Flashback: 11 Best Films of 1999

Tahun 1999? Ya, tahun 1999. Sepuluh tahun yang lalu. Masa personal dalam sejarah sinematik di diri saya. Masa ketika saya mulai mengenali hobi “nakal” mengapresiasi sinema, meski masih dalam tataran yang terlampau dangkal dan logika hijau yang terdengar ringkih  layaknya gelak tawa ceria tanpa rasa bersalah jika dibandingkan masa sekarang ketika saya memandang sinema. Uniknya pilihan film  yang saya tonton sepuluh tahun lalu, yang saya anggap terbaik sepuluh tahun lalu, masih juga tetap mengisi daftar film terbaik saya meskipun sudah berselang sepuluh tahun lalu. Tiga film yang saya tonton di masa lampau dulu, masuk daftar ini. Apa hanya karena alasan personal itu saya membuat list ini? Tidak. Dalam sejarahnya, kalau dekade 2000-an tahun 2007 dianggap sebagai tahun terbaik sepanjang dekadenya (seperti yang sempat saya singgung di list tahun 2007 lalu), di dekade 90-an, tahun 1999 dianggap sebagai puncak dari sinema terbaik sepanjang tahun. Itupun  karena keseimbangan dari sisi mainstream dan art-house beradu dengan seragam. Mulai dari kesuksesan “The Matrix”, “The Sixth Sense” sebagai pemuncak box-office sampai pada wilayah independen yang serempak meramaikan tahun penuh dengan karya-karya terbaiknya. Semakin lengkap ketika Entertaiment Weekly menyebut tahun ini sebagai tahun yang paling beragam dan penuh dengan kualitas mumpuni.

Baiklah, mari kita flashback ke sepuluh tahun lalu sebelum saya mengumumkan film terbaik saya di sepanjang dekade 2000-an minggu depan.

Still to See: Sayang sekali saya belum memiliki kesempatan untuk menyimak All About My Mother-nya Pedro Almodovar. Adapun The Straight Story,The Talented Mr. Ripley, dan Run Lola Run adalah beberapa film yang belum sempat saya simak.

Honorable Mentions: “Notting Hill”, “Sleepy Hollow”, “The End of the Affair” dan “Boys Don’t Cry”

[TOP 11]

Inilah sebelas film yang berhasil menjadi kualitas terbaik dari sinema di tahun 1999. Mengapa sebelas? Entah mengapa saya merasa sayang untuk membuang satu di antara kesebelas film ini. Semuanya saya suka.

#11

“THE MATRIX”

Directed by Andy and Larry Wachowski

Lupakan dua sequel film ini yang buruk. Andai saja film ini tidak memiliki sequel, nampaknya masih akan diingat sebagai karya yang brilliant. Sayangnya seiring jaman, film ini sudah menurun tingkat apresiasinya. Tetapi pada tahun ini, The Matrix menjadi film paling sukses tidak hanya dari sisi finansial namun juga di mata kritikus. The Matrix dianggap sebagai science-fiction terbaik sejak Terminator 2 waktu itu. Masih tidak terlupakan adegan-adegan slow-motion tembakan peluru di film ini yang ikonik itu.

#10

“AMERICAN BEAUTY”

Directed by Sam Mendes

Salah satu debut penyutradaraan tersukses nampaknya boleh disematkan pada Sam Mendes. Satir ini menjadi karya fenomenal di tahunnya. Sayangnya film ini tidak bertahan seiring waktu berjalan, karena sekarang magis dari film ini dianggap banyak orang “not aged well”. Namun, saya tidak akan pernah melupakan pengalaman menonton film ini pertama kalinya. Banyak sekali rahasia yang ingin dibongkar dari film ini, mulai dari seorang ayah yang obsesif dengan teman anaknya sampai pada pensiunan militer yang menyimpan rahasia yang membuat ending ini mengejutkan. Bang!

