Awya’s Best Films of the Decade

Muncul pertanyaan yang sedikit menggelitik ketika sebuah film dianggap sebagai yang terbaik di dalam kurun waktu sepuluh tahun. Bukan hanya perkara seberapa penting sebuah film tersebut mengapa bisa disebut yang terbaik, namun juga dalam tatanan apa yang menjadi dasar sebuah film bisa dikategorikan yang terbaik dibanding ribuan judul lainnya. Kita dihadapkan pada penjelasan dua hal yang bertolak belakang, style dan substance atau gaya dan substansi/isi sebagai dua hal yang tidak henti-hentinya diperdebatkan dalam film. Apakah style menjadi pertimbangan yang lebih penting sehingga sebuah film seperti Pulp Fiction banyak dianggap sebagai salah satu film terbaik dekade 90-an? Atau mungkin substansi yang menjadikan film-film bersejarah, memiliki toleransi pada peristiwa penting yang terjadi di dunia ini dianggap paling penting? Lalu apa yang menyebabkan film seperti Mullholland Dr. dari konsesus daftar sejenis selalu menjadi pilihan banyak orang sebagai yang terbaik di dekade ini? Apa karena stylenya yang memang tidak bisa diragukan lagi yang mampu mendobrak kejeniusan sebuah film atau karena substansinya? Silakan jawab sendiri.

Daftar sepuluh besar film terbaik saya ini adalah sebuah gambaran apa yang saya anggap pencapaian terbaik di dekade ini. Dengan catatan; ada sisi kesukaan yang dilibatkan. Dengan kata lain inilah film-film terbaik sekaligus terfavorit saya untuk dekade 2000. Saya sebenarnya berencana untuk memberikan 20 film yang saya angggap terbaik dari 2000-2009, namun karena pertimbangan beberapa hal dan sebelumnya saya sudah membuat daftar yang saya pilih terbaik tiap tahunnya, jadi itu sudah menjadi gambaran film-film terbaik di era 2000.

Simak saja daftar film terbaik di dekade ‘00 pada tiap tahunnya di sini:

2000, 2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, serta bonus feature di tahun 1999.

Secara keseluruhan, saya memberikan 101 film terbaik (karena ada tie di tahun 2001) yang masuk daftar paling elit alias top ten dari 2000-2009. Ada 42 film yang masuk [the also-ran] dan 44 film sebagai [the almost-there] sehingga total ada 86 film yang tidak masuk top ten namun menyandang status honorable mention alias film yang saya juga sukai. Sehingga jadinya ada 187 film selama periode 2000-2009 yang sudah saya persembahkan kepada Anda pembaca setia blog ini.

Akhirnya, dengan sedikit menyesal saya hanya bisa memberikan 10 film yang paling saya sukai di dekade ini. Sulit sekali harus menciutkan dari 187 film yang masuk kualifikasi untuk menjadi 10 film saja. Tidak perlu juga kaget jika ada judul baru di daftar saya yang sebelumnya tidak sempat masuk list sekalipun, karena akhirnya saya memiliki kesempatan untuk menyimaknya. Selain itu sebagai bonus features, dalam kesempatan ini saya juga memberikan Best of the Decade by Genres, 10 Best Films of 90s serta My 10 All-Time Favorite Movies.

Inilah sepuluh film, sepuluh puncak pengelanaan sinema, sepuluh atmosfir yang berhasil menggugah kenikmatan ketika melihat sebuah film. Sepuluh film paling saya sukai. Sepuluh film terbaik di dekade ini.

