Review: The Hurt Locker

(****)

“The rush of battle is a potent and often lethal addiction,

for war is a drug”

(Chris Hedges)

hurt-locker-boom1

GREAT! Inilah kata yang keluar setelah menonton film ini. Dimulai dengan quote yang begitu meyakinkan. War is drug. Sebuah film yang mampu membakar rasa mengerikan berada di sebuah negeri yang penuh dengan bom dimana-mana. Film ini benar-benar mampu menampilkan apa yang dimaksud dengan sebuah dunia yang teramat berbahaya untuk dihuni, yaitu perang. Saya percaya dimanapun juga, entah itu benar atau salah, perang bukanlah sebuah solusi yang mampu membuat kita bangga. Film ini mampu memotret bagaimana kondisi psikologis anggota penjinak bom di tengah perang Irak yang maut setiap saat bisa saja datang. Semakin dramatis dengan sebuah narasi gambar yang kontras ketika prajurit Amerika bertempur dengan suasana penjinakan bom yang menguras ketegangan mereka setiap saat, warga Irak hanya bisa menonton aksi mereka semua lewat jendela seperti sebuah tontonan yang berbumbu efek nyata (bom). Selain itu film ini juga seolah menyentil “kebodohan” kebijakan Bush yang mengirim prajuritnya ke Irak untuk sesuatu yang orang awam bisa simpulkan adalah hal yang tak ada gunanya. Seolah mengirim anak sendiri untuk mati sia-sia. Film yang begitu menggugah hati. Film perang Irak terbaik sejak Three Kings tahun 1999 silam. Bahkan bagi saya ini adalah Platoon dekade ini.

The Hurt Locker

Katryn Bigelow, yang merupakan mantan istri James Cameron, mampu bercerita dengan begitu apik, bahkan menggambarkan karakternya dengan begitu instens, nyata, dan emosional. Dia tidak mau bernarasi lewat peperangan yang dashyat, yang berserakan bom-bom dengan suara gegap gempita, dan senjata yang berdesing sepanjang film. Dia menampilkan film ini seolah mengajak kita berada di Irak. Menyimak bagaimana kehidupan ketiga tokoh utama yang di tengah daerah konflik masih bisa bersenda gurau dan tertawa bersama. Katryn mampu menampilkan drama yang sebagian besar dianaktirikan oleh film berlatar perang. Dengan sinematografi yang khas, pergerakan gambar yang seolah dokumenter, membuat film tampil lebih hidup tanpa harus merusak suasana menonton. Sinematografi film ini patut diacungi jempol, lihat bagaimana suasana perang di gurun dalam salah satu adegan, mengerikan namun tetap berkesan artistik.

Ketiga tokoh utama film ini tampil dengan begitu mempesona. Brillian. Terutama Jeremy Renner yang tampil dengan begitu meyakinkan sebagai William James dengan karakternya yang cenderung pemberontak, dia memberontak aturan yang ada dengan memakai caranya sendiri dalam menjinakkan bom. Karakter James ditangan Jeremy Renner muncul sebagai sosok pahlawan, dialah penjinak bom paling handal, tetapi mempunyai sisi misterius yang membuat kita penasaran dengannya. Jeremy Renner membuat kita bersimpati dengan kehidupan James yang dialaminya. Lihat saja bagaimana dia memilih bahwa dia lebih mencintai pekerjaan sebagai penjinak bom daripada keluarganya sendiri. Ending film ini menggugah, membuat kita bersimpati, sekaligus miris. Sebuah keputusan yang membuat kita belajar untuk berpikir tentang arti kehidupan, apa yang kita cintai, apa yang lebih kita pilih, yang sayangnya akan tetap nampak usang untuk dibahas, tapi tetap memiliki jawaban yang begitu panjang jika dibahas. Overall, inilah film terbaik yang saya tonton sejauh perjalanan 2009 ini.

Will it scores Oscar?

jeremy rennerRoger Ebert dalam reviewnya menyatakan bahwa Jeremy Renner akan berada di barisan utama nominasi aktor terbaik tahun depan, termasuk film ini yang nampaknya dengan slot nominasi oscar yang menjadi 10 akan terasa kriminal jika film ini tidak masuk nominasi. Saya setuju. Bahkan film ini pantas masuk untuk kategori berikut ini, Best Picture, Best Actor, 2 nominasi untuk Best Supporting Actor, Best Cinematography, Best Editing, Best Sound Editing.

Awardsdaily sudah dari bulan Juni lalu mengkampanyekan film ini dalam tracker oscarnya untuk menjadi frontrunner di Oscar tahun depan. Film ini juga sejauh ini menjadi film dengan nilai tertinggi di Metacritic dengan score 94 dengan 17 nilai 100 alias perfect score. Sebagai informasi untuk nilai seratus dikonversi dari skor para kritikus yang memberikan skor untuk film ini. Seperti Roger Ebert dengan skor 4 bintangnya, A untuk kritikus yang menggunakan sistem abjad, atau 5 bintang untuk yang memakai sitem 5 bintang. Selain itu di RottenTomatoes film ini mendapat 98% fresh. Nah meskipun mendapat pujian fantastis, tapi bisakah film ini diakui oleh Oscar mengingat jarak edarnya yang jauh dari Oscar season? Semoga saja tidak senasib dengan United 93 yang dipuji kritikus tapi gagal meraih simpati Oscar. Selain itu film berlatar perang Irak memang cukup dibenci oleh warga Amerika belakangan ini. Lihat saja bagaimana Body of Lies yang gagal, padahal digawangi oleh bintang yang terkenal serta cerita yang tidak jelek-jelek amat. Semoga saja The Hurt Locker bisa banyak bicara. Terutama dengan nama Katryn Bigelow sebagai sutradara  wanita yang mampu menggempur kedigdayaan sutradara pria, termasuk suaminya sendiri. Kita lihat perkembangannya nanti.

Advertisements

4 thoughts on “Review: The Hurt Locker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s