La Vita E Bella (Life is Beautiful) (1998)

(**½)

“Can you define life is beautiful just by depicting a comedy behind the historical tragedy?

Huh, again, can you?”

Honestly, I was excited to watch this movie when I saw this original DVD on store, indeed, previously I knew from some articles it has been got critical acclaimed especially for winning Oscar, including Best Foreign Language Film. So I thought, it could be an amazing movie. Terlebih dipengaruhi oleh tema Holocaust yang digambarkan secara komedi, tambah bikin penasaran saja. Setelah ditonton, hmm…. My reaction is neither screaming “wow” nor “hooray”. I just sat on my chair, and wondering, till now still wondering, where’s the good side of this movie? Again, where??life1

Setengah awal film ini bercerita tentang Guido yang datang ke Arezzo dan menjadi seorang pelayan di sebuah restoran. Diceritakanlah bagaimana si tokoh utama ini bertemu dengan Dora yang puteri orang kaya, yang singkat cerita akhirnya menjadi pasangan hidupnya. Setengah cerita selanjutnya berkisah tentang Guido yang telah punya anak berumur 4,5 tahun. Karena Guido seorang Yahudi maka dikirimlah dia bersama anaknya untuk ke kamp kosentrasi, Dora yang bukan Yahudi pun ikut dengan inisiatifnya sendiri. Dan cerita berlanjut dengan “white lies” yang dilakukan oleh Guido ke anaknya dengan mengatakan bahwa kamp itu hanya sebuah permainan, dimana pemenang utamanya akan mendapatkan sebuah tank, sebagaimana yang anaknya inginkan.

Di awal-awal cerita, jujur, sangat tidak karuan jalan ceritanya. Dengan adegan-adegan slapstick yang luar biasa menghiasi seisi awal cerita. Mulai dari mobil yang masuk ke semak-semak, adegan pertemuan dengan Dora yang jatuh ke jerami, Dora yang ditabrak sepeda, telor yang remuk di kepala orang, and so forth. Argh! Semakin bikin aku bingung apa sih yang ingin diceritakan film ini? Komedi slapstick sekelas Warkop (parahnya lucuan warkop lho) atau seperti set awal dramedi yang katanya menampilkan sisi lain dari Holocaust, tapi sayangnya sampai pertengahan cerita aku masih meraba-raba kearah mana sebenarnya Roberto Benigni ingin bercerita.roberto_benigni_life_is_beautiful_002

Penggambaran Holocaust sangat tidak realistis. Terutama dengan gaya badut Guido yang ia tampilkan untuk menghibur anaknya. Sangat kontras dengan kondisi yang terjadi sebenarnya, dimana pada realitasnya kondisi di kamp itu sangat strict bahkan untuk berbuat hal-hal aneh pun bisa tercium para penjaga kamp. Jadi, inginnya menyampaikan sesuatu yang lain, tapi “sesuatu yang lain” itu juga perlu realitas, bukan? Terlebih ketika mengangkat tema sejarah yang tingkat realisasinya dalam penggambaran film boleh dikatakan penting. Mungkin, konsep “white lies” yang diusung Guido sebagai bahan agar dia tampil selalu ceria bisa menjadi jawaban, tapi apakah lalu boleh digambarkan kamp itu juga layaknya seperti permainan yang sebenarnya?roberto_benigni_nicoletta_braschi_life_is_beautiful_001

Dalam beberapa sisi yang menonjol adalah Roberto Benigni sendiri yang memerankan Guido dengan sangat apik. Berhasil menciptakan karakter yang penuh kecerian meski sangat sembrono. Tak heran dia meraih Best Actor di Oscar tahun itu, meski pada akhirnya kemenangannya tetap menjadi perdebatan. Namun, sebagai sutradara Roberto Benigni bagiku belumlah cukup berhasil. Penceritaannya tidak ciamik. Seolah memakai baju bikini tapi maunya tampil di acara perkawinan. Salah tempat. Atau mungkin penggambara Holocaust itu sendiri yang tak pantas digambarkan dalam komedi. Ini film keempat bertema Holocaust yang aku tonton setelah Schindler’s List, The Pianist dan The Reader. Awalnya, antusias ketika tahu Holocaust digambarkan komedi, but, oh no, I can’t approve it as a good film, though.

Seperti mengutip salah satu kritikus yang memberi nilai nol menurut data metacritic pada film ini,

“Benigni’s movie made me want to throw up” (David Edelstein, Slate)

Ah tidak segitunya juga. Meski aku tidak suka dengan film ini, but I have to say, Benigni got his triumph to deliver hilarious side in some scenes, but to make us thrilled, moved or even crying, Benigni sat on his failures.

Advertisements

3 thoughts on “La Vita E Bella (Life is Beautiful) (1998)

  1. tapi gw nangis lho nonton ini, and i think he did a preety good job, he won an oscar for god sake. Tapi emang opini orang beda2 sih heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s