Review: Rumah Dara

(*)

[out of 4 stars]

Directed by Mo Brothers Written by Mo Brothers Starring Shareefa Daanish, Imelda Therinne, Arifin Putra, Julie Estelle Running time 95 minutes Country Indonesia

Ah, Dagingnya Tak Lezat!

Begitu semaraknya jenis suguhan sinema, hingga dari sisi paling tradisional sampai sisi paling bombastis bisa menjadi suguhan yang begitu menarik dan mampu mengumpulkan penggemarnya sendiri. Slasher adalah genre tersendiri yang memiliki penggemar setia. Bisa dikategorikan sebagai tontonan penuh darah yang nampaknya menimbulkan kesenangan tersendiri ketika melihatnya dipertontonkan di layar. Pun ketika hal-hal nyeleneh dipertontonkan, penonton di luar rumpun “slasher-addict” terkadang bisa menikmati suguhan potong-memotong khas ibu rumah tangga yang kerap dilakukan di dapur, cincang-mencincang khas penjual daging di pasar, sampai yang ekstrim sekelas tukang gergaji kayu. Hanya saja, media yang ditampilkan kini berbeda, yaitu tubuh manusia. Di situlah efek tragis menjadi begitu menarik dan mengesankan. Texas Chainsaw Massacre muncul menjadi slasher klasik yang diminati penggemarnya hingga saat ini. Saw yang memiliki banyak lanjutan adalah film sejenis yang begitu mengesankan di tangga boxoffice dan seri pertamanya berhasil meraih atensi khusus dari publik. Lalu, bagaimana dengan proyek terobosan sineas kita, Mo Brothers (yang namanya mengingatkan dengan jenius sinema independen, Coen Brothers), dengan gebrakan genre ini di sinema Indonesia? Ibarat daging, dipotong, dicincang, digoreng, hasilnya: setengah matang.

Maka, perlu pula seorang bijak menasehati saya dengan petuah yang begitu meneduhkan sebelum menonton film ini: coba menganggapnya sebagai sebuah film hiburan, tinggalkan otak sejenak di depan pintu bioskop, biarkan kesenangan menyimak film ini saja yang menyerbu, dan ya Anda akan terhibur. Begitukah resep yang ampuh untuk menonton Rumah Dara? Maka, mari kita lupakan blooper yang berseliweran seperti foto model yang meliuk-liuk dan selalu tampil mengusik logika. Maka, tinggalkan karakter Ibu Dara yang begitu kaku dan dibuat-buat hingga suaranya terasa menggelikan. Maka, coba butakan mata sejenak dengan wajah para antagonis yang ingin menyesakkan namun begitu mengundang tawa. Maka, coba buat diri amnesia dengan dramatisasi yang terlampau mudah diterka dan nyaris membuat efek kejut itu seperti “seorang Bapak menakuti anaknya”, takut, tapi yah seperti itu saja.

Berbicara seni peran, gemuruh pujian banyak menyematkannya pada pemeran Ibu Dara, Shareefa Danish, yang berani tampil bak monster. Boleh saja, sempat meraih penghargaan aktris terbaik di festival horor di Korea sana, tapi apa betul sehebat itu? Suaranya yang dibuat-buat. Gesturnya mengingatkan dengan kekakuan robot. Mimiknya yang berusaha terlihat menakutkan malah menimbulkan decak tawa, menggelikan setiap kali muncul. Bisa disimpulkan, Ibu Dara adalah karikatur. Sosok lumrah yang sering digambarkan sebagai proyeksi “evil” dalam cerita. Sayangnya, pemaksaan itu telihat kentara, dengan menciptakan suara palsu nan mengusik, membuatnya seperti badut dalam cerita. Seperti badut, dia bertugas melucu, namun terkadang tidak pernah lucu. Ibu Dara bertugas menakuti, hasilnya malah antonim, jika seseorang penonton dibuat tertawa, harus dimengerti ada yang salah di dalamnya. Sekarang mulai lagi mengusik siapa di antara barisan pemainnya yang benar-benar menghadirkan seni peran. Maka muncullah sang heroin, Julie Estelle, lagi-lagi memfotokopi ekspresi kosongnya di “Kuntilanak” untuk dipertontonkan di etalase rumah penuh darah segar ini. Selesai menonton, sosoknya terlupakan. Lalu ada VJ Daniel yang hanya sebatas numpang lewat. Sampai pada akhirnya, menjelang penutup muncul segerombolan sosok baru dengan tujuan “eh yang ini adegannya bakal lucu lho” dengan memunculkan sosok Aming. Sudah terkonsepsi bahwa Aming adalah figur humoris, bahkan melihat wajahnya saja penonton bisa menyimpulkan senyum. Namun, ini tujuannya apa? Melucu? Telat. Belum lagi jika melihat plausibilitas keterlibatan mereka. Maaf, sangat dipaksakan.

