Top Ten Films of 2009 (Final Version)

Akhirnya versi final dari list film terbaik tahun 2009 selesai sudah. Berbeda dengan versi awal, untuk yang versi akhir ini terjadi banyak sekali perubahan. Memang masih ada beberapa film yang belum sempat ditonton. Namun nampaknya jumlah judul film yang sudah lebih dari 100 biji di sepanjang 2009 ini sudah cukup untuk menarik kesimpulan siapa sepuluh terbaik yang paling saya sukai dan terbaik di tahunnya. Tahun 2009 diikuti dengan meriahnya film-film animasi, boleh dikatakan tahun animasi terbaik dalam dekade terakhir. Kemudian, disebut sebagai tahunnya perempuan karena banyaknya sutradara perempuan yang meramaikan kancah perfilman, sebut saja Nora Ephron (Julie & Julia), Nancy Meyers (It’s Complicated), Jane Campiom (Bright Star), debut dari Drew Barrymore (Whip It!), Lone Scherfig (An Education), sampai yang sudah terkenal di kancah film seni, Lucrecia Martel (The Headless Woman), dan tentunya yang paling fenomenal, Katryn Bigelow dari salah satu film terbaik tahun ini, The Hurt Locker. Uniknya, empat wanita tersebut filmnya masuk daftar saya. Kemudian, tidak lengkap tanpa menyebut film paling fenomenal di tahun ini, apalagi kalau bukan Avatar yang mengeruk banyak keuntungan. Sayangnya Avatar bukanlah film yang sesuai selera saya, bahkan ketika di awal tahun saya gencar menyebutnya sebagai film hiburan yang akan mengguncang dunia, memang benar mengguncang dunia, namun tidak istimewa di mata saya selain teknologinya.

Baiklah, ada pula beberapa film yang ternyata saya harapkan banyak ternyata mengecewakan luarbiasa. Sebut saja “The Lovely Bones”, yang hanya saya beri 1.5-Stars dari 4-Stars. Film yang terlalu kreatif, over-directed, seperti produk kapal pecah yang berlabuh di dermaga yang salah karena bingung mengambil haluan, entah maunya thriller, puitis, murni drama, atau humoris (ingat adegan kekonyolan si nenek yang dihiasi musik kontras tersebut?). Beberapa film yang juga belum berhasil meraih hati saya adalah “Invictus” (oh my, ini Clint Eastwood kayaknya sambil tidur bikin film, sangat tidak istimewa), “Precious” tidak saya sukai, “The Road” meskipun berhasil menghadirkan sisi menyentuh, namun tetap film ini jauh dari harapan, tone di bukunya kurang berhasil diterjemahkan, dan saya masih percaya “The Road” dari Cormac McCarthy merupakan salah satu buku yang unfilmable. Terakhir, Anda tidak akan menemukan “Up in the Air” di daftar saya. Filmnya sendiri kalau diibaratkan, saya sukai juga tidak, saya tidak sukai juga tidak begitu. Namun saya tetap mengerti mengapa film ini bisa begitu banyak dipuji. Hanya saja saya mengalami masalah pada beberapa hal di film ini.  Entah mengapa saya tidak pernah menyukai film-filmnya Jason Reitman, pun “Juno” adalah salah satu film yang saya benci di dekade ini.

Pada akhirnya selera itu ibarat opini, subjektif dan egois. Dalam membuat personal list film seperti ini, subjektifitas adalah harga paling mahal sekaligus paling murah dari si penulis. Personal list is personal list. Nilainya ada di kata personal itu. Ada yang senang ketika seleranya sama, ada yang geram ketika film yang dibenci nyatanya masuk daftar. Namun, hey, that’s the beauty of personal list!

Baiklah, mari kita tutup dekade ’00 dengan menyimak sepuluh film terbaik di tahun 2009.

