Oscar in History: The Controversial Night, Politics, and the “Blah blah blah”

The Controversial Night and the political inside

crash

Banyak yang mengatakan kalau pihak AMPAS sudah mulai terbuka dalam dekade ini. Terlihat dari beragamnya film yang menang dan diakui melalui nominasi. Diantaranya adalah adanya sebutan The Black Oscar tahun 2001 yang lalu dengan dikawinkannya Halle Berry dan Danzel Washington sebagai pemenang kategori utama yang berhembus menjadi propaganda Oscar dalam isu rasisme. Kemudian disebutnya tahun 2005 sebagai The Gay Oscar karena diakuinya Brokeback Mountain sebagai nominasi Best Picture dan menjadi kontroversi hangat di media, ditambah lagi dengan nominasi di kategori Actors-nya yang didominasi karakter gay. Sebut saja Philip Seymour Hoffman (Capote), Felicity Hoffman (Transamerica), Heath Ledger (Brokeback Mountain), dan Jake Gyllenhall (Brokeback Mountain). Meski hanya Hoffman yang akhirnya menang. Tahun 2005 juga menjadi puncak malam Oscar yang paling kontroversial karena ketika para precursor serempak menasbihkan Brokeback Mountain sebagai film terbaik, AMPAS memilih Crash sang kuda hitam sebagai pemenang.

Masih ingat bagaimana tanpa ekspresinya Jack Nicholson sewaktu membacakan Crash yang menjadi pemenang? Nampak sekali dia pun sebagai pihak yang ikut memilih terkejut luar biasa dengan hasil yang ada. Semakin lengkap akhirnya ketika pihak-pihak yang dianggap sebagai anggota juri “konservatif” yang biasanya “berumur” mengakui bahwa mereka bahkan tidak sudi menonton film Brokeback Mountain karena temanya yang sulit diterima itu. Padahal pihak Academy sudah mewanti-wanti bahwa juri oscar harus menonton setiap film yang menjadi entry. Inilah titik dimana Oscar akhirnya dikritisi habis-habisan, karena tidak bisanya menghimpun semua pemilihnya untuk menonton semua film yang masuk kualifikasi. Tidak hanya sebatas itu, kemenangan Crash yang mendapat hujatan, juga menarik berbagai pers untuk saling menuding mau ke arah mana Oscar berperan. Tahun 2005 merupakan tahun paling politis dari Oscar karena ada dua isu sentral yang digusung, isu gay dan rasisme. Keputusan AMPAS untuk memilih Crash juga dianggap sebagai proyek “aman” mereka karena memenangkan film seperti Brokeback Mountain akan mengundang berbagai pandangan berbeda termasuk bagaimana nantinya penerimaan kaum “gay” seutuhnya. Crash lebih dipilih juga mengingat isu rasisme tidak kalah gesitnya menjamur di Amerika. Mereka harus memilih antara isu gay atau rasisme, dua isu yang mengkutub dan memiliki debat yang begitu panjang. Maka terpilihlah rasime yang bisa menjadi isu paling aman ketimbang memilih isu yang diangkat dalam film Ang Lee. Ini pun tidak semata-mata tanpa sejarah yang panjang. Ini dimulai dengan bagaimana tidak beraninya Oscar mengakui “Do The Right Thing” dua dekade silam, bahkan masuk nominasi sekalipuin tidak, yang akhirnya membuat Kim Basinger geram sampai-sampai menyinggunggya terang-terangan di depan para audiens di malam Oscar dengan mengatakan bahwa AMPAS belum bisa menerima film yang menampilkan “kebenaran” dalam isu rasisme yang dipamerkan film penting “Do The Right Thing”. Crash adalah pilihan yang tepat pada waktu yang tepat juga. Isu gay belum bisa diterima seutuhnya, bahkan ketika film sebesar Brokeback Mountain sekalipun, pihak AMPAS sulit mengetuk palunya. Masih butuh mungkin satu dekade lagi ketika isu sensitif seperti gay bisa diterima.

