Top Ten Films of 2007

Man, tahun 2007 adalah tahun terbaik sepanjang dekade ini. Begitu banyak film bagus yang sulit untuk menciutkannya menjadi sepuluh saja. Kalau bisa, dua puluh besar sekalipun belum cukup untuk merangkum begitu meriahnya film-film bagus. Bahkan, kalau sedikit hiperbolik, posisi 1-6 termasuk karya masterpiece bagi saya. Baiklah, tidak selamanya tahun terbaik menyisakan sesuatu yang baik juga, ada beberapa film yang mendapat pujian manis, namun terlempar di meja “biasa saja” bagi saya. Oh, satu lagi, dengan tahun yang terbaik di dekade ini, kancah Oscar meskipun sempat diancam dengan WGA strike yang menyebabkan Golden Globe tidak diselenggarakan, akhirnya berdamai dengan keputusan yang disetujui. Oscar akhirnya pun berakhir dengan kemenangan yang pantas, dan bagi saya menjadi film terbaik dalam dekade ini yang menang Oscar. Meskipun sebenarnya jagoan saya tidak sepenuhnya di film tersebut, namun Coen Brothers pantas mendapatkannya. Mari kita simak rangkuman film-film terbaik (yang diantaranya tidak ragu-ragu saya sebut masterpiece) di tahun paling gemilang ini.

[THE ALSO-RANS]

Mari kita mulai perayaan tahun ini dengan road movie-nya Wes Anderson “The Darjeeling Limited” yang menampilkan lanskap Udaipur yang alamak indahnya. Adapula tragedi “Atonement” yang berkisah romantis, sebelum akhirnya kita dibohongi oleh Briony di ending ceritanya. Kemudian, penampilan gemilang dengan hasil mengejutkan, dihadiahi Oscar untuk peran Marion Cottilard di “La Vie En Rose”, sebuah biopik yang membuka mata kita pada kehebatan seorang Marion Cottilard. Lalu ada installment terakhir dari trilogi Bourne, “The Bourne Ultimatum” sebagai pencapaian tertinggi film tersebut. Kemudian sebuah horror mencekam “The Orphanage” yang sukses membuat bulu kuduk berdiri. Saya pun begitu menyukai “Lars and the Real Girl” film yang dianggap sangat tidak riil, namun sebenarnya menghadirkan sisi lain yang membuatnya memiliki keunikan tersendiri. Cukup? Ok, ok, saya tambahkan satu lagi, yaitu “Into the Wild”-nya Sean Penn yang memberikan gambar-gambar indah dengan ceritanya yang sangat inspiratif. Ok, saya berhentikan sampai judul itu saja. Banyak sekali film bagus di tahun ini.

[THE ALMOST-THERES]

Ada tiga film yang nyaris masuk posisi sepuluh terbaik. Diantaranya, terobosan anti-biopik dari Todd Haynes lewat bagaimana penceritaan biopik Bob Dylan dikemas dengan cara berbeda, “I’m Not There”, meskipun lebih cocok diperuntukkan bagi penggemar Bob Dylan, karena banyaknya referensi yang sulit dimengerti jika nihil pengetahun tentang musikus tersebut. Lanjut kita melihat lanskap Inggris dengan tokoh-tokoh Rusia lewat film aksi dari David Cronenberg, “Eastern Promises”, memunculkan penampilan Viggo Mortensen yang sulit dilupakan. Terakhir adalah “Zodiac”nya David Fincher yang meskipun plotnya terlihat pelan, namun memiliki sisi yang patut diapresiasi.

[THE TOP TEN]

Ini dia sepuluh besarnya…

#10

“THIS IS ENGLAND”

Directed by Shane Meadows

Film kecil ini, bercerita tentang subkultur skinhead dengan aspek rasismenya yang kental di Inggris. Dipotret lewat penceritaan coming-of-age, sebenarnya merupakan sebuah studi kultural dan sosiologis tentang dekatnya kemiskinan, rasisme, dan ketidaksetujuan atas kebijakan yang ada. Dibalut dengan nomor-nomor ska yang empuk, membuat filmnya sayang untuk dilewatkan.

#9

“LUST, CAUTION”

Directed by Ang Lee

Dalam karya seorang Ang Lee, selalu ada sisi sensualitas yang dihadirkan dari atmosfir penceritaannya, entah itu tanpa adegan seksual sekalipun. Di film ini, beliau menampilkan sensualitas dalam tataran yang sesungguhnya melalui drama spionase ini. Tang Wei adalah berlian yang membuat film ini terlihat mahal.

