Kambing Jantan

(**)

“Hm…. Kok gak se-JANTAN novelnya, ya?!”


Yay, akhirnya bisa juga menonton film ini, setelah bioskop Bali memutar film ini, dengan seperti biasa, telatttt bgt! Gak apa-apa deh meski orang-orang di Jakarta khususnya udah nonton beberapa bulan lalu, tapi berhubung baru sekarang ada di Bali, langsung nonton. Jujur ini salah satu film yang aku tunggu-tunggu. kambing-jantan-poster1Karena sebagai penikmat novel Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus (aku lumayan suka yg dua ini, novel selanjutnya aku gak suka) sudah pasti dong harus nonton film ini. Terlebih temenku yang katanya udah baca Kambing Jantan lima kali, Nury, overexited banget. So akhirnya kita nonton.

Awal-awalnya sih lumayan lucu, cuma seterusnya garing abis, dramanya gak ngena, ngebosenin, and you know what, mataku hampir aja merem di pertengahan film. Sebetulnya sewaktu tahu bahwa materi skrip film ini dibuat oleh tiga screenwriter yang mumpuni, pro di bidangnya masing-masing, contohnya Mouly Surya dibagian dramanya, pasti jatuhnya bakalan bagus. Tapi, hasilnya way far from my expectation! Spirit from the novel run off! Aku bingung, sebenernya spirit apa yang ingin dibawa oleh film ini. Jelas-jelas di novelnya membawa roh kegokilan si Radit, tapi di film dicampuradukkan dengan drama yang dalam batas pembaca novelnya jelas tidak diharapkan. Jokenya sih beberapa boleh bikin aku ngakak, khususnya sewaktu scene si Dosen di-dubbing itu asli lucu. Cara bernarasi film ini sedikit mengingatkanku dengan Annie Hall yang juga menggunakan pakem sang narrator bercerita tatap muka dengan penonton.

Apa poin plusnya? Hampir tidak ada selain karakter Haryanto yang diperankan oleh Edric Chandra yang bermain bagus di sini. Dia, meski tanpa sisi lebainya, tetap menampilkan kesan lucu di film ini. Mungkin boleh dibilang Raditya Dika bermain bagus di sini sebagai dirinya sendiri, tetapi kekakuan skrip membuatnya tidak bisa selepas novelnya. Ah, rasa-rasanya Rudi Soejardwo belum bisa mengembalikan namanya kejajaran sutradara hebat lagi, setelah hanya AADC yang bagiku masterpiece. Sayang sekali.

Sebenarnya dulu waktu tahu novelnya akan dibuatkan film, aku dan teman-teman lainnya pernah terpikir kalau si Radit cocok diperankan Agus Ringgo. Tapi setelah tahu kalau sang penulis memerankan dirinya sendiri, well, aku kurang tertarik. Dan hasilnya, yah, rasanya rugi nonton film ini. Sigh. Udah deh, ga ada niat untuk berlama-lama dengan film ini. Udah terlanjur kecewa (alah!).


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s