The Glorious of Decade: Awya Ngobrol’s Top Ten Films of 2001

Setelah beberapa waktu lalu saya membuat film-film terbaik tahun 2000, sekarang saatnya untuk flashback ke tahun 2001.

Tahun 2001 merupakan tahun favorit saya dalam dekade ini. Banyak sekali film bagus  yang sampai sayang untuk dikeluarkan dari daftar sepuluh besar. Tetapi dengan sangat menyesal akhirnya harus ada yang dikeluarkan. Berikut film-film pilihan saya.

Please Note: Demi keseragaman, tahun rilis film didasarkan atas tahun rilisnya di USA karena beberapa film memiliki tahun rilis berbeda di IMDB, berdasarkan rilisnya di festival atau di negara asalnya. Untuk beberapa film yang tidak dirilis di USA, mengikuti tahun rilisnya di negara yang bersangkutan.

[THE ALSO-RUNS]:

Posisinya  sama dengan istilah “semifinalis” yang berarti ini adalah film-film yang juga saya sukai namun belum berhasil mengisi pundi-pundi sepuluh besar di tahun 2001.

“A BEAUTIFUL MIND”

(Ron Howard)

Meski diganjal kutukan Oscar, namun sebenarnya filmya tidaklah begitu buruk meski sisi yang diambil film ini lebih mencoba mengoyak haru-biru percintaan John Nash. Melihat penampilan luar biasa dari Russel Crowe merupakan sebuah pengalaman yang menyenangkan.

“MONSTER, INC.”

(Pete Doctor)

Kartun keluaran pixar ini berhasil mengadirkan dunia monster rekaan dengan plotnya yang unik sebagai penakut anak kecil. Meski termasuk karya pixar yang lemah, namun tetap saja film ini sangat pantas untuk ditonton.

“HARRY POTTER AND THE SORCERER’S STONE”

(Chris Columbus)

Whoa, kenangan semasa anak-anak dulu menikmati film ini. Chris Columbus berhasil memperkenalkan dunia sihir kepada anak-anak yang tumbuh melalui cerita bocah berkacamata ini sehingga setia menjadi penyimaknya hingga sekarang.

[THE ALMOST-THERES]:

Ini merupakan film yang istilahnya “finalis” atau “nyaris” masuk daftar sepuluh besar. Hanya saja harus disingkirkan demi memberikan ruang untuk film-film yang lain. Secara alphabetis:

“AMORES PERROS”

(Alejandro Gonzalez Innaritu)

Sebuah film yang memiliki tiga cerita berbeda namun memiliki keterikatan satu sama lain. Lewat film inilah nama Alejandro Gonzalez Innaritu menjadi terkenal. Dalam fragmen tiga cerita yang memiliki permasalahannya sendiri-sendiri ini, plot dikaitkan dan selalu memunculkan anjing dalam ceritanya. Editingnya yang dibuat dengan rapi membuat kita betah menonton film ini dan akan ber-oh-wow ketika sang sutradara dengan briliannya mempertemukan tiga sentral karakter dalam film ini dalam sebuah kecelakaan dashyat yang pada akhirnya mengubah kehidupan ketiga karakternya.

“BRIDGET JONE’S DIARY”

(Richard Curtis)

Termasuk guilty pleasure. Sebuah film komedi yang ditampilkan dengan manis tanpa menyakiti logika. Pencintraan Pride and Prejudice modern yang pas, serta penampilan Renee Zelweger terbaik sampai saat ini.

“LAGAAN: ONCE UPON A TIME IN INDIA”

(Ashutosh Gowariker)

Ini merupakan salah satu film india terbaik yang pernah saya tonton. Pertama kalinya menonton waktu saya masih SMP karena mengetahui film ini masuk Oscar. Dengan pakem india waktu itu yang biasanya cinta-cintaan, film ini berhasil membuka mata saya tentang sekelumit sejarah India yang mempertaruhkan negaranya melalui olahraga kriket. Ada semangat nasionalisme yang digusung film ini. Bahkan dulu waktu SMP saya berulang kali menonton film ini sewaktu jaman-jamannya vcd rental deket rumah dulu (oh, my, so jadul!). Sekarang mau nyari DVD film ini agak susah.

