The Glorious of Decade: Top Ten Films of 2000

Sebagai pembuka dekade, tahun 2000 termasuk tahun perfilman yang menggembirakan. Ada beberapa diantaranya yang menjadi inspirasi saya. Terdapat tiga film yang memiliki unsur musik dan dua film yang berhubungan dengan narkoba di daftar saya.

Tidak dipungkiri bahwa daftar sebuah top ten seperti ini terasa personal. Bagaimana mungkin kita memposisikan sebuah film di daftar kita yang meskipun dipuji orang tetapi di hati kecil benci luar biasa. Tidak usah mencak-mencak kalau film terbaik Anda tidak ada di daftar ini atau ada film yang Anda benci tapi berada di daftar ini. Jawabannya klise, setiap orang mengapresiasi film dalam titik  dan interpretasi yang berbeda. Posisi pertama saya boleh jadi biasa saja bagi Anda, tetapi bisa berarti berbeda bagi orang lain. Saya menyukai ketika melihat Roger Ebert menempatkan film A di posisi pertama, sementara Peter Travers menyukai film B, sedangkan Lisa Schwarbaum menyukai yang C, atau Manohla Dargis menyukai film D, sementara di lain hal Richard Corliss menyukai film E. Huah, indah sekali melihat para kritikus ini memiliki kesukaan yang berbeda. Indah rasanya (apaan coba).

Itulah mengapa kita mengenalnya sebagai kekuatan sebuah film. Film punya rasa yang berbeda di setiap hati penonton. Ibarat makanan, tidak semua orang bisa menikmati spaghetti, tidak semua orang bisa menyukai es cendol. Namun juga tidak menutup kemungkinan penggemar berat gado gado untuk juga menyukai pizza, bukan? Jika ketika menyantap makanan kita menggunakan lidah, maka ketika menonton film kita membutuhkan suara hati (suara dengarkanlah aku.. apa kabarnya… loh loh, kok jadi Hijau Daun gini?), maksudnya hatilah yang bicara meski logika juga ikut bermain, tapi ujung-ujungnya hatilah yang memutuskan kita suka atau tidak. Mungkin analogi ini terdengar melakonis karena menggunakan konsep hati. Hello, bahkan tanpa sadar kecintaan pada film bisa lebih melakolis dari bercinta dengan wanita, lho.

Film bukanlah sebuah undang-undang yang harus disamaratakan pada tingkat kebutuhan penonton. Kita tidak bisa memaksa orang menyukai film A yang kita kagumi kepada orang yang memang tidak menyukainya, begitupun sebaliknya, orang lain tidak bisa memaksakan film B yang tidak pernah saya sukai. Perlu dicatat, meskipun saya termasuk orang yang memerhatikan para kritikus, dan lumayan hafal film apa saja yang menjadi favorit mereka tiap tahunnya, namun ketika membuat list film ini, saya tidak lantas menempatkan pilihan kritikus dalam daftar saya seenak bulu biar sok dibilang hardcore. Sebaliknya, terkadang ada beberapa film yang dikritik oleh kritikus, namun malah memiliki tempat di hati saya. Sampai kapanpun, sampai saya jenggotan dan jalan pake tongkat karena sudah tua pun, saya tidak akan pernah memasukkan film yang tidak saya sukai ke dalam daftar saya meskipun kritikus memujinya luar biasa. Tidak perlu ikut-ikutan karena filmnya dipuji kritikus lantas kita berusaha untuk menyukai sebuah film. Sama saja dengan menyelingkuhi pacar, padahal pacar kita sudah setia bukan main. Serba salah kan. Ikuti saja kata hati. Cieh… cuit-cuit!

Sudahlah, cukup cap-ci-cus makin tak becus saya. Mari lihat film-film yang menjadi pilihan saya. Ini adalah “personal list”, yang punya kekhasan pribadi. Itulah mengapa bagi saya personal list begitu nikmat untuk disantap, karena kadang kita tidak bisa menerka film apa yang menjadi posisi pertama si penulis.

Silakan simak edisi The Glorious of Decade: Top 10 Films of 2000 also features The 10 Best Performances of 2000, The Worst Film, dan daftar Top Ten Films from the Critics. Enjoy the list!

Please Note: Demi keseragaman, tahun rilis film didasarkan atas tahun rilisnya di USA karena beberapa film memiliki tahun rilis berbeda di IMDB, berdasarkan rilisnya di festival atau di negara asalnya. Untuk beberapa film yang tidak dirilis di USA, mengikuti tahun rilisnya di negara yang bersangkutan.

