He’s Just Not That Into You

(***)

Sad ending is a good thing

he's

Film yang jelas sekali mengingatkan dengan Love Actually ini menampilkan berbagai cerita antara dunia lawan jenis yang tentulah berkiblat pada cinta dan segala intriknya. Ada si cantik Drew Barrymore yang sedikit keliatan, si seksi Scarlet Johansen yang aktingnya seperti biasa gitu-gitu mulu, ada Bradley Cooper (saya baru tahu ini toh actor yg jd kandidat pemeran Green Latern), ada Jennifer Conelly, ada Ben Affleck, ada Jennifer Aniston, dan lainnya yang tidak saya begitu kenal.

Meski sebagian cerita yang ada terdengar klise sekali, ada yang jatuh cinta setelah bertemu padahal mereka sering berbincang lewat telepon karena masalah bisnis. Ada yang jatuh cinta karena pendapat-pendapatnya tentang masalah gender dalam persepsi tentang cinta. Ada yang ngebet ingin menikah karena menganggap pernikahan itu bentuk keseriusan. Dan ada pula yang menyadari bahwa pernikahan bukan jaminan bahwa percintaan bisa langgeng. Hanya cerita terakhir yang membuat saya memberi kredit untuk film ini. Mungkin karena cerita yang terakhir ini yang membuat film ini lebih terasa berat dan punya makna. Jadi, seorang lelaki, Ben (Bradley Cooper) selingkuh dengan Anna (Scarlet Johansen), padahal di awal dia sudah berulang kali berkata kalau dia mencintai istrinya Janine (Jennifer Conelly). Namun, pada akhirnya dia mengaku pada istrinya kalau dia sempat tidur dengan wanita lain. Di luar dugaan istrinya tidak sampai marah besar, malah si istri mencari solusi dengan datang ke kantor suaminya dan melakukan hubungan intim, yang parahnya si WIL juga disembunyikan di kantornya. Nyatanya kebohonganlah yang menjadi penentu kehidupan mereka yang tidak bisa dipertahankan lagi.

Mungkin sad ending dari satu cerita ini yang membuat saya memberi apresiasi pada film ini, karena cerita lainnya sudah barang tentu mudah ketebak dan hasilnya pasti membahagiakan. Tipikal romkom kan memang begitu.

Kalau dibandingkan dengan Love Actually yang cara bertuturnya lebih dalam, film ini cukup dangkal dan seolah mempermudah jalinan cerita mereka. Tapi sekali lagi ada cerita yang tidak melulu sempurna yang lebih membuat kita mengenali realita. Kadang tanpa kita sadari hal yang sad ending adalah inspirasi yang mahal harganya. Inspirasi yang membuat hal-hal yang menyentuh aspek cinta tidak sesempurna yang kita kira. Namun, dari hal yang tidak sempurna kita belajar untuk menjadikannya lebih baik dan tidak terperosok pada kesalahan yang sama. Nuff said.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s