[THE TOP TEN]:

#10


“KANDAHAR”

(Mohsen Makhmalbaf)

Terus terang saya terkaget sekaligus terpukau menyaksikan film ini, karena begitu berhasil menampilkan secuil wajah negeri Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban melalui perjalanan tokoh utama film ini untuk menuju Kandahar. Secara akting, film ini memang dibuat sangat terbatas karena pemain utamanya adalah orang asli yang mengalami kejadian, serta pendukungya pula bukanlah berlatar pemain film, jadi bisa dilihat bagaimana kekakuan dialog dan akting mereka. Namun, karena kejeniusan sang sutradara, dia mampu menutupi kekurangan dengan menciptakan gambar-gambar indah serta momen-momen luarbiasa yang membuat saya luarbiasa bersimpati dengan kehidupan di sana. Sekedar informasi, film ini diikutsertakan di Cannes, namun baru terkenal setelah tragedi 9/11 karena tema Taliban yang diusungnya tadi.

#9


“BLACK HAWK DOWN”

(Ridley Scott)

Banyak yang menganaktirikan film ini karena terlalu fokusnya pada aspek adegan aksi. Namun, justru karena itulah mengapa film ini terasa begitu penting dan menggugah bagi saya. Di balik adegan tembak-menembak yang berkumandang dan memekakkan telinga sampai akhir film, dengan cerdasnya film ini menampilkan sisi manusiawi yang memperkenalkan kita pada konteks heroisme, buat apa sih Amerika ikut-ikutan perang di negeri orang? Mau sok pahlawan? Begitupun ketika di awal film muncul dialog yang menegaskan, ini adalah perang saudara, dan Amerika tidak perlu ikut campur dalam hal ini. Setidaknya kita bisa melihat sebuah peperangan dalam sisi yang berbeda. Begitupun heroisme dalam paradigma yang sulit dimengerti. Seperti bagaimana adegan baku tembak yang begitu heroik di film ini. Tetap saja, terselip makna besar tentang konsep heroisme. Lalu cukup berhargakah nyawa kita bagi perang di negeri orang lain? Biarkan narasi akhir film ini yang menjawabnya. Dari sudut pandangnya sendiri.

#8


“A.I: ARTIFICIAL INTELLIGENCE”

(Steven Spielberg)

Salah film dari seorang Steven Spielberg yang menyentuh. Ketika robot memiliki perasaan yang begitu luar biasa dan diset untuk selalu mencintai majikannya (baca: manusia), lantas bagimana tanggung jawab si manusia sendiri ketika melihat si robot terlampau mencintai manusia, perlukah untuk dibalas? Salah satu karya Spielberg yang di-undervalued oleh sebagian publik. Namun sebenarnya ide cerita ini sangatlah cerdas. Salah satu karya yang pantas digolongkan ke dalam lemari film terbaiknya Steven Spielberg.

#7


“AMELIE”

(Jean Pierre Jeunet)

Sebuah komedi yang witty lengkap dengan penampilan Audrey Tatou sebagai Amelie yang sulit dilupakan. Seperti biasa dilengkapi dengan musik-musik berbau Perancis yang begitu ceria, setting kota Perancis yang menyejukkan mata. Film ini akan meninggalkan senyum lebar di bibir Anda. Sebuah film yang pantas mendapat sebutan charming.

#6


“GHOST WORLD”

(Terry Zwigoff)

Jangan terkecoh dengan judulnya. Ini bukan film tentang hantu, atau bahkan pocong dan kuntilanak jelas tidak akan muncul di sini. Ini film remaja, namun dibalut dengan nuansa black comedy. Ada tingkat dimana sebuah film menyimpan kesan manis yang terlihat begitu hangat untuk disentuh. Film ini salah satunya. Sebenarnya film ini hampir saja terasa tanpa plot. Di awal film kita diajak untuk menjajaki kehidupan dua tokoh utama yang dimainkan dengan bagus oleh Thora Birch dan debut dari Scarlett Johansson. Film ini mengalir begitu saja seolah melihat perjalanan dua gadis remaja yang mengalami kebimbangan tentang masa depan. Thora Birch memang tampil menyebalkan sebagai Enid. Sebagai sentral cerita dia termasuk gadis kesepian yang sinistik dan sulit bergaul. Namun, tetap saja ada nada manis yang membuat kita menyayangi tokoh Enid dan juga tokoh-tokoh lain di film ini. Seperti membaca komik yang bertebaran gambar, sesinis dan seantagonis apapun tokohnya, tetap terasa manis ketika menyadari begitu unik goresan gambar-gambar imut yang membentuk karakter dalam komik tersebut. Film ini telah mendapat status cult movie dan merupakan salah satu adaptasi novel grafis terbaik sepanjang masa.