10. High Fidelity (Stephen Frears)


Sebuah komedi romantis yang tampil dengan balutan unsur musik di sana-sini. Lengkap dengan Jack Black yang tampil kocak. Kesukaan saya tentunya ketika film ini berhasil menghadirkan bagaimana posisi tiga orang hardcore-music yang menghadapi naik-turunnya sebuah jalan percintaan. Komedi romantis yang nampaknya lebih punya kecocokan untuk laki-laki.

9. Traffic (Steven Soderbergh)


Di tahun yang sama ketika dua filmnya masuk nominasi Oscar dan dia meraih Best Director lewat film ini. Cukup beralasan. Mengingat Traffic dibuat dengan begitu serius dan detail serta memasang cast yang bermain begitu bagus.

8. Beau Travail (Claire Denis)


Film yang nampaknya lebih bisa diapresiasi dari aspek seni murni, dengan aspek menonton yang tidak hanya sekali. Film yang mengajak kita mengikuti cerita melalui bahasa gambar. Plot ceritanya sulit dimengerti. Menonton film ini seolah menonton film bisu dengan bahasa gambar yang indah. Sebuah karya yang sarat idealisme.

7. Erin Brockovich (Steven Soderbergh)

Penampilan memukau dihadirkan oleh seorang Julia Roberts yang menghantarkannya menyapu hampir semua penghargaan kategori Best Actress. Filmnya sendiri terbilang mempunyai plot konvensional, seolah melihat dokumentasi seorang aktivis yang dikemas sebagai sebuah film feature. Hanya saja Soderbergh mampu merangkul interaksi Julia Roberts dan Albert Finney  dengan begitu intens sehingga sepanjang film dibawa dalam kelucuan, ketegangan, dan emosi yang diciptakan mereka berdua.

6. O, Brother Where Art Thou? (Coen Brothers)


Boleh saja film ini dianggap publik sebagai salah satu film Coen Brothers yang bisa dikategorikan “lemah” mengingat runutan ceritanya yang terlihat tidak karuan. Namun dibalik itu, film ini tetap menampilkan keunikan Coen Brothers. Sulit menebak film apa yang akan Coen brothers berikan ke penggemarnya. Seperti film ini, black comedy dengan narasi yang unik serta penampilan aktor-aktornya yang mau tampil jelek, termasuk George Clooney dengan penampilan terbaiknya sampai saat ini. Mata anda akan dimanjakan dengan sinematografi yang begitu mumpuni dari Roger Deakins, hamparan padang yang hijau akan disulap menjadi warna coklat kekuningan yang membawa bau musim gugur. Selain itu jangan heran kalau Anda akan dibuat tertawa menonton film ini.

5. Billy Elliot (Stephen Daldry)


Apa cita-cita anda? Jangan tanyakan orang tua tentang cita-cita Anda, karena mereka bisa saja memiliki jawaban yang berseberangan dengan diri Anda. Begitulah film ini bertutur bagaimana seorang lelaki memilih untuk menjadi penari balet yang tentunya akan menjadi bahan omongan banyak orang. Pada intinya kita tersadar bahwa alangkah indahnya ketika kita mencintai setiap pekerjaan sesuai apa yang kita sukai daripada memiliki cita-cita yang kita pilih karena untuk menyenangkan orang tua semata. Ada banyak pelajaran mendasar yang dapat dipahami dari film ini. Film yang inspiratif dengan penampilan luarbiasa dari Jamie Bell.

4. Crouching Tiger, Hidden Dragon (Ang Lee)


Bagaimana publik mengenal nama Ang Lee dimulai dari begitu melimpah ruah pujian untuk film ini. Sampai dekade ini, bahkan ini merupakan satu-satunya film asing yang masuk nominasi Best Picture Oscar. Sinematografinya benar-benar memanjakan mata, adegan aksinya pun memukau luar biasa. Jalinan cerita film ini memang rumit, meski begitu tetap saja banyak yang menyukai film ini, terutama karena berbagai adegan beladirinya yang dikemas sangat menarik. Ini juga menjadi penampilan perdana seorang Zhang Zi Yi yang langsung mendapat perhatian, terutama dari pihak Hollywood.

