Cult Movie: The Dreamers (2003)

(****)

“Kalo kamu pecinta art movie,

let put it on your top “must-see” movie, and go see it!”


Alert: this movie just for ADULTS only!

Akhirnya kesampean juga menonton film ini, pertama tahu film ini sewaktu dibahas di Cinemags, liat ulasannya, wah nih film kayaknya musti ditonton nih. iuLumayan buat membuyarkan kepenatan selama seminggu yang ditumpuki sama ujian dan tugas-tugas dari dosen yang bikin mumet. Dan hasilnya film ini emang wajib tonton bagi yang suka film seni.

The Dreamers bercerita tentang seorang pelajar student-exchange dari San Diego, Matthew (Michael Pitt), yang datang ke Paris untuk belajar bahasa Perancis. Di sana bertemulah dia dengan Isabelle (Eva Green) yang kembar Siam dengan Theo (Louis Garrel). Karena memiliki latar belakang yang sama, yaitu pecinta film, akhirnya mereka berteman, malah kedua bersaudara itu mengajak Matthew untuk tinggal di apartemennya. Cerita kemudian berlanjut ketika Matthew menemukan sesuatu yang tidak lazim dari cara pandang dan tingkah laku kedua kakak beradik ini. Sampai akhirnya Mattew ikut terjerumus ke dalam hubungan mereka dan mengalami pengalaman sex yang jauh di luar pikirannya, serta terjerumus dalam mimpi-mimpi kakak beradik itu berdua. Tapi pada akhirnya apakah Matthew terus mengikuti mimpi mereka?

Film ini menghadirkan hal yang sangat tabu untuk dibahas atau dipertontonkan, tak heran jika film ini mendapat sertifikat NC-17 yang berarti hanya boleh ditonton oleh kalangan dewasa saja. Mengingat adegan demi adegan yang ditampilkan, jujur saja, bikin aku terpana sekaligus kadang-kadang berdecak heran, jijik, dan entah apalagi perasaan tidak karuan melihat adegan sex yang dipertontonkan. Terlebih frontalitas para pemain yang tanpa malu-malu telanjang di depan kamera. Bukan berarti lantas film ini beralih menjadi film kelas film esek-esek. Salah sekali. Film ini punya seni, dan penggambaran adegan sex-nya pun digambarkan dengan rapi tanpa menimbulkan kesan murahan. Konsep kekacauan yang ditampilkan Bernardo Bertolucci (katanya dia sutradara Last Emperor yg menang Oscar, tp belum nonton film ini nih) menimbulkan kontras yang bisa ditarik secara filosofis, kekacauan yang terjadi di dalam apartemen kontras dengan kekacauan yang terjadi di luar apartemen. Karena film ini bersetting tahun 1968, ketika gerakan mahasiswa terjadi pada tahun itu, yang hingga mampu merubah sejarah Perancis. Dan ending film ini pun tetap menyimpan interpretasi sendiri bagi si penonton. Melihat bahwa (mungkin) Matthew pada akhirnya mengejar cita-citanya sebagai film maker kelak, dan meninggalkan mimpi-mimpi absurd kedua kakak beradik itu.

ui1

Attracting Point:

Film ini mengambil banyak cuplikan dari berbagai film yang diperagakan oleh mereka bertiga di film ini. Dan kesemuanya adalah film-film klasik. Itu mengapa aku suka film ini, tanpa mempertimbangkan adegan sex di sana sini, film ini sebenarnya sebagai representasi para pecinta film yang biasanya memang terkenang dengan beberapa adegan yang memorable di dalam film. Dan memang kita (para movie mania) selalu punya hal unik  yang kadang kita lalukan karena dipengaruhi oleh hal-hal kecil dalam film. Entah itu menirukan adegan, ikut nyanyi, atau apalah yang dilakukan para actor di dalam film itu. Film ini merepresentasikan itu semua lewat ketiga tokoh yang ada. Dimana mereka kadang-kadang bertindak gila. Ada beberapa film yang ditampilkan yang cukup dikenal seperti misalnya, City Lights (ah, belum nonton, susah nyarinya, padahal pengen bgt), terus ada Scarface, Top Hat (blon nonton jg), ada adegan dari Sunset Boulevard, sewaktu Isabelle memperagakan aktingnya si Gloria Swanson, ah jadi inget betapa mengagumkannya acting Gloria Swanson nih.

Ada lagi beberapa hal yg bikin teringat sesuatu, Rattatouille yang dibuat Isabelle ngingetin sama film kartun favoritku, terus lukisan yang diliat Matthew, hehehe ternyata cover album band favoritku Coldplay, Viva La Vida! Hahahaha!

Trivia: – Peran Matthew sebenarnya ditawarkan ke Jude Law, tp dia menolak setelah tahu ada adegan nude-nya, dengan alasan belum siap untuk adegan nude itu. Terus Leonardo Dicaprio juga sempat ditawarkan, tapi menolak juga karena sedang dalam proses post-production The Aviator.

Film ini punya 3 sisi, politik, sex, dan sinema yang dikemas rapi. Ini sebuah film yang brilliant, uniqe dan tentunya sangat artistic.



Advertisements

8 thoughts on “Cult Movie: The Dreamers (2003)

  1. 5/5 ?
    Hmm…film model ginian memang bisa jatuh pada dua penilaian, bisa sangat buruk atau sebaliknya.
    Kalau aku terus terang belum bisa menikmati filmnya, karena lebih fokus pada adegan nude-nya hehehe…

  2. hehehe…. iya mas… gak tau kenapa saya suka banget sama film ini entah mengapa..
    biasa film seni kayk gini emang bisa dibenci ato dicinta..

  3. baru saja selesai menonton film ini….huff
    cerita yg kuat..
    yg bikin aku penasaran adalah Michael Pitt…keren banget aktingnya dibandingin Murder by Number

    btw kalo mo donlod pride n prejudice di mana ya?

  4. terlambat ya baru dua minggu aneh aja bisa nonton film the dreamers, love songs, funny games
    top banget the dreamers
    sayang gw ngak tau film2 yang dimaenin di the dreamers
    thanks for bintang empat-nya
    tambahin satu *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s