20 Performances of the Decade 00’s (Male & Female)

Peran seorang aktor dan aktris di sebuah film merupakan sisi paling sentral dalam sebuah film selain jalan cerita film itu sendiri. Seorang penampil bertugas mengisi cerita lewat karakter yang ditampilkan. Kadang, sebuah penampil bisa dipuji ketika berhasil memberikan penampilan terbaik, kadang dicacimaki karena dianggap merusak kesan filmnya. Inilah 20 penampilan terbaik dari 10 aktor dan aktris yang paling membekas dan terbaik bagi saya. Selamat menyimak!

*10 MALE PERFORMANCES OF THE DECADE*

Honorable Mentions: Bill Murray (Lost in Translation), Jeremy Renner (The Hurt Locker), Javier Bardem (No Country for Old Men), Sean Penn (Milk), and Tony Leung (In the Mood for Love).

#10. Adrien Brody as “Wladyslaw Szipilman” (The Pianist, 2003). Mengejutkan publik atas kemenangannya di Oscar tetap dicatat sebagai aktor termuda yang pernah meraih Oscar di kategori tersebut. Bukan sebuah kebetulan, di “The Pianist” memang beliau memunculkan sosok seorang pianis terkenal yang terpuruk dalam kondisi Holocaust yang mencekam. Dari ekspresi wajahnya, tanpa banyak mengumbar emosi, kita tahu, bagaimana rasanya terpuruk dalam kondisi seperti itu.

#9. Mickey Rourke as “Randy” (The Wrestler, 2008). Kembalinya seorang Mickey Rourke lewat film ini adalah pencapaiannya yang monumental. Kita melihat lelaki pensiunan gulat yang merana akan hidupnya, dalam kesendirian dan konflik bathin dengan anaknya sendiri. Di sini kita melihat figur seorang ayah. Apapun itu bentuknya, ia adalah sosok yang tidak bisa hidup sendiri.

#8. Tom Hanks as “Chuck Nolan” (Cast Away, 2000). Sekedar informasi, saya membenci “Cast Away”, namun penampilan seorang Tom Hanks sulit untuk dilupakan. Dalam sebuah film yang mengutamakan single performance seperti ini, memang harus memilih aktor yang mumpuni dalam memerankan sebuah karakter. Tom Hanks adalah pilihan yang tepat.

#7. Michael Fassbender as “Bobby Sands” (Hunger, 2008). Penampilannya yang benar-benar bisa kita simak adalah 15 menit percakapan dengan pendeta tersebut. Namun di situlah kita melihat bagaimana lewat dialog seorang aktor melebur pada karakter yang dimainkannya dan meyakinkan kita dengan kata-kata tersebut. Saya berharap Fassbender mampu berbicara banyak ke depannya. Dengan modal kualitas akting yang dia miliki, tidak akan sulit untuk melihat jika beliau konsisten dengan film-filmnya, kelak kita akan melihatnya mendapat nominasi Oscar.

#6. Nicholas Cage as “Charlie Kauffman/Daniel Kauffman” (Adaptation, 2002). Berperan sebagai dua individu berbeda meskipun memiliki kemiripan adalah kerja yang sulit, maka tak heran jika seorang Nicholas Cage patut dipuji untuk hasil ini. Pun perannya sebagai refleksi nyeleneh Charlie Kauffman adalah replika sang penulis yang membuat kita tak sadar bahwa kita dihadapkan pada imajinasi, bukanlah realita. Sebuah penampilan memikat sebagai pengobat kegagalan aktor ini setelah dekade ini hampir semua flmnya jeblok di pasaran.

#5. Adam Sandler as “Barry Egan” (Punch-Drunk Love, 2002). Saya dulu skeptis dengang komedian ini sampai pada akhirnya tangan seorang Paul Thomas Anderson berhasil menyulap aktor ini untuk bermain serius, dan hasilnya begitu meyakinkan. Amarah yang dibalut suasana hati kesepian dan dicampur romantisme adalah penampilan terbaiknya sampai saat ini. Adegan memecahkan kaca itu selalu saja membuat saya terpingkal-pingkal.