3. Dancer in the Dark (Lars Von Trier)


Salah satu penampilan terbaik dekade ini berasal dari penyanyi Bjork yang tampil begitu luar biasa di film ini. Masih teringat jelas juga bagaimana sorak-sorainya fanboy film ini ketika nama Bjork bahkan tidak masuk nominasi Best Actress. Meski pada akhirnya gara-gara film ini juga Bjork mengumandangkan bahwa ini film terakhir yang akan dia mainkan, akibat trauma dengan “penyiksaan acting” dari Lars Von Trier demi menghidupkan karakter yang dimainkannya. Anda pasti sudah mengerti di posisi mana saya menempatkan film ini. Jangan tanyakan untuk apa Lars Von Trier membuat film ini. Jangan tanyakan juga apa moral dari film ini. Karena pada nantinya kita akan terjebak pada pertanyaan yang begitu rumit untuk dijawab. Nikmati saja. Karya seni yang harus dinikmati pada ranah seni. Sehingga tidak perlu sakit hati ketika Bjork tiba-tiba saja bernyanyi.

2. Almost Famous (Cameron Crowe)


Inilah film paling menginspirasi saya. Alasannya simple saja, cerita film ini punya garis besar yang hampir menyerupai hidup saya. Dari ibu yang super-protected, perjalanan menjadi jurnalis, kecintaan dengan musik, adalah contoh beberapa hal yang mirip dengan hidup saya. Bagi Cameron Crowe film ini memang terasa personal, mengingat ide cerita berasal dari pengalaman pribadinya semasih remaja sewaktu menjadi jurnalis di Rolling Stone, termasuk bagaimana dia kehilangan keperjakaannya. Salah satu film yang mampu menampilkan aspek psikologis para groupies dalam sisi yang tidak melulu streotip, tapi dalam area yang riil, menyadarkan bahwa groupies itu memang eksis, dan jangan heran bahwa banyak yang bersedia melakukan apapun demi idolanya. Film yang juga lucu, inspiratif, dan full of hearts.

1. Requiem for a Dream (Darren Aronofsky)


Saya punya istilah dalam menilai sebuah film, meski terasa sedikit berlebihan, tetapi ada beberapa film yang biasanya ketika selesai menontonnya akan mendapat standing applause dari saya. Percaya atau tidak, biasanya saya akan berdiri dan bertepuk tangan seorang diri di depan tv ketika credit title-nya berjalan. Dari ratusan film yang pernah saya tonton, baru ada tujuh film yang berhasil mendapat standing applause dari saya, yaitu, Pulp Fiction, The Shawsank Redemption, Magnolia, Schindler’s List, Trainspotting, Taxi Driver, dan terakhir adalah film ini. Biasanya film yang mendapat cap standing applause dari saya adalah film yang berhasil membuat saya luar biasa kagum, terutama ketika endingnya dikemas dengan begitu sempurna.

Film ini harus menapaki ranah, hate it or love it. Ada yang membenci film ini, ada juga yang mencintai film ini. Anda pasti tahu saya berada di posisi mana. Awalnya film ini mendapat rating NC-17 atau rating paling riskan bagi sebuah film karena hanya boleh ditonton orang yang benar-benar sudah dewasa, mengingat adegan telanjangnya yang frontal. Namun akhirnya dipangkas menjadi R-rated. Requiem for a Dream bukanlah film yang bisa dinikmati sebagai sebuah hiburan, melainkan tipikal film yang membuat otak gusar, destruktif, atau singkatnya depressing. Visual film ini benar-benar mengagumkan. Darren Aronofsky lebih banyak menggunakan media visual untuk menceritakan jalannya kehidupan tokoh-tokoh utama film ini. Dari cerita ibu kesepian yang tiba-tiba saja menjadi diet addict, yang dimainkan dengan luar biasa oleh Ellen Burstyn. Dengan mengejutkan, Jared Leto (yang rela menguruskan badannya untuk peran ini) dan Jennifer Connelly yang berperan sebagai pasangan muda yang terjebak dalam kecanduan obat-obatan, berhasil menghadirkan penampilan yang juga tak kalah bagusnya. Di samping itu, score film yang digarap oleh Clint Mansell memang sangat pas, misterius, dan berhasil membuat suasana film ini semakin mencekam. Inilah score yang sampai sekarang laris dijadikan musik pengiring trailer-trailer film.

Memang tidak enak menikmati film seperti ini ketika ada wilayah seni yang dijamah. Tapi percaya deh, Anda tidak akan melupakan pengalaman menyimak film seperti ini. Masterpice!


Honorable Mentions (in alphabetical order):


Battle Royale: Bagi penyuka adegan kekerasan, film ini wajib menjadi daftar tonton. Kinji Fukasaku membuat film ini terlihat teramat sadis yang terkadang membuat tubuh meringis.