#8

“PERSEPOLIS”

Directed by Vincent Paronnaud & Marjane Satrapi

Animasi hitam putih ini merupakan adaptasi dari novel grafis sang sutradara sendiri, Marjane Satrapi, sebuah otobiografi dirinya ketika menjalani masa kecil di tengah konflik perang di Iran, mengakibatkannya hijrah ke Perancis. Berkisah tentang transformasinya menjadi wanita dewasa yang jauh dari norma-norma masyarakat Iran kebanyakan. Sebuah penemuan yang unik bagi saya, meramaikan begitu variatifnya film-film tahun ini.

#7

“ONCE”

Directed by John Carney

Film ini hanya berhasil masuk di posisi ini menunjukkan betapa banyaknya film-film bagus di tahun ini. Musik adalah kata yang paling tepat menggambarkan film ini. Musik adalah jiwanya. Musik adalah narasi yang kuat menjembatani film ini. Lengkap dengan salah satu ending paling menggugah dalam sebuah film. Mimpi sebenarnya adalah kenyataan. Jika mau berusaha. Dan jika mau mengerti. Mimpi yang sebenarnya lebih indah daripada yang tidak tercapai.

#6

“KALA”

Directed by Joko Anwar

Saya tidak malu menjadi orang Indonesia jika ada film seperti ini. Joko Anwar  menciptakan negeri antah berantah yang sebenarnya memiliki aroma kebarat-baratan yang teramat kental dengan mengambil akar filsafat negeri ini. Ada kekacauan yang ditampilkan di sini. Ada sindiran terhadap negeri kita, meskipun sebenarnya negeri yang dimaksud tidak bernama Indonesia, namun kita tahu negeri apa itu sebenarnya. Thriller dengan beberapa adegannya berhasil membuat jantung berhenti. Dengan ending paling brilliant sejauh saya melihat perfilman Indonesia. Terus berkarya Joko Anwar!

#5

“NO COUNTRY FOR OLD MEN”

Directed by Coen Brothers

Thriller yang mencekam ini menjadi film yang saya anggap paling tidak memalukan sebagai pemenang Oscar dalam dekade ini. Ada sisi seni yang pekat sebenarnya yang akhirnya menyentuh pundi-pundi para pemilih Oscar. Lihat saja berapa banyak film dengan sisi seni yang menang Oscar dekade ini. Tak ada yang seperti ini. Konsistensi Coen Brothers dalam proyek independennya menciptakan masterpiece ini, meraih tepuk tangan riuh yang akan tetap diingat, bolehlah dikatakan, dalam jangka waktu yang panjang.

#4

“RATATOUILLE”

Directed by Brad Bird

Ketika sup lezat yang Anda nikmati berasal dari tangan ringkih seekor tikus, akankah Anda menyantapnya dengan senang hati? Di dunia nyata kita akan muntah dan menuntut pemilik restoran. Begitupun dalam animasi ini. Namun, apa yang diberikan oleh studio paling sempurna saat ini—studio Hollywood apalagi yang filmnya tidak pernah buruk seperti Pixar? Tidak ada. Ok, kalau di dunia mungkin studio Gibli yang menandingi—telah berhasil dengan karyanya yang tidak pernah mendapat nilai buruk di mata saya. “Ratatouille” memiliki rangkuman esensi paling lebar sepanjang saya menyimak animasi Pixar (sebelum WALL-E dirilis). Bukan hanya perkara fantasi imajinatif bahwa tikus menjadi koki, atau seberapa lucu seekor tikus jika bisa memasak, ada unsur-unsur yang lebih dalam dari itu. Mulai dari bagaimana ketika seorang manusia menikmati santapan lezat dari musuh menjijikkan yang dibencinya, seolah memperolok sisi lain dari manusia itu sendiri. Atau bagaimana pula ketika seorang kritikus memposisikan dirinya di mata publik, mengikuti kata hati atau tuntutan publik. Karena sebenarnya bagi saya yang hobi curhat tentang film, mereview film adalah sebuah kejujuran, tidak penting apakah pembaca akan suka atau tidak, namun memposisikan bagaimana kita mencintai kegiatan mereview film itu sendiri. Ditambah lagi ada sisi paling inspiratif dari film ini yaitu “anyone can cook” yang sering kita dengar dalam konteks yang berbeda, sebagai pemacu semangat mungkin tujuannya. Kalau tikus bisa masak, kenapa yang lain tidak. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak.

#3

“THE DIVING BELL AND THE BUTTERFLY”

Directed by Julian Schnabel

Kenikmatan menyimak sinema di tahun 2007 ini tidak lengkap tanpa memasukkan karya monumental dari Julian Schnabel ini. Pergerakan kamera yang dibuat tidak biasa, dengan aspek POV terlama dalam sebuah film, sulit untuk memandang sebelah mata untuk film ini. Itu saja cukup? Tidak. Kalau boleh, saya akan bersedia memberi standing applause dengan kedalaman, atmosfir, dan inspirasi yang diberikan film ini. Berasal dari memoar seorang jurnalis, Jean-Dominique Bauby, yang menulis kisah hidupnya ketika mengalami kelumpuhan—stroke—dengan hanya sebelah matanya yang mampu bicara dengan mengedipkannya, menjadi isyarat bagaimana tulisan itu bisa tercapai. Inspiratif adalah kata yang lebih bijak daripada menyentuh. Artikan sendiri.