[AWYA’S TOP TEN FILMS OF THE DECADE]

#10

“THE ROYAL TENENBAUMS” (USA, 2001)

Directed by Wes Anderson

[No. 2 in 2001]

Bersama Wes Anderson, selalu saja ada senyum simpul yang teramat manis mengembang di bibir saya. Meskipun terkadang sebenarnya ada sisi yang tidak pantas ditertawakan. Lewat “Rushmore” di era 90, kemudian “The Darjeeling Limited” serta terakhir “Fantastic Mr. Fox” sebagai penutup dekade, saya selalu terduduk dengan senyum mengembang menyimak karya-karya beliau. Dalam “The Royal Tenenbaums” konsep keluarga unik diceritakan dengan narasi yang sedikit aneh bagi kebanyakan. Di situlah Wes Anderson menerima apresiasi terbesarnya ketika mengikat penikmat filmnya dengan hati besar bernama keluarga. Setidaknya, di dekade ini, beliau telah berhasil membuat saya memotong sebongkah hati, dan memberikannya pada keluarga aneh di film ini.

#9

“DANCER IN THE DARK” (Denmark, 2000)

Directed by Lars Von Trier

[no. 3 in 2000]

Saya sedikit kesulitan antara memilih “Dogville” atau film ini yang akan mengisi sepuluh besar. Dalam kondisi terakhir saya bertanya; mana yang lebih saya sukai? Jawabannya di film ini. Memang, Bjork telah bersumpah untuk tidak akan pernah berakting lagi setelah disiksa oleh Lars von Trier di film ini. Namun, tidak pula rasanya sulit menerima jika hasilnya membuatnya tampil luar biasa di film ini. Dalam salah satu penampilan yang membuat hati iba seperti ini, tidak akan terpungkiri jika selalu ada cerita tak manis di baliknya. Sebuah tragedi. Sebuah cerita wanita yang bernyanyi. Sebuah cerita tentang kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang rela menerima derita yang tidak sepantasnya diterima. Biarkan Bjork terus bernyanyi, saya bersedia mendengarnya sepanjang hari.

#8

“THERE WILL BE BLOOD” (USA, 2007)

Directed by Paul Thomas Anderson

[No. 2 in 2007]

Sebagai seorang sutradara yang satupun filmnya tidak pernah saya benci alias semuanya saya kagumi, memang terlalu biasa jikalau berkata sutradara ini akan selalu mengisi daftar saya. Pun sulit rasanya menghapus “Punch Drunk-Love” sebagai sebuah karya masterpiece yang sulit untuk saya lupakan. Dalam “There Will Be Blood” yang tetap saja menyimpan unsur surealis meskipun minim, Anderson membuktikan bahwa beliau merupakan sutradara muda paling bersinar saat ini. Setidaknya bagaimana beliau mengolah seni dan persepsi, adalah atensi terbesar bagi seorang penikmat film seperti saya.

#7

“WERCKMEISTER HARMONIES” (Hungary, 2001)

Directed by Bella Tarr

Ya, satu-satunya film di daftar ini yang tidak pernah masuk list saya sebelumnya karena ini termasuk film terakhir yang saya simak dan dari dulu sudah tertarik menyimaknya. Bella Tarr, sutaradara film art-house dari Hungaria yang karyanya selalu otentik dengan shot panjang yang ditampilkan, terkenal menghadirkan sisi enigmatik dan lirikal yang terkesan diam namun sebenarnya menyimpan kepekaan terhadap sentuhan rasa—dalam hal ini hati. Di era 90-an, beliau hadir dengan “Santantango”, sebuah film yang dianggap film terbaik era tersebut dengan durasi 7.5 jam yang eksentrik dan memerlukan energi menontonnya. Dalam “Werkmeister Harmonies” sebuah kekacauan menggema pada perantara hadirnya sebuah sirkus yang menghadirkan sebuah paus mati yang mengundang rasa ingin tahu penduduk. Terdiri hanya dari 39 shot, dibidik dalam kondisi hitam putih, film ini menghadirkan gambar-gambar panjang yang bahkan satu take bisa berdurasi 10 menit tanpa putus. Minim dialog. Dari gambar, kita belajar, bahwa perspektif begitu indah sekaligus rumit untuk dibahas.

