Converting Rating System from 5-star to 4-star


“The star ratings are relative, not absolute.”

(Roger Ebert)

stars1Sebelum menulis postingan ini, saya berdebat dengan diri saya sendiri. Do I really care about rating system? Am I a critic? Am I a pro? No, not at all. I’m not a pro, not a critic either. But, in time I wanna be like them, literally. Well, entah mengapa saya cukup pusing ketika harus memutuskan mengganti sistem rating saya. Sampai saya berpikir, does it matters? Or even make sense because I’m not even a critic! Tapi akhirnya saya tetap rewel, rasanya saya harus mengganti sistem rating saya dari 5-star ke 4-star. Akhirnya saya putuskan untuk memakai sistem 4-star saja yang sekarang lebih umum dan lebih simple. Dengan kesepakatan adanya nilai setengah. So, rinciannya seperti ini (ada di sidebar juga):

(****= great, score 91-100) (***½= very good, score 81-90) (***= good, score 71-80)

(**½= average, score 61-70)(**= weak, score 51-60) (*½=poor, score 41-50)

(*= suck, 31-40) (½=horrible, score under 30) (0= disaster, no score)

Jadi artinya;

****: great. Film yang highly recommended dan termasuk luar biasa di genre-nya masing-masing.

***½: very good. Termasuk yang sangat bagus tapi belum bisa dibilang great.

***: good. Film yang layak tonton, yang bikin kita betah untuk menyimaknya, bagus, tidak jelek, tapi belum luar biasa.

**½: average. Ini termasuk film yang lumayan, tetap ada beberapa sisi yang menarik.

**: weak. Termasuk film yang lemah, namun setidaknya (mungkin) ada satu hal yang membuatnya masih mungkin untuk ditonton.

*½: poor. Sudah termasuk film yang berantakan.

*: suck. Nah film yang dapet rating kayak gini yang pasti menjengkelkan dan mungkin sampai pengen ngelempar pakai sepatu! Ada beberapa hal yang bikin sakit hati, menyakiti logika, atau adegan yang bikin kita seperti orang bodoh. Singkatnya sangat tidak layak tonton.

½: horrible. Nah yang ini film yang hancur banget. Udah kayak ketiban gunung meletus saja. Sangat sangat tidak layak tonton.

0: disaster. Ini jelas film yang sudah tidak patut di apresiasi lagi (dilirik pun tidak perlu) seperti terkena bencana alam kalau menontonnya. Bikin speechless (in negative sense). Tidak ada yang penting entah itu sutradara entah pemainnya. Semuanya bencana.

Rating ini pertama saya gunakan ketika mereview Transformers: Revenge of the Fallen beberapa minggu lalu yang saya beri 2 bintang karena lemah di cerita, tapi tetap bisa ditonton terutama karena visual effect-nya yang menopang filmnya (memang kita cuma nonton visual effect-nya doang kan, apanya lagi coba?). Nah sebagai perbandingan, saya kasi contoh untuk beberapa film di tahun 2008 yang sudah saya tonton dan rating yang didapat.

4 stars (****): Slumdog Millionaire, WALL-E, 3.5 stars (***½): The Dark Knight, The Curious Case of Benjamin Button, 3 stars (***): Iron Man, Rachel Getting Married, 2.5 stars (**½): Twilight, 2 stars (**): Forgetting Sarah Marshall, 1.5 stars (*½): Jumper, 1 star (*): High School Musical 3: Senior Year, 0 star (0): Meet the Spartans.

Well, sebelumnya saya mau berterimakasih dulu sama Roger Ebert dan beberapa kritikus lain yang sudah menginspirasi saya. Sok banget ya. Hehehehe…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s