Top Ten Films of 2004


2004 merupakan tahun perfilman yang menggembirakan. Sampai bingung untuk memilih sepuluh besar untuk tahun ini, karena hanya ada sepuluh ruang untuk daftar paling saya sukai, akhirnya beberapa film bagus harus disingkirkan. Top ten is a top ten. Saya juga dapat mengatakan bahwa untuk film-film yang masuk [the also-rans] dan [the almost-theres] layak sekali untuk disimak. Tahun dengan film-film yang sangat menggembirakan.

[DIDN’T LIKE IT THAT MUCH]:

Seperti biasa, tidak semua film yang dipuji orang bisa saya sukai. Ini beberapa yang tidak berhasil menjerat hati saya. “SIDEWAYS” dari Alexander Payne tidak nempel di hati saya, bahkan cenderung overrated sekali. “KINSEY” yang merupakan film dengan barisan cast yang sudah tidak diragukan lagi, ternyata terlihat lambat dan berakhir antiklimaks. “A VERY LONG ENGAGEMENT” menawarkan cerita yang menarik, namun eksekusinya membuat mata mengantuk meski menghadirkan ending yang luar biasa mengoyak hati.

[THE ALSO-RANS]

Beberapa film yang saya suka meliputi “SPIDERMAN 2”, terus terang ini adalah film superhero yang paling saya cintai karena seri Spiderman merupakan seri yang berhasil membuat saya kembali ke masa kanak-kanak. Ada keriangan yang berhasil saya rasakan ketika dulu betapa lugunya kita ingin menjadi jagoan yang membela kebenaran.MILLION DOLLAR BABY”nya Clint Eastwood berhasil menyentuh sisi sensitif. Film ini tidak berakhir pada sebuah keadaan yang hingar-bingar, tetapi cerita kelam yang membuat kita meringis. Adapun juga “INFERNAL AFFAIRS” yang menarik minatnya Martin Scorsese di kemudian hari. Cerita pengarang Peterpan dalam FINDING NEVERLAND” juga tak bisa dilewatkan. “HARRY POTTER AND THE PRISONER OF AZKABAN” menjadi film Harry Potter paling bagus berkat ditangani oleh Alfonso Cuaron. Lebih suram. Sinematografi film ini menawan.

[THE ALMOST-THERES]

Banyak sekali film bagus yang nyaris masuk daftar sepuluh besar. Mari kita bahas satu persatu. “THE INCREDIBLES” merupakan sebuah film superhero yang bagus sekali, salah satu favorit saya dari Pixar. Ada juga “COLLATERAL”-nya Michael Mann yang menghadirkan akting bagus seorang Tom Cruise dan Jammie Fox. “MARIA FULL OF GRACE” merupakan drama jual beli narkotika yang mengajak kita menyaksikan bagaimana perjalanan karakter yang dimainkan Catalina Sandino Moreno menghadapi begitu menakutkannya pekerjaan yang harus dia jalani. Film yang menggugah, thought-provoking, dan sangat berhasil menghadirkan kengerian sebuah jual beli narkotika. Catalina Sandino Moreno berhasil masuk nominasi Best Actress lewat film ini. Secara mengejutkan ini adalah debut penyutradaraan seorang Joshua Marston. Bagi yang menggemari komedi yang membutuhkan otak sedikit berpikir, cocok untuk  menyimak karya David O. Russel “I HEART HUCKABEES” yang menampilkan salah satu akting terbaiknya Mark Warlberg. Film ini telah masuk status cult yang ternyata membuat saya tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Tapi hati-hati bagi yang tidak menyukai film dengan absurditas dan kekacauan seperti ini, bisa-bisa saja remote TV Anda terlempar karena emosi.

[THE TOP TEN]

Ini dia daftar sepuluh terbaiknya…

#10

“KILL BILL VOL. 2”

Directed by Quentin Tarantino

Di seri keduanya, Tarantino menceritakan kisah pembalasan dendam The Bride dengan skenarionya yang lebih kontemplatif. Aspek dramanya lebih kental, terlebih ketika dihadapkan pada kesimpulan cerita film ini. Namun, kalau bertanya mengapa film ini hanya bertengger di posisi paling bontot, itu semua karena seri keduanya meskipun lebih dipuji kritikus, namun sayang sekali magis fun-nya telah hilang.