#6

“ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND” (USA, 2004)

Directed by Michel Gondry

[No. 1 in 2004]

Sulit untuk tidak menghadirkan film ini di daftar saya, karena hati kecil saya selalu berujar; film ini brilliant sekali! Seperti kebanyakan karya Charlie Kauffman yang nyeleneh,sebut saja “Being John Malkovich”, “Adaptation.”, ataupun “Synecdoche, New York”, hanya film inilah yang menghadirkan keindahan romansa manusia pada esensinya yang paling dasar; hati tidak bisa direkayasa, cinta tidak bisa diredam, karena dia hadir dalam runutan yang tidak akan terhapus oleh apapun, teknologi tercanggih sekalipun. Kita nantikan saja, apa yang akan dibawa penulis ini sepanjang dekade ke depan. Saya akan selalu menanti karya-karya seorang Charlie Kauffman.

#5

“UNDER THE TREE” (DI BAWAH POHON)

(Indonesia, 2008)

Directed by Garin Nugroho

[No.1 in 2008]

Saya bahagia karena menghadirkan satu karya anak negeri di daftar ini. Sekaligus karya anak negeri yang memotret kampung halaman saya dengan begitu artistik. Maksudnya, seni begitu melekat dalam setiap lini dan menubruk ruang-ruang personal dengan begitu apik.  Dalam “Under the Tree”, Ibu adalah tokoh sentral yang begitu dekat dengan manusia; dilahirkan, dibesarkan, dan dikasihi. Garin Nugroho mengambil potongan esensi dari cerita Calon Arang, Kurawa dan Pandawa, serta fragmen-fragmen kultural yang bersifat mistikal dalam falsafah orang Bali. Ketika apresiasi seperti ini begitu nikmat diperdendangkan, seperti bagaimana salah satu karakter wanita di film ini mendendangkan tembang Bali dalam kesenduannya, seperti itu pula makna kasih sayang ibu yang begitu besar mendobrak hati saya. Saya percaya, sesulit apapun seni, serumit apapan seni, dia dihadirkan untuk diapresiasi, dimengerti, dan dirasai.

#4

“SYNDROMES AND A CENTURY” (SANG SATTAWAT)

(Thailand, 2006)

[No. 1 in 2006]

Bagaimana memahami kesederhanaan dan modernitas? Pada kenyataannya mereka beiringan satu sama lain. Apichatpong Weerashetakul, salah satu sutradara Asia yang dikagumi dunia dekade ini, menghadirkan kemisteriusan yang terlihat sederhana, namun sebenarnya memiliki energi yang teramat dalam dan menciptakan atmosfir realita dalam persepsi manusia. Saya tidak mengerti mengapa film ini terasa begitu universal. Mungkin, karena menghadirkan perubahan. Atau mungkin karena tercium aroma yang amat familiar? Entahlah. Masih terngiang-ngiang dengan adegan dokter gigi yang menyanyi itu. Mengingatkan saya akan keakraban hawa kampung halaman.

#3

“THE ASSASINATION OF JESSE JAMES BY THE COWARD ROBERT FORD”

(USA, 2007)

Directed by Andrew Dominik

[No. 1 in 2007]

Merangkum sisi idol-isme ketika manusia berkehendak untuk menjadi sosok yang dia puja. Jesse James adalah contoh legenda ketika manusia dicintai atas perbuatan yang tidak patut dicintai, sementara Robert Ford adalah sosok ketika impian gagal diterjemahkan karena tindakan yang salah dipilih. Brad Pitt memberikan penampilan terbaiknya sejak Fight Club, bersamaan itu pula, Casey Affleck menampilkan apa sebenarnya yang bisa dipahami melalui studi karakter yang diperankannya sebagai Robert Ford atau Sang Pengecut. Mimik tertahan dengan bibir sedikit bergetar, mata sayu dengan sorot tanpa percaya diri, gestur kaku, lengkap dengan sosok yang sering diperolok membuat penampilannya menjadi salah satu penampilan terbaik dekade ini. Ini adalah karya yang tidak pernah bosan untuk terputar di depan mata saya. Seperti menyimak puisi, lembar per lembarnya adalah untaian intuitif bernama keindahan.

