Review: A Single Man

[A Single Man] Directed by Tom Ford Starring Colin Firth Julianne Moore Nicholas Hoult Running time 99 minutes

Jika designer menjamah sinema, maka jadinya…?

Siapa sebenarnya Tom Ford? Sebelum bercerita tentang transisinya, bagaimana jika putar kembali ingatan pada sebuah scene di “The Devil Wears Prada”, dengan sosok sinis seorang Miranda Priestly yang selalu meminta setiap designer untuk menampilkan rancangannya sebelum ditampilkan di majalah Runway. Miranda Priestly akan menunjukkan komentar dengan caranya sendiri. Bibir mengerut berarti bencana, sedangkan senyum lebar berarti luar biasa. Dalam “The Devil Wears Prada”, Miranda Priestly hanya pernah sekali saja memberikan senyum lebar itu pada seorang desainer, dan dalam cerita itu (seperti yang dinarasikan oleh karakter yang diperankan Stanley Tucci), desainer tersebut adalah Tom Ford.

Dalam kehidupan sebenarnya, Tom Ford, mantan creative director Gucci, terkenal dengan desainnya yang memiliki tekstur dan bentuk tersendiri, orisinil, dan cenderung idiosyncratic. Kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah kurator seni dalam desain. Hal itupun yang muncul ketika transisi berjarak yang lebar dari seorang perancang menjelma auteur ini ingin disuguhkan kepada penikmat sinema lewat “A Single Man”. Pun ketika dalam kreasi tangannya, ia mencoba menampilkan sebuah seni dalam bentuk berbeda, ada sentuhan indah dan erotis yang terkenal digusung oleh sang kurator. “A Single Man” adalah penuturan sebuah cerita tentang kesuraman, keraguan, dan kedukaan tentang masa depan ketika seseorang yang dikasihi pergi begitu saja. “A Single Man” adalah studi karakter. Begitupun ketika terkadang “A Single Man” tak ubahnya sebuah cermin yang ingin mengenalkan sisi personal seorang Tom Ford itu sendiri. Nuansa khas tentang profesinya diselipkan pada beberapa bagian, termasuk bagaimana Tom Ford menyuguhkan konsep warna. Biru adalah refleksi religi, ketenangan, sementara merah adalah relfeksi dari amarah. Sebuah konsep yang sepertinya begitu akrab dalam dunia desain apapun.

“A Single Man” tentu saja akan dituduh sebagai film yang terlalu gay untuk publik umum, bahkan akan muncul gunjingan terlalu seni untuk penonton awam, meskipun pada dasarnya tidak ada yang menolak bahwa dua hal itu adalah sisi yang diberikan film ini. Bahkan, “A Single Man” tak ubahnya juga sebagai etalase toko mode yang memamerkan rancangan terbaiknya dalam pajangan terdepan. Atau mungkin katalog fotografi bernuansa pastel yang membuat mata serasa dihujam gemerlap pelangi. Atau mungkin juga tak ubahnya iklan komersial produk parfum dalam televisi nasional. Tom Ford mendedikasikan kecantikan fashion dalam sebagian besar fotografi yang ditampilkan. Saturasi warna yang begitu cerah, dengan desain yang detail. Perhatikan saja tampilan rumah karakter utama film ini yang begitu kontemporer. Begitupun dengan pemilihan pakaian dalam film ini (Tom Ford memilihkan baju sendiri untuk karakter utama film ini) akan mengingatkan dengan serial TV yang dipuji “Mad Men”, tidak mengherankan karena keduanya memiliki setting kondisi Amerika yang sama, era 60-an. Warna-warna krayon muncul sepanjang durasi, sehingga terkadang mengingatkan dengan karya Todd Haynes atau Pedro Almodovar. Ditambah slow motion yang begitu dekat dengan ciri khas Wong Kar Wai. Tentunya, balutan score yang begitu apik dari Abel Korzeniowski menyemarakkan estetika yang ingin ditampilkan film ini.

Di atas itu semua, maka hal paling menonjol dalam “A Single Man” adalah Colin Firth. Mengagumkan memang jika seorang aktor seperti Colin Firth baru menemukan puncak prestasi aktingnya lewat arahan seorang pemula. Colin Firth selalu dikenal lewat pembawaannya yang humoris, maka karakter yang begitu terkenal di publik tentu saja sebagai Darcy dalam “Bridget Jones Diary” atau sebagai Darcy yang sebenarnya dalam serial “Pride and Prejudice”. Dalam “A Single Man”, Colin Firth melebur pada karakter profesor yang diperankannya, menampilkan kehilangan yang begitu dalam dan kekosongan yang begitu sepi. Atas semua itu tidak mengherankan jika Venice Film Festival menganugerahinya Best Actor serta tentu saja penantian lama untuk mencicipi kenikmatan gelar sebagai nominator Oscar.

Sebagai sebuah debut, sangat tidak disangka seorang perancang busana mampu membuat sebuah film, yang jika disimak, berbentuk independensi dan egosentris yang kental, kalau tidak ingin menyebutnya sebagai bagian dari arthouse. Sebagai sebuah materi awal, “A Single Man” sudah mampu menjadi patokan yang baik bagi seorang Tom Ford, meski masih ada sisi yang harus diperbaiki. Kita lihat saja kemana arah sutradara yang satu ini di karya berikutnya.

Grade: [B+]

Advertisements

One thought on “Review: A Single Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s