Garuda Di Dadaku


(**½)

garuda-di-dadaku

Kemarin akhirnya berhasil nonton film ini meski telat banget. Tapi tidak apa-apa asalkan bisa menonton film ini. Well, film ini boleh dibilang bagus lah meski saya terlampau punya ekspektasi  yang terlalu berlebihan denggan film ini. Mungkin juga karena saya mendengar berbagai macam pujian yang mengatakan film ini bagus jadi langsung deh ekspektasi saya melambung nyampe langit. Entah mengapa saya tidak begitu merasa “wow” dengan film ini. Lagi-lagi entah mengapa.

Bayu kok egois?

Well, penggambaran karakter untuk tokoh utama film ini sedikit membuat saya kecewa. Mengapa Bayu harus digambarkan sebagai orang yang egois? Kenapa dia harus digambarkan sebagai orang yang malah marah pada temannya padahal itu juga bukan salah temannya? Okelah, ide untuk mengikuti kompetisi itu memang dari temannya, lalu apakah semua masalah langsung jadi tanggung jawab temannya ketika kakeknya mengetahui semua kebohongannya dan jadi sakit? Tidak kan. Mungkin ingin mengambil sisi lain dari karakter Bayu. Tapi bagi saya itu malah mengerdilkan semangat Bayu yang sudah dibangun dari awal film. Kesannya kebohongan yang dia buat bukan salahnya, tapi salah temannya. Ini yang membuat saya kurang simpatik dengan karakter Bayu.

Yang bagi saya mencuri perhatian adalah si pemeran Heri yang aktingnya sangat meyakinkan. Saya jadi cukup terkesima ternyata jajaran cast anak-anaknya memang jempolan semua. Dari Emir Mahira, Aldo Tansani, dan pemeran Zahra bermain optimal. Ikranegara? Hm… jempolan. Saya sampai tidak mau punya kakek seperti dia. Hahaha.

Music score-nya bagus!

Saya termasuk orang yang suka memperhatikan hal-hal teknis dan pelengkap film, jadi ketika mendengar score film ini yang menarik langsung membuat saya tersenyum. Bagus juga nih musiknya. Penggunaan music score pada saat latihan di kuburan itu klop. Jadi enak mandang dan dengernya.

Iklan?

Kenapa harus ada adegan pake samphoo Lifebuoy lagi sih? Bukannya di depan udah dibilang kalau itu persembahan dari sponsor tersebut. Belum cukup? Well, jadi inget film Love deh yang berjubel iklan.

Overall

Meski saya kurang “wow” tapi secara objektif film ini sayang dilewatkan. Terlebih tema yang diambil terasa segar diantara benturan film lain yang tidak jelas temanya. Setidaknya film ini bisa bikin kita cinta Indonesia. Sangat disarankan untuk menonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s