#4. Leonardo Dicaprio as “Howard Hughes” (The Aviator, 2004). Setelah gagal meyakinkan di “The Beach” yang jeblok, kemudian disokong Martin Scorsese lewat “Gangs of New York” baru memunculkan nasib baik baginya. Hingga “The Aviator” menjadi titik puncak kembalinya dalam kancah Hollywood membuktikan dialah aktor muda yang memiliki sinar cemerlang di tahun-tahun ke depan. Sebagai Howard Hughes, yang menderita germa-phobia, selalu mengingatkan saya dengan seorang teman waktu SMA yang juga menderita hal itu. Kalau Anda pernah melihat atau setidaknya bergaul (teman saya itu teman duduk saya waktu SMA!) pasti mengerti betapa briliantnya akting aktor ini. Mulai dari bagaimana ekspresi ketika melihat kotoran di baju orang, makanan yang tidak boleh dimakan orang lain, selalu membawa tisu, adalah hal yang sangat familiar. Saya seperti melihat potret teman saya di penampilan DiCaprio ini.  Mencicipi akting lewat arahan Martin Scorsese, Steven Spielberg, Sam Mendes, dan James Cameron sudah dilahap. Di dekade baru, beliau bersiap untuk menjadi hit dengan bantuan Christopher Nolan. Hanya satu yang ditunggu, kita lihat saja kapan piala Oscar ada di tangannya.

#3. Casey Affleck as “Robert Ford” (The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford, 2007). Mimik tertahan dengan bibir sedikit bergetar, mata sayu dengan sorot tanpa percaya diri, gestur kaku dengan kekaguman mendalam pada sosok idolanya adalah ringkasan inti dari penampilan gemilang ini. Nyatanya, ketika penonton diobrak-abrik antara merasa iba atau memendam benci pada sosoknya yang pengecut, di sisi lain kita sadar, sosok Robert Ford tak ubahnya individu di sekitar kita yang tidak akan dinilai hitam dan putih. Untuk mencapai hal tersebut, Casey Affleck telah meyakinkan kita dengan karakter ini.

#2. Heath Ledger as “Ennis Del Mar” (Brokeback Mountain, 2005). Saya pribadi mengganggap penampilan mendiang Heath Ledger sebagai Ennis Del Mar setingkat di atas Philip Seymour Hoffman yang mendapat Oscar lewat Capote di tahun 2005. Heath Ledger menampilkan sebuah karakter, lelaki kesepian, rapuh, dan terkungkung. Lihat ending film ini dimana seorang Ennis Del Mar mengurai air matanya dalam sorot kerinduan yang dalam. Pada sebuah kondisi, Heath Ledger akan tetap dikenang sebagai salah satu aktor berbakat yang pernah pecinta sinema miliki. Semakin membekas karena setelah kepergiannya, kita bisa melihat karyanya yang tetap akan dikagumi.

#1. Daniel Day-Lewis as “Daniel Plainview” (There Will Be Blood, 2007). Ketika membuat daftar ini, tidak ada sangkalan lagi, inilah penampilan terbaik pria dekade ini. Dengan ketamakan yang ditampilkan. Kebebalan. Kita melihat satu karakter paling otentik sepanjang dekade ini. Hm, membuat penasaran, kira-kira darimana ya Daniel Day-Lewis mendapat inspirasi untuk menciptakan karakter seperti ini? Hanya aktor watak yang bisa seperti ini.

(*sebagai perbandingan, silakan simak list 10 Male Performances of the Decade versi Philip Concannon yang menempatkan Casey Affleck di posisi pertama.)

*10 FEMALE PERFORMANCES OF THE DECADE*

Honorable Mentions: Charlize Theron (Monster), Sally Hawkins (Happy-Go-Lucky), Charlotte Gainsbourg (Antichrist), Tilda Swinton (Julia), and Tang Wei (Lust, Caution), Naomi Watts (Mulholland Dr.), Maggie Cheung (In the Mood for Love).

