Top Ten Films of 2005

Tahun 2005 merupakan tahun paling sulit untuk mencari film terbaik yang layak untuk masuk daftar yang terbaik dikarenakan sedikitnya film yang ditonton di samping memang tidak ada begitu banyak film-film dengan profil bagus di tahun ini. Boleh dibilang tahun yang kurang menggembirakan. Ini dia beberapa yang berhasil dirangkum untuk edisi tahun 2005 ini.

[THEY LOVED IT, I HATED IT]

“CRASH” merupakan salah satu film paling manipulatif, ambisius, contrived, overrated, dan terprogram yang saya simak sepanjang dekade ini. Karakter di film ini semuanya bukan manusia, tetapi boneka yang diset setiap melihat ras berbeda selalu menyimpan prasangka. Tidak ada satupun karakter di film ini. Semuanya adalah boneka yang ditempel dan dipertemukan untuk menjadi bom tearjerker. Masih ingat dengan adegan Sandra Bullock jatuh dari tangga itu?  That was a total joke! Lalu dia ditolong oleh pembantunya, lalu sadar bahwa dia telah jahat karena memiliki prasangka. Really? Segampang itukah membuat solusi cerita? Ditambah lagi dengan kalimat pembukanya yang terlampau preachy. Crash di awal film sudah ikut campur pada interpretasi penonton dengan kalimat prechy-nya “we all CRASH into each other every day” seolah meratakan asumsi bahwa kita akan diajak menonton berbagai scene yang penuh dengan kekacauan dari manusia yang selalu bertabrakan tiap saat. Tidak kuat saya dikhotbahi. Menonton Crash saya merasa dibohongi dan juga dibodohi. Menonton Crash saya seperti melihat seorang ibu yang diperkosa preman, sementara suaminya diam saja hanya melihat tanpa rasa bersalah, yang dia pikirkan hanyalah “itulah realita”. Tahu moral, namun tidak mengerti dimana menempatkan tanggung jawab itu. Apa sebenarnya yang ingin engkau sampaikan Paul Haggis? Pergesekan ras dan realita? Lalu mengapa hasilnya perkuliahan rasisme? Crash telah mengobrak-abrik “harga mahal” dari sebuah film, yaitu interpretasi. Interpretasi saya diperkosa oleh film ini. Saya sudah berniat tunduk, namun, sang sutradara tetap saja memaksa tanpa ampun. Saya sudah berusaha diajari, namun “sang guru” tetap saja mengoceh esensi yang rancu. Bagi saya, tiada kata maaf untuk itu.

[DIDN’T LIKE IT THAT MUCH]

“Capote” selain menyuguhkan penampilan luar biasa dari Philip Seymour Hoffman sebagai Truman Capote yang mengantarkannya meraih Oscar, filmnya bagi saya tidaklah terlalu spesial. “Syriana” yang mengambil style yang sama sayangnya tak sebagus Traffic.

[THE ALSO-RANS]

Ada “North Country” yang menampilkan Charlize Theron dan Frances McDormand dengan karakter wanita tangguhnya di tengah gempuran pelecehan para lelaki. Jeremy Renner tampil sebagai tokoh antagonis di sini. Pertama kalinya saya yakin bahwa dia adalah aktor berbakat. Sedikit pengakuan, “Harry Potter And The Goblet Of Fire” bagi saya adalah seri Harry Potter yang paling fun yang berhasil saya tonton sampai saat ini. “Sin City” yang dikritisi ternyata cukup saya sukai juga. Film noir ini merupakan film yang cukup membuat saya penasaran dengan kelanjutannya. Adapun juga karya komedi yang dipuji publik dari Stephen Chow yaitu “Kung Fu Hustle” yang menampilkan lawakan slapstick yang amat kental.Dan yang terakhir adalah “Tim Burton’s Corpse Bride” yang sekali lagi menampilkan cerita spooky yang imaginatif. Adapun “The Chorus” yang menjadi entri film Perancis di ajang Oscar tahun sebelumnya, inspiratif, namun cara berceritanya yang terlalu Hollywood-y membuat magis “quirky’ yang muncul pada ciri sinema Perancis terhapus begitu saja.

