The Curious Case of “Saya” versus “Aku”

“Why we didn’t have just a single “I”?”


aku


Well, ini adalah tulisan yang akhirnya bisa dituntaskan karena sejak pertama kali membuat blog ini, dua kata tadi adalah kata yang membuat perasaan ini bimbang bukan kepalang. Pake “Saya” atau “Aku” ah bingung. Nah, mengapa juga postingan sebelumnya menggunakan “aku”, itu karena nasehat seorang teman yang mengatakan “saya” terlalu formal, akhirnya setujulah dengan menggunakan “aku” karena niat awalnya blog ini juga hanya untuk bahan curhat tidak jelas. Tapi setelah lama kelamaan ternyata blog juga punya multi-interaktif fungsi yang membuat setiap tulisan yang dibuat akan dibaca orang lain. Nah, akhirnya dengan sedikit menjelajah di Mas Google ketemu beberapa blog yang juga sempat menulis tentang kebingungan ini (ternyata bukan seorang diri juga, hehehe). Nah akhirnya setelah menimbang dan memutuskan (jeng jeng jeng!) akhirnya kata “aku” akan diganti menjadi “saya” untuk postingan selanjutnya dengan berbagai pertimbangan tentunya. Mengapa ya bahasa kita untuk kata ganti saja banyaknya minta ampun. Bandingkan dengan Bahasa Inggris yang cuma butuh “I” untuk mengucapkan “saya”, “aku”, atau “hamba” dan kata “I” itupun bisa dipakai dimana saja, entah itu dengan presiden atau raja sekalipun. Sedangkan pake “aku” ngomong sama raja, hm.. bisa digantung tuh! Hihihi…

Well, ini adalah tulisan pertama yang menggunakan “saya”, anyway.

Kenapa memakai “saya”?

  • Setelah pikir-pikir kok kalau memakai kata “aku” kesannya pribadi banget ya. Memang itu dulu sasaran saya (cieh… pertama kali pake kata ini, hihihi) agar pembaca blog merasa lebih intim dengan apa yang saya (cieh dipake yang kedua kali nih) tulis dan ceritakan di blog. Tapi belakangan kata “aku” kurang masuk di pikiran saya (cieh yg ketiga kali) dan malah menjadi sesuatu yang terlalu pribadi sehingga kalau dibaca seolah-olah untuk diri sendiri saja. So, saya ganti dengan “saya” karena selain lebih sopan, terasa juga menghargai pembaca karena mengganngap si pembaca itu orang yang lebih di atas.
  • Kalau keterusan pake “aku” terasa terlalu remaja. Mungkin pengaruh umur ya, baru 21 tahun sih, tapi yah tidak ada salahnya untuk mulai belajar menulis yang berstruktur. Setelah saya lihat beberapa tulisan saya terdahulu, wah bahasanya informal sekali. Perlu sedikit perubahan nampaknya.
  • Imbasnya tulisan terasa formal. Ah, tak masalah nih.
  • Ada satu pengecualian, penggunaan kata “aku” mungkin saja bisa muncul di tulisan-tulisan yang personal seperti Just A Thought yang biasanya isi curhatan, atau dulu saya sempat posting puisi tapi sekarang sudah rada malas. Entah nanti muncul atau tidak.

Well, ini sih cuma sebagai pengingat supaya saya bisa lebih konsisten dalam menulis. Hm… mungkin kadang-kadang bisa saja kelupaan dua kata tadi dicampuradukkan jadi satu. Ah, kalau memang muncul seperti itu, anggap saja mungkin saya memakai “aku” karena lagi obsessed jadi Chairil Anwar dan pake “saya” lagi ngebet pengen jadi politikus. Hehehe.

Well, selamat datang “Saya” sampai jumpa lagi “Aku”

Advertisements

One thought on “The Curious Case of “Saya” versus “Aku”

  1. hahahaha ketawa banget deh bacanya!
    aku tadinya juga bingung untuk di blog mau pake ‘aku’, ‘saya’, atau ‘gue’.. tapi akhirnya pilihan dijatuhkan ke ‘saya’, soalnya kayaknya lebih gimanaaaa gitu kalau untuk review film, lebih ‘pinter’! hahahaha.. *narsis padahal aslinya bego*
    tapi kalau ngobrol gini masih tetep pake aku, ga enak ngobrol pake saya kamu gitu, formal banget, kecuali sama orang yang lebih tua.. :p
    btw, umur kita sama ternyata 21!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s