Top Ten Films of 2008 (Revised Version)

Semakin mendekati klimaks dari rangkaian penghujung dekade ini, saya berikan versi revisi dari Top Ten Films of 2008. Di daftar versi original tahun lalu, saya menempatkan WALL-E, The Dark Knight, dan Slumdog Millionaire secara berurutan di posisi puncak. Untuk edisi revisi ini, dari sepuluh film di versi original hanya ada empat film yang bertahan di posisi sepuluh besar. Sementara tempat lainnya diisi oleh film-film lain, yang dalam kacamata saya lebih baik dan lebih saya sukai. Entah tahun ini merupakan tahun yang baik bagi perfilman negeri kita atau tidak, karena tahun ini pula muncul Laskar Pelangi yang mengguncang negeri kita, yang sempat saya masukkan sebagai salah satu film terbaik Indonesia tahun 2008, namun sayangnya tidak membekas lekat sebagai karya yang sempurna. Kalau tahun lalu ada Kala yang mengisi daftar sepuluh besar, tahun ini ada dua film dari negeri sendiri yang nyatanya sangat saya sukai dan apresiasi. Ini dia film-film terbaik di tahun 2008.

[THE ALSO-RANS]

Ada karya Clint Eastwood “Changeling” yang menampilkan si cantik Angelina Jolie dengan aktingnya yang prima. Kemudian sebuah guilty pleasure dari Baz Lurhman yaitu “Australia” yang sangat saya nikmati sepanjang film meskipun beberapa adegannya terkesan berlebihan. Drama fairytale yang meraih piala tertinggi Oscar yaitu “Slumdog Millionaire” (posisi 3 di list versi asli, jauh sekali terjungkalnya) yang mengesankan ketika pertama kali ditonton, namun tidak membekas begitu lama, tetapi tetap masih memiliki sisi yang menarik. Debut penyutradarannya Charlie Kauffman “Synecdoche, New York” juga merupakan film yang sempat masuk sepuluh besar, namun gravitasnya hilang begitu saja. Terakhir, kita bisa melihat kemampuan akting Anne Hathaway lewat “Rachel Getting Married”.

[THE ALMOST-THERES]

Animasi dokumenter “Waltz with Bashir” merupakan sebuah pengalaman sinematik mengesankan ketika melihat sebuah dokumenter ditampilkan lewat animasi. Kemudian kita bisa melihat kondisi gangster dan penjualan narkotika di Italia sana lewat “Gommorah”. Biopik perjuangan Che Guevara dari Steven Soderbergh yang dimainkan dengan menawan oleh Benicio Del Toro lewat “Che”. Terakhir adalah romantisme kelam antara Leonardo DiCaprio dengan Kate Winslet lewat drama yang lumayan menguras energi ini, yaitu, “Revolutionary Road”.

[THE TOP TEN]

Ini dia sepuluh besarnya…

#10

“THE WRESTLER”

Directed by Darren Arronofsky

Sebuah bentuk kembalinya Mickey Rourke di kancah perfilman melalui sentuhan seorang Darren Arronofsky yang piawai menghadirkan penampilan memukau bagi tiap aktor yang ada di tangannya. Menyimak penampilan meyakinkan Mickey Rourke sebagai seorang pegulat (yang tidak jauh dari kehidupan pribadinya) memang terasa melihat dia memerankan dirinya sendiri. Namun, Rourke hadir dengan karakter yang kuat, lelaki kesepian yang bingung dengan hidupnya ketika pensiun, pergolakan dengan si anak, adalah sebuah paket menyentuh yang dihadirkan film ini.

#9

“I’VE LOVED YOU SO LONG”

Directed by Phillipe Claudel

Menyimak film ini, rasanya ingin sekali memeluk saudara terkasih yang ada di keluarga kita. Betapa pentingnya makna persaudaraan itu diberikan film ini melalui pergolakan hubungan adik-kakak yang terpisah selama 15 tahun. Dengan penampilan luar biasa dari Kristin Scott Thomas, membuat filmnya sebagai lembaran pertunjukkan akting dalam standar yang tinggi.

#8

“FIKSI”

Directed by Mouly Surya

“Fiksi” adalah produk dalam negeri paling mengejutkan di tahun ini bagi saya. Tidak pernah terpikir jika sineas Indonesia bisa membuat film sebagus ini. Dalam fragmen rumah susun yang digusungnya, terpotret berbagai sisi kehidupan manusia di kota besar yang muncul dalam wilayah yang paling ekstrim. Realistis? Menonton film seperti ini saya tidak pernah ingin menanyakan hal itu. Sampai kapanpun semua akan terasa kerdil jika berbicara realitas sebuah film. Itu adalah kata paling kejam bagi imajinasi. Senang rasanya memiliki sineas seperti Mouly Surya. Dan ajaibnya, beliau seorang wanita.

#7

“HAPPY-GO-LUCKY”

Directed by Mike Leigh

Diwarnai oleh dua penampilan menarik kedua pemainnya, Sally Hawkins dan Eddie Marsan, “Happy-Go-Lucky” tak ubahnya menjadi momentum ketika kepiawaian akting keduanya diadu. Puncaknya adalah adegan beruntun di dalam mobil yang membuncah menjadi sebuah aksi adu akting memikat yang teramat kuat dan secara ironis memunculkan kelucuan yang lebar. Mike Leigh membuat film ini terasa ringan dengan penampilan dua pemain terbaik di tahun ini.