#2

“THERE WILL BE BLOOD”

Directed by Paul Thomas Anderson

Terlalu naif jika tidak menyimpan pertanyaan besar dengan ending film ini, saya mengacu pada quote paling memorable dekade ini “I drink your milkshake” dari mulut keras seorang Daniel Plainview, lelaki tamak, hati bebal, dan bolehlah dikatakan tidak punya perasaan ini, mengoyak nalar penonton dengan adegan terakhir yang hadir sebelum akhirnya credit title mucul dengan arak-arakan tanda film berhenti. Sebenarnya, disitulah nilai ketika Paul Thomas Anderson bertindak sebagai Tuhan dalam filmnya, selepas yang terakhir kita temukan dalam Magnolia. Ketika bersinggungan dengan religi, sebenarnya ada sebuah falsafah besar (dan mungkin sempit) yang mencoba diremukkan ke sendi-sendi persepsi penonton.  Dalam sisi saya, Paul Thomas Anderson berhasil memberikan itu ke penontonnya. Inilah yang disebut masterpiece dalam artian sebenarnya.

#1

“THE ASSASSINATION OF JESSE JAMES BY THE COWARD ROBERT FORD”

Directed by Andrew Dominik

Dipetieskan oleh kritikus, mengalami kendala rilis oleh pihak studio, dan permasalahan durasi film yang terlalu panjang hingga bergulat di meja editing (hasil akhirnya mendekati 3 jam, aslinya 4,5 jam), menjadi kendala yang bertubi-tubi dihadapi oleh film ini. Pun ketika filmnya dirilis, tetap saja menghasilkan sentuhan publik yang minim. Andrew Dominik jelas mengumumkan bahwa karyanya memang mengikuti style puitis yang menjadi ciri Terence Mallick, dengan fotografi yang meneduhkan mata dan voiceover yang menyambungkan cerita. Dikemas dengan fotografi yang memikat dan dipertemukan dengan sentuhan score misterius, dalam bahasa berbeda, ini adalah hidangan lengkap dengan rasa yang nikmat. Orang lain menyebutnya biasa, saya menyebutnya masterpiece.

10 Best Performances of 2007

  1. Daniel Day-Lewis (There Will Be Blood)
  2. Casey Affleck (The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford)
  3. Marion Cottilard (La Vie En Rose)
  4. Ryan Gosling (Lars and the Real Girl)
  5. Javier Bardem (No Country for Old Men)
  6. Brad Pitt (The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford)
  7. Viggo Mortensen (Eastern Promises)
  8. Tang Wei (Lust, Caution)
  9. Collin Farrel (In Bruges)
  10. Cate Blanchet (I’m Not There)
Advertisements

13 thoughts on “Top Ten Films of 2007

  1. Kala memang salah satu karya terbaik Indonesia sepanjang 10 tahun terakhir. Jauuuuh lebih bagus ketimbang Pintu Terlarang. Tapi, ada beberapa bagian yang menurutku masih kurang detail, seperti pergerakan Fahrani yang masih saja membuatku bertanya-tanya,bagaimana dia bisa begitu lincah berpindah di tempat di adegan menjelang akhir.

  2. Kala memang salah satu karya terbaik Indonesia sepanjang 10 tahun terakhir. Jauuuuh lebih bagus ketimbang Pintu Terlarang. Tapi, ada beberapa bagian yang menurutku masih kurang detail, seperti pergerakan Fahrani yang masih saja membuatku bertanya-tanya,bagaimana dia bisa begitu lincah berpindah tempat di adegan menjelang akhir.

  3. Eh…kok ada dua. Maaf…THE ASSASSINATION OF JESSE JAMES BY THE COWARD ROBERT FORD aku suka juga. Sinematografinya salah satu yang terindah sepanjang 10 tahun terakhir, terus ceritanya punya landasan psikologis yang kuat. Coba durasinya agak dipangkas sedikit ya. The Host gak dilirik?

  4. Nice list

    Walau pada akhirnya Oscar memasukkan “Juno” di deretan lima besar.
    Apa sebenarnya formulasi film nyentrik ini bisa ditangga teratas ya?
    Memangkah karena kasus kehamilan remaja di Amerika udah dianggap level serius dan menjadi permasalahan nasional setempat. Sehingga Oscarpun secara otomatis mendepak The Diving Bell and The Butterfly di jajaran 5 besar.

