Top Ten Films of 2006

Setelah dicek, ternyata ini merupakan tahun yang film-filmnya paling sering saya tonton lebih dari sekali, bahkan ada diantaranya yang lebih ditonton dari lima kali. Tahun yang baik bagi perfilman dunia. Berikut film-film yang berhasil memikat hati saya.

[THEY LOVED IT, I HATED IT]

Boring to death menyimak “Dreamgirls”. Heran dengan tepuk tangan melimpah yang diterima film ini. Padahal ceritanya garing, nomor lagunya juga biasa saja. Academy mengambil jalan yang brilliant dengan tidak memasukkannya sebagai nominasi Best Picture.

[DIDN’T LIKE IT THAT MUCH]

“The Queen” yang menghadirkan akting memukau dari seorang Helen Mirren dan akhirnya membuahkan Oscar, terkesan biasa saja di mata saya. Begitupun dengan “Babel” dari Alejandro Gonzalez Innaritu yang membuat saya menyerah dengan porn-tragedy yang ditampilkan film ini. Hampir menjadi film yang saya benci kalau saja tidak mengingat bahwa ada bagian cerita dari Rinko Kikuchi di film ini yang lebih bagus jika berdiri sendiri.

[THE ALSO-RANS]

Kita mulai dengan film terakhirnya Robert Altman yaitu “A Prairie Home Companion” yang bercerita tentang radio dengan castnya yang keroyokan. Kemudian ada film yang boleh disebut sebagai American Beauty tahun ini yaitu “Little Children” dengan sensualitasnya. Dan terakhir, karya dari Christopher Nolan “The Prestige” dengan unsur magic dicampur fiksi ilmiah ini salah satu karya yang pantas untuk disimak.

[THE ALMOST-THERES]

Ada tiga film yang nyaris masuk daftar sepuluh besar. “United 93” merupakan film dengan gaya dokumenter yang memberikan efek menakutkan di atas pesawat. Ada juga Letters from Iwo Jima” dari Clint Eastwood yang menempatkan perspektifnya sebagai tentara jepang ketika diinvasi oleh Amerika. Sebuah paket psikologis yang menyentuh dan menggugah. Dan yang terakhir adalah komedi gila yang kalau diibaratkan telah mengeluarkan tawa saya berember-ember, yaitu “Borat” dengan karakter ikonik dari Sacha Baron Cohen ini.

[THE TOP TEN]

Ini dia sepuluh besarnya…

#10

Photobucket
“LITTLE MISS SUNSHINE”

Directed by Jonathan Dayton & Valerie Farris

Seperti sebuah kado, film ini diramu dengan kertas berwarna pastel, lalu dihiasi dengan pita merah mengkilap dengan ornamen cantik di depannya. Isinya? Sebungkus permen mungil yang diikat oleh plastik kuning, bertuliskan “Aneka Rasa”. Asem. Manis. Gurih. Hambar. Oh, jangan lupakan ada pula rasa pahit yang tersimpan di dalamnya. Seperti menguyah permen. Seperti itu pula kehidupan dipotret dalam narasi mungil pencarian makna, apa itu kecantikan, keindahan, dan kesuksesan. Kita tidak mengenal rasa apa sebenarnya permen yang dikunyah. Manis? Oh, apakah itu benar-benar manis? Pahit? Oh, apakah memang sepahit itu? Deskripsi tersebut cukup menggambarkan film ini.

#9

Photobucket
“THE DEPARTED”

Directed by Martin Scorsese

Banyak yang mengatakan versi original dari film ini lebih baik dari adaptasinya. Dalam kacamata saya, adaptasinya lebih baik daripada versi aslinya. Saya lebih merasakan bagaimana karakter dari film ini terbangun dari awal hingga akhir. Konstan dan dramatis. Bukan sebuah karya terbaiknya Martin Scorsese memang, namun sebagai hiburan, lebih dari sekedar cukup.

#8

Pan's Labirynth

“PAN’S LABYRINTH”

Directed by Guillermo Del Toro

Siapa yang tidak merinding dengan salah satu scene paling menakutkan di film ini? Ketika si gadis memakan anggur, dan tiba-tiba makhluk yang matanya ada di telapak tangannya itu terbangun, itulah yang dinamakan horor dalam pencapaian paling tinggi. Saya adalah salah satu dari sekian orang yang merasakan kenikmatan menakutkan dari film ini. Di tangan Guilermo Del Toro, penonton dihadapkan pada dua falsafah yang berseberangan, ini realita atau sekedar khayalan? Jawabannya, ada di diri Anda sendiri.