#10. Lee Young Ae as “La Geum Ja” (Sympathy for Lady Vengeance, 2006). Terkenal di sini karena perannya sebagai Jang Geum dalam serial korea laris, Lee Young Ae sebenarnya adalah aktris kawakan yang sudah diakui dedikasinya di negeri asalnya. Bagi saya yang lebih terbiasa melihat karakter lemah lembut Jang Geum, menyimak penampilannya di sini adalah sesuatu yang menarik karena bertolak belakang sekali. Di sini, Lee Young Ae muncul sebagai sosok yang dingin. Penyimpan dendam sekaligus pembunuh. Di sisi lain ia pun sosok yang rapuh ketika berhadapan dengan anaknya.

#9. Felicity Hoffman as “Sabrina ‘Bree’ Osbourne” (Transamerica, 2005). Susah sekali memang jika seorang aktris berperan sebagai seorang lelaki. Felicity Hoffman berhasil menyakinkan kita bahwa sosoknya adalah seorang lelaki transgender. Diceritakan hendak menemui anaknya, berpura-pura sebagai orang lain, pada akhirnya memberikan kisah yang lucu pada perjalanan road movie ini.

#8. Nicole Kidman as “Anna” (Birth, 2004). Sebagian orang membencinya, sebagian orang mencintainya. Dalam posisi itu, saya menyatakan Nicole Kidman adalah salah satu aktis terbaik saat ini. Publik boleh saja mengacu pada kegagalan film-filmnya, sebut saja “The Golden Compass” atau “Australia”, tapi kalau melihat dari filmografinya, dialah aktris terbaik dekade ini. Dalam ukuran keberaniannya mengambil resiko. Bermain di film “Dogville” arahan Lars von Trier yang sudah terkenal memposisikan wanita sepagai pihak yang teraniaya. Bernyanyi di dalam  film musikal terbaik dekade ini, “Moulin Rouge”, sampai dalam komedi seperti “Bewitched” pun berani diambilnya. Berhasil meraih Oscar lewat “The Hours” sebenarnya lebih menjadi dedikasinya terhadap karya-karyanya di masa lampau. Untuk dekade ini, perannya di “Birth” yang saya pilih sebagai yang terbaik. Emosional. Penggambaran seorang istri yang begitu mencintai suaminya hingga tidak sadar telah melakukan sesuatu yang di luar kendali.

#7. Ellen Burstyn as “Sara Goldfarb” (Requiem for a Dream, 2000). Sebagai seorang ibu yang obsesif untuk menjadi kurus, Ellen Burstyn jelas memberikan penampilan terbaik di dekade ini. Dalam sebuah film depressing seperti ini, semakin merasa depresi melihat perubahan psikologis dari karakter yang diperankannya. Dan, Burstyn berhasil menghadirkan hal itu.

#6. Marion Cottilard as “Edit Piaf” (La Vie En Rose, 2007). Mengejutkan publik atas kemenangannya di Oscar, ternyata bukanlah tanpa alasan ketika publik menyangka Julie Christie akan meraih Oscar, karena Cottilard jelas menghadirkan penampilan terbaik sepanjang tahun 2007 dan dekade ini. Sosok Edit Piaf yang aktif dan terkadang tanpa kendali, dihadirkan dengan begitu meyakinkan sampai pada ketika ia menua dan berjalan ringkih. Mungkin, kutukan Oscar berlaku bagi beberapa sineas ketika meraih piala namun terpuruk karirnya setelah itu. Namun, bagi seorang Marion Cottilard, itu tidak berlaku. Pasca kemenangannya, ia semakin menunjukkan taringnya. Bermain dengan Johnny Depp, sudah. Bermain di musikal pun sudah, bahkan dia satu-satunya penyelamat film “Nine”.  Kita lihat saja bagaimana penampilannya tahun ini ketika bersanding dengan Leonardo Dicaprio lewat “Inception” nanti.