#9

“THE SIXTH SENSE”

Directed by M. Night Syamalam

Seorang Awya berumur 12 tahun akan menyebut film ini sebagai film terbaik sepanjang masa. Ya, itu sepuluh tahun lalu, ketika masih kecil, meminjam film ini di rental dekat rumah, dan bapak-bapak penjaga rental sampai menyarankan agar saya tidak meminjam film ini karena menakutkan sekali. Namun saya tetap bersikeras. Belum terhapus memori itu dari ingatan saya dengan pengalaman menyimak film ini. Sebelum M. Night Syamalam dicacimaki dengan film-filmnya sekarang, sepuluh tahun lalu film ini mengantarkannya sebagai kaliber sutradara nomor wahid. Entah mengapa film-filmnya sekarang jauh sekali kualitasnya dari film ini. Haley Joel Osment berhasil menghantui penonton dengan wajahnya yang dingin, kosong, dan misterius, dan pantas menyandang nominasi Oscar. Saya masih ingat ketika menontonnya sekitar tahun 2001 atau dua tahun setelah filmnya dirilis, setelah melihat endingnya, kita akan dibuat me-rewind film ini, dan ber-oh-ria, oh-begitu-ya, oh-begitu-toh. Semua jawaban terjawab mengapa si Bruce Willis tidak dihiraukan istrinya.

#8

“FIGHT CLUB”

Directed by David Fincher

Sebagai cult movie nomor satu saat ini (setidaknya dari beberapa list yang saya lihat), film seperti “Fight Club” sebenarnya ketika dirilis mengkutub, bahkan Roger Ebert membenci film ini ketika dirilis. Namun, seperti tipikal film cult kebanyakan, tahun-tahun berikutnya akan punya fanboy tersendiri. Saya menganggap ini salah satu film depressing yang saya pernah tonton karena konten kekerasannya yang melimpah. Oh, perlukah saya sebut lagi ending film ini yang sangat menipu?

#7

“ELECTION”

Directed by Alexander Payne

Sebenarnya dua karya dari Alexander Payne (Sideways, About Schmidt) tidak berhasil menarik hati saya. Namun film pertamanya inilah yang membuat saya menempatkan ruang sebagai salah satu karyanya yang saya sukai. Memotret sisi kecil dari sebuah sistem pemilihan ketua OSIS, sebenarnya menggarisbawahi sisi lebar dari skala yang lebih besar atas pemilihan atau voting tersebut. Lengkap dengan kecurangan yang ada dipotret dengan sisi komedi. Reese Witherspoon tampil dengan sangat kocak yang sempat masuk bursa Best Actress di ajang-ajang penghargaan. Karakter Tracy Flick yang diperankannya kini tercatat sebagai salah satu dari 100 karakter paling memorable sepanjang masa menurut Empire Magazine.

#6

“THE INSIDER”

Directed by Michael Mann

Inilah film terbaiknya Michael Mann dengan penampilan terbaik Russel Crowe sampai saat ini. Lewat film inilah pula banyak orang menganggap bahwa Oscar yang diterima Russel Crowe lewat “Gladiator” merupakan balas dendam atas kekalahannya di film ini. Bahkan, Roger Ebert pun mengatakan demikian. Bagi saya, penampilan Russel Crowe di film ini setingkat lebih baik dibandingkan sang peraih Oscar, yaitu Kevin Spacey di American Beauty. Lewat “The Insider” Michael Mann menjamah wilayah jurnalisme dan konflik psikologi ketika teror mendera sosok manusia yang dihadapkan pada dua kondisi rumit; moral atau uang. Michael Mann merangkum kisah nyata di balik konspirasi tembakau yang terjadi. Kalau Anda menyebut “Thank You for Smoking” dari Jason Reitman adalah film yang bagus, maka bolehkah saya mengatakan film ini sepuluh kali lebih bagus? Ya, sepuluh kali lebih bagus.

#5

“TOY STORY 2″

Directed by John Lasseter

Bagaimana tidak terharu dengan adegan paling mengharu-biru dengan lagu tema paling menyentuh sepanjang sejarah animasi Pixar? Ya, saya adalah salah satu orang yang tidak bisa melupakan adegan tersebut. sulit memang mengahadirkan sequel ketika menghadapi film pertama yang sukses. Namun, Toy Story 2 memiliki emosi setingkat di atas seri pertamanya. Ah, jadi teringat ketika menonton film ini pertama kali, dulu sekali, dan ya, Pixar sebenarnya telah mengisi kehidupan saya sejak bertahun-tahun lalu. Terkadang terasa ada sisi yang menakjubkan ketika sebuah film hadir mengisi hidup Anda. Pixar telah mengisinya sejak saya kecil. Sejak saya masih mengenal indahnya hidup tanpa dunia bernama internet. Lampau. Tapi tidak ada yang lebih luarbiasa ketika sinema mengenalkan Anda tentang indahnya keriangan, bukan?

