Review: “An Education”

(***½)

[out of 4-stars]

Menawarkan cerita dengan tema yang klise, An Education menghadirkan sesuatu yang lebih manis dari kata klise. Ya, kita tahu bahwa keklisean adalah sesuatu yang sangat dijauhi oleh sebuah naskah cerita, tapi tidak selamanya keklisean hadir dalam batasan, oh ceritanya standar. Tidak. Lone Scherfig, dalam besutan pertamanya sebagai seorang sutradara, wanita pula, hadir dengan kemasan yang kalau diibaratkan paket sembako, lengkap dengan slogan empat sehat lima sempurnanya. Ada beragam senyum lebar yang coba ditawarkan oleh Scherfig dalam tema transisi keremajaan menjelma kedewasaan ini. Masa itu terlihat sangat manis jika dijalani, bahkan untuk ukuran seorang Jenny yang sempat tertipu dalam keluguannya dengan ruang besar bernama dunia. Lengkap dengan bagaimana sebuah cinta menipu logika bagi remaja pintar seperti Jenny sekalipun.

Sosok Jenny yang diperankan dengan sangat sempurna oleh Carey Mulligan, bagi saya adalah karakter wanita terbaik untuk tahun 2009. Di tangannya, kita diperlihatkan seorang Jenny. Bagaimana dengan sedikit licik dan lugunya dia mengarang alasan agar mendapat restu ayahnya untuk keluar malam hari. Bagaimana gestur tubuh seorang Jenny yang kaku terhadap lelaki berubah menjadi luwes. Bagaimana dengan manisnya tawa renyah seorang Jenny dilahirkan dari bibir mungilnya. Sekaligus bagaimana perubahan karakternya di penghujung film, diciptakan dengan otentik sekali. Kadang banyak yang salah kaprah kalau akting Carey Mulligan kurang berbobot dan banyak yang mempertanyakan mengapa dia mendapat sambutan meriah dari kritikus. Pada dasarnya membuat sebuah karakter lebih sulit daripada menirukan seseorang yang benar-benar ada (biopik misalnya). Saya percaya itu. Menghidupkan sebuah karakter merupakan sebuah bakat yang tidak semua pemain dengan mudah bisa lakukan. Meskipun karakter Jenny sebenarnya berasal dari pengalaman penulisnya, namun Carey Mulligan menciptakan sosok yang orisinil sebagai Jenny. Boleh dibilang, Carey Mulligan sebagai Jenny merupakan debut paling menjanjikan sejak Kate Winslet di Heavenly Creatures beberapa tahun silam.

Alfred Molina juga bermain dengan sangat bagus di sini, meski karakternya cenderung komikal, namun ketika sebuah akting membuat Anda tertawa, perlu dipertanyakan mengapa akting tersebut membuat Anda tertawa. Ada dua kemungkinan (a) aktingnya buruk, atau (b) aktingnya bagus. Jelas Alfred Molina masuk di kategori b bagi saya. Heran mengapa aktingnya tidak disentuh banyak nominasi penghargaan, padahal lebih bagus dari akting si *cough* Matt Damon (Invictus) *cough*.

Permasalahan yang sedikit mengelitik mungkin dengan ending film ini yang seolah menggampangkan permasalahan dengan solusi ending yang klise. But, hey, pesan yang klise-lah yang kadang terasa sangat dekat dengan diri kita, sehingga tidak perlu merasa digurui dengan pelajaran yang terlalu menguras energi.

Mulai dari art direction, kostum, set dekorasi, sinematografi, dan keberhasilan Lone Scheirfig mengarahkan semua pemainnya berakting brilliant, saya masih berharap muncul kejutan kalau dia masuk nominasi Oscar di kategori Best Director. Setidaknya untuk mengambil kursi seorang Lee Daniels (Precious). Scheirfig tahu bagaimana mengatur ritme dalam narasinya. Dimana waktu untuk tertawa, dimana waktu untuk serius, dan dimana waktu untuk bersedih ria. Tidak seperti bagaimana Lee Daniels mengarahkan Precious. Dua jam didisi dengan ambisi untuk mencari iba penonton. Namun mengingat track-record Oscar, sulit rasanya menominasikan dua sutradara wanita di tahun yang saya. Sigh.

Overall, An Education merupakan sebuah film yang menarik, tentang pemaparan keluguan masa transisi menjadi seseorang yang pantas mendapat sebutan dewasa. Sayang untuk dilewarkan.

Advertisements

3 thoughts on “Review: “An Education”

  1. film ini standaaaaaaaaaaar abis haha maaf ya bang awya.. hehe.. kayanya terlalu naif bgtlah dan gampang ketebak.. seorang remaja yang terbuai oleh kehidupan glamor ala prancis.. tapi emg disajikan dengan ala england..

  2. @Aduy: loh kok minta maaf? Tidak apa2 yang namanya pendapat kan beda2. ada yang suka, ada yang nggak. Boleh-boleh saja di sini mengeluarkan pendapat. tidak ada polisi kok, lol.

    kalo bagi saya film ini cukup fresh dengan kemasannya, meskipun klise.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s