  5. Oh Tuhan, dr 10 besar, hanya beberapa yang sudah gue tonton, yang pasti nggak pernah kelar ditntn ampe abis adalah : Jesse James ama There Will be Blood, kenapa lamaaaa sekali yaa filmnya hwahahhaa..

    tap gue setuju sih sama No Country for Old Man, terutama si Javier Bardem, anjrit, hardcore abis.. tapi endingnya, bisa bantu dijelaskan gak? hwaa gue gak ngeh sama maksudnya Coen Brothers di ending itu yg ada Tommy Lee Jones duduk trs abis aja gitu. hihihi *lemot mode on*

  6. OM Gila, iya bener sekali menonton “Kala” memang ada plausibilitas beberapa adegan sangat dipaksakan. Iya saya juga gak habis pikir kok bisa (SPOILER) si Fahrani pindah-pindah tempat begitu cepat tanpa pnejelasan yang pasti. Selain itu juga ingat adegan pembunuhan masal di mobil itu? Trus si Fahrani masuk dari mana ya kira2? lol. (END SPOILER) Tapi ide film ini berhasil memaafkan itu semua.

    Untuk Jesse James memang panjang sekali. Tetpi saya cukup betah menyimaknya meskipun udah lebih dari tiga kali. Seumur-umur saya nonton film, gak ada sinematografi sebagus film ini.

    Oh Iya, The Host saya belum nonton Om, Nyari2 gak nemu2. kalo udah nonton pasti masuk list. Saya dengar filmnya bagus ya.

  7. Prabu, yup di list versi asli saya sebenarnya “Juno” masuk kategori “They Loved it, I Hated it”,namun tidak jadi sy masukkan, karena mungkin saya adalah segelintir orang yang benci dengan film itu karena terlalu manis dan dialog filmnya kelewat imut.

    namun, secara objektif “Juno” ketika dirilis memang film yang paling aktual diantara nominasi lainnya. apalagi dipengaruhi dengan kasusnya Sarah Palin waktu itu. Cukup beralasan mengapa film itu masuk nominasi mengalahkan The Diving BEll and the Butterfly yang juga menjadi kandidat kuat waktu itu.

  8. @Mbak Iin: Hahahaha iya memang there will be blood dan Jesse James panjang sekali. Mungkin memang sulit dinikmati sebagian orang.

    Hahahaha. Untuk masalah Ending No Country for Old Men, saya juga sempat bengong ketika menontonnya, bahkan ada yang bilang sebagai ending terburuk di sebuah film masterpiece. Namun siapa yang silahkan karena saya dengar di bukunya juga ending menggantung seperti itu.

    Tergantung interpretasi masing-masig juga. Kalau saya begini: Di Ending film diceritakan Bell (Tomy Lee Jones) sebagai seorang polisi (relevansi orang baik) bercerita tentang pengalaman dengan ayahnya yang jauh dari cerita filmnya namun disitu sebenarnya inti dari film ini. Kita lihat karakter Moss (Josh Brolin) yang tamak dan oportunis (relevansi ke tokoh abu-abu) pada akhirnya diceritakan mati begitu saja oleh Anton Chigurh (Javier Bardem) sang pembunuh (relevansi sebagai orang jahat).

    Coen Brother ingin menyampaikan melalui tokoh Tomy Lee Jones bahwa seorang seperti dia sampai kapanpun tidak akan pernah habisnya untuk berlawanan dengan “orang jahat” hingga akhirnya dia merasa lelah dan pensiun dan digantikan oleh generasi polisi lainnya yang lebih tangkas (dimana si Bell sendiri turun temurun jadi polisi mulai dari kakek dan juga ayahnya). Di situlah relevansi “no country for old men” muncul. Pada akhirnya, kadang “orang jahat” sulit dijerat dan bahkan melenggang dengan bebasnya seperti yang ditunjukkan karakter Chigurh di ending cerita yang berhasil bebas bahkan membunuh istri Moss. Karena itulah realitas. Orang jahat akan muncul tiap saat dan seorang seperti Bell akan tetap muncul juga untuk mengejar orang-orang seperti Chigurh.

    Mungkin itu yang bisa saya tangkap. Ada yang bersedia menambahkan?

  9. saya adalah orang yang tidak suka film yang terlalu panjang sehingga kurang setuju untuk posisi 1 nya hehe. dan bang awya saya setuju bgt kalo JUNO termasuk film they love it, I hate it. film nya terlalu manis dan over-rated banged hehe. walopun scene pembukaan nya yang si juno jalan2 sambil bawa botol merupakan intro yang bagus ..

    kala belum nonton nih waaaah jadi penasaran..

  10. klo menurut rizal mang film asssassination of jasse james tepat banget di posisi satu soalnya filmnya kren cinematografinya kren banget and scorenya yang misterius bikin betah nonton pingin liat yang 4,5 jamnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s