Review: Merah Putih

(**)

Bambu Runcing Rasa Rambo

Dimana semangat bambu runcingnya ya?

merah-putihni

Mungkin sudah ada yang tahu kalau film ini adalah film Indonesia yang paling saya tunggu-tunggu ketika mendengar beritanya akan dirilis bulan Agustus lalu. Langsung niat nonton di hari pertama pemutarannya, karena tumben di bioskop Bali serentak juga dengan bioskop di Jakarta. Setelah menontonnya, seolah-olah tembok harapan yang saya bangun dengan susah payah tentang perfilman Indonesia lewat batu bata yang coba saya bangun tanpa nada skeptisme, hancur dan runtuh seketika setelah menonton film ini. Big disappointment. Bahasanya sedikit berlebihan memang, tapi apa daya saya kecewa berat dengan film ini. Niat mereview filmnya saja ogah, karena kekecewaan yang begitu mengempur sampai-sampai hati ini menolak kalau melihat barisan huruf-huruf di laptop saya (lebay lagi nih). Akhirnya dua bulan setelah menonton film ini, saya coba untuk menulis juga.

Apa yang membuat saya kecewa dengan film ini? Jawabannya sederhana saja, tidak ada sedikitpun jiwa Indonesia yang digusung. Semangat bambu runcing yang digusung seolah dipoles oleh euforia Rambo yang menggebu-gebu. Dar der dor di sana sini, bam bim bum di setiap sudut, senjata api begitu familiar di mata prajurit negeri ini, dan bom adalah makanan setiap hari. Ceritanya pun berlarian kesana kemari, mau bercerita ke satu karakter, fokus, eh ngambek ke karakter yang lain, sudah fokus ke satu karakter, ngibrit lagi ke karakter lain. Esensi persaudaraan yang digusung kurang mengena, filosofi “berbeda-beda tapi satu jua” hanyalah tempelan semata yang tidak punya gambaran konkrit tentang makna intinya. Hanya karena menyatukan prajurit-prajurit dari Nusantara dan membuat konflik naik-turun di dalamnya, bisa kita lihat itu sebagai interpretasi layaknya “Bhineka Tunggal Ika”? Maksudnya sih begitu, tapi eksekusinya sayangnya masih gagal. Ditambah skripnya yang berasa Hollywood sekali, semakin membuat saya tidak nyaman menonton film ini. Argh! Jadi gerah. Apalagi adegan dansa yang ada di film tersebut, langsung membuat saya mengernyit, benarkah prajurit kita begitu menggenal budaya berdansa? Faktor skrip yang dibuat oleh orang luar juga kentara sekali, seperti adegan ketika tokoh yang diperankan Darius datang menjemput tokoh yang diperankan Lukman Sardi dan tokoh istrinya. Karakter Darius berkata, “Apakah kamu merindukanku?” (Did you miss me?) membuat saya tersenyum simpul. Bukankah itu prokem orang barat yang begitu kental dan terasa hambar ketika diaplikasikan di budaya kita?

Pada akhirnya saya lebih tertarik menganalisa terjemahan dialog-dialog dari film ini yang terkadang lebih menarik dari filmnya. Seperti terjemahan “Priyayi” menjadi “City Boy” dan sebagainya yang membuat saya mengingat tugas-tugas di kampus. Hahaha.

Karena referensi film perang saya terbilang lumayan, ada satu adegan di film ini yang jelas mengingatkan dengan adegan di Platoon. Contohnya adegan di pemukiman penduduk itu. Kalau boleh jujur, seperti yang sudah-sudah, teknologi boleh yahud, tapi musti diingat juga, teknologi di dunia ini tidak akan ada gunanya jika hasilnya tidak berguna bagi manusia. Begitupun di film, seharusnya ceritalah yang membungkusnya, bukan teknologi yang begitu melimpah yang menjadi bahan utama. Tanpa cerita film tidak ada apa-apanya. Tanpa sejarah teknologi tidak ada maknanya. Itu mungkin yang harus dicermati perfilman Indonesia, jangan minder karena teknologi kurang maju, tapi minder karena referensi cerita yang kurang digali. Film “kecil” jadi “wah” karena cerita, film “wah” pun bisa jadi “kecil” karena cerita juga. Begitulah hukum “cerita” bekerja.

Advertisements

2 thoughts on “Review: Merah Putih

  1. aku belum nonton..dan kenapa kalo ada film indonesia baru harus pikir-pikir dan pikir dulu buat nonton…coba kalo gag diajakin temen gag bakal nonton deh….yg gue sangat prihatin skrg knapa gag ada film indo yg poster cihuiiiii…trakhir yg keren tuh gue taunya poster pintu terlarang sblumnya yg paling ikonik bgt aadc..huahhh

    abou mERAH PUTIH …. ya pertama agak terkesima ama promosinya yg menggebu gebu kalo ni film ada campur tangan pihak asingg….ya kiraen pastilah keren….ya aku gag tau sih coz belon nonton hehhehehe
    tapi posternya jelek jd agak mikr pertamanya nonton wkwkkwkwkkk

  2. wah, kalau saya sih nggak pernah nonton berdasarkan poster, karena kebanyakan poster nggak mencerminkan filmnya. hehehe. tapi emang bener, poster Pintu Terlarang memang the best untuk ukuran Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s