#7

Paprika

“PAPRIKA”

Directed by Satoshi Kon

Animasi jepang memang penuh imajinasi, kalau biasanya kita diberikan animasi penuh dengan khayalan di luar kepala lewat karya-karyanya Hayao Miyazaki, hadir lagi sebuah animasi di luar studio Gibli yang tidak kalah imajinatif juga, yaitu, dari seorang Satoshi Kon yang mengangkat film ini dari novelnya Yasutaka Tsutsui. Berkisah tentang penelitian psikologis yang melibatkan sebuah alat yang mampu membantu pasien dengan masuk ke alam mimpi si pasien. Ceritanya sangat menarik dengan hal-hal imajinatif. Meskipun sebenarnya kadar animasi ini lebih patut dikonsumsi orang dewasa daripada karya-karya Hayao Miyazaki. Mengingat beberapa adegannya yang bukan konsumsi anak-anak.

#6

Lady Vengeance

“SYMPATHY FOR LADY VENGEANCE”

Directed by Park Chan Wook

Seri terakhir dari The Vengeance Trilogy setelah Sympathy for Mr. Vengeance dan Oldboy ini, sesuai judulnya, menghadirkan tokoh sentral wanita sebagai sosok pembalas dendam. Dimainkan dengan begitu luarbiasa oleh seorang Lee Young Ae yang di negeri kita lebih dikenal perannya sebagai sosok Jang Geum di serial korea yang sempat ditayangkan salah satu stasiun swasta, tampil sebagai wanita pembunuh yang terlihat manis, namun memiliki jiwa yang dingin setelah dipenjara bertahun-tahun atas kesalahan yang tidak diperbuatnya.  Park Chan Wook, salah satu sutradara terbaik Asia ini kembali menyempurnakan ketiga installment triloginya yang semuanya memiliki cerita yang kuat dan tentunya memiliki sisi dramatis yang membuat tiap serinya sayang untuk dilewatkan.

#5

Casino Royale
“CASINO ROYALE”

Directed by Martin Campbell

Daniel Craig mengubah karakter James Bond yang pernah tersemat di dalam diri Pierce Brosnan. Karakter James Bond menjadi lebih manusiawi, terlihat kuat namun lemah ketika dipermainkan oleh cinta. Sebuah kenikmatan menyimak seri Bond dibuat sebagus ini. Saking dipuji-pujinya, Daniel Craig sampai menjadi satu-satunya pemain James Bond dalam sejarah yang berhasil masuk nominasi Best Actor di BAFTA.

#4

THe Lives of Others

“THE LIVES OF OTHERS”

Directed by Florian Henckel von Donnersmack

Tidak ada ending film paling menyentuh dalam dekade ini seperti ending yang dihadirkan oleh drama ini. Sebuah ringkasan bagaimana humanisme hadir di kehidupan kita. Bersetting di Jerman Timur ketika muncul problematika korupsi dan bagaimana kita menyimak moralitas dari korupsi itu sendiri. Ada hal yang lebih menarik sebenarnya yang dihadirkan film ini, yaitu humanisme itu sendiri. Kita tidak pernah tahu sebesar apa kita akan berkorban, bahkan dalam konteks hidup kita sendiri, untuk orang yang tidak kita kenal. Kita tidak bisa mengerti sebesar apa sebenarnya humanisme yang dimiliki manusia ketika mereka dihadapkan pada sisi yang berseberangan sekalipun. Karakter Gerd Wiesler dalam film ini merangkum sisi itu. Sebenarnya tanpa kita sadari, begitu hebat dan besarnya hati seorang manusia.

#3

The Fountain
“THE FOUNTAIN”

Directed by Darren Aronofsky

Sejak awal, Darren Aronofsky merupakan sutradara yang mengerti bagaimana menempatkan sinema sebagai aspek interpretasi personal bagi penontonnya. Di sini, sang sutradara menjelajahi wilayah interpretasi penonton ketika dihadapkan pada berbagai karakter yang diperankan aktor yang sama namun memiliki plot berbeda, entah itu merupakan orang yang sama atau berbeda. Ada unsur religi dan ilmiah yang ditabrakkan, bentrok menjadi kekacauan yang pada dasarnya sulit disatukan. Namun, ada makna bahwa dua hal itu bisa diselaraskan. Film yang membutuhkan repeat viewing untuk bisa diapresiasi.