#2

“THE NEW WORLD” (USA, 2005)

Directed by Terrence Malick

[No. 1 in 2005]

Bagaimana menerjemahkan eksotika bumi, alam, dan manusia? Dalam populasi, mereka adalah unsur berdampingan, dan mengisi satu sama lain. Terrence Malick, yang disebut sebagai salah satu sutradara terbaik Amerika, membawa fotografi sebagai aspek meditatif dan pengelanaan dalam merasuki ruang-ruang naturalis yang terlihat puitis di setiap lini. Seperti kebanyakan masterpiece yang ada, sebuah sinema adalah jembatan yang menghubungkan naluri dalam susunan idealisme yang kental, dan terkadang eksplosif ketika bertumbukan pada sinergi yang runut dan seragam. Malick adalah satu diantara segelintir sineas yang memiliki energi ini. Energi yang mengajak penikmatnya bersenggama dengan keindahan alam. Ketika berhasil menikmati begitu orgasmiknya pengalaman mencumbu alam—dari seorang master seni dalam sinema—ah terserahlah orang menggerutu saya anti-mainstream, saya sudah mampu bernafas dengan oksigen seperti ini.

#1

“IN THE MOOD FOR LOVE” (FA YEUNG NIN WA)

(Hong Kong, 2000)

Directed by Wong Kar-Wai

[No. 1 in 2001 *U.S released date]

Ketika pertama kali mengumpulkan daftar ini, “In the Mood for Love” adalah satu-satunya film di daftar ini yang posisinya tidak pernah tergeser sedikitpun dari daftar saya. Dalam bahasa saya, “In the Mood for Love” adalah;

“wanita cantik nan seksi yang senantiasa hendak saya pinang suatu hari kelak.”

Ini adalah cerita rahasia hidup manusia. Alkisah lelaki dan wanita terperangkap di ruang yang sama karena takut menjadi gunjingan dan harus menunggu tetangganya bermain mahjong. Alkisah lelaki dan wanita yang sama, tiap malamnya menyantap mie di daerah pinggiran. Alkisah lelaki dan wanita yang sama, berpura-pura untuk saling jatuh cinta. Alkisah lelaki dan wanita yang sama, berpura-pura untuk tidak saling jatuh cinta. Pada akhirnya, alkisah lelaki dan wanita yang sama, bernasib sama, terpuruk dalam atmosfir dan esensi yang sama dan ratapan kekosongan yang sama. Pada intinya, ada konsep “kebetulan” yang diperjuangkan. Kebetulan bukanlah rekayasa, sebaliknya kebetulan pun bisa direkayasa. Namun hati-hati, karena pada akhirnya mampu membuat orang di dalamnya terjebak dalam rekayasa itu.

Bagaimana saya harus menceritakan karya masterpiece ini lagi? Ini adalah paket paling sempurna dari sebuah pengalaman menyantap hidangan bernama sinema. Memang, film art-house seperti ini akan ditolak mentah-mentah bagi mereka yang memuja film-film popcorn dengan stereotype yang bombastis dan happy ending yang super klise. Film seperti ini punya ruang tersendiri. Pun ketika Wong Kar Wai selalu dipuji dan dikritisi karena kecenderungannya menyembelih plot cerita, dalam “In the Mood for Love”, dua unsur yang selalu bertabrakan; style dan substansi, dipersatukan dalam sisi yang estetis, sehingga dua sisi tersebut tersaji dengan sempurna tanpa menekan sisi yang lain. Oh, bolehkah pula saya katakan film ini sangat erotis, sangat vulgar, dan sangat sensual? Dengan satu catatan; tidak ada satupun adegan ciuman di film ini dan tidak ada secuil pun adegan persetubuhan di sepanjang film ini. Artinya? Jika atmosfir dan esensi begitu erotis dan seksi, untuk apa memperdebatkan ranah empirik lagi? Bagi saya, tidak ada yang mengalahkan film ini sebagai yang terbaik di dekade ini.

