Review “Avatar”: Is it Pocahontas The Deluxe Edition?

(**½)

[out of 4-stars]

Gegap gempita makhluk biru ini menyapu dunia dengan pencapaian teknologinya yang mutakhir. Oh, efeknya luar biasa. Oh, visualisasinya indah sekali. Oh, tidak ada film se-epik ini. Oh, tidak ada yang mengalahkan kejeniusan James Cameron dalam menciptakan inovasi. Oh, tidak heran film ini menjadi film terlaris sepanjang masa, camkan itu, sepanjang masa! Dan berulang kali terdengar nada-nada terpukau lainnya. Oh, benarkah?

Ijinkan saya berbicara seperti ini, 0h, ternyata ceritanya standar sekali. Oh, dialognya cheesy sekali. Dialog seperti “come to papa” dan “bitch” perlukah untuk saya dengar (lagi)?  Dan oh, di beberapa adegan terlihat kaku sekali. Bukan. Bukannya saya ingin mengatakan bahwa cerita Avatar tidak menyentuh, bisa diakui di beberapa bagian film ini berhasil menghadirkan sisi magis “hati” yang biasanya berhasil diberikan oleh seorang Cameron. Namun, menonton Avatar seperti epik penggabungan film-film Cameron sebelumnya. Mulai dari voiceover yang mengingatkan dengan “Terminator 2”. Lalu battle antara para tentara melawan para pribumi yang mengingatkan dengan “Aliens”. Bahkan hingga konsep cinta terlarang Jack dan Rose pun masih menjadi bumbu penyedap yang membuat setiap orang merasakan, dan seharusnya berkata, oh kemasannya nikmat sekali.

Mengobrak-abrik wilayah originalitas, sayang sekali belum berhasil saya temukan. Coba saja gabungkan cerita Dances with Wolves, Pocahontas, The New World, bahkan juga Princess Mononoke menjadi satu, lalu dengan sedikit inovasi, pindahkan settingnya yang dari bumi, migrasi ke luar angkasa, mendarat di sebuah planet yang juga tak kalah kaya dari bumi bernama Pandora, maka jadilah film bernama Avatar. Bukan bermaksud bagaimana, hanya saja adegan makhluk seperti ubur-ubur yang terbang itu mengingatkan saya dengan salah satu adegan di Princess Mononoke, di samping ceritanya juga mirip. Belum lagi kalau menghitung kemiripannya dengan Dance with Wolves.

Lalu apa salahnya kita memuji sebuah film hanya karena pencapaian teknologinya saja, dan karena ceritanya menyentuh, dan karena  visualisasinya begitu indah, dan karena  Avatar proyek yang dibuat bertahun-tahun? Bahkan para kritikus pun harus menegaskan, “Lame script? Who cares? It’s so innovative and looks so frickin’ cool?” Oh, benarkah?

Mungkin karena saya terlalu kenyang dengan visualisasi imajinatif dari Hayao Miyazaki, sehingga melihat Avatar terasa biasa saja. Atau mungkin penilaian saya akan berubah kalau menonton yang 3-D? Mungkin. Tapi apakah ceritanya akan lebih baik? Atau dialognya akan berubah?  Saya rasa tidak.

Avatar adalah Star Wars dekade ini? Boleh jadi. Sayangnya Star Wars punya cerita dan skrip yang lebih baik. Sudahlah. Saya tahu banyak yang tidak setuju dengan saya. Tidak apa-apa, saya memang banyak berada dalam minoritas. Maaf, James Cameron, sejak awal tahun lalu saya menunggu film ini dengan gegap gempita. Mengecewakan? Ah, apalah itu sebutannya, bahkan selucu apapun dialog di Titanic, saya harus mengatakan, Titanic lebih menjerat hati saya daripada film ini.

Advertisements

4 thoughts on “Review “Avatar”: Is it Pocahontas The Deluxe Edition?

  1. BANTAI!!! Sudah…tidur saja dulu biar tenang pikirannya 🙂
    Avatar bukan film yang istimewa dari segi cerita, namun sinergi yang bagus di semua lini (musik, efek, sound dll) termasuk inovasi di teknologi perfilman, membuat film ini cukup layak mendapat apresiasi positif.

  2. aku sih ngasik rating 4 stars awya..dari segi cerita mungkin amat klise bahkan biasa2 saja dan tidak kuat, cendreung aneh karena prologpun tidak ada jadi sangat tersirat bagian introducing ampe gue mesti critaen dulu pendahuluannya ama temen gue yang disamping pas nonton..
    overall pesan moralnya dapet bgt..jadi gag ambruk dagh critanya
    ya bisa diakui efeknya amat LUAR BINASA..faktor inilah yang bikin saya tidak ngantuk…
    ya bisa dibilang film ini diselamatkan 70%nya oleh efek…
    tetap memank Titanic menjadi film terbaik sepanjang masanya james cameron

    tapi avatar tetap saya rtespon positif qiqiqiiqiqi

  3. aq sama kayak gung de, aq kasih rating 4 stars buat AVATAR…segi cerita emang sangat klise menurut saya yah, tapi cerita yang klise itu dienyahkan oleh efek yang luar biasa, beberapa teman yang saya ajak ikut nonton mengatakan “Gila, Pandoranya keren banget!!”

    tapi kalau untuk menjadi film terbaik sepanjang masa, TITANIC kayaknya masih belum bisa disingkirkan..

  4. Yup, kalo bicara efek saya sih juga akan memberikan tepuk tangan. Hanya saja entah kenapa sepanjang menonton Avatar saya tidak menemukan magic-nya film ini. entah mengapa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s