#2

Children of Men
“CHILDREN OF MEN”

Directed by Alfonso Cuaron

Sebelumnya banyak yang meragukan apakah Alfonso Cuaron bisa membuat film aksi mengingat Y Tu Mama Tambien dan Prisoner of Azkaban lebih cenderung ke drama. Akhirnya beliau membuktikan bahwa memanglah sutradara yang handal dalam berbagai genre. Terbukti melalui film ini Cuaron menghasilkan sebuah film brilliant tentang kekacauan yang terjadi di masa depan ketika para wanita infertile, tidak mampu menghasilkan keturunan lagi. Berkolaborasi dengan salah satu sinematografer terbaik saat ini, Emanuel Lubezki, gambar dibidik menjadi begitu indah di satu sisi, muram di sisi yang lain. Adegan chaotic di dalam mobil yang menyebabkan kematian salah satu karakternya, sampai saat ini merupakan salah satu adegan teror yang mencekam. A brilliant movie.

#1

Syndromes and A Century
“SYNDROMES AND A CENTURY” (SANG SATTAWAT)

Directed by Apichatpong Weerasethakul

Sutradara asal  Thailand yang namanya sulit dilafalkan dalam lidah kita ini lazim dipanggil sebagai “Joe”. Mungkin, banyak yang tidak mengenal nama sutradara ini, namun bagi yang sering memperhatikan sutradara dengan konsistensinya membuat film arthouse, untuk wilayah Asia selain Edward Yang (alm), Jia Zhang-ke, Hou Hsiao-hsien, Tsai Ming-liang, atau mungkin Wong Kar Wai, ada nama sutradara Thailand ini yang pasti selalu muncul sebagai masternya film seni. Boleh dibilang sebagai Garin Nugroho-nya perfilman Thailand. Karya-karyanya selalu memiliki aspek misterius. Seperti menyimak film bisu. Sutradara ini terkenal dengan penempatan judul dan credit tittle-nya yang nyeleneh, biasanya dia menyelipkannya di pertengahan film, bukan di awal seperti kebanyakan film. Sekaligus membagi filmnya menjadi dua cerita.

Lewat “Syndromes and a Century”, Joe mendedikasikan film ini untuk kedua orang tuanya yang menceritakan dua kisah dengan jarak 40 tahun berbeda, bersetting di rumah sakit dengan suasana yang berbeda (satu dalam kondisi kuno, satunya lagi modern), dimana semua karakternya sama dan dialognya pun mirip. Ada nuansa kesederhanan. Ada nuansa kekekalan masa yang diberikan film ini. Ada aspek arogan yang menjadi ciri khas “waktu” ditampilkan di film ini. Seperti sifatnya, waktu itu kekal, tidak dapat disentuh, namun mampu mengubah segala hal. Meskipun film ini bersetting di Thailand, namun ada nuansa lekat yang membuat saya merasa film ini begitu dekat. Kesederhanan dan modernisasi itu saya rasakan di sini. Adegan dokter gigi yang menyanyi, merupakan salah satu adegan paling membekas dekade ini. Saya jadi penasaran menyimak film-film lainnya. Termasuk Blissfully Yours yang berisi romantisme yang misterius dan juga Tropical Malady yang sempat diikutkan di Cannes Film Festival dimana film ini berisi adegan 20 menitan yang pure tanpa dialog, kita hanya dihadapkan pada gambar alam.

10 Best Performances of 2006:

  1. Meryl Streep (The Devil Wears Prada)
  2. Lee Young Ae (Sympahty for Lady Vengeance)
  3. Rinko Kikuchi (Babel)
  4. Sacha Baron Cohen (Borat)
  5. Forest Whitaker (The Last King of Scotland)
  6. Ulrich Muhe (The Lives of Others)
  7. Helen Mirren (The Queen)
  8. Kate Winslet (Little Children)
  9. Daniel Craig (Casino Royale)
  10. Leonardo DiCaprio (The Departed)

Recap:

The Top Ten:

  1. Syndromes and a Century
  2. Children of Men
  3. The Fountain
  4. The Lives of Others
  5. Casino Royale
  6. Symphaty for Lady Vengeance
  7. Paprika
  8. Pan’s Labyrinth
  9. The Departed
  10. Little Miss Sunshine

The Almost-Theres

  • United 93
  • Borat
  • Letters from Iwo Jima

The Also-Rans:

  • The Prestige
  • A Prairie Home Companion
  • Little Children
Advertisements

18 thoughts on “Top Ten Films of 2006

  1. UNITED 93 filmnya bangun, bisa banget mengguncang emosi saya sampai saya bilang “bangsat” terus-terus sama tuh teroris…

    Borat: lucu, gila…

    Letter From Iwo Jima: Two Thums

  2. Yeaaaayy!!! Children of Men!!!!! udah nonton 5 kali gw, mengukuhkan Alfonso Cuaron jadi sutradara favorit gw ^O^ /~

    Babel itu soal mis-understanding, saking suksesnya tema itu sampe banyak juga penonton yg misunderstanding sama filmnya sendiri, hihihi

    eh..tahun ini banyak orang Meksiko yg eksis yats (Cuaron, del Toro, Gonzales Innaritu dkk)

  3. Little Miss Sunshine.. sayaa sukaa sekali film itu!! nonton sampe 3x. Pertama, karena ini road movie. Kedua, karena temanya keluarga. Ketiga, karena ABIGAIL BRESLIN.. lucu bangetttt. perutnya genduut hwahaha..
    tapi yang pasti filmnya bikin kita sadar : semua keluarga itu ada sisi ‘aneh’ yang beda-beda. tapi mereka selalu ada buat kita, pasti.

