Transformers: Revenge of the Fallen

“Oh, well, typically popcorn summer movie. Just OK. Put your brain outside the door, stay, and enjoy it.”

er

(*)

Well well well, akhirnya setelah kehabisan tiket di hari pertama, dan di hari kedua mendapat tiket juga meski (gila) dapet kursi paling depan n dipojok, udah ketar-ketir mata abis nonton bakal jereng, akhirnya salah satu temen mau berbaik hati untuk tukar posisi ke tempat yang lebih “nyaman” meski tetep aja di depan.

Transformers yang pertama ketika pertama kali dirilis mendapat sambutan yang lumayan positif karena menampilkan versi mutakhir dari kartun Transformers ke dalam bentuk live-action yang benar-benar menimbulkan pengalaman berbeda dalam menonton film. Ada nada “segar” di sebagain orang. Nah, masalah yang dialami untuk yang kedua tentunya karena sudah tahu bagaimana spektakulernya teknologi yang pertama, mau tidak mau harus bermain di plot cerita di samping CGI yang makin spektakuler. Ingat dengan Spiderman 2? Orang kagum dengan CGI-nya dan plot ceritanya yang bagus. Tak heran kritikus sekaliber Roger Ebert memasukkannya dalm 10 film terbaik tahun itu. Namun untuk Transformers yang kedua ini, flawless CGI, but standard story. That’s the problem. Lebih bagus yang pertama! Enough said. Yup, yang kedua ini meski adegan action-nya gila-gilaan dari awal sampai akhir, cuma karena adegannya konstan, jadi boring dan klimaksnya kurang dapet. Ending filmnya mudah ditebak. Mudah banget malah. Adik temenku aja ampe nyeletuk gini “Wah, Optimusnya kok mati? Eh, tapi ntar pasti idup lagi. Cz, dia kan pemeran utamanya.” Hohoho. Tapi namanya juga film popcorn, jangan harap nemu ending yang brilian layaknya film serius. Jarang. Yang menarik adalah Shia yang tampil bagus di sini. Dia emang cocok sebagai karakter yang sedikit sembrono dengan ekspresi yang meyakinkan.

Sebenarnya niat nonton film ini karena biar update aja dengan film yg lagi hit di dunia, di samping juga sekalian ngisi liburan dengan desek-desekan di bioskop (worth it enough as fun experience, lol). Yang lebih menarik perhatian adalah apa yang terjadi setelah film ini dirilis, yaitu hujatan dari para kritikus, cacian sebagai film rasis,  filmnya yang berjubel iklan (sempet liat logo LG di hp yang dipake salah satu tokoh), dan film yang hobi ngobral sensualitas.

Over-explored of sensuality? Hmmm…

Okey, kalo Wolverine dicap terlalu sering men-shoot bokong Hugh Jackman, nah kalo Transformers ini jelas-jelas memamerkan bokong si wanita yang sexy abbess! Megan Fox di awal kemunculannya langsung pamer bokong dengan pose di atas motor yang aduhai. Temenku sempat nyeletuk, “Kenapa harus pose gitu ya?” hehehe. Kemudian ada tokoh transformer yang nyamar jadi cewek cantik, oh well, tahu gak apa yang koor orang2 di bioskop bilang pas bokongnya keliatan, “wow, biru!” Hahahaha. Di lain hal, adegan dua anjing yang lagi “gituan” itu lucu sih, tapi kualitas komedinya kok pasaran banget ya? Enough said. Apalagi waktu robot mirip anjing yang merengek-rengek di kaki Megan yang seksi, well lucu sih, tapi, bukankah itu juga over-explored of sensuality? Dari sisi ini, lucunya sih lebih kerasa di film ini, tapi di lain hal malah membuat sekuel ini terasa di bawah yang pertama.

24tran600

Black stereotypes, is it racist? (Sort of)

Dua robot yang digambarkan sedikit bego, tidak bisa membaca, dan selalu jadi bahan ketawaan, mengaku dirinya kembar, mempunyai aksen bicara afro-america. Apalagi, salah satu robotnya mempunyai bentuk gigi yang agak ke depan lengkap dengan gigi emasnya. Well, gak heran banyak yang bilang nih film rasis. Sampai-sampai ada salah satu pemerhati film yang mencaci maki film ini dan menggapnya sebagai film paling hancur tahun ini dan bakal menjadi kandidat Razzie Awards. Sabar mas.

A Fool Scene

Waktu si Sam jatuh di gurun, dia tangannya terluka, trus scene selanjutnya pacarnya berhasil memperban lukanya. Dengan pertanyaan paling konyol seorang moviegoer, dapet darimana perbannya, mbak? Ok, aku tahu kalo scene itu sengaja diisi karena ketika shooting Shia jarinya memang terluka serius. Tapi bukan berarti harus asal tempel adegan tanpa memperhatikan logika si penonton, bukan? Well, it’s not actually a big deal. But, you know what, it makes me like a jerk when fooled by a movie, and obviously I know I’ve been fooled. Such a silly thing.

Overall, aku sih mengganggap film ini bukan highly recommended, bukan tipikal film yang bisa memberi “sesuatu” pada penontonnya. Tapi sebagai hiburan, bolehlah. Mumpung lagi liburan, gak ada salahnya nonton nih film. Secara pribadi meski actionnya non-stop, untungnya tidak secapek waktu nonton Terminator Salvation yang bikin capek abis ditambah tone gambarnya yang buram. Kalo Transformer yang kedua ini, lebih seger, ada lucu-lucunya. Tapi nampaknya, untuk yang ketiga nanti masih perlu berpikir lagi kalau mau nonton lagi, soalnya yang ini kurang nendang buat ngelanjutan rasa penasaran film yang ketiga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s