#9

“CLOSER”

Directed by Mike Nichols

Drama yang tak disangka berdurasi singkat ini menampilkan keempat pemainnya dengan chemistry yang lekat, kuat, dan yang paling khas, keempatnya berbicara kotor. Dihadapkan pada sisi dua dimensi manusia, belum berarti yang terlihat lugu itu baik, dan bukan berarti pula yang tidak lugu itu terlihat tidak baik. Seolah ingin mempermainkan kita pada plot ceritanya, dibuatlah sangat rapat dan singkat. Ditambah lagi dengan ending yang terasa membongkar sisi kebodohan manusia, kita sebenarnya telah tertipu dan dikelabui.

#8

“THE AVIATOR”

Directed by Martin Scorsese

Sebuah love letter yang diberikan Martin Scorsese pada potret perfilman Hollywood ini sayangnya tidak begitu terdengar meriah dengungnya, kalau dihitung dari ketangkasannya melawan waktu. Sedikit mulai dilupakan. Ah, biarlah, saya menyukai bagaimana Scorsese mendedikasikan film ini sebagai fragmen kecil dari penggambaran keemasan Hollywood lewat kacamata si Howard Hughes.  Cate Blanchet yang berperan dengan sempurna sebagai Katherine Hepburn sang primadona di masa itu, berhasil mengantarkannya meraih Oscar. Dan tentunya seorang Leonardo Dicaprio yang bermain brilliant sebagai sang milyarder. Salah satu penampilan terbaiknya sejak bermain tak kalah bagusnya di What Eating Gilbert’s Grape.

#7

“THE MOTORCYCLE’S DIARIES”

Directed by Walter Salles

Biopik perjalanan Che Guevara ketika masih remaja ini menyimpan jiwa adventurous bagaimana sosok pemuda petualang menemukan peristiwa-peristiwa yang membentuk sebuah persepsi bagi sosok yang kelak menjelma menjadi tokoh pejuang dan dikagumi ini. Gael Garcia Bernal, yang berperan sebagai Che Guevara muda, seorang mahasiswa kedokteran yang bertekad untuk mengelilingi Amerika Selatan sebelum kelulusannya ini, dalam perjalannya tak disangka menemukan pengalaman yang lebih dalam dari sekedar proyek berpetualang saja. Meskipun kita tidak bisa melihat dengan jelas apakah perjalanan tersebut yang akhirnya membentuk karakter pejuang di dirinya. Kita cukup bisa melihat bagaimana rasa empati seorang Che muda ketika melihat nasib orang di sekitarnya. Film ini berhasil menampilkan pengalaman menyimak road movie lengkap dengan kelucuan, kegilaan, dan keseriusan tokoh-tokohnya menemukan segala hambatan dalam naik-turunnya pengelanaan yang mereka lakukan.

#6

“BEFORE SUNSET”

Directed by Richard Linklater

Sembilan tahun sebelumnya, dunia sinema dipertemukan dengan konsep unik nan orisinil bertabur dialog cerdas dari sebuah film remaja berjudul Before Sunrise. Dua pemain utamanya terlihat masih manis dan muda yang mewakili semangat remaja, disentuh oleh barisan tanpa bentuk bernama cinta. Hanya sehari saja ketika pertemuan itu bermula dan berakhir dengan percumbuan di malam hari, ada sebongkah harapan yang ditingggalkan film ini, tersimpan di hati penonton tentang kelanjutan kisah dua sejoli ini. Sembilan tahun berikutnya, Richard Linklater, Ethan Hawke, dan July Delpy bertemu lagi dan menulis naskah filmnya bersama. Hasilnya? Sebuah film yang melebihi kedalaman kisah film pertamanya lengkap dengan dialognya yang cerdas dan inspiratif.  Lupakan adegan klise tentang Rama meminang Shinta, atau Romeo  mencumbu Juliet. Dalam 90 menit kita menikmati banjirnya dialog yang dikeluarkan kedua karakter yang terpisah oleh masa dan ruang dan mengenang masa-masa di sembilan tahun silam yang mereka lakukan hanya dalam waktu yang teramat singkat. Diakhiri dengan ending yang sangat menggugah hati, menyimpan harapan yang teramat besar. Membuat kita menahan nafas, oh, bagaimanakah kelanjutan mereka berdua? Jika menyimak obrolannya sepanjang film kita akan dihadapkan pada kesimpulan yang membahagiakan. Kalau tidak setuju, oh itu interpretasi saja, silakan mengarang kelanjutannya sendiri. Tidak ada hukumnya kok. Untuk itulah endingnya dibuat seperti itu. Interpretasi penonton itu, mahal harganya.