[THE ALSO-RANS]

#20 “Broken Embraces”,  #19 “Mother”, #18 “City of Life and Death (Nangking! Nangking!)”, #17 “Mary and Max”, #16 “Up”


[THE ALMOST-THERES]

(Ada lima film yang nyaris masuk ke posisi sepuluh besar. Lima film ini sebenarnya saling tukar spot dengan posisi #10, namun keputusan akhirnya mereka harus disingkirkan dari sepuluh besar)

#15 “District 9” Jika ditanya film sci-fi tahun ini, jawaban saya bukanlah “Avatar” melainkan film ini, “District 9” yang dikomandani oleh debut sutradara asal Afrika Selatan, Neil Blomkamp, yang menghadirkan ide cemerlang dan otentik tentang interaksi alien dengan manusia. Di lain hal ada unsur sosialis yang ditawarkan film ini.

#14 “Bronson” Pengalaman sinematik tahun ini dihadirkan oleh film ini. Ada sisi absurditas seperti film-filmnya David Lynch di sini. Ada juga sisi dimana mengingatkan dengan film-filmnya Stanley Kubrick. Dari seorang sutradara Denmark, Nicholas Winding Refn, tampil dengan ciri khas dengan tingkat idealismenya yang mumpuni.

#13 “Adventureland” Dipandang sebelah mata oleh publik (termasuk saya sendiri awalnya) nyatanya “Adventureland” dari Gregg Mottola menghadirkan kejutan yang mengesankan. Film ini menghadirkan sisi remaja yang lebih manis dan menarik dibandingkan film lainnya.

#12 “Public Enemies” Hey, boleh saja banyak orang mengatakan proyek Michael Mann ini mengecewakan dan bahkan dianggap gagal, namun, bagi saya, ini merupakan salah satu yang terbaik tahun ini. Atmosfir noir dan penampilan memukau dari Marion Cottilard adalah sisi yang sulit dilupakan.

#11 “Two Lovers” Diadaptasi dari film “Le Notti Bianche”, boleh dibilang ini adalah karya yang kalau memang Joaquin Phoenix sebut sebagai film terakhirnya, cukup monumental untuk mengakhiri sebuah karir. Ada sisi sinema Eropa yang kental dari film ini sehingga bagi yang kurang terbiasa dengan alur lambat film Eropa akan cukup kesulitan menikmati film ini. Hey, Joaquin Phoenix, semoga rencana pensiun dari akting itu hanya omong kosong belaka.

[THE TOP TEN]

(Dan… inilah sepuluh film yang masuk posisi paling elit di setiap list saya, yaitu Top Ten of the Year. Urutan bisa berubah setiap waktu. Setahun lagi mungkin bisa berubah bisa juga tidak. Namun saat ini, inilah urutan film yang paling saya sukai.)

#10

“INGLOURIOUS BASTERDS”

Directed by Quentin Tarantino

Keberanian dan arogansi Quentin Tarantino dalam mereka ulang sejarah, membuatnya seperti parodi, humoris, jelas mengedepankan style di atas substance. Pun di dalamnya menghadirkan barisan cast yang mumpuni dengan limpahan dialog yang menyadarkan kita betapa cerdasnya sutradara yang satu ini.

#9

“AN EDUCATION”

Directed by Lone Scherfig

Sutradara wanita asal Denmark, Lone Scherfig, yang juga salah satu anggota Dogme95, aliran film yang diciptakan oleh Lars von Trier, ketika mencoba debut penyutradaraannya di luar aliran itu, hadir dengan sebuah paket yang begitu cantik dan sedap dipandang. An Education memang memiliki banyak cacat; cerita klise, ending yang terlalu cepat dan tanpa klimaks yang membekas. Namun, film ini punya atmosfir yang sangat lekat. Melihat akting Carey Mulligan yang otentik memerankan karakter Jenny serta tentu saja bagaimana barisan cast film ini begitu kuat bermain dengan ikatan yang dibagun satu sama lain. Tak ada ensemble terbaik selain film ini di tahun 2009 bagi saya. Menariknya, penampilan ensemble terbaik ini hadir dari seorang debut penyutradaraan. Tepuk tangan.