Life = Art?

Itulah sepuluh film terbaik versi saya di dekade ini. Saya tahu, pasti ada yang mendebat karena minimnya karya mainstream di daftar saya. Entahlah, semakin hari, semakin menjauh saja selera saya dari wilayah mainstream. Orang bijak pernah berkata: “Sebuah daftar adalah sebuah kejujuran tentang kedewasaan, jika Anda semakin dewasa, maka pilihan Anda pun begitu.” Dalam satu sisi saya mengangguki hal itu. Di sisi lain pun jika saya memang mencintai sebuah karya mainstream saya akan berkata bahwa saya mencintainya. Namun, dalam tajuk list personal, saya tidak pernah berbohong tentang satu sisi: apa yang terbaik bagi saya adalah apa yang juga akan saya katakan terbaik ke semua orang. Entah itu mainstream entah itu art-house. Kalau saya suka, end of story.

Pilihan film-film di sepuluh besar saya mungkin banyak sisi kekurangan di mata orang lain, namun ketika Anda mencintai sebuah film dengan begitu gempitanya, ada energi ajaib yang tidak akan dimengerti orang lain. Bukankah begitu hebatnya sebuah film? Mengutip perkataan seorang film blogger: “Hidup dan seni itu subjektif. Tidak ada sisi kebenaran yang benar-benar nyata—yang ada hanyalah versi berbeda dari kedua hal tersebut.”

Recap:

[TOP TEN OF THE DECADE]

  1. In the Mood for Love
  2. The New World
  3. The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford
  4. Syndromes and A Century
  5. Under the Tree
  6. Eternal Sunshine of the Spotless Mind
  7. Werckmeister Harmonies
  8. There Will Be Blood
  9. Dancer in the Dark
  10. The Royal Tenenbaums

BEST OF THE DECADE 00’S BY GENRES:

MUSICAL OF THE DECADE

  • “Moulin Rouge”

SUPERHERO MOVIE OF THE DECADE

  • “The Dark Knight”
  • Runners-up: “Spiderman 2” “Iron Man”

ACTION OF THE DECADE

  • “Kill Bill vol. 1”
  • Runners-up: “Casino Royale” “The Bourne Ultimatum”

FANTASY OF THE DECADE

  • “The Lord of the Ring Trilogy”

SCIENCE-FICTION OF THE DECADE

  • “A.I: Artificial Intelligence”
  • Runner-up: “Minority Report”

COMEDY OF THE DECADE

  • “The Royal Tenenbaums”
  • Runners-up: “I Heart Huckabees” “Kiss Kiss Bang Bang”

ROMANCE OF THE DECADE

  • “Before Sunset”

ANIMATION OF THE DECADE

  • (tie) “Spirited Away” & “WALL-E”
  • Runner-up: Ratatouille

BEST OF THE DECADE 90’S

(*per March 2010)

Saya sedang dalam proyek untuk membuat edisi khusus film-film terbaik di dekade 90, 80, 70 ataupun yang lebih tua dari itu. Suatu hari nanti kalau sudah cukup memadai, saya akan mengumumkan daftar versi favorit saya di tiap dekade. Namun untuk sementara, film terbaik versi saya di era 90-an yang berhasil mengisi sepuluh besar adalah seperti yang ditampilkan di bawah ini:

  1. The Thin Red Line (Terrence Malick, 1998, USA)
  2. Pulp Fiction (Quentin Tarantino, 1994, USA)
  3. Princess Mononoke (Hayao Miyazaki, 1997, Japan)
  4. Chungking Express (Wong Kar-Wai, 1993, Hong Kong)
  5. Magnolia (Paul Thomas Anderson, 1999, USA)
  6. Schindler’s List (Steven Spielberg, 1993, USA)
  7. Breaking the Waves (Lars von Trier, 1996, Denmark)
  8. Rushmore (Wes Anderson, 1998, USA)
  9. Eyes Wide Shut (Stanley Kubrick, 1999, USA)
  10. The Truman Show (Peter Weir, 1997, USA)

AWYA’S FAVORITE FILMS OF ALL-TIME

(*per March 2010):

Jika populasi dunia mengatakan The Godfather sebagai film terbaik sepanjang masa. Sementara Amerika Serikat menganggap Citizen Kane sebagai film terbaik sepanjang masa. Di lain hal sutradara Quentin Tarantino menganggap The Bad, The Good, and The Ugly sebagai film terbaik sepanjang masa. Lalu Roger Ebert memilih Aguirre, Wrath of God dari Werner Herzog sebagai favoritnya sepanjang masa, maka film-film berikut ini adalah film favorit saya sepanjang masa sampai saat ini, yaitu:

1. 2001: A Space Odyssey

  • (Stanley Kubrick, USA, 1968)

2. La Passion de Jeanne d’Arc (The Passion of Joan of Arc)

  • (Carl Dreyer, France, 1928)

3. Taxi Driver

  • (Martin Scorsese, USA, 1987)

4. Ladri di Biciclette (Bicycle Thieves)

  • (Vittorio De Sica, Italy, 1948)

5. Citizen Kane

  • (Orson Welles, USA, 1941)

6. Rashomon

  • (Akira Kurosawa, Japan, 1950)

7. Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb

  • (Stanley Kubrick, USA, 1964)

8. Naussicca of the Valley of the Wind

  • (Hayao Miyazaki, Japan, 1984)

9. Days of Heaven

  • (Terrence Malick, USA, 1978)

10. Fa Yeung Nin Wa (In the Mood for Love)

  • (Wong Kar-Wai, Hong Kong, 2000)

Sulit sekali hanya memilih sepuluh film yang paling saya sukai dan kagumi dalam sepanjang sejarah dunia sinema ditemukan di bumi ini. Sampai saat ini, bagi saya, “2001: A Space Odyssey” dari Stanley Kubrick adalah film terbaik sepanjang masa yang pernah saya simak sampai saat ini. Bukan hanya karena begitu jeniusnya teknologi ditampilkan, namun begitu dalamnya sinergi manusia dan alam semesta itu ditabrakkan dalam kosmik semesta yang abstrak dan simbolik. Kemudian ada film dengan penampilan wanita terbaik dalam sejarah perfilman, yaitu “The Passion of Joan of Arc” dengan penampilan Maria Falconetti yang luar biasa.“Bicycle Thieves” memiliki jalan cerita yang sederhana, namun dengan begitu apik menghadirkan sebuah hati yang besar. Sedangkan karya monumentalnya Akira Kurosawa membuat saya terkagum dengan penceritaan sekaligus bagaimana idenya ditampilkan dalam salah satu film paling berpengaruh di dunia, “Rashomon”. Begitu pun animasi “Naussicca of the Valley of the Wind” yang saya anggap sebagai animasi terbaik sepanjang masa yang tidak akan tergoyahkan dalam waktu yang sangat lama sebagai animasi terbaik yang pernah dibuat oleh master animasi terbaik sepanjang masa, the great Hayao Miyazaki, keduanya berasal dari negeri sakura. Adapun karya paling saya sukai dari Martin Scorsese “Taxi Driver” yang lebih saya sukai disbanding dua masterpiece yang lebih banyak disukai orang; “Raging Bull” atau “Goodfellas”. Terrence Malick selalu mengisi daftar saya lewat cerita sederhananya di “Days of Heaven”.  Sampai berakhir pada film terbaik di dekade ini yang menjadi juru kunci sepuluh film favorit saya sepanjang masa, apa lagi kalau bukan “In the Mood for Love.”