  4. Nice top ten!
    belum nonton Syndromes and a Century sementara The Lives of Others masih tersimpan rapi dalam file karna belum ada waktu 😉
    pilihan film di tahun ini lebih beragam ya, gak didominasi hollywood saja

  5. Doooh…aku masih malas membuat list 😛
    Tahun 2006 ini banyak banget film bagus ya.Terima kasih telah mengenalkan Syndromes and a Century. Belum pernah dengar sama sekali film ini. Pasti susah nyarinya.
    Ending The Lives of Others memang pantas dikasih banyak jempol.
    Masih mencoba meraba-raba, apa sebenarnya yang ingin disampaikan di The Fountain.

  6. @dirgantara: iya United 93 itu bikin saya marah luar biasa sekaligus takut bukan main. Teror seteror-terornya.

    @ajirenji Babel memang temanya menghadirkan sisi misunderstanding itu, saya sampai memutar otak menyimak pesan film ini yang terlalu rancu. Karyanya Innaritu yang paling contrived dan tidak meyakinkan bagi saya.

    oh iya memang tahun 2006 terkenal dengan invansi sineas latino ke hollywood terbukti dengan banyaknya sineas latin yg dapet nominasi OScar. termasuk Volver-nya PEdro Almodovar yang sayang sekali dua kali saya beli dvd originalnya, dua kali pula tidak bisa diputer, padahal kalau sudah nonton pasti masuk list. PEnasaran dengan film itu.

  7. @Iin: iya Little miss sunshine emang kocak banget. Road movie paling seger yang pernah saya tonton. Palagi pesennya tentang keluarga itu dalem bgt.

    @movietard: Iya lebih beragam di tahun ini, karena produksi hollywood tidak terlalu menggembirakan.

  8. @gilasinema: saya sudah lama nyari film2nya Apichatpong, tapi nggak ketemu2. Ternyata katanya peredaran DVDnya langka banget. akhirnya minta bantuan temen untuk berbuat ilegal. yah, nemu deh film itu.

    btw kalo tertarik nonton, di youtube juga ada kok Om, cuma saya males streaming. ini alamatnya: http://www.youtube.com/watch?v=cn7Ny-bpdRw

  9. SAYA SANGAT SUKA LITTLE MISS SUNSHINE THE DEPARETED PANS LABYRINTH yang ada di list mu itu..hihihi

    babel???waooww saya cuma betah dengerin scoring gustavo saja selebihnya menonton rinko kikuchi yang bisu menarik pula qiqiqiiqiqiqi

    dream girls??hummm ya bisa dibilang alurnya biasa2 aja,males ngliat beyonce mendominasi peran qiqiqiiqi…

    lho flags of our father kok gag dimasukkan???sekalian kan ada letters from iwo jima

    agak bingung nonton fountain, tidak menemukan esensi yang bes ribet dgn 3 kehidupannya itu..but hugh jackman peformanya lumayan dan efeknya waoww….

  10. #Yuppz Kang Andi, Gustavo Santaolalla lah yang mungkin bisa dibanggakan untuk “Babel”… Ada Apocalypto, Volver & Downfall yg enggak disebut, sayang sekali.

  11. @Andy: Flags of our fathers sayangnya belum nonton tuh. Haha.

    @Prabu: Volver sayang sekali belum bisa ditonton. BEgitupun dengan Downfall. Kalo Apocalypto bukan film yang saya sukai. Memang sih mencoba seperti Terence Mallick, namun sedikit hambar bagi saya.

  12. Btw pendekatan ala Tereance Malick itu yg gmana sh Kang Awya..so naturalkah dgn cinematography menawan?
    #Flags Of Our Father yang justru udah nonton, menurutku emosi tiap karakter enggak tergali, padahal ceritanya oke punya.

  13. @Prabu: iya seperti yang kamu bilang. HAnya saja cerita Apocalypto bukan sesuatu yang menarik. iya saya dengar banyak yang bilang kalo Flags of Our Fathers tidak begitu menarik.

    @ fita: Okay.

  14. LIST nya KEREN! tapi aneh nya posisi kesatu nya aku ga tau dan belum pernah nonton.. I like The lives of others!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s