#5


“LORD OF THE RING: THE FELLOWSHIP OF THE RING”

(Peter Jackson)

Ada kalanya bahwa sebuah film seperti ini perlu untuk dibuat mengingat ranah fantasi adalah dunia yang penuh dengan sukacita imajinasi manusia, banyak manusia yang menyukai dirinya terlibat dalam dunia rekaan. Peter Jackson dalam proyek awalnya ini menampilkan Lord of the Ring dengan teramat sempurna. Mulai dari bagaimana tampilan dunia Hobbit, karakter-karakternya, sampai bagaimana aspek emosional yang dihadirkan dalam film yang murni fantasi ini.

#4


“MOULIN ROUGE”

(Baz Lurhman)

Pendobrak genre musikal kembali ke kancah Hollywood. Penampilan Nicole Kidman yang komikal selalu saja membuat saya tertawa terbahak. Dunia Moulin Rouge yang ditampilkan otentik, sayang sekali Baz Lurhman luput dari nominasi Oscar. Cerita yang diambil cenderung klise, tetapi apa yang membuat berbeda adalah bagaimana Lurhman menampilkan sisi-sisi slapstick menjadi begitu cantik dan khas dalam nuansa warna-warna eksotis yang menghiasinya sepanjang film ini. Membuat filmnya terasa seksi.

#3 (TIE)

“MEMENTO”

(Christopher Nolan)

Angkat topi dengan Christopher Nolan. Film pertamanya yang dirilis luas, dan disambut gegap gempita kritikus. Benar-benar brillian. Kapan lagi melihat cerita unik dengan plot terbalik seperti ini. Sepanjang cerita diajak untuk membedah apa sebenarnya rahasia dibalik si tokoh utama. Mungkin film ini bukanlah film yang memberikan banyak input bagi penonton yang mencari “isi” dari sebuah film, maksudnya nilai moral, ambli dan sebagainya. Film ini bukanlah sebuah karya yang ingin memberikan sisi itu. Film ini minimalis, menawarkan aspek misterius yang juga memiliki kemiripan seperti Mulholland Drive. Sampai pada akhirnya Anda akan melihat sebuah ending yang sangat menipu, jenius, dan otentik. Karya terbaik seorang Christopher Nolan sampai saat ini.

“MULHOLLAND DR.”

(David Lynch)

Thriller psikologi yang mengurai-burai keartistikan seorang David Lynch. Art movie. Kita diajak untuk berkelana ke sebuah penceritaan sang sutradara yang terkadang terlihat begitu absurd namun di sana letak kemisteriusan film ini. Dimulai dengan opening film yang sedikit terasa nyeleneh dari core cerita, kita ditunjukkan jalan amblin mana cerita akan berkembang. Tidak usah merasa perlu mencari logika dan analisa nalar yang tepat terhadap film ini ketika menontonnya di awal, karena jika itu terjadi, jelas film ini bukan untuk Anda. Tunggu sampai film selesai dan temukan jawaban dari semua pertanyaan yang bergelumit di kepala. Jika masih tidak mengerti, luangkan waktu sejenak untuk mengulangi pengalaman menyimak film ini sekali lagi, sampai pada akhirnya kita mengerti dunia apa yang David Lynch tawarkan. Masterpiece!

#2


“THE ROYAL TENENBAUMS”

(Wes Anderson)

Ada sisi dimana sebuah keunikan, imajinasi, dan realitas menjadi kunci bernilai berlian bagi sebuah film. The Royal Tenenbaums jika diperhatikan bukanlah sebuah film yang menampilkan realitas secara gamblang, karena ada terlalu banyak absurditas yang tidak bisa dijamah oleh perspektif manusia kebanyakan. Namun, disitulah kita melihat sebuah realitas dalam keluarga Tenenbaums yang memikrokan makna makro bernama kehidupan. Hanya dari tindak tanduk keluarga Tenenbaums kita melihat bagaimana konsep kecemburuan, cinta, kebersamaan, dan hal-hal kecil lainnya begitu berpengaruh bagi manusia. Penceritaan yang khas dari Wes Anderson, plotnya yang unik, temanya yang unik, berhasil membuatnya menjadi salah satu sutradara favorit saya. Sebuah film seperti ini yang saya sukai. Lucu, unik, tapi tetap punya “hati” dibalik kisah keluarga aneh yang diceritakannya.