#4

“THREE KINGS”

Directed by David O. Russel

Saya sempat menyebut bahwa “The Hurt Locker” adalah film perang bersetting di Irak terbaik sejak “Three Kings”. Memang benar adanya, “Three Kings” akan dengan gampangnya masuk list sebagai film perang terbaik yang pernah dibuat. Dibalut dalam konsep dramedi, sangat sulit untuk tidak memamerkan tawa dan rasa haru ketika menyimak film ini. David O. Russel merangkul tiga pemain yang kocak sekaligus kompak, George Clooney, Mark Walhberg, dan Ice Cube sampai pada penampilan aktor yang sekarang lebih dikenal sebagai sutradara, Spike Jonze!. Kalau ada yang bertanya film perang apa yang paling fun? Ya, saya akan menjawab “Three Kings” di urutan pertama. Ada tawa dan haru yang begitu enak dikemas.

#3

“BEING JOHN MALKOVICH”

Directed by Spike Jonze

Dua nama besar dikenalkan film ini; Charlie Kauffman dan Spike Jonze. Kolaborasi pertama mereka jelas menempatkan kedua orang ini sebagai masa depan bagi perfilman Hollywood. Sekarang, siapa yang tidak percaya dengan kehebatan Charlie Kauffman? Atau siapa yang tidak percaya dengan kejeniusan Spike Jonze? Lewat “Being John Malkovich” Charlie Kauffman mengenalkan skenarionya yang unik dan nyeleneh dengan eksekusi yang pas dari Spike Jonze. Kapan lagi bisa melihat film dalam perspektif aktor John Malkovich kalau bukan dari Charlie Kauffman?

#2

“EYES WIDE SHUT”

Directed by Stanley Kubrick

Film yang membuat orang bertanya-tanya dengan maksud mengapa Stanley Kubrick membuat film ini. Sayangnya kita tidak tahu jawaban pastinya dari sang sutradara mengingat film ini adalah film terakhirnya dan dirilis empat bulan setelah beliau meninggal. Seperti kebanyakan karya masterpiece seorang Kubrick (salah satu sutradara terbaik sepanjang masa dan sekaligus sutradara favorit saya sepanjang masa), di tahun rilisnya pasti kurang diapresiasi, begitupun film ini. Namun, di tahun berikutnya, orang akan mulai mereka ulang, karena sekali lagi ini filmnya Stanley Kubrick. Seperti contoh yang terjadi pada “2001: A Space Odyssey” yang dicacimaki ketika rilis, namun sekarang dianggap sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa. Atau “The Shining” yang malahan sempat masuk Razzie Awards, namun sekarang dianggap sebagai horor terbaik sepanjang masa. Nasib sama nampaknya akan diterima oleh “Eyes Wide Shut” yang ternyata saat ini dianggap sebagai salah satu film terbaik dekade 90-an. Sebuah teror psikologi yang membuat bulu kuduk berdesir, apalagi ketika ditampilkan aspek-aspek surealis yang menghantui karakter utama. Sebuah film yang menampilkan duet suami istri saat itu, Tom Cruise dan Nicole Kidman, dengan penampilan mereka yang sulit dilupakan.

#1

“MAGNOLIA”

Directed by Paul Thomas Anderson

Tidak ada yang mengalahkan betapa terpukaunya saya menyimak film ini. Boleh jadi inilah pertama kalinya saya menemukan sinematic experience yang benar-benar tidak terlupakan. Inilah pertama kalinya saya menonton karya Paul Thomas Anderson yang langsung menempatkannya sebagai sutradara favorit saya (menyimak “Boogie Nights” belakangan). Dalam “Magnolia”, absurditas dan realitas dicampuradukkan, dikemas dalam durasi tiga jam, menceritakan beragam plot berbeda. Intinya adalah kritik terhadap tingkah laku manusia dalam aspeknya yang beragam. Penyesalan, arogansi, ketakutan, ketamakan, dan tema sosial lainnya dikemas jadi satu paket. Kita bisa melihat penampilan Tom Cruise paling berani (penampilan terbaiknya sepanjang masa?) yang nampaknya sulit untuk dilihat di film-filmnya sekarang yang mengantarkannya meraih nominasi Oscar. Barisan cast-nya memang juara, semuanya tampil sempurna. Termasuk Jullianne Moore sebagai seorang istri yang menyesal setelah suaminya sekarat, atau Philip Seymour Hoffman sebagai perawat. Ada beberapa adegan ikonik yang diciptakan Paul Thomas Anderson; adegan “menyanyi” semua karakter di film ini dan tentunya jangan lewatkan yang paling khas, “hujan kodok” menjelang akhir film. Ya, saya menyebutnya masterpiece!