[THE ALMOST-THERES]

Peter Jackson hadir dengan karya epiknya, “King Kong”. Remake film ini cukup unik, karena si King Kong dipertemukan dengan para dinosaurus di film ini. Jangan lupakan juga bagaimana Naomi Watts tampil begitu luar biasa sehingga mampu menerjemahkan karakternya dengan menggugah hati serta punya chemistry kuat dengan sang King Kong. “The 40-Year Old Virgin” merupakan debut seorang Judd Apatow dengan komedi jorok dan dewasanya yang sempat mengagetkan banyak orang, sekaligus disukai banyak orang. Setiap film yang ditulis oleh seorang Judd Apatow pasti terlihat lucu dan punya tema yang sebenarnya cukup mengarah ke hal-hal yang mendalam. Kemudian muncul reboot salah satu superhero yang dikemas baru oleh Christopher Nolan, yaitu “Batman Begins” sebuah awal pengukuhan bagaimana standar seri superhero itu seharusnya dibuat.

[THE TOP TEN]

Ini dia sepuluh besarnya…

#10

“MATCH POINT”

Directed by Woody Allen

Di film ini kita bisa menyimak Scarlett Johanssen lagi-lagi berperan sebagai wanita penggoda, tapi jangan salah, ini salah satu penampilan terbaiknya sebagai pemain film. Dalam drama yang menampilkan lanskap London yang terkesan mahal ini, seperti biasa Woody Allen menampilkan gambar-gambar yang menarik untuk memanjakan mata.

#9

“GOOD NIGHT, AND GOOD LUCK”

Directed by George Clooney

George Clooney sudah dianggap sebagai anak emas perfilman Hollywood. Lewat film yang menceritakan perseteruan antara jurnalis televisi dengan seorang senator dalam kasus anti-komunis ini, George Clooney membuktikan bahwa dia layak disebut sebagai penerus Clint Easwood. Berperan sebagai sang sutradara sekaligus bermain juga, dia berhasil menghadirkan nuansa klasik dengan aspek artsy dimana filmnya dibuat dalam nuansa hitam putih. Lewat film ini pula Clooney berhasil menjadi satu-satunya orang yang meraih 3 nominasi dalam malam puncak Oscar dimana dia masuk nominasi Best Director dan Screenplay lewat film ini, namun menang di kategori Best Supporting Actor lewat Syriana.

#8

“PRIDE & PREJUDICE”

Directed by Joe Wright

Dalam salah satu adaptasi novel terkenal ini, Joe Wright membuatnya menjadi sebuah film yang terlihat sederhana namun memiliki energi klasik yang berhasil diterjemahkan dari novelnya. Maklum, saya yang di kampus setiap harinya menyantap novel ini, menganalisanya, dan berdebat tentang karakterisasinya, memang tidak bisa dipungkiri memiliki hubungan erat dengan penggambaran film ini. Tiap adegan di film saya hafal visualisainya. Keira Knightley tampil begitu otentik sebagai Elizabeth. Raut wajahnya yang manis, serta ekspresinya yang sedikit angkuh, diterjemahkan dengan pas sesuai penggambaran Elizabeth di bukunya.

#7

“BROKEBACK MOUNTAIN”

Directed by Ang Lee

Karya masterpiece dari seorang Ang Lee. Secara mengejutkan, ternyata bukan hanya masalah percintaan sesama jenis yang diusung film ini. Namun lebih universal. Pada dasarnya film ini lebih mengarah pada masalah kesendirian, kegundahan ketika seorang manusia terkurung pada sebuah ritme kekosongan, serta prinsip yang bersimpangan dengan hidup yang seharusnya dianggap benar. Ada premis besar yang ingin digali film ini. Bukan sekedar masalah melodramatis bernama cinta, tetapi kehidupan pada ranahnya yang begitu kompleks.

#6

“MUNICH”

Directed by Steven Spielberg

Drama fiktif yang mengambil latar belakang pembunuhan atlet Yahudi di Olimpiade Munich ini memang menuai kontroversi. Terlebih ketika pihak Israel digambarkan sebagai sisi yang juga tidak manusiawi. Meskipun adegan sex di film ini cukup laughable dan Steven Spielberg seperti biasa selalu lemah di setiap ending ceritanya, namun, ada tone klasik yang dihadirkan Spielberg di film ini yang membuat saya menyukainya. Nuansa klasik kota-kota di Eropa merupakan aspek ekstra yang membuat mata nyaman sekali sepanjang film berjalan. Bagi saya ini salah satu karya terbaiknya dekade ini bersanding dengan Minority Report.

