Quick Review: Precious: Based on the Novel Push by Sapphire

(**½)


Tiap tahunnya, pasti ada beberapa film yang dipuji kritikus dan publik namun tidak menyisakan kesan yang sama di hati saya. Precious: Based on the Novel Push by Sapphire, termasuk ke dalam kategori ini: overrated. Baiklah, saya mungkin ada dalam kelompok minoritas di sini, sama sekali tidak merasakan film ini terlihat spesial. Selain dari segi seni peran, film ini tidak mampu menampar nadi-nadi sinematik saya. Terkesan datar. Menonton film ini, saya merasakan suasana yang sama ketika menonton Crash, semua kejadian terkesan disusun dan terprogram. Seorang gadis 16 tahun hamil untuk yang kedua kalinya. Dihamili oleh bapaknya sendiri. Ibunya membencinya karena cemburu dengan anaknya, lalu melampiaskan dendam dengan memukulinya setiap hari, menganiayanya, maka dihadapkanlah kita pada rasa kasihan yang mendalam pada sosok Clareece “Precious” Jones. Agar semakin dramatis diceritakanlah dia dikeluarkan dari sekolah, mengikuti sekolah terbuka, lalu ditolong oleh gurunya yang cantik dan hadir bak malaikat. Untuk semakin menambah dramatisasi dan agar terkesan ironik, ternyata, gurunya sendiri adalah seorang lesbian.

Sebenarnya film ini mempunyai ide emas yang mampu merangkul isu riskan antara seksualitas, penganiayaan, eksploitasi, dan isu homoseksualitas. Namun, semua elemen itu terkesan hanya sebagai tempelan saja. Lalu siapa yang disalahkan jika bukunya yang kontroversial saja menceritakannya seperti itu? Jawabannya adalah Lee Daniels. Dia kurang berhasil membuat film ini mengalir seadanya, terlihat terprogam yang bagi kebanyakan orang mungkin akan mampu meninggalkan kejutan yang menyentuh, tapi terasa biasa saja bagi saya. Dibalik ide ceritanya yang begitu inspiratif, gaya penyutradaraan seorang Lee Daniels membuat film ini terlihat konvensional, tidak spesial, dan jatuhnya terkesan terlalu ambisius. Kredit tentu hanya tertinggal untuk cast film ini yang tampil luar biasa.

Oscar Thoughts: Yup, mari tinggalkan personal feeling, secara objektif, film ini akan tetap melenggang di kancah Oscar nanti, saya yakin. Gabby Sidibe dan Monique jelas akan masuk nominasi. Filmnya jelas masuk nominasi Best Picture meski saya tidak yakin akan menang. Sementara Lee Daniels entahlah kalau dia masuk nominasi Best Director, akan menjadi sebuah kejutan kalau dia menang dengan gaya penyutradaarannya yang biasa saja seperti ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s