Chicken Run: Animasi stop-motion ini mungkin tidak menggemparkan dunia karena sebelumnya Nightmare Before Christmas lebih dulu mengenalkan genre ini ke publik. Namun, jalinan cerita animasi yang menarik ini terasa segar dan lucu bagi saya.

Chocolat: Fairytale tentang penjual cokelat yang nomaden ini sebenarnya dicaci-maki oleh kritikus karena gagal menerjemahkan novel masterpiece-nya yang memenangkan Pulitzer Prize. Hanya saja meski terkesan flat, film ini tetap mengumbar rasa manis di senyum saya.

Ada beberapa film juga yang mendapat sambutan baik. The House of Mirth yang menampilkan acting brilian Gillian Anderson, namun filmnya sendiri kurang bisa nempel di hati saya. Cast Away yang menampilkan salah satu akting terbaik dekade ini dari seorang Tom Hanks, namun sayang filmnya terasa boring dan tidak menarik bagi saya. Dan tentunya Gladiator, kutukan Oscar membuat film ini dibenci ribuan orang. Meski cukup beralasan mengapa film ini bisa menang. Tetap saja dianggap sebagai salah satu film pemenang Oscar terburuk.

FILM YANG PANTAS DILEMPAR BATAKO (the worst film):

BATTLEFIELD EARTH

Masih teringat dengan jelas dalam ingatan semasih SMP dulu menonton film ini gara-gara lihat previewnya di jamannya “Cinema Cinema” waktu itu kalau tidak salah. Dengan perasaan gondok karena tidak mengerti jalan ceritanya yang kesana kemari serta John Travolta yang aktingnya kacangan sekali. Mimpi buruk menonton film ini.

10 Best Performances of 2000:

Penampilan yang paling membuat saya terkagum adalah penampilan dari Ellen Burstyn sebagai seorang ibu yang tiba-tiba saja menjadi seorang diet addict. Disusul oleh penampilan dari penyanyi Bjork yang secara mengejutkan mampu membuktikan bahwa dia mampu akting. Tom Hanks tampil diurutan ketiga, salah satu penampilan terbaiknya menurut saya. Ini dia urutannya:

  1. Ellen Burstyn (Requiem of a Dream)
  2. Bjork (Dancer in the Dark)
  3. Tom Hanks (Cast Away)
  4. Zang Zi Yi (Crouching Tiger Hidden Dragon)
  5. Benicio Del Toro ( Traffic)
  6. Jamie Bell (Billy Elliot)
  7. Julia Roberts (Erin Brokovich)
  8. Jennifer Connelly (Requiem for a Dream)
  9. Kate Hudson (Almost Famous)
  10. George Clooney (O Brother, Where Art Thou?)

What the Critics picked?

Ini dia beberapa  top ten dari para kritikus di tahun 2000:

Roger Ebert (Chicago Sun-Times)

  1. Almost Famous
  2. Wonder Boys
  3. You Can Count on Me
  4. Traffic
  5. George Washington
  6. The Cell
  7. High Fidelity
  8. Pollock
  9. Crouching Tiger, Hidden Dragon
  10. Requiem of a Dream

Owen Gleiberman (Entertainment Weekly)

  1. Chuck and Buck
  2. Requiem for a Dream
  3. Traffic
  4. Almost Famous
  5. Before Night Falls
  6. The Filth and the Fury
  7. What Lies Beneath
  8. Bamboozled
  9. Croupier
  10. Thirteen Days

Lisa Schwarabaum (Entertainment Weekly)

  1. Dancer in the Dark
  2. The House of Mirth
  3. Chrouching Tiger, Hidden Dragon
  4. Yi Yi
  5. Gladiator
  6. Nurse Betty
  7. You Can Count on Me
  8. Wonder Boys
  9. The Wind Will Carry Us
  10. Chicken Run

Peter Travers (Rolling Stone)

  1. (tie) Almost Famous & Crouching Tiger, Hidden Dragon
  2. Gladiator
  3. Traffic
  4. Billy Elliot
  5. Croupier
  6. You Can Count on Me
  7. The House of Mirth
  8. State and Mind
  9. Best in Show
  10. Requiem for a Dream

A.O Scott (New York Times)

  1. Yi Yi
  2. Traffic
  3. Chicken Run
  4. Before Night Falls
  5. Beautiful People
  6. Meet the Parents
  7. Time Code
  8. Chuck and Buck
  9. You Can Count on Me
  10. Jesus’s Son

Nah itu tadi daftar sepuluh film tahun 2000 saya. What’s yours?

Advertisements

3 thoughts on “The Glorious of Decade: Top Ten Films of 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s