourious Basterds” tahun lalu) memiliki andil yang kuat dalam menciptakan gambar-gambar menawan yang menguatkan kesan noir yang ingin ditampilkan. Dan dari barisan individual lagi, tidak aneh rasanya menyebut Scorsese selalu piawai mengarahkan para pemainnya. Barisan pemainnya menampilkan akting terbaik, meskipun kalau boleh dibilang DiCaprio sebagai pemimpin barisan tersebut tidak begitu berhasil memimpin, setidaknya kita masih memiliki Ben Kinsley dengan ekspresi setengah liciknya yang mewarnaii film ini.

Pada akhirnya jawaban dari pertanyaan usang pun terselesaikan. Cukup mengerti mengapa film ini harus disingkirkan dari pergulatan kampanye awards season untuk memberi ruang bagi “Up in the Air”. “Shutter Island” sebenarnya bukanlah sebuah karya dimana legitimasi seorang Scorsese patut untuk dipertanyakan lagi, karena beliau telah mematungnya jauh berpuluh tahun yang lalu. Pada akhirnya, “Shutter Island” tidak meninggalkan Leonardo DiCaprio, Michelle Williams, atau Ben Kingsley sebagai bintangnya, namun Scorsese itu sendiri.

Grade: [B-]

 

Advertisements

5 thoughts on “Review: Shutter Island

  1. Mantap!!

    DiCaprio emang pinter milih film. Dan aq masih menganggap klo DiCaprio emang udah sembuh tapi dia lebih milih dilobotomi ketimbang hidup dengan mengingat segala kenangannya yang pahit. So sad. >.<

    Sayang kegilaan Dolores kurang ekstrim. Btw, ost-nya bagus, pas banget dengan inti dari film itu..

  2. Waaah, gue malah menganggap Shutter Island ini film yang okee banget lhoo.. cara menggambarkan plot2 ttg kegilaan Teddy daniels-nya keren…
    cuma note nya :
    1. gue belum nonton Pintu terlarang, sampe sekarang
    2. gue belum banyak nonton karya2nya Scorsese.

    🙂

  3. Blom nonton pe sekarang, walaupun be nge-fans bgt ma leo dah banyak film leo be koleksi, awya tahu dons plum ngak, be rela uang daftar kuliah diganti buat beli kaset itu, ternyata ya agak sepadan filmnya…
    Tahu ngak kalo ada pasangan kayak martin en leo juga di indonesia? Tebak ya…?

  4. barusa gw nonton film ini kok bikinbingung akhirnya krn gak sabar cari artikel yang bahas film ini gw kok sangat kecewa dngn ending yg sama sekali tidak gw harapkan dan sangat mengganjal. potongan-potongan ilusi yang sangat mengganggu. nyesel nonton film ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s