#8

“WHERE THE WILD THINGS ARE”

Directed by Spike Jonze

Spike Jonze harus berjuang mati-matian meyakinkan pihak studio agar hasil akhir film ini seperti yang kita simak. Mengangkat cerita anak-anak yang sudah terkenal memang sangat riskan ketika ada nada suram yang ditampilkan. Memang, filmnya terlalu dark untuk konsumsi anak-anak, namun di sisi lain, Spike Jonze berhasil menciptakan angan-angannya selama ini, cerita anak-anak yang teramat dalam. Tidak perlu berkomentar dengan plot film ini, karena apa yang ingin disampaikan adalah mood dari keliaran seorang anak kecil dengan berbagai imajinasinya serta kesepiannya karena tidak memiliki teman bermain. Romansa si anak bersama para monster, imajinasi petualang, serta kesendirian dan keriangan itu dipertemukan dalam dunia antah berantah, sebuah sisi ketika kedalaman dan seni hadir dalam sinema. Setiap kali mengingat ending film ini, rasanya ingin segera berpindah ke pojok ruangan, bersembunyi, dan menangis tersedu karenanya. Teringat betapa bahagianya masa-masa imajinatif dan keriangan, serta keharuan di masa kecil itu. Ah, Spike Jonze, terimakasih karena telah mengingatkan betapa indahnya dunia kanak-kanak yang telah saya lalui itu.

#7

“FANTASTIC MR. FOX”

Directed by Wes Anderson

Hidangan renyah, manis, dan beraroma segar ini teramat gurih ketika dikunyah. Tahun terbaik bagi barisan animasi di dekade ini. Memang ada “Mary & Max”, “Up”, “Coraline” dan animasi lainnya yang juga tidak kalah hebatnya meramaikan tahun ini, namun hati saya memilih “Fantastix Mr. Fox” sebagai yang terbaik. Jadi teringat mengapa saya selalu menyukai karya-karyanya Wes Anderson. Ya, karena beliau selalu menghadirkan sisi keluarga di filmnya. Lengkap dengan kehangatan dan konflik unik yang ada.

#6

“SUGAR”

Directed by Anna Boden & Ryan Fleck

Ini yang disebut film dengan hati yang besar. Ada impian di setiap hati yang besar. Ada ketidakberhasilan di setiap hati yang besar. Ada semangat dan tentunya kegagalan di hati yang besar. Bermula sebagai sebuah sinema olahraga, “Sugar” adalah potret indah bermakna kenyataan, tidak ada mimpi yang ingin dijual seperti kebanyakan film popcorn. Ceritanya beralih menjadi kisah pengelanaan remaja ke negeri tetangga, mengejar mimpi dari langkah berbeda. Selesai menyimak film ini ada banyak hal yang bisa dipelajari. Tenang, keberhasilan tidak dipandang dari satu sudut saja. Bisa dipandang dari berbagai sisi sebenarnya.

#5

“THE HEADLESS WOMAN”

Directed by Lucrecia Martel

Inilah film yang membuat penontonnya tiba-tiba merasa terjebak dan seolah-olah mengalami hilang ingatan sesaat, lalu rasanya persepsi telah diobrak-abrik sehingga berpikir ulang tentang pesan film ini. Lucrecia Martel memang ingin bermain tentang persepsi, dan berhasil. Berkisah tentang seorang wanita dan akibat dari kecelakaan yang dialaminya, sang sutradara menempatkan dua sisi yang berseberangan sepanjang film, realita dan persepsi. Sebuah teror psikologis yang berhasil membuat penonton seolah-olah hilang ingatan. Ya, hilang ingatan.

#4

“BRIGHT STAR”

Directed by Jane Campion

Sangat menyedihakan melihat film ini tidak memiliki gaung yang begitu besar bahkan meskipun dipuja-puji kritikus tetap saja tidak dijamah publik. Seorang Jane Campion yang pernah meraih Palme d’Or lewat “The Piano” hadir kembali dengan karya yang memadukan puisi dan sinematografi ke dalam tajuk bernama sinema. Menyimak fotografi yang teduh, score-nya yang terdengar elegan, dan tentunya atmosfir puitis dari percintaan penyair miskin John Keats dengan Fanny Brawne yang berada, adalah bukti konkrit sebagai romansa terbaik tahun ini. Tentunya, menyimak akting menawan Abbie Cornish, seperti melihat bagaimana sebuah puisi itu dibuat—dengan keteduhan.

