Review: Nymph

(***)

[out of 4 stars]

Directed by Pen-Ek Ratanaruang Starring Jayanama Nopachai Wanida Termthanaporn Running time 109 minutes Country Thailand Competed in Un Certain Regard Cannes Film Festival 2009

Sisi Mistis Sebuah Pohon

Ketika berbicara alam, terlepas dari unsur ilmiah yang bisa dijelajahi runutannya. Entah itu individu ataupun melebar menjadi ekosistem yang kompleks, terlihat begitu dinamis jika menerapkan sisi biologi di sana. Namun, terkadang kita menciptakan persepsi berbeda ketika bebicara mistik dari salah satu sudut, percayakah jika pohon itu begitu mistis atau istilah kerennya supranatural?

Dimulai dengan opening panjang yang dibidik dalam POV (point-of-view), kita melihat seorang wanita berlari tergesa masuk ke hutan. Dua lelaki bertelanjang dada mengejarnya, dengan berteriak kata-kata kasar dua lelaki itu kemudian memperkosa wanita tersebut. Gambar berubah dengan membidik suasana hutan dari atas, menuju ke pemandangan sungai, di situ terapung dua tubuh lelaki yang memperkosa wanita tersebut. Mati. Sang sutradara tidak memberikan petunjuk yang jelas, apa yang akhirnya terjadi dengan wanita tersebut dan mengapa dua lelaki tadi bisa mati di sungai tersebut. Kita hanya mendengar deru nafas tergesa entah milik siapa dan suara burung-burung hutan yang lirih. Sebuah opening panjang yang mengesankan. Kemudian, cerita berubah dari hutan ke setting metropolis perkotaan Bangkok, sepasang suami istri terkungkung dalam dilema kosongnya komunikasi serta perselingkuhan yang mendera. Hingga pada sebuah kesempatan, mereka berdua bergumul pada alamiah hutan dan sang suami terlibat ikatan bathin pada sebuah pohon. Mistik.

“Nymph”, yang muncul di kategori Un Certain Regard pada pagelaran Cannes tahun lalu adalah karya arthouse dari sutradara Thailand, Pen-Ek Ratanaruang. Berbicara mengenai Nymph, maka diingatkan pada dua auteur Asia Tenggara yang cukup dikenal namanya, Garin Nugroho dan Apichatpong Weerasethakul. Garin Nugroho membidik esensi pohon dalam Under the Tree dengan filosofi dan literal makna dari pohon itu sendiri. Bahwa pohon itu meneduhi, ibarat ibunda yang selalu melindungi buah hatinya. Sementara Apichatpong Weerasethakul, memberi karya eksperimental dalam setting hutan pada Tropical Malady dimana tentunya dalam hutan, pohon adalah onggokan yang begitu ramai ditemukan. Mereka menyatu dengan umat manusia. Pohon adalah alam yang begitu dekat dengan manusia. Sementara dalam “Nymph” dihadirkan pohon dalam bentuk berbeda. Dia adalah refleksi individu. Bernyawa. Memiliki nafas. Dan pula memiliki birahi. Diceritakanlah sang suami lenyap oleh seorang wanita yang menyeretnya di malam hari, membuat  istrinya panik berhari-hari. Hingga, tiba-tiba saja ia muncul di rumahnya sendiri suatu pagi. Tingkahnya berbeda, tidak makan, hanya meminum air putih. Ibarat pohon. Anehnya, ia menjelma menjadi sosok penuh birahi yang kemudian mengakibatkan rasa cinta kembali pada istrinya yang sebenarnya telah menjalin perselingkuhan dengan atasannya. Maka, Ratanaruang, mencoba bercerita tentang esensi kesetiaan. Baik itu pada manusia. Begitupun pada alam—pohon.

Seperti kebanyakan karya arthouse yang memberikan absurditas, Pen-Ek Ratanaruang pun mencoba menggali mistik pohon dan anatominya sendiri pada runutan realitas manusia dengan manusia, sekaligus manusia dengan alam yang berakhir absurd. Sayangnya, Ratanaruang menyampaikannya pada ranah yang terlampau singkat sehingga sinergi tersebut seolah berdiri sendiri tanpa kausalitas yang begitu rapat. Bidik saja tentang perselingkuhan yang diambil, pasti dikaitkan runutan kesetiaan. Di akhir film kemudian dimunculkan esensi “penerimaan” dalam konteks meminta maaf. Sang istri yang mengobrak-abrik pohon yang dicintai suaminya, dianjurkan meminta maaf oleh suaminya sendiri. Sementara, siapa sebenarnya wanita yang menyatu dengan pohon itu tidak digambarkan dengan jelas. Hingga terasa pesan dari film ini tidak sampai di tempat duduk penikmatnya. Ratanaruang mungkin tidak berniat untuk menampilkan itu. Beliau berniat memunculkan persepsi, dimana alam adalah konsep mistik yang bertumbukan dengan manusia. Pun, manusia adalah konsep mistik yang diciptakan dari alam. Mereka bersinergi. Memiliki birahi.

Jika Apichatpong Weerasethakul selalu berhasil menampilkan sisi jenaka dari naturalnya alam ini dengan tingkah laku manusianya di balik setiap bidikan misterius yang ditampilkan, Pen-Ek Ratanaruang tidak memiliki hal itu, bahkan mungkin tidak pernah berniat seperti itu. “Nymph” adalah karya seni yang membutuhkan rasa. Tak ubahnya rasa, ia bertumbukan dalam kosmik berbeda di setiap individu. Untuk hal itu, “Nymph” rasanya bisa diterima bagi penonton mainstream sekalipun. Setidaknya makna mistik tersebut dekat dengan ranah melayu dimana pohon pula memilki makna mistis di beberapa kepercayaan. Mereka juga terkadang seperti individu. Memiki nyawa. Mereka bernafas juga bersama sahabatnya, yaitu manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s