Flashback Movie: Anna and The King (1999)

(***)

(Menyimak sisi “dalam” kerajaan Thailand)

Berawal dari perdebatan ringan dengan seorang teman yang penggila film juga, temanku ini, agak “marah” sewaktu aku mengatakan kalau Anna and the King itu bukan film yang bagus, karena temanku ini sudah menontonnya dan dia bilang bagus, lebih bagus dari versi musikalnya yang bikin mengantuk katanya. 200px-Anna_and_the_kingAku juga keukeuh dengan pendapatku, karena aku juga sudah menonton film ini, dan impresiku jelek. Lalu temanku ini bertanya, “Emang kapan kamu nonton film ini?” dengan sedikit menahan malu aku jawab dengan wajah bego, “Waktu SD!” bah! Langsung dia tertawa dengan lantang, akhirnya aku terpaksa menonton film ini, ternyata hasilnya film ini bagus! Hahahaha! Baru sadar, waktu itu masih kelas 6, jelas saja belum ngeh dengan tipe film seperti ini. Tapi kalau boleh dipikir, ajaib juga ya dari SD dulu aku sudah sukanya film berat macam begini. Ah, masih ingat jadinya sewaktu dulu rental vcd di dekat rumah menjamur dan selalu menawarkan film-film yang tidak tahu juntrungannya, sekarang wah nyari satu rental vcd di daerahku sulitnya minta ampun, kecuali di daerah Denpasar. Wah, jadi curhat.

Well, film ini berkisah tentang seorang wanita dari Inggris dengan seorang anak lelakinya yang datang ke Siam sebagai guru untuk anak-anak kerajaan Siam (Thailand). Maka dimulailah kisah Anna ini yang berani melawan berbagi bentuk tradisi kerajaan, mengalami beberapa hal yang menyebabkannya bersitegang dengan raja, hingga sampai ke kisah percintaannya dengan raja. Menonton film sejenis ini, film epic yang mengharu biru biasanya memerlukan energi yang pas untuk bisa menghabiskannya dalam satu kali duduk. Film yang berdurasi hampir tiga jam ini, cukup menarik terlebih melihat pemandangannya yang begitu menakjubkan, sayangnya karena aku sudah tahu kalau film ini lokasi shooting-nya di Malasya jadi yang aku kagumi pemandangan Malasya, bukan Thailand, tapi kalau yang belum tahu pasti tertipu, aku saja hampir berpikir bahwa lokasinya benar-benar di Thailand.

Akting Jodie Foster seperti biasanya pas di sini, meski Chow Yun Fat sedikit kaku di awal-awal, tapi  di pertengahan film, dia nampak menjiwai perannya sebagai seorang raja. Film epic ini meski tidak bisa disejajarkan dengan Gone With The Wind dan film-film epic masterpiece lainnya, tetap saja menyimpan nilai tersendiri yang berbeda dari yang lain, tentunya sisi Thailand itu sendiri.

Trivia:

–          Film ini seluruh lokasi mengambil gambar di Malasya, karena larangan pemerintah Thailand yang tidak mengijinkan untuk pengambilan gambarnya di Thailand.

–          Film yang bercerita tentang Thailand ini, sayangnya tidak diperbolehkan untuk tayang di negaranya sendiri karena isi dari beberapa adegan di film yang dirasa menjelekkan raja. Seperti misalnya adegan berdansanya dengan Anna yang banyak dikritik masyarakat sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s