#3

“ANTICHRIST”

Directed by Lars Von Trier

Dicacimaki di Cannes, dituduh sebagai film misogynist yang kental, dan dilabeli film yang ingin mencari kontroversi, sebenarnya sudah menjadi ciri khas yang lekat dengan sutradara ini. Karya-karya Lars von Trier selalu saja berhasil muncul sebagai film yang masuk list saya (bahkan selalu ada di 3 besar, seperti Dogville dan Dancer in the Dark. Ya, dia salah satu sutradara favorit saya sekarang). “Antichrist” seperti biasa, seperti karya beliau sebelumnya, selalu memunculkan karakter wanita sebagai tokoh sentral. Berbeda dengan Breaking the Waves, Dancer in the Dark, dan Dogville yang membuat kita mengasihani karakter utamanya, Antichrist membuat kita menahan benci pada si wanita. Di sisi lain, “Antichrist” dibuat pada tataran keliaran yang begitu intens, sehingga terasa seperti menjamah sendi-sendi kekacauan paling riuh sekalipun. Tidak ada film yang paling menakutkan dalam artian sebenarnya—dengan adu akting pada tingkat paling tinggi—selain apa yang dihadirkan oleh film ini. Kalau seni mampu seliar ini, jika konsep sinema bersedia seberani ini, terserah untuk mencaci maki dan sah sah saja untuk mencintai. Pada akhirnya film seperti ini adalah film yang mengkutub. Dibenci dan dicintai. Saya berada si sisi terakhir.

#2

“THE HURT LOCKER”

Directed by Katryn Bigelow

Bagaimana saya harus memulai film yang sangat memikat ini; brilliant, brilliant, brilliant, dan brilliant. Ketika sinema independen berhasil memberikan pengalaman menggugah, mendalam, dan begitu memukau ini, saya selalu percaya bahwa Hollywood selalu tampil dengan antitesis di sisi yang berdampingan. Bahwa independensi adalah akar dari kualitas, dan komersialisme adalah konsep dari keberhasilan. Seperti itukah? Saya hanya percaya kualitas adalah kualitas. Titik.

#1

“A SERIOUS MAN”

Directed by Joen & Ethan Coen

Sudah lelah berbicara absurditas? Cukup ketika No Country for Old Men menawarkan hidangan tersebut, untuk kedua kalinya, ibarat mencicipi, sulit dirasakan memang, namun secara sadar kita sebenarnya terlanjur mengerti bahwa hidup sebenarnya absurd. Joel & Ethan Coen membawa kita dalam konsep keyakinan, ketuhanan, ketidakadilan, dan ketidakberuntungan dengan pendalam satir dan komedi yang terkesan komikal namun menyimpan kesuraman yang teramat gelap jika diparafrasekan ke dalam deskripsi intuisif, dalam hal ini realita. Dalam rongga fatalistik seperti ini, nyatanya Coen bersaudara membawa sebuah paradoks; beraroma Yahudi di satu sisi, namun teramat universal di sisi yang lain. Hal inilah yang menjadikannya black comedy yang meskipun dilimpahi teologi kaum Yahudi, namun nyatanya memiliki aspek interpretasi yang sangat lebar. Joel dan Ethan Coen menyebutnya sebagai filmnya yang paling personal. Bisa jadi, karena seperti apa yang dialami karakter utama film ini, Larry Gopnik, yang tak lelahnya mencari jawaban atas apa yang terjadi pada dirinya, kita sebagai penonton pun dibuat berkeliling mencari jawaban apa yang disampaikan film ini. Tuhan memberikan inspirasi. Tuhan juga memberikan kebebasan kita berinterpretasi. Dalam film ini, Joel dan Ethan Coen adalah Tuhan-nya. Namun, cukup bijakkah Coen Bersaudara sebagai Tuhan di film ini? Jawabannya ada di persepsi masing-masing.

Itu dia rangkuman film-film terbaik tahun 2009 versi saya.

Jangan lupa untuk menyimak daftar Best Films of the Decade serta ajang penghargaan  kreasi saya yang bertajuk: 1st Annual AwyaNgobrol™ Awards (hasil dari formula: sedikit kreatifitas + kurang kerjaan). Nominasinya akan diumumkan minggu depan.