#1


“IN THE MOOD FOR LOVE”

(Wong Kar-Wai)

Seksi. Misterius. Cantik. Glamour. Klasik. Film yang dinominasikan meraih Palme d’Or ini, seolah melihat penggabungan dari Mulholland Drive dan Moulin Rouge. Erotis dan misterius seperti Mulholland Dr, namun tanpa adegan seks. Glamour seperti Moulin Rouge. Salah satu kenikmatan menonton film yang memiliki aspek seksi seperti ini memang cukup langka untuk dicari. Film yang memiliki style menyerupai Vertigo ini, bercerita tentang Mr.Chow (Tony Leung) seorang jurnalis dan Mrs. Chan (Maggie Cheung) seorang sekretaris yang terobsesi ketika sama-sama menyadari bahwa pasangan mereka (yang sepanjang film wajahnya tidak diperlihatkan, hanya di-shot dari belakang, dan diperdengarkan suaranya saja), ternyata berselingkuh satu sama lain. Mereka berdua ingin mengetahui bagaimana affair pasangan mereka bermula. Maka, dengan membuat skenario bagaimana affair pasangan itu bermula, mereka berakting layaknya bagaimana pasangan mereka menjalani affair itu. Kita diajak untuk lebih intens mana yang akting dan mana yang real. Sebuah film dengan akting berlapis akting. Meski mereka sepakat untuk tidak kelewat batas, namun apa daya, ternyata rasa cinta tumbuh juga.

Diset pada periode 1960, film ini menampilkan fashion yang trend di jaman itu. Bisa dilihat dari fokus Cheongsam yang sepanjang film dipakai Maggie Cheung dan juga degradasi motif dasi yang dipakai oleh Tony Leung. Salah satu sinematografi terbaik dekade ini lahir dari tangan Christoper Doyle yang menampilkan adegan slow motion sebagai narasi dilengkapi dengan score yang menambah kesan glamournya. Bagi yang pernah menonton karya Wong Kar-Wai, sebut saja misalnya Chungking Express atau Ashes of Time, pasti tahu bagaimana style seorang Wong Kar-Wai ini. Sekedar  informasi, lewat film inilah Tony Leung mendapatkan penghargaan pertamanya sebagai Best Actor di Cannes Film Festival. Selain itu dalam film ini bisa disimak juga lagu Bengawan Solo yang dinyanyikan oleh Rebecca Lan.

In the Mood for Love, sebuah film yang membuat mata benar-benar dibawa ke area hipnotis. Masterpiece!

FILM YANG PANTAS DILEMPAR BATAKO (the worst film):

“PEARL HARBOR”

Oh Tuhan, inilah film drama percintaan berlatar perang paling lebay yang pernah saya tonton dari seorang masterpiece lebay bernama Michael le-Bay. Akting kacangan dari Ben Affleck dan plotnya yang dibuat semakin lama semakin yahud kali, dan oh, eh, ah, ih, tidak perlu saya katakan lagi detailnya. Yang jelas ini mimpi buruk saya dalam menonton film.

The 10 Best Performances of 2001:

  1. Tony Leung & Maggie Cheung (In the Mood for Love)
  2. Russell Crowe (A Beautiful Mind)
  3. Audrey Tatou (Amelie)
  4. Guy Pearce (Memento)
  5. Gene Hackman (The Royal Tenenbaums)
  6. Nicole Kidman (Moulin Rouge)
  7. Haley Joel Osment (A.I: Artificial Intelligence)
  8. Reene Zelwegger (Bridget Jones Diary)
  9. Thora Birch (Ghost World)
  10. Naomi Watts (Mulholland Dr.)
Advertisements

5 thoughts on “The Glorious of Decade: Awya Ngobrol’s Top Ten Films of 2001

  1. Eh…Pearl Harbor kan lucu banget, sampe dulu pas nonton bareng teman-teman kita jadi ribut sendiri….BERKOMENTAR!
    Apalagi pas adegan Ben Affleck bertatapan ma Josh Harnett, kita sampe sorak sorak : CIUM!CIUM!CIUM!

    Daftar ku belum jadi.Maklum hanya mengandalkan ingatan yang sudah lapuk ini 😛

  2. sehabis liat list2 nya mas Awya dan Om Gilasinema jadi pengen hunting DVD dan nntn semua filmnya nih.. banyak banget soalnya yang belom ditonton 😦 gara2 ngeliat list2nya jadi pengen banget hehe keep it coming! *sambil diem2 nyatet judul buat dicari hahaha*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s