#6

“THE DARK KNIGHT”

Directed by Christopher Nolan

Salah satu pengalaman menarik di tahun 2008 adalah ketika menonton film yang luar biasa ini. Sampai tidak bosan menontonnya berkali-kali di bioskop. Christopher Nolan memberikan pengalaman dan standar baru bagi sebuah film superhero. Karakter Joker yang dimainkan alm. Heath Ledger adalah penampilan villain superhero yang sulit dilupakan. Beliau adalah bintang di film ini.

#5

“IN BRUGES”

Directed by Martin McDonagh

Sebuah debut dari Michael McDonagh ternyata menghadirkan sebuah black comedy yang lucu, pintar, dan di beberapa sisi terlihat memikat dengan fotografi lanksap Bruges yang seolah mengajak penonton, “ayo berkunjung ke Bruges!” Penampilan Collin Farrel pun tak pernah selucu ini. Di akhir film, sekelam apapun endingnya, tetap tersimpan sisi humoris yang memikat.

#4

“4 MONTHS, 3 WEEKS, AND 2 DAYS”

Directed by Cristian Mungiu

Masih membekas sampai sekarang dengan salah satu adegan aborsi paling nyata yang saya lihat di sebuah  film (dan mungkin sulit untuk disimak beberapa orang), film ini hadir sebagai sebuah thriller psikologi yang mencekam dalam batasan sebenarnya. Dibidik dengan gaya handheld, sengaja untuk membentuk atmosfir yang ingin diberikan oleh film ini, semakin menambah suasanya yang mencekam tersebut. Tanpa perlu terjebak pada tematik cerita yang ingin ambisius mengangkat masalah sensitif—aborsi, hasilnya menjadi film yang terlihat “penting”.

#3

“HUNGER”

Directed by Steve McQueen

Mari kita mulai dengan sebuah ironi. Film ini memberikan sebuah kenikmatan sinematik yang tidak mengenakkan. Atmosfirnya terasa kumuh, dekil, dan kotor. Terasa sesak, brutal, dan gusar. Terasa dingin, getir, dan kelam. Namun, inilah dimana ketika tontonan tidak akan kita nikmati di sinema mainstream. Filmnya sendiri hampir nampak seperti film bisu, karena memang minim dialog. Adegan yang berisi dialog adalah tentunya adegan brilliant non-stop 17 menit (static shot) percakapan antara karakter utama dengan pendeta tersebut. Sulit sekali mencari film yang menggunakan bahasa gambar sejenius film ini.

#2


“WALL-E”

Directed by Andrew Stanton

Sampai saat ini tidak ada yang mengalahkan pengalaman paling menyenangkan ketika menonton sebuah film di bioskop seperti yang saya alami ketika menonton film ini. Keluar dari pintu bioskop ada “wow” panjang yang keluar dari mulut saya, kalau mau sedikit hiperbolik, lebih panjang dari antrean sembako. Di otak tak henti-hentinya meredam, menahan, lalu membuncahkan puja-puji untuk film ini. Pixar telah bercanda dengan saya ketika memberikan animasi seperti ini. Jawaban saya? Standing applause dengan tepuk tangan meriah bukanlah perkara yang sulit saya berikan demi karya sejenius ini. Banyak sekali hal yang ingin saya bicarakan. Dan banyak sekali hal yang ingin saya puja-puji. 45 menit awal film ini tanpa cacat. Bagian keduanya (yang banyak orang keluhkan karena tidak sebagus setengah awalnya) bagi saya adalah pelengkap yang sesuai karena mengingat Pixar juga mengarahkan film ini untuk konsumsi anak-anak, bukan orang dewasa. Potongan Hello Dolly itu, suka-cita WALL-E dan EVE di angkasa, ide, pesan, dan sebagainya. Pixar menempatkan standar yang teramat tinggi dari sebuah animasi yang akan sulit untuk dilewati. Percayalah, lima puluh tahun ke depan, film ini akan dianggap sebagai animasi terbaik yang pernah dibuat. Inilah salah satu masterpiece dari animasi di dekade ini, bersanding dengan “Spirited Away”.

#1

“UNDER THE TREE” (DI BAWAH POHON)

Directed by Garin Nugroho

Lama sekali saya menginginkan adanya film sineas negeri kita yang seperti ini. Film yang memotret tradisi dan kehidupan masyarakat Bali dengan begitu pekat dan kental hingga membuat saya seperti menonton fragmen kehidupan saya sendiri. Dalam hal ini tradisi. Baru di tangan seorang Garin Nugroho hadir sisi seni seperti ini, sehingga saya menikmati ketika sebuah tradisi, kehidupan, dan falsafah diproyeksikan ke dalam sebuah media bernama sinema. Munculnya konsep Calon Arang, Kurawa dan Pandawa, dan sisi lainnya, adalah nilai yang langka saya lihat dalam sinema. Seni ada di tataran paling fundamental ketika berusaha menyerapi karya-karya Garin Nugroho, dan ketika nilai itu dihadirkan dalam film ini, maka ijinkan saya memeluknya dengan erat sebagai sebuah pencapaian yang patut dikagumi.

10 Best Performances of 2008:

  1. Michael Fassbender (Hunger)
  2. Sally Hawkins (Happy-Go-Lucky)
  3. Benicio Del Toro (Che)
  4. Kate Winslet (Revolutionary Road)
  5. Kristin Scott Thomas (I’ve Loved You So Long)
  6. Heath Ledger (The Dark Knight)
  7. Mickey Rourke (The Wrestler)
  8. Ayu Laksmi (Under the Tree)
  9. Ladya Cheryl (Fiksi)
  10. Maria Utailla (4 Month, 3 Weeks, 2 Days)

Advertisements

2 thoughts on “Top Ten Films of 2008 (Revised Version)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s