#5. Julian Moore as “Cathy Whitaker” (Far From Heaven, 2002). Siapa yang meragukan seorang Julian Moore? Sudah tidak diragukan lagi ia termasuk salah satu aktris terbaik yang dimiliki Hollywood. Sebagai Cathy Whitaker, seorang istri yang terpuruk dalam kekosongan setelah mengetahui suaminya seorang gay, serta ketika menemukan cinta yang baru, harus menelan kenyataan bahwa ada tembok yang terlalu kokoh untuk dihancurkan. Dalam balutan film bernuansa pastel ini, Julian Moore memberikan warna mencolok yang sulit dilupakan.

#4. Rinko Kikuchi as “Chieko Wataya” (Babel, 2006). Saya adalah sebagian orang yang membenci “Babel.” Pun begitu menggempitanya ketidaksukaan saya, tetap penampilan itu tidak bisa menolak. Rinko Kikuchi, sebagai gadis Jepang kesepian yang bisu, adalah satu-satunyya bagian cerita di “Babel” yang paling menarik. Lewat karakternya, Kikuchi melebur dalam kebebasan remaja Jepang masakini yang liar, meskipun terhalang oleh keterbatasannya, tetap menghadirkan keibaan mendalam ketika ia mencintai lelaki yang tidak mampu terwujud dengan ending membahagiakan. Tak heran, nominasi Oscar berhasil diraihnya dan menobatkannya sebagai satu-satunya aktris Asia yang dinominasikan Oscar sejak 60 tahun lalu. Berharap di tahun ke depan, semakin banyak karya yang dihasilkan.

#3. Meryl Streep as “Miranda Priestly” (The Devil Wears Prada” (2006). Beberapa orang mungkin sedikit menolak untuk pemilihan saya ini. Ada yang beranggapan penampilannya di “Doubt” dan “Adaptation.” lebih baik. Bagi saya, perannya sebagai Miranda Priestly adalah penampilannya terbaik sepanjang dekade ini. Mengapa? Pernahkah dibuat tertawa sekaligus menahan benci dan merasa sayang sekaligus kagum terhadap satu karakter sekaligus? Miranda Pristley adalah satu-satunya yang berhasil membuat saya merasakan itu. Dalam kronologi karakter ini sekalipun, yang dibukunya jelas-jelas mengacu pada Anna Wintour, editor-in-chief dari Vogue versi Amerika, Meryl Streep memilih untuk mengambil sisi karakter lain agar tidak terkesan ofensif pada si Anna Wintour sendiri yang sisi pribadinya memang merupakan inspirasi dari buku aslinya. Hasilnya, muncullah Miranda Priestly yang tampil memakai Prada, berambut putih dengan model rambut jauh berbeda dari Anna Wintour, gestur tubuh yang tegas dan tercium aroma “killer” di tiap ucapannya. Puncak akting ini muncul ketika adegan Miranda Pristley menceritakan rencana perceraiannya menjelang akhir film. Itulah yang kita sebut akting brilliant dari seorang legenda hidup!

#2. Kate Winslet as “Clementine Kruczynski” (Eternal Sunshine of the Spotless Mind, 2004). Mungkin sebagian orang susah untuk memilih penampilan terbaik Kate Winslet dekade ini, namun dalam hati saya hanya ada dua penampilan terbaiknya dekade ini, yaitu di “Revolutionary Road” dan film ini. Sepanjang dekade, selain karakter Miranda Priestley, inilah karakter dari wanita paling memorable yang saya simak. Clementine Kruczynski, wanita berambut warna-warni yang eksentrik dan berjiwa bebas, mencuri perhatian lewat variatifnya ekspresi yang dipertontonkan. Perhatikan saja perbedaan ekspresi dari tiap kondisi rambut yang ditampilkan. Oranye, biru, merah, hijau, memiliki energi yang berbeda dalam tiap ekspresi karakternya. Otentik. Tidak heran, majalah Premiere menobatkan karakter ini sebagai salah satu dari 100 karakter film paling membekas sepanjang masa.