Itulah rangkuman daftar untuk edisi dekade ini. Selamat menempuh film-film baru di dekade baru. Untuk daftar semacam ini, kita berjumpa sepuluh tahun lagi. See you!

Advertisements

13 thoughts on “Awya’s Best Films of the Decade

  1. wow.. yg gue baru tntn sampe kelar cuman Eternal Sunshine of Spotless Mind, dan gue ga gt suka ama ceritanya, stressfull hwahahaha,

    sisanya, kayak jesse James ama There Will Be Blood gak kelar sampe abis.
    duh, intinya sih selera gue masih cupu banget yee dibanding Awya punya, hwahahaha, gue ga suka Punch Drunk LOve, trs gue ga suka Adaptation (ttg Charlie Kauffman juga kan tu), trs gue ga betah sama Blueberry Night.

    saya harus belajar lebih banyak lagi.. hahahaha.

    Two thumbs up buat list, nya, Awya 🙂

  2. @mbk iin: ah gak jg kok mbk iin. Selera kan subjektif bgt. Memang kalo yg charlie kauffman filmya hrus ditonton lebih dari sekali. Trus kalo untuk Wong Kar-Wai, sebagai penggemarnya, sy juga benci dengan My Blueberry Night. Film terburuknya sampai saat ini. Coba tonton In The Mood for Love, meski kadang perlu repeat viewing juga kalo film2nya beliau.

    @movietard: hadoh saya jadi malu… Selera itu subjektif bgt kok. Mungkin belum mendapat kenikmatan di jalur di luar mainstream saja.

    @omgila: wey, ketauhan nh semalem kelayapan sampe mabok. Lol.

  3. wowww..hebat ni awya bisa ngerangkum sampe satu dekade ampe pusing saya baca saking dikit film yang saya tahu di daftar 10 mu ini, gimana ni proses milihnya????pasti terjadi pergolakan batin saking banyaknya film yang bagus satu dekade terakhir, but god job, teruss berkarya….hahhahahahahhahaha..tapi asik kamu memasukkan under the tree..hhehehhehehehhee

  4. Awya… saya cuma bisa mengacungkan empat jempol untuk list ini. Great… great list…

    Banyak sekali menambah pengetahuan saya akan film-film langka yang saya belum banyak tahu. ^^

  5. Kali ini ngak sepakat deng ama Kang Awya.

    Anti mainstream boleh boleh aja, tapi postingan kali ini bener bener tak satupun yang sudah kutonton.udah gitu kebanyakan (jadi bukti secara tidak langsung kalo ada proyek ambisius Kang Awya… ) Tapi saya percaya kwalitas film film ini tidak usah diragukan.

  6. @prabu: benarkah tidak satupun ada? Sy rasa the royal tenenbaums dan eternal sunshine termasuk karya mainstream yg byk disukai org. Selebihnya there will be blood atau jesse james, the new world, in the mood for love dan dancer in the dark adalah pilihan yg nampaknya byk ditemukan di daftar sejenis. Hanya untk 3 lainnya br bs disebut minim wilayah publik yg menyimak.

    Sy jg sedikit dilema krn nanti disebut sok elitist. Tp pd akhirnya, keputusan tetap pd apa yg sy anggap terbaik dlm perspektif sy tentunya.

  7. Awya sama om Gila memang paling rajin deh bikin list2 begini, kalau saya keburu males duluan.. Belum lagi saya plin plan, suka ga tegaan kalau bikin nomor 1-10 gitu.. *alesannn* Haha.. 🙂

  8. bagi gw karya hayao miyazaki yg paling kren tuh lupin III,terus betapa kaget nya ternyata shawshank redemption tidak masuk top ten 90’s, ckck tapi overall saya setuju, walaupun dari daftar film yg sepanjang masa cuma 3 yg saya udah nonton hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s