Tinggalkan tahun 2006, mari menyimak yang terjadi di tahun kemarin, ketika Slumdog Millionaire menang. Ini juga menjadi bukti bagaimana sudah terbukanya AMPAS, sebuah film yang tidak dibuat oleh sutradara Amerika, dengan pemain yang tidak satupun berkulit putih, dan setting film yang sama sekali tidak menceritakan budaya Amerika akhirnya ditasbihkan sebagai Best Picture. Apakah ini ada unsur politisnya di luar kualitas filmnya yang memang bagus? Entahlah. Hanya saja jika melihat bagaimana precursor mengakui film ini serempak sebagai film terbaik, contohnya BAFTA dan Golden Globes dan festival film-film lainnya, akankah timbul kontroversi jika Oscar memilih Frost/Nixon sebagai pemenang? Pasti. Akan banyak yang mencibir bagaimana ketidakterbukaannya pihak Oscar jika saja Slumdog Millionaire tidak menang dan akan timbul anggapan bagaimana apatisnya Amerika terhadap isu kemiskinan di Asia.

The “Blah blah blah”

chocolat

Pada akhirnya Academy Awards bukanlah hanya sesederhana konsep “film bagus adalah film bagus adalah film bagus adalah film bagus”. Tetapi lebih kompleks dari itu. Ada politik yang sampai kapanpun tidak bisa dipangkas dari situ. Itulah mengapa terkadang film yang biasa saja bisa diterima, namun sebaliknya film yang luar biasa luput dari nominasi. Academy Awards tak ubahnya pemerintahan yang membutuhkan antek-anteknya sebagai pelengkap. Selayaknya pemerintahan, dibutuhkan kekuasaan, nama besar, kampanye, lobi-lobi, dan entah apalagi. Karena itulah maka dikenal berbagai pakem umum ketika Oscar season dimulai. “Hey, itu filmnya Clint Eastwood pasti masuk Oscar” “Hey, itu filmnya Steven Spielberg pasti dilirik Oscar” Atau contoh lainnya yang disebut kampanye. Ketika Oprah mengampanyekan Crash, berbuah manis. Bagaimana dengan Precious yang juga akan mendapat sorotan karena Oprah ada dibelakanggnya juga? Bisa ditebak.

Selain itu dikenallah Harvey Weinstein dengan strategi kampanyenya yang jitu, bahkan banyak menganggapnya licik. Dialah yang berhasil mebuat Shakepeare in Love mengalahkan Saving Private Ryan. Dialah yang berhasil mengantarkan Chocolat meraih nominasi Best Picture padahal review filmnya buruk. Dan yang paling gres, dialah yang berhasil mengantarkan The Reader merangsek sebagai nominasi Best Picture dan membuat orang-orang menghujat si Harvey Weinsten ini. Namanya kampanye sah-sah saja. Toh pada akhirnya setiap orang punya caranya sendiri-sendiri. Yang banyak usaha yang akan membuahkan hasil. Pihak yang tidak berhasil, perlu banyak berkaca pada Harvey Weinstein. Maka untuk tahun ini berhati-hatilah wahai engkau para film-film lainnya. Karena The Weinstein Company akan mengampanyekan filmnya habis-habisan. Siap-siaplah untuk gempuran Nine, Inglourious Basterds, A Single Man, dan The Road yang semuanya akan ditangani Harvey Weinstein. Heads up, guys!

Advertisements

2 thoughts on “Oscar in History: The Controversial Night, Politics, and the “Blah blah blah”

  1. Sudah salut banget ma Weinstein sejak memegang Miramax. Nih orang agresif banget. Dan untuk Oscar sendiri, kadang memang terlalu banyak agenda dibalik pemilihan sebuah film. Entah kalau festival film lain semacam Cannes dan Berlin, yang pemenangnya sangat sulit ditebak. Mungkin tergantung sama cara penjuriannya juga ya. Festival-festival film semacam Cannes atau Berlin, penilaian film diserahkan pada segelintir orang. Bandingkan dengan Oscar yang diambil dari voting ribuan orang.

  2. gua juga kaget crash menang
    padahal biasa aja degh gaya2 love actually
    dibanding brocback iaaaaaaaaa sangad anegh kayaknya kalo menang
    hahhahahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s