#5

“KISS KISS BANG BANG”

Directed by Shane Black

Kalau sekarang, semua orang bisa memastikan bahwa Robert Downey Jr. merupakan salah satu dari dua bintang terbesar di dunia. Nomor satunya boleh bisa dibilang seorang Will Smith yang sampai saat ini sulit sekali untuk disingkirkan. Namun kisah seorang Robert Downey Jr. terkesan lebih menarik karena sebelum meraih nama besar dan menjadi pencetak ratusan dolar lewat Iron Man-nya, dia harus terseok-seok dulu melawan kecanduannya terhadap narkotika, sehingga harus diisi dengan drama pemecatannya sebagai pemain Ally McBeal, padahal waktu itu dia lagi bersinar sekali. Setelah bersih dari obat-obatan, Robert merintis karirnya lewat film-film kecil dahulu, termasuk film ini, film yang sedikit sekali ditonton oleh orang. Hingga sampai dinobatkan sebagai salah satu dari the most overlooked movie of decade. Lewat film inilah pujian dari kritikus kembali mampir bagi seorang aktor berbakat sekelas Robert yang sebenarnya sudah tidak diragukan lagi karena di tahun 1992 dia sudah pernah masuk nominasi Best Actor di Oscar lewat perannya sebagai Charlie Chaplin di film Chaplin. Sang sutradara Shane Black mempercayakannya sebagai peran utama di film ini dengan didampingi oleh Val Kilmer dan Michelle Monaghan, menjadi trio detektif yang dilengkapi dengan peristiwa kocak, oh man, tidak bisa dihitung berapa kali sudah saya tertawa menonton film ini. Film ini merupakan satir sosok detektif Hollywood, dengan dialog pop culture-nya yang kocak, dan tentunya lucu sekali. Meski ketika dirilis hanya sampai pada kondisi limited dan sedikit disimak orang, ternyata sekarang film ini telah menjadi salah satu cult movie terbaik dekade ini.

#4

“2046”

Directed by Wong Kar-Wai

Kelanjutan dari “In the Mood for Love” ini sebenarnya kalau dibandingkan tidaklah semenakjubkan yang sebelumnya. Meskipun untuk seorang Wong Kar Wai yang memang terkenal tidak memperhatikan plot, tetap saja plot yang memiliki unsur sci-fi di film ini terlihat tidaklah penting. Untungnya, hadir dayang-dayang yang seperti biasa menjadi kekuatan filmnya Wong Kar Wai. Kalau sebelumnya ada Maggie Cheung, di film ini menghadirkan Gong Li, Faye Wong yang sempat tampil di Chungking Express, dan yang paling luarbiasa adalah Zhang Zi Yi yang mencuri perhatian setiap kali dia muncul di layar. Penampilan Zhang Zi Yi yang dipuji kritikus ini akhirnya membuahkannya Best Actress untuk pertamakalinya di Oscar-nya Hongkong.

#3

“A HISTORY OF VIOLENCE”

Directed by David Cronenberg

Sebuah film gangster yang memiliki jiwa thriller, western, noir, sekaligus artsy. Diawali dengan opening yang dingin, sepi, hingga diakhiri dengan ending yang sama, dingin, sepi, namun menghadirkan kelegaan yang mendalam. Film yang diangkat dari novel grafis dengan judul yang sama ini, sempat berkompetisi untuk meraih Palme d’Or di Cannes. Selain itu William Hurt masuk nominasi Best Supporting Actor di Oscar dengan penampilannya yang hanya satu scene di film ini dan durasinya hanya 5 menit saja.

#2

“OLDBOY”

Directed by Park Chan-Wook

Dalam versi kedua dari The Vengeance Trilogy ini, Park Chan-Wook membuat sebuah bentuk kekerasan yang begitu menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan ketika ada ranah hati yang dipermainkan. Misteri yang tersimpan dalam film ini benar-benar ditutup rapat hingga menjelang film berakhir. Brilliant sekali. Meskipun menghadirkan twist ending yang menyayat hati, namun sebenarnya tidak seperti kebanyakan film dengan twist ending yang habis ditonton sekali, Oldboy masih memerlukan repeat viewing, karena sebenarnya ada sisi substantif yang patut dipelajari. Film ini meraih Grand Prix di Cannes, dan mendapat pujian melimpah dari ketua jurinya waktu itu, si Quentin Tarantino.