Recap:

1. A Serious Man
2. The Hurt Locker
3. Antichrist
4. Bright Star
5. The Headless Woman
6. Sugar
7. Fantastic Mr. Fox
8. Where the Wild Things Are
9. An Education
10. Inglourious Basterds
The Almost-Theres:
11. Two Lovers
12. Public Enemies
13. Adventureland
14. Bronson
15. District 9
The Also-Rans:
16. Up
17. Mary & Max
18. City of Life and Death
19. Mother
20. Broken Embraces

Related Posts:

Advertisements

13 thoughts on “Top Ten Films of 2009 (Final Version)

  1. wah beda jg ya sama yang sebelumnya (banyak yg hilang dari yg pertama, sayang 500 days of summer gak masuk list -__- hahaha) dan akhirnya the hurt locker tergeser juga dari posisi pertama.. nice list, banyak film yang belom dan sangat ingin saya tonton. the best performances nya kok gak ada mas? other than that, gak sabar dengan list2 mas Awya lainnya, keep it coming!

  2. Aku mau mengotori blogmu (pembalasan) :

    List-nya Awya selalu KEREEEEEEEEEEEEENNN. Senang dengan masuknya Where the Wild Things Are, Fantastic Mr. Fox, A Serious Man, daaan…SUGAR! Inglorious Basterds? Saya selalu menganggap ini film dengan skrip yang konyol, namun disajikan dengan menarik. Itulah hebatnya Tarantino.
    Memasukkan Antichrist adalah sebuah keberanian menurut saya. Mau yang agak-agak mirip? Coba deh tonton Love Exposure.

    Saya suka dengan quote “Pada akhirnya selera itu ibarat opini, subjektif dan egois” dan “beauty of personal list!”. Meski beda selera, tetap menunggu list-list selanjutnya.

  3. @Fariz: iya memang banyak sekali perubahannya. Terutama diakibatkan oleh second viewing. Inglourious basterd contohnya hampir keluar dari sepuluh besar, karena ketika ditonton kedua kali terasa hilang magisnya. Namun Where the Wild Things are yg awalnya saya kurang suka eh malah setelah ditonton lg baru menemukan sisi menariknya. Bahkan udah nonton sampai 3 kali. lol. berat juga (500) Days harus keluar. Kalo 30 besar pasti masuk kok.
    Untuk Best PErformances saya buatkan berbeda nanti di postingan lain.

    @Gilasinema: Iya Sugar itu sangat sangat bagus sekali *lebay* sampai sekarang masih kepikiran sama film itu. sederhana tapi punya hati yang besar. Mungkin karena saya lebih suka film2 yg sederhana kali ya.

    Love Exposure pengen bgt nonton gr2 banyak masuk list. Tapi gak ktemu2.

  4. “Mungkin karena saya lebih suka film2 yg sederhana kali ya”
    Kok The Blind Side dan Invictus gak masuk?! Pembohong! (dengan gaya Dude) LOL

    Love Exposure bajakannya sudah resmi dirilis dan bisa didapat di lapak bajakan dekat rumah Anda

  5. @Gilasinema: Waduh kalo The Blind Side sih proyek politik yang mengedepankan kulit putih itu baik hati. Saya mencium bau tak sedap di film itu. lol. Kalo Invictus, doh…. Clint Easwood selalu, yah.. begitulah…

    Tapi saya nyari belum ketemu tuh Love Exposure. Emang susah nyari film asia di sini.

  6. aw..aw..aw…mengagetkan membaca list awya..the hurt locker mu kegeser ama a serious man apa cerita ini?????brapa kali kamu muter a serious man akhirnya>?????ooooo…antichrist????tak disangka bisa masuk list mu..qiqiiqiqiiqiqiqi…sebenbarnya sih tidak ada yang salah dgn film ini saya bahkan menikmati sekali prolognya dengan adegan vulgar slow motion amat estetik…hanya saja bgi saya nothing spesial….
    adventureland?????meski saya cuma seneng akting kristen steward di film ini,agak kaget saja masuk list favorit, karena biasa saja…
    overall list mu kali ini sangat mengejutkan….

    ps :::: btw sudahkah anda menonton a single man???/sudahkah ada dvd nya???saya amat penasaran ama filmnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s