Rumah Dara menawarkan plot horor kuno yang nampaknya bisa ditemukan kemiripannya di film sejenis. Formulasinya sederhana saja, manusia-manusia kehilangan normalitas dalam bertindak dan berpikir, dieksplorasi menjadi karakter yang hidup dengan tujuan abnormal, menghalalkan segala tindakan. Di sini, diambillah tema penjualan organ tubuh ilegal lengkap dengan konspirasi pihak tidak bertanggung jawab, agar makna filmnya terkesan berisi. Nyatanya, ibarat angkuhnya “tanda pengenal”, hal itu hanya di tempel saja. Sudah cukup. Tidak perlu mengenal siapa yang memakai dan untuk apa dipakai. Seperti film sejenis kebanyakan, cerita bukanlah hal yang begitu vital, mengingat suguhan memikat pertumpahan darah adalah nilai jual yang lebih berharga. Tidak mengherankan ditampilkanlah adegan-adegan paling ekstrim dari comotan adegan-adegan slasher yang sudah pernah ada dengan tujuan memberikan suguhan rasa berbeda, ah tentunya rasa melayu. Bisa dibayangkan bagaimana hasil dari film ini. Rasa baratnya kental sekental madu. Memang, Rumah Dara tidak pernah berniat untuk mencipatakan rasa melayu, hanya saja jika niat itu tidak pernah terbersit, lalu apa lagi yang bisa disebut istimewa dari Rumah Dara? Tak ubahnya sebuah tema Hollywood yang migrasi ke sinema kita, dipermak dengan barisan wajah pribumi, dan muncul dengan atmosfir barat terasa begitu usang seperti remake film yang hanya mengubah pemain dan crew saja. Pekerjaan sulit memang untuk membuat film seperti ini agar berkesan melayu. Bahkan, Joko Anwar yang begitu piawai meracik filosofi negeri ini dalam “Kala” tetap terseok-seok menghadirkan sisi melayu dalam pertumpahan darahnya. Menggelikan memang jika Joko Anwar menyebut Rumah Dara adalah horor terbaik yang pernah dibuat sineas kita. Tujuannya mungkin baik untuk menggoda penikmat film yang bosan dengan film horor yang ramai dengan muatan pembodohan. Mungkin itu hanyalah sebuah retorika saja. Beliau berbaik hati, bahwa pada kenyataannya “Kala” dan “Pintu Terlarang” sebenarnya telah menyebabkan “Rumah Dara” terlihat seperti anak bau bawang. Dengan segala kebijakan pun, apresiasilah karya anak negeri, saya bisa menyebutkan bahwa masih banyak film negeri ini yang lebih patut mendapat apresiasi.

Sudahlah. Di balik itu semua, Mo Brothers layak mendapat sambutan hangat untuk memberikan terobosan yang setidaknya memperkenalkan genre seperti ini di sinema kita. Hanya saja pada akhirnya, film adalah komponen utuh berbagai aspek. Cerita adalah fondasi yang begitu kokoh. Sayangnya, fondasi film ini  begitu rapuh dan rubuh dengan cepat. Jika fondasinya terbuat dari potongan daging segar, maka ia tidak pernah menjelma selezat steak restoran nomor wahid. Bahkan, harus memohon ragu-ragu untuk berteriak, “Enaaak, Kaaan!” sekalipun.