#1

“THE NEW WORLD”

Directed by Terence Mallick

Tidak ada yang bisa menerjemahkan bahasa gambar menjadi untaian begitu puitis sepiawai Terence Mallick. Dia adalah sutradara yang paling berhasil menerjemahkan makna eksotis dari keindahan alam. Air, angin, matahari, hujan, dibentuk menjadi gambar-gambar indah yang memiliki jiwa puitik. Karya dari Terence Mallick memang merupakan aspek-aspek meditatif yang menggugah dan mengajak penontonnya berlari ke ranah perenungan, meski pada dasarnya memiliki arah cerita yang tidak menjurus ke situ. The New World yang menceritakan kisah Pocahontas, suku Indian dalam penjelmaannya menerima budaya inggris, sekaligus kisah percintaannya dengan dua lelaki Inggris, memiliki persinggungan antara humanisme dan alam. Di tangan Terence Mallick cerita yang mungkin familiar bagi kita tentang sejarah terbentuknya Amerika ini, hadir tidak hanya sebagai proyek penggambaran sejarah, namun, sebagai refleksi ketika manusia bersinggungan dengan alam.

10 Best Performances of 2005:

  1. Heath Ledger (Brokeback Mountain)
  2. Felicity Hoffman (Transamerica)
  3. Zhang Zi Yi (2046)
  4. David Strathtain (Good Night, and Good Luck)
  5. Phillp Seymour Hoffman (Capote)
  6. Naomi Watts (King Kong)
  7. Viggo Mortensen (A History of Violence)
  8. Keira Knightley (Pride & Prejudice)
  9. Charlize Theron (North Country)
  10. Jake Gylenhall (Brokeback Mountain)

Recap:

Ini dia recap untuk tahun ini:

Top Ten Films of 2005

  1. The New World
  2. Oldboy
  3. A History of Violence
  4. 2046
  5. Kiss Kiss Bang Bang
  6. Munich
  7. Brokeback Mountain
  8. Pride & Prejudice
  9. Good Night, and Good Luck
  10. Match Point

The Almost Theres:

  • Good Night, Good Luck
  • King Kong
  • Batman Begins

The Also-Rans:

  • Harry Potter and the Goblet of Fire
  • North Country
  • Sin City
  • Tim Burton Corpse’s Bride
  • Kung Fu Hustle

Advertisements

9 thoughts on “Top Ten Films of 2005

  1. *Thanx buat Special Mention yang diutarakan secara gamblang,obyektif & kontras buat film Crash itu (tarik nafas dlm 2 dan tenangkan diri ^_^)
    *Saya tahu kog dari tulisan 2 sebelumnya Kang Awya itu pecinta Terreance Malick. Sayangnya dvd New World paling langka didaerah saya

  2. *Thanx buat Special Mention yang diutarakan secara gamblang,obyektif & kontras buat film Crash itu (tarik nafas dlm 2 dan tenangkan diri. Puwhhh ^_^)
    *Saya tahu kog dari tulisan 2 sebelumnya Kang Awya itu pecinta Terreance Malick. Sayangnya dvd New World paling langka didaerah saya

  3. Aku suka sama Crash. Sangat aktual. Pokoknya kalo filmnya aktual, aku pasti suka hehehehe…
    Nih tahun 2005 parah banget. Banyak banget yang belum aku tonton. Belum sempat bikin listnya, mo liat-liat beberapa film lagi

  4. wah kalo saya suka banget sama Crash mas hahaha kalau bagi saya sih pesan dari film itu ngena banget ke saya nya.. yah namanya jg selera orang ya beda2 hahaha

  5. kalo anak sastra,, crash slh satu film trbaik krn mnurutku dsisitu kita dsuguhi gambaran bgm stereotipe yg trjadi di amerika antar brbagai ras yg tinggal disana,, gak cuma sebatas black n white people aja …. intinya ya yg buat film ingin menyuguhkan gambaran ttg smua itu biar kita sadar … toh pd akhrnya smua cerita terjalin dlm satu garis,, dan prmasalahn sedikit terselesaikan,, mskipun dibumbui dgn ketidaksengajaan …. I LOVE THIS MOVIE,, if u’r a english literature student, u can get it,, more than the external aspect … 🙂

  6. Maaf, sebenanrnya dalam mengapresiasi film, bagi saya tidak ada batasan apakah anda harus dari aliran sastra dan sebagainya. Bagi saya, apa yang saya rasakan seperti itu. Karena stereotiplah saya membenci film ini. Bukankah stereotip adalah gambaran umum yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya 100 persen? oh, ngomong2 saya seorang lulusan sastra ingris, jadi saya tidak mengerti apa alasan anda membawa status jurusan dalam menilai sebuah film. Karena kita mengerti kehidupan di Amerika? saya rasa sangat tidak fair sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s