Duplicity

(***)

Wow, it’s smart, smart and smart!

duplicity

Sejak awal saya sudah penasaran dengan film ini karena setelah filmnya dirilis, skenario film ini sempat mendapat gema Oscar. Katanya skenario film ini bisa saja merangsek di kategori skenario asli terbaik. Tapi nampaknya gemanya sudah berkurang. Nah, akhirnya saya menonton film ini juga. Surprisingly, I loved it!

Di awal cerita saya agak berpikir keras karena rumitnya cerita yang ditampilkan. Tapi setelah cerita mulai dengan gaya flashback-nya film ini mulai menggigit. Intinya film ini menampilkan sisi kepercayaan antara dua manusia berjenis kelamin berbeda yang dihadapkan pada prasangka yang muncul akibat pertemuan mereka yang diawali karena satu dari mereka melakukan kecurangan yang mengakibatkan mereka berdua harus saling curiga mencurigai padahal mereka jatuh cinta satu sama lain. Semakin pas juga karena pada satu kondisi mereka bekerja pada dua perusahaan yang saling bersaing.

Smart!

Dialog-dialog yang ditampilkan memang kesannya cerdas, gaya bertuturnya  dan cara editing film ini yang menurut saya unik membuat saya semakin kagum akan film ini. Berbagai kejutan yang muncul membuat saya makin tegang nontonnya.

Oh, no, I was cheated!

Setelah bisa berlega hati karena kedua tokoh menemukan happy ending (saya kira di sini saja endingnya) dan duduk untuk negosiasi yang akan mendapat uang sebesar 35 juta dolar, eh belum sampai di situ juga ternyata. Ada ending yang lebih mengejutkan yang membuat saya merasa tertipu sekali. Oh begitu toh ternyata. Hahahaha! Cerdas banget nih film. Meski mungkin bisa saja bagi sebagian orang ending film ini menghancurkan cerita yang sudah disusun dengan cerdas di awal film. Tapi bagi saya, sejauh kita belum tahu siapa menipu siapa, ending film ini memang patut diacungi jempol!

Robert & Owen have their own chemistry, again!

Wah, si dua bintang utama film ini tampil cemerlang. Meski Clive Owen kurang menggigit, Julia Robert yang paling tampil dengan emosi naik-turun yang pas. Antara cinta dan profesi yang membuat kita bertanya-tanya nih orang bener-bener sedih atau mengelabui kita? Klop deh. Entah mengapa saya suka kalau mereka dipasangkan. Mungkin karena saya cukup kagum ketika mereka dipasangkan di Closer yang chemistry-nya kuat sekali.

Final Thought

Film yang ceritanya sederhana namun dibuat sangat rumit. Itu mungkin letak keunikan film ini. Saya lebih suka film Tony Gilroy ini ketimbang Michael Clayton yang bagi saya berjalan terlalu lamban, meski endingnya cukup membuat saya terpukau. Film ini sih bukan film yang bergelar masterpiece, tapi layak sebagai appetizer yang menggigit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s