Advertisements

8 thoughts on “Review: Rumah Dara

  1. heheheh aku jujur belon nonton..tapi untung yang film pendek nya udah itu lumayan agak serem..gag tau degh yang ini..jadi gag bisa nile…but jadi penasaran coz kamju ngasik bintang cuma 1 apakah sejelek itu??hehehehhee ntar d tak tonton kalo ada vcd nya
    hehehe

  2. wah beda sekali, ulasannya, kritiknya tajam juga. tidakkah patut diapresiasi sedikit saja kalau dibandingkan horor indonesia lainnya?

  3. Wahh..pendapat kita beda nih ya.. Kalau saya suka dengan Rumah Dara, untuk genre slasher menurut saya udah bagus sekali.. Tapi, itulah pendapat, bisa berbeda-beda satu sama lain.. Btw, nice review! 🙂

  4. wow! kaget juga ketika membaca review oom awya,
    ketika banyak orang cukup menikmati rumah dara *termasuk saya sendiri*, eh, si oom awya malah kurang menyukai film ini. salah satu alasan yang pasti kalau menurut saya, rumah dara terlalu nge-pop, itu saja. 🙂

    saya cukup setuju dengan beberapa hal, khususnya mengenai aura film ini yang terasa seperti film-film slasher dari barat., tapi bolehlah kita berikan dukungan buat mo brothers yang berhasil membuat sebuah film slaher-horror-indo-lokal yang berbeda dengan film-film horror yang ada sekarang. *hantu puncak datang bulan? diperkosa syaitan? tiren? owmaigoth!*

    alu, mengenai si ‘ibu dara’, memang aktingnya terasa kaku, aneh & dibuat-buat tapi entah kenapa, saya tetap merasa bahwa dia itu cukup menyeramkan. soal cara bicaranya yang terdengar kaku, saya pikir itu merupakan bagian dari perannya, secara mereka adalah keluarga indo-belanda, sehingga gaya berbicara mereka seperti itu.

    secara keseluruhan, saya suka sekali dengan review oom awya kali ini, kena sasaran & cukup membuat orang berpikir kembali mengenai rumah dara, “apakah film ini buruk atau menghibur?”

  5. @ makasi mas Eka sudah memberikan waktunya untuk membca revie saya yang sangat personal ini. sebagai bentuk terobosan untuk film horor saya sangat apresiatif dengan Mo Brothers, tapi rasanya tepuk tangan riuh yang diberikan kepada film ini terkesan sangat berlebihan, kalau melihat filmnya yang biasa saja menurut saya. Yah, mungkin saya saja yang tidak bisa menikmatinya.

    @Dison: Menyoal Ibu Dara, meskipun dia dibuat sebgai keturun Indo-Belanda, kok saya tidak dapet ya kalo hal itu bisa mempengaruhi kekakuan bicara.

    @Gaby: hihihi… iya berbeda pendapat yang membuat obrolan tentang film jadi menarik.

  6. wah kalo melihat review awya selama ini, memang tidak biasa namun unik, jadi ya wajar kalo reviewnya berbeda cuma saya gak nyangka aja bakal setajam ini hehe

  7. film ini sangat mengihbur kok dan kalau emang agak mirip slasher barat well its fine dude
    asal nda plagiat ajagh soalnya nih film penghargaan nya di luar negeri lumayan banyak dan pernah diputar di san fransisco film festifal dan texas frightmare wekkend ,kalau nih film emang jiplak nda mungkin bisa dapat penghargaan di amrik ,
    orang amrik paling kagak suka sama plagiat dan film ini ternyata mendapat sambutan baik di sana
    apa nda keren tuh?
    haha
    and terus terang ajagh si ibu dara nya mukanya ngeri banget
    Tasty righT?
    benar benar bikin merinding muka dan cara bicaranya
    patut ditonton kok ini filmnya

  8. wah… sangat menarik 🙂 tapi dengan wawasan dan kritik tajam yang seperti ini, saya rasa anda punya karya yang lebih baik untuk dibandingkan… kami tak sabar menunggu itu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s