#1. Bjork as “Selma” (Dancer in the Dark, 2000). Di beberapa kesempatan, publik akan mencemooh kemungkinan Bjork hanya “kebetulan” bisa berakting bagus di film ini. Mungkin. Namun bagaimana kita tahu jika filmnya ini adalah film pertama dan terakhirnya di dunia sinema kalau penampilannya hanya kebetulan jika dalam sepanjang filmnya terbersit rasa iba mendalam terhadap karakter Selma yang dihadirkan. Tidak ada penampilan wanita yang menempuh sisi emosional keibaan saya seperti yang ditampilkan Bjork di film ini. Mengklaim disiksa oleh Lars von Trier sepanjang produksi, hingga sempat meninggalkan lokasi shooting beberapa hari, nampaknya bukan sekedar omong kosong belaka. Tak apalah memang pada akhirnya, penampilannya tetap diingat sebagai yang terbaik dekade ini. Untuk perannya sebagai seorang ibu yang rela menderita demi anaknya ini, Bjork dianugerahi Best Actress dalam Cannes Film Festival dimana “Dancer in the Dark” sendiri meraih Palme d’Or sebagai film terbaik. Semoga saja rumor yang beredar kalau Bjork akan kembali berakting lewat arahan Michel Gondry (Eternal Sunshine of Spotless Mind) itu bukan isapan jempol belaka. Ingin sekali melihat aktingnya lagi.

(*sebagai perbandingan, silakan simak list 10 Female Performances of the Decade versi Philip Concannon yang menempatkan Naomi Watts  “Mulholland Dr.” di peringkat pertama.)

Nah, itulah rangkuman 20 penampilan terbaik dekade ini. Kalau Anda, penampilan siapa yang paling membekas di dekade ini?

Advertisements

6 thoughts on “20 Performances of the Decade 00’s (Male & Female)

  1. Seneng dimasukin si Leo pas diAviator,soalnya even dia banyak pujian di The Departed,Blood Diamond and yang terbaru Shutter Island,saya justru lebih suka saat dia jadi Howard Hughes sama Frank Abagnale Jr,bagusss…
    Daniel Day, well, nggak meragukan, konsensus mutlak dia memang top kapanpun itu
    tapi agak kecewa Sean Penn hanya masuk honorable mention padahal tiga filmnya dr mulai I am sam sampa Milk benar” oke.
    Thanks udah masukin Fassbender,saya belum selese nonton Hunger soalnya banyak adegan yang bikin nyelekit tapi harus diakui Fassbender oke sekali
    dan Phillip Seymour lewat Capote sepertinya terbuang ya, begitupun dengan Gordon-Levitt yang menurut saya pantas masuk lewat mysterious skin
    Untuk yang perempuan,
    seneng banget Felicity dimasukin sementara Witherspoon dibuang,memang seharusnya seperti ini!
    setuju sama pendapat Awya ttg Kidman, filmnya dia akhir ini tidak sememorable dulu, dan akting dia gak sebagus di The Hours ataupun Moulin Rouge
    Winslet emang gak diragukan lagi,selalu heran kenapa dia bisa total banget entah di Spotless,little children atopun film sederhana mancem revolutionary road
    akhir kata…it’s a nice list! 😀

  2. saya lupa kalo kang awya gag suka2 banget ama sean penn padahal saya pengen dy masuk daftarmu hahahaha..btw saya tidak melihat Di Caprio aviator???daniel day lewis dan heath ledger sangat setuju, tapi ledger terasa mateng di the dark knight..
    eh jujur aku belum nonton la vien rose, jadi penasaran ama si cotilard disana..Tang Wei masukin aja akuu tergoda meligatnya hahhahahaa….kate winslet kok aku sukanya di the revolutionary road hahahha

  3. Hmmm…kalo aku buat list yang sama, mungkin akan memasukkan Renee Zelweger (Bridget Jones) dan Uma Thurman (Kill Bill). Charlize Theron (Monster) pasti masuklah.

    Kalau cowok, Daniel Day Lewis pantas menjadi yang terbaik.

  4. wah…20 performance yah. Gua bahas bertahap dan mungkin ada yang gua hilangkan hehe. Langsung loncat ke Cast Away. Memang Tom Hanks disini piawai bermain solo, tapi bukan itu yang membuat gua menyukai film ini. Gua suka ending dari film ini yang menurut gua, justru itu yang bikin film ini jadi bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s