List Trivia:

  • Entah kebetulan atau memang menjadi tahun mereka, setidaknya ada dua filmnya Tom Cruise di daftar ini dan dua film yang mencantumkan nama Spike Jonze sebagai aktor dan sutradara.
  • Film nomor #11, #9, dan #5 adalah film yang pertama kali saya tonton setidaknya tepat sepuluh tahun lalu.

10 Best Performances of 1999:

  1. Russel Crowe (The Insider)
  2. Haley Joel Osment (The Sixth Sense)
  3. Hilary Swank (Boys Don’t Cry)
  4. Annette Bening (American Beauty)
  5. Reese Witherspoon (Election)
  6. Tom Cruise (Magnolia)
  7. Brad Pitt (Fight Club)
  8. Kevin Spacey (American Beauty)
  9. Cameron Diaz (Being John Malkovich)
  10. Tora Birch (American Beauty)

Recap:

  1. “Magnolia”
  2. “Eyes Wide Shut”
  3. “Being John Malkovich”
  4. “Three Kings”
  5. “Toy Story 2”
  6. “The Insider”
  7. “Election”
  8. “Fight Club”
  9. “The Sixth Sense”
  10. “American Beauty”
  11. “The Matrix”

Then, what’s your favorites of 1999?

Advertisements

13 thoughts on “Flashback: 11 Best Films of 1999

  1. Kalo aku yang bakal masuk 10 besar diantaranya : The American Beauty, Being John Malkovich, The Talented Mr. Ripley, The Matrix, The Sixt Sense dan All About My Mother.
    Eh…Dogma bisa juga dipertimbangkan.

    Fight Club masih harus nonton lagi *bebal*

  2. Wow,uda bgdang2,ms smpt2nya. Aq cm uda 1 film.Itu lo film yg km tonton waktu umur 12 taon. Kl g salah,anak kecilnya kan yg bs liat arwah gt kan?

  3. setuju kalau adegan When She Loved Me di Toy Story 2 gila banget sedihnya….. Wah ada The Sixth Sense juga, salah satu film horror paling seru dan ending yang paling shocking.
    ada2 aja ya Being John Malkovich kok kantor di lantai 7setengah hahaha gila2….

  4. hahahha
    Jadi pengen bongkar bongkar koleksi film film jadul kayak Matrix Trilogy, Green Mile , 6th Sense dan yang pasti AMERICAN BEAUTY. MEmang benar kalau film tahun 1999 ini “Outstanding” semua.

  5. The Matrix of course. The Sixth Sense ok. Yang lainnya gua ga terlalu suka atau ada yang belum gua tonton. Notting Hill masih gua masukin. Sleepy Hollow bisa gua masukin juga. Apalagi ya list film jaman itu.

  6. wow! Ada american beauty! Itu film favorit saya sepanjang masa! Hahaha yup endingnya keren dan mengejutkan. Gue belum smpt ntn Magnolia, dan gue kok gak suka The Matrix ya..

    Awya mesti ntn All bout My Mother tuuuh, hehe gw si lebih suka itu drpd TALK to Her..

  7. wah..saya 1999 dulu belum terlalu “melek film”

    film tahun 1999 yg gw tonton di tahun yg sama cuman The Matrix, The Sixth Sense gw baru tonton taun 2000…dan dua2nya jadi film2 favorit gw sepanjang masa, and The Sixth Sense is still my no.1. ^____^

  8. Waah..baru aja kepikiran untuk buat post tentang film-film di tahun 1999. Eh ternyata udah dibikin dulu.hehehe.Magnolia emang the best tuh. best straight-3-hours of watching. “Eyes Wide Shut” udah aku masukin tuh ke daftar film klasik di blogku. Visit ya.. :))

  9. kalo bagi saya the sixth sense merupakan film paling aneh yang cuma bagus ending nya doang (bagi saya yaa) tapi ga tau ya haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s