#5

“HOUSE OF FLYING DAGGERS”

Directed by Zhang Yimou

Setiap kali melihat filmnya Zhang Yimou, ada ribuan saturasi warna yang berkelebat di mata ketika memandang layar. Zhang Yimou memang terkenal dengan film-filmnya yang bertaburan warna yang memanjakan mata serta jangan lupa slow motion di setiap adegannya. Menonton filmnya, kita tidak hanya melihat bagaimana sebuah film itu memiliki narasi dan diceritakan dalam asumsi sutradaranya, tetapi Zhang Yimou juga peduli dengan visualisasi dimana mata ingin sesekali dimanjakan. Meski filmnya Zhang Yimou sering dianggap lemah dalam plot cerita, namun dia membuktikan bahwa dia termasuk sutradara yang berhasil memegang idealisme dalam membuat filmnya. Film ini indah, artistik sekali. Sinematografi yang begitu menawan.

#4

“THE DREAMERS”

Directed by Bernardo Bertolucci

Menawarkan spirit French New Wave, film ini memiliki latar belakang masa itu, menceritakan hal tersebut lewat kacamata tiga remaja di masa tersebut. Bagi sebagian orang yang sulit menerima film art house seperti ini, lengkap dengan rating NC-17-nya yang sangat riskan, sudah dapat menduga apa isi film ini. Oh, cobalah kita berteman dengan idealisme yang disajikan oleh Bernardo Bertolucci, ada banyak hal yang bisa dibahas, anggap saja adegan seksualitas itu sebagai sensasi, toh dalam esensinya hal tersebut juga memiliki satu jiwa dengan tema film ini. Tiga pemeran utamanya, Eva Green, Michael Pitt, dan Louis Garrel mengisi jalan cerita dengan berbagai hal aneh yang mampir ke mata penonton lewat berbagai adegan yang mereka lakukan di sebuah apartemen mewah di Paris. Khususnya bagaimana mereka bereksperimen tentang seksualitas. Namun, ada pula masa dimana mereka berpikir tentang hal-hal substantif seperti filosofi, impian yang tercermin dari judul filmnya, serta aspek penghargaan terhadap sinema ketika ketiga remaja ini memberikan dedikasinya melalui kecintaannya pada film. Bertolak belakang sekali dengan kondisi di luar apartemen yang hingar-bingar dengan kekacauan politis, dimana mereka juga bergerak di dalamnya.

Ada banyak sekali referensi film yang muncul di film ini. Sekaligus potongan adegan yang diperagakan oleh mereka bertiga. Bagi yang sering menikmati film klasik pasti mengenal sebagian besar apa yang mereka peragakan. Termasuk yang paling terkenal, adegan Gloria Swanson di ending Sunset Boulevard yang monumental itu.

#3

“BIRTH”

Directed by Jonathan Glazer

Bercerita tentang seorang wanita yang ditinggal mati suaminya. Setelah sepuluh tahun akhirnya bersedia menikahi pacarnya, tiba-tiba saja datang seorang bocah lelaki berumur 10 tahun yang mengaku sebagai reinkarnasi suaminya. Nicole Kidman dalam salah satu penampilan terbaiknya saat ini, menampilkan akting sempurna ketika berhasil merangkul karakternya dengan emosional dan bergelut dalam kesedihan yang mendalam. Film yang mendapat caci maki kritikus ketika dirilis, sekaligus dipuji oleh sebagian kritikus ini, mendapat mixed review. Pada akhirnya saat ini menjadi salah satu film yang dire-evaluasi dan dianggap salah satu underrated film. Bahkan, di beberapa daftar best of decade film ini tampil sebagai yang terbaik. Sempat mengenyam sebagai film yang kontroversial karena adegan di bathtub antara Nicole Kidman dengan si anak kecil  yang telanjang itu termasuk adegan yang sangat menggangu bagi kebanyakan orang. Meski sebenarnya ketika shooting mereka tidak pernah berada di satu ruangan sekalipun. Begitupun adegan ketika Nicole Kidman mencium si anak kecil di bibir tersebut, sempat pula menjadi bahan perbincangan. Namun, adegan terakhir di ending film ini merupakan salah satu adegan yang mengoyak hati dan menyimpan iba yang mendalam. Endingnya menyimpan ambiguitas. Entah apa jawaban yang tepat untuk hal itu, karena sebenarnya sebuah kesalahan yang lebih besar telah dibuat.

