Lars and the Real Girl (2007)

(***½)

“I thought Lars was obviously crazy when he loved an anatomically-correct doll, but I thought I was more than crazy when I was watching this movie (in good sense, though)!”

Let me give you an abstract, if you are a movie addict who thought a movie is reflection for art and strange imagination which is captured on film, you may love it, but if you a movie addict, then you bet logical side and reality way significant than imagination, I bet you’ll hate it.

And for that, I love it.

Lars and the real Girl, menyajikan premis yang sangat unik dan tidak biasa dari film-film Hollywood kebanyakan. lars_and_the_real_girlMeskipun, ada beberapa yang mengangkat tema halusinasi atau sejenisnya yang jatuhnya pada keanehan mental dari si tokoh utama, tapi mengenai seorang lelaki pemalu yang terasing yang kemudian mencintai “seorang” wanita namun nyata-nyatanya hanya sebuah boneka, sex-doll lebih tepatnya, dan lelaki seperti Lars mencintai boneka itu sebagaimana ia mencintai wanita sesungguhnya memang jarang ditemui. Lalu apakah kegilaan itu ada artinya? Cukup sulit memang membuat tema film seperti ini yang membutuhkan banyak teknik ekstra dalam bernarasi untuk menerjemahkan hal yang tidak logis menjadi terlihat dan terasa logis di mata penonton. Kalau salah sedikit, bisa-bisa jatuhnya film murahan yang hanya mengumbar imaji tidak jelas.

Lars adalah lelaki yang tinggal di sebuah gudang seorang diri, meskipun sebenarnya ia bersebelahan dengan saudara lelakinya yang telah beristri dan tengah hamil. Melihat Lars yang selalu menjauh diri jika diajak makan malam, membuat saudaranya khawatir. Hingga berbagai cara dilakukan agar Lars mau makan malam bersama mereka. Cerita berlanjut hingga suatu hari Lars muncul untuk ikut makan malam membawa kekasihnya yang ternyata adalah sebuah boneka. Kondisi ini membuat kakaknya takut, hingga akhirnya mereka berunding dengan semua warga agar menganggap Bianca, begitu nama boneka itu, layaknya seorang wanita biasa (hidup). Dan berlanjutlah cerita hingga Bianca kemudian dianggap sakit oleh psikiater sekaligus dokter yang merawat Bianca meskipun secara jelas psikiater itu menyelidiki sisi “sakit” yang dialami Lars.  Di lain hal, Lars kemudian jatuh cinta dengan teman sekantornya, Margo, namun dalam suatu date, Lars menegaskan kalau dia tidak akan mengkhianati Bianca. Siapakah yg dipilih lelaki ini akhirnya, boneka atau manusia? Tebak sendiri endingnya. Atau kalau tertarik, tonton dong.

Cukup logiskah? Well, bagi sebagian orang yang mencari sisi realitas dari sebuah film, jika selalu menganggap bahwa film harus menyajikan sisi nyata dari apa yang terjadi di alam ini, film ini pasti bisa dibilang punya kelemahan di sana sini. Yang paling kentara adalah kemungkinan tokoh Lars itu memang benar-benar ada di dunia ini, maksudnya apakah memang ada orang yang jatuh cinta dengan boneka, kecuali dia dianggap gila, tetapi bisa menjalani hidup normalnya seperti biasa? Yang kedua adalah apakah ada penerimaan masyarakat yang terlihat sangat permisif? Masyarakat yang digambarkan menerima kondisi Lars dengan tangan terbuka dan menerimanya sebagai sesuatu yang lumrah, bahkan mereka pun ikut-ikutan “gila”, contohnya memperkerjakan Bianca sebagai penjaga toko.

lars

Sebaliknya, bagi sebagian moviegoer yang menyukai film sebagai refleksi seni, dan bolehlah dibilang “tahu diri” menempatkan sajian tontonan yang harus dinilai realistis dan mana yang harus dinilai dari sudut seni itu sendiri. Aku pribadi menyukai film ini. Sebuah fantasi yang mencoba mengobral cerita agar jatuhnya serealistis mungkin. Dan ternyata, rasanya kok realistis ya tokoh Lars itu di tangan Ryan Gosling. Hm… aku jadi berpikir Ryan itu memang benar-benar Lars. Aktingnya boleh diacungi dua jempol. Sebuah kemajuan, setelah sebelumnya agak kurang suka sama actor ini gara-garanya efek The Notebook (I don’t like it), yang terlalu pop. Tapi melihat aktingnya di sini, membuktikan dia memang berbakat. Malah seperti banyak orang perdebatkan, dia lebih layak masuk nominasi actor terbaik Oscar tahun 2008 lalu, ketimbang George Clooney yang aktingnya tak begitu memukau.

Meski inti percintaan yang dialami oleh Lars dan Bianca tidak terlalu menyentuh, meskipun adegan di penghujung film ketika Lars mencium Bianca untuk yang pertama kalinya itu cukup miris, tapi tetap saja sisi percintaannya dengan Margo lebih terasa bagiku. Selain itu, porsi komedi yang ditawarkan lebih ditekankan bukan karena kita tertawa karena hal-hal yang lucu, tapi kita tertawa karena hal-hal yang tidak lucu. Lihat bagaimana saudara mereka ketika memandikan Bianca, kamu pasti dibuat tertawa, atau setidaknya menyunggingkan senyum, dengan sebuah pikiran bergantung di otak, waduh…. betapa tidak lucunya orang itu, betapa anehnya orang itu. Fuih! Pada akhirnya apa yang ingin disampaikan film? Apakah sebuah delusi bukanlah sesuatu yang nyata di dunia nyata yang hanya bisa dikategorikan sebagai “delusi” dan tak punya arti apa-apa di kehidupan nyata, atau memang delusi itu, sesuatu yang nyata di dunia nyata dan sebaliknya paling berarti di dunia nyata. Bagaimanapun juga delusi adalah penggambaran kecil dari betapa rumitnya dunia nyata itu.

Menonton film ini membawa gambaran baru tentang perspektif kita terhadap sebuah tontonan bernama film.

The fantasy thing sometimes is so intriguing to be consumed. Even, you’ll back realize what originally the purposes of film itself, which is to design you and to show you multiple imaginations. For sure, those things you might like to see on screen.

Advertisements

2 thoughts on “Lars and the Real Girl (2007)

  1. saya pengen bgt nntn film ini, tapi selalu gagal terus kalo mau beli dvd nya hehehe abis liat reviewnya, jadi lebih semangat buat nntn nih..

  2. dari dulu emng pengen nih nonton ini dan abru nemu dvd nya baru2 ini. Tapi belom sempet nonton, secepatnya akan ditonton deh hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s