#2

“DOGVILLE”

Directed by Lars Von Trier

Sebuah karya yang menampilkan keunikan dan originalitas luar biasa dalam sebuah aspek bernama film bisa ditemukan di sini. Dengan gaya yang nekat dan memiliki pesan moral yang sangat provokatif, Dogville bukanlah sebuah film yang bisa dikonsumsi dengan senyum lebar dan tepuk tangan yang sama bagi sebagian orang. Mereka membenci film ini, ada juga yang mencintai film ini. Bayangkan siapa yang tidak akan merasa aneh melihat sebuah film yang dalam durasi tiga jamnya hanya berkutat di atas panggung, set rumah hanya dibatasi oleh kapur putih, dan aktornya bermain seolah mereka berada pada sebuah area bernama Dogville. Ibarat menonton sebuah teater. Namun, ide inilah yang membuat film ini berada ribuan mil jauhnya dari kata klise.

Secara eksplisit Lars Von Trier mengoyak kemuakkannya pada Amerika dalam film yang sarat dengan aspek anti-amerika ini. Provokatif? Jelas. Namun, dalam sebuah atmosfir besar bernama semesta, film tidak hanya berkiblat pada bumi, namun tema bisa mengarah pada esensi yang luas. Itulah mengapa alih-alih kita dihadapkan pada alegori tentang sifat manusia, sebenarnya kitalah yang dimainkan dalam konsep bernama kemanusiaan. Ada begitu banyak simbol yang ditampilkan oleh film ini. Film yang tidak bisa dipungkiri akan menimbulkan diskusi yang intens dan panjang.

#1

“ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND”

Directed by Michel Gondry

Kehebatan seorang Charlie Kauffman dalam mengolah naskah cerita sudah tidak bisa diragukan lagi. Ada visi dan originalitas yang sulit untuk dikalahkan oleh penulis naskah film lainnya. Sampai saat ini tidak ada yang mampu mengalahkan ide nyeleneh dan cerdas sekaligus brilliant seorang Kauffman. Film ini memiliki plot berlapis-lapis yang mungkin akan membingungkan jika ditonton sekali. Namun ketika menonton sampai hitungan berkali, film ini akan terdampar pada ranah masterpiece. Instant classic. Saya sudah menontonnya sebanyak 5 kali, dan setiap kali menontonnya, semakin saya mendapatkan ide-ide brilliant dari seorang Charlie Kauffman. Bahkan skrip film ini sempat saya pertimbangkan untuk menjadi sumber data skripsi saya.

Tepuk tangan riuh juga patut disematkan pada Michel Gondry karena tanpa sentuhannya, film ini tidak akan sampai pada eksekusinya yang begitu sempurna. Sedikit trivia yang membuat saya tak henti-hentinya terkagum dengan naskah Charlie Kauffman adalah bagaimana dengan cermatnya dia membangun karakter Clementine dan  membedakannya lewat warna rambutnya. Merah, hijau, biru, orange. Itu tidak hanya asal warna cat rambut. Tapi warna rambut tersebut menunjukkan masa-masa hubungan seorang Clementine dengan Joel. Rambut berwarna hijau merupakan masa pertama kali bertemu Joel, rambut berwarna merah masa-masa bahagia bersama Joel, rambut berwarna biru mengambarkan kejadian setelah menghapus memori (kejadian “present” di film), dan “tangerine” atau warna oranye yang menggambarkan masa-masa keretakan hubungan Joel dan Clementine. A pure genius. Masterpiece!

The 10 Best Performances of 2004:

  1. Kate Winslet (Eternal Sunshine of the Spotless Mind)
  2. Nicole Kidman (Birth)
  3. Catalina Sandino Moreno (Maria Full of Grace)
  4. Cate Blanchet (The Aviator)
  5. Leonardo Dicaprio (The Aviator)
  6. Nicole Kidman (Dogville)
  7. Jim Carey (Eternal Sunshine of the Spotless Mind)
  8. Clive Owen (Closer)
  9. Mark Walberg (I Heart Huckabees)
  10. Natalie Portman (Closer)

Recap:

Top Ten Films of 2004:

  1. Eternal Sunshine of the Spotless Mind
  2. Dogville
  3. Birth
  4. The Dreamers
  5. House of Flying Daggers
  6. Before Sunset
  7. The Motorcycle’s Diaries
  8. The Aviator
  9. Closer
  10. Kill Bill Vol. 2

The Almost-Theres:

  • Collateral
  • I Heart Huckabees
  • Maria Full of Grace
  • The Incredibles

The Also-Rans:

  • Finding Neverland
  • Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
  • Infernal Affairs
  • Million Dollar Baby
  • Spiderman 2

Advertisements

10 thoughts on “Top Ten Films of 2004

  1. Film 2004 seingatQ digempuri film film berbiaya besar namun kwalitasnya terbalik ( Troy, The Day After Tomorrow, Van Helsing), biaya besar dan kwalitas oke ( Spiderman 2 dan HarpOt 3), film serba nanggung ( The Village and Passion Of Christ) dan yang benar benar menghadirkan ending terbaik sepanjang masa “BEFORE SUNSET”.^_^
    Banyak lum n0nt0n sih…

  2. salah satu tahun terbaik buat moviegoers karena director2 nyentrik mengeluarkan film2 mereka… Kauffman kembali, begitu juga LVT… dogville bukan fave saya sih tapi melihat setting film yang sangat ajaib, LVT patut dapat penghormatan lebih
    Scoreses dengan The Aviator juga gak kalah oke dan Bertolucci juga kembali
    setuju sama list kamu, hanya saya lebih suka dengan Infernal Affairs dibanding House of Flying Daggers 😉

  3. @Gilasinema: Ih, Om Gila kayaknya terpaksa bgt muji saya. Padahal kalo dibandingin tulisannya Om Gila kan kalah jauh. :curiga:

  4. Setuju. Eternal Sunshine of the Spotless Mind adalah film terbaik yang pernah ada. Filmnya tidak menyuguhkan special effects yang berlebihan seperti adegan terbang di film anak-anak yang heboh maen sihir atau adegan robot jadi mobil dalam film robot-robotan yang bermaksud menyerang dunia. Tapi dengan kejeniusan screenplay nya, film ini sangat berhasil menyuguhkan sebuah film yang baik dengan porsi yang pas alias tidak berlebihan, dengan ending yang bagus pula, walau agak sedih (padahal ending nya ending bahagia tuh).

    Hal lainnya adalah performa dari sang aktor. Kalau Kate Winslet, dia memang selalu berakting total, mulai dari zaman Sense & Sensibility sampai The Reader kemarin, film-filmnya sukses dapet berbagai nominasi. Yang lumayan mengejutkan adalah Jim Carrey. Dia bisa bermain sebagai orang biasa tanpa balutan komedi yang aneh-aneh (walaupun perannya sendiri tetap ada unsur komedinya), aktingnya di film non-full comedy ini ternyata bisa diacungi jempol. Juga Kirsten Dunst, Elijah Wood dan Tom Wilkinson berhasil melengkapi cerita.

    Yang jelas, sangat disayangkan film ini gagal mengeruk banyak nominasi dalam 2004 Academy Awards, hanya dua saja, yaitu Best Original Screenplay dan Best Actress buat Kate Winslet, dan menang buat Best Original Screenplay. Menurutku juga sangat cocok film ini dapat -walaupun hanya- nominasi Best Picture, dan sangat cocok untuk menang, daripada Million Dollar Baby yang filmnya nggak tahu ngasih pesan moral apa. Akting Kate Winslet juga sangat mendukung disini, dan benar-benar saingan Hilary Swank as Maggie Fitzgerald untuk menang Best Actress.

    Kesimpulan = Best Movie of the Decade. A great